Tak punya tempat yang dituju, Angkara mendarat di rumah Tiara yang kebetulan orang tuanya jarang ada di rumah. Mereka berdua menghabiskan waktu untuk belajar persiapan ujian beberapa bulan lagi.
"Mau makan apa? Biar aku masak sesuatu," celetuk Tiara ketika menyadari jarum jam telah menunjukkan angka 5 sore, tetapi Angkara seolah enggang pergi dari rumahnya.
"Nggak usah, masih kenyang."
"Kamu ada masalah? Nggak biasanya loh kamu main selama ini di rumah aku."
"Mau fokus belajar. Di rumah ada Chei yang selalu mengganggu." Angkara masih saja menunduk karena berlatih mengerjakan soal-soal tanpa harus melihat rumus lebih dulu.
Terlebih Angkara adalah tipe manusia yang akan melampiaskan perasaannya melalui belajar. Semakin ia merasa tidak baik-baik saja, semakin giat pula otaknya bekerja.
"Kara, ponsel kamu berdering terus."
"Aku jawab dulu." Angkara pun keluar dari rumah Tiara untuk menjawab panggilan dari mamanya.
"Pulang sekarang bisa Nak?"
"Ada apa memangnya Ma?"
"Chei mau makan malam di luar sama Kara dan papa."
"Tugas Kara belum selesai Ma. Mungkin ...."
"Kamu sudah nggak menghargai mama?"
"Baiklah Kara pulang sekarang." Angkara menghela napas panjang. Ia kembali menemui Tiara sekaligus berpamitan.
Lelaki tampan itu melajukan motornya dengan kecepatan sedang, dan sesekali menatap langit yang mendung saat berada di lampu merah. Ia bukan bermaksud lari dari masalah, hanya saja ini terlalu mendadak untuknya.
....
Sudah terhitung satu jam lamanya Alana duduk di depan cermin dan mencoba semua alat make up yang baru saja ia ambil dari kamar sang mommy. Tetapi bukannya terlihat cantik, gadis itu malah seperti patung yang telah dihias dengan cat warna-warni.
"Sayang, apa kamu sudah siap?" tanya sang mommy berdiri di ambang pintu.
"Belum Mom."
"Padahal sudah dari tadi kamu siap-siapnya." Mommy Alana menghampiri putrinya dan terkejut bukan main melihat wajah Alana.
Bibir yang merah merona seperti baru saja meminum darah. Fondation dempul di mana-mana dan alis naik turun seperti pergerakan cacing.
"Astaga ini bukan putri mommy."
"Ish Mommy mah." Alana merengut, segera masuk ke kamar mandi dan mencuci wajahnya. Mengambil pelembab di atas meja kemudian mengolehkan di wajah hingga leher.
"Ayo, Lana nggak jadi dandan." Berjalan cepat meninggalkan mommynya yang mengulum senyum.
Niat hati ingin tampil cantik di depan keluarga Angkara semuanya gagal total.
....
Datang lebih dulu dari keluarga Angkara, Alana duduk dengan tenang di kursi yang telah disiapkan. Sesekali gadis itu memeriksa ponselnya untuk melihat mungkin saja ada pesan dari teman-temannya.
"Maaf ya kami terlambat," ucap Salsa yang baru saja datang bersama suami dan anak-anaknya.
"Nggak papa santai saja."
"Kak Angkasa duduk di sini!" Alana menarik kursi di sampingnya, tetapi Angkara malah duduk di bagian paling pojok seolah menjaga jarak dengan Alana.
"Semakin cantik saja putri kamu Ka," celetuk Dito menatap gadis cantik yang duduk di samping Angkara.
"Daddy, nggak perlu basa-basi, kita langsung bahas saja perjodohannya," bisik Alana menarik ujung jas daddynya. Alana sudah tidak sabar mengetahui kapan hubungannya dengan Angkara di resmikan.
"Sabar sayang." Mommy Alana mengelus tangan putrinya, merasa malu pada Azka dan Salsa karena Alana sangat tidak sabaran.
Di antara momen makan malam tersebut, hanya Azka, Alana dan orang tuanya saja yang tampak antusias membicarakan perjodohan. Salsa yang biasanya ramah pada semua orang sejak tadi hanya diam dan menyahut jika di tanya saja.
Wanita itu tidak setuju dengan perjodohan, bukan karena siapa perempuannya, tetapi Salsa tidak suka putranya dipaksa melakukan sesuatu.
"Bagaimana jika pertunangannya dilaksanakan minggu depan? Kita bisa membuat anak-anak beradaptasi dulu sebelum menuju jenjang pernikahan, benar begitu Sayang?" Azka melirik istrinya.
"Terserah kamu saja, aku dan Angkara ikut."
Setelah makan malam selesai dan pembicaraan pun rampung. Dua keluarga itu terlibat pembicaraan ringan antar sahabat, berbeda dengan Angkara dan Alana yang telah meninggalkan restoran lebih dulu.
"Sebentar lagi kita akan tunangan, aku sangat senang. Apakah kak Angkasa juga senang?" tanya Alana menyeimbangkan langkahnya dengan Angkara.
"Aku tidak senang."
"Kenapa? Apa kak Angkasa nggak suka sama aku?"
"Alana?" Angkara menatap Alana, tetapi hanya pipinya saja, ia tidak berani untuk bertemu pandang. Pengecut bukan? "Aku nggak suka sama kamu dan aku benci mengetahui fakta kita akan bertunangan. Kamu boleh mundur dari sekarang atau tersakiti seumur hidupmu!"
"Apa karena kak Tiara? Kak Angkara suka dengan perempuan seperti itu? Aku bisa. Aku akan belajar dengan giat agar bisa seperti kak Tiara, aku akan belajar memasak dan make up."
"Mengundurkan diri jadi ketua geng motor?" Kening Angkara mengerut.
"Aku bersedia mundur dari pertunangan ini," jawab Alana tanpa ragu dan berlalu pergi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
Melia Gusnetty
bagus alana...jgn terlalu d nampak in suka sm angkara...jual mahal dikit...biar nyesel tuu angkara nnt..
2024-03-15
2
Yunia Afida
angkara kelak bakal nyesel lo
2024-02-07
1
Aqil Aqil
aduh alana mundr aja masa cwokx ngga mau sk km ,kmx maksa sich,jual mhl dkt dong alana,lnjt kk othor smngt nlsx💪
2024-02-07
1