Suara tawa antara perempuan dan laki-laki terus terdengar di koridor sekolah. Bahkan sesekali hal-hal random menjadi pembicaraan mereka tanpa peduli tatapan berbeda dari para siswa. Lelaki dan perempuan itu tidak lain inti Avegas yang terlihat bahagia siang ini.
Berjalan beriringan sudah biasa siswa SMA Angkasa saksikan, tetapi untuk melihat Alana tertawa lepas baru kali ini mereka melihatnya.
"Ketawa mulu lo sejak tadi, gue merinding njir," celetuk Jayden yang berdiri tepat di samping kiri Alana.
"Tau, biasanya sih yang suka ketawa-ketawa berusaha menyembunyikan kesedihan," timpal Jevian.
"Jutek salah, ketawa salah. Memang gue itu selalu salah di mata kalian. Lama-lama gue cepat lo jadi anggota." Alana menggerutu sambil bersedekap dada.
Namun, inti Avegas lainnya malah semakin tertawa. Tujuan mereka kali ini tidak lain adalah roftop sekolah. Selain tidak ingin diganggu beberapa dari inti Avegas akan menikmati benda bernikotin.
"Sembunyikan woi, ketua osis," bisik Roy kala melihat Angkara dan Tiara baru saja belok di ujung tangga.
Lantas inti Avegas menyembunyikan bungkusan rokok di tas Alana. Kemudian melempar senyum ramah pada Angkara. Namun berbeda dengan Alana yang tampak acuh. Gadis itu bersikap seolah-olah tidak mengenal Angkara, padahal biasanya dia lah orang paling histeris jika berpapasan.
"Woi, pujaan hati lo lewat noh." Gio menepuk pundak Alana.
"Hari ini gue resmi membuang Angkara dari hati gue. Lebih enakkan balapan njir daripada cinta-cintaan." Alana langsung duduk di bangku usang setelah sampai roftop sekolah. Melempar bungkus rokok di dalamnya tasnya pada Jayden.
"Enak benar dah lo nyimpen barang haram di tas gue," gerutunya.
"Santailah bu ketua, cuma ditas lo doang barang kita aman, iya kan bro?"
"Benar tuh."
Inti Avegas pun mulai menyulut batang rokok masing-masing, dan itu semua tidak luput dari perhatian Alana.
"Rasanya gimana sih? Ekspresi kalian tuh kek nikmat banget setelah asap keluar dari mulut."
"Rasanya nggak bisa didefinisikan Al. Intinya sangat nikmat dan menyenangkan." Roy semakin mengepulkan asap rokoknya.
"Gue coba deh." Alana dengan sigap meraih bungkusan rokok di pangkuan Gio. Tetapi dengan cepat Gio merebutnya. "Yo?"
"Nggak baik buat lo."
"Sekali doang aelah."
....
Di perpustakaan ....
Angkara dan Tiara sedang duduk saling berhadapan sambil membaca beberapa buku yang dia ambil dari rak. Sesekali Tiara memperhatikan Angkara yang hari ini tampak berbeda, begitupun dengan gadis yang selalu mengganggunya.
Sudah dua hari ini Alana datang tepat waktu ke sekolah, mematuhi beberapa aturan dan jarang berurusan dengan osis.
"Tumben adek kelas itu nggak gangguin kamu pas lewat tadi," celetuk Tiara.
"Bagus dong," sahut Angkara.
"Bagus tapi wajah kamu nggak senang begitu."
"Mau belajar atau bicara saja?" Kening Angkara mengerut.
Tiara langsung fokus pada bukunya. Mode cuek Angkara adalah hal yang harus dihindari karena itu sangat berbahaya bahkan untuknya sekalipun.
Mendengar bel pelajaran berbunyi, mereka berdua pun bergegas meninggalkan perpustakaan, begitupun dengan inti Avegas yang berada di roftop sekolah.
Mempunyai kelas yang berbeda-beda, mereka pun harus berpencar sehingga Alana berakhir berduaan saja dengan Gio di koridor sekolah.
"Bagaimana dengan makan malamnya, lancar?" tanya Gio di sela-sela mereka berjalan.
"Lancar."
"Pertunangan atau menikah?"
"Kak Kara ngasih gue pilihan. Keluar dari Avegas dan mundur dari perjodohan."
Langkah Gio sontak berhenti, jantung lelaki tampan dengan dasi yang diikat di kepala tersebut berdetak tidak karuan. Takut jika Alana memutuskan untuk meninggalkan Avegas. Ia belum siap berpisah, hatinya tidak ikhlas jika Alana dimiliki oleh orang lain.
"Jawaban lo?" tanya Gio usai menguasai detak jantungnya.
"Mundur dari perjodohan. Sampai kapan pun gue nggak akan mengorbankan Avegas hanya karena sebuah cinta." Alana tersenyum, meski hatinya terasa sakit harus melepas Angkara. Pria yang sejak dulu selalu ia kejar-kejar.
Namun, cintanya tak sebesar rasa yang ia tanamkan pada Avegas. Avegas adalah rumah yang tidak ada duanya.
"Kak Kara," bisik Gio kala melihat Angkara berdiri di depan kelas mereka.
"Ada apa?" tanya Gio pada Angkara, sementara Alana melewati lelaki itu.
"Motor kalian menghalangi pintu masuk," jawab Angkara, padahal sebenarnya itu bukan tujuannya berhenti di depan kelas Alana.
"Oh ya sudah, nggak dikunci leher kok. Suruh pindahkan saja sama anggota osis." Gio mengedikkan bahu acuh dan berlalu duduk di samping Alana.
Toh biasanya memang osis selalu menjadi kang parkir dadakan jika ada tamu penting yang datang ke sekolah.
"Aku nggak bermaksud untuk menyakiti siapa pun dan mempermainkan hatimu. Aku hanya sadar nggak pantas dicintai oleh siapa pun, termasuk kamu Alana," batin Angkara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Jual mahal dikit lah Alana,Biar tau rasa tuh Angkara..
2024-03-23
2
Teh Yen
good Alana lanjutkan
2024-02-08
2
rattna
pilihan mu tepat alana memilih pertemanan mu tenimbang cinta²an yg ngga pernah menoleh ke kamu.giliran sama tiara mau² aja tu ngga ada acara kringet dingin 🤣
2024-02-07
1