"Ya ampun Sayang, wajah kamu kenapa lebam-lebam gini?" Mommy Alana tampak khawatir mendapati putrinya pulang-pulang terluka.
"Ke jedot pintu tadi, Mom. Nggak papa ini, nggak sakit serius deh." Alana menyengir, memindahkan tangan mommynya dari wajah, lantaran sakit jika wajah cantiknya disentuh.
"Bohong, ke jedot pintu bukan begini bentuknya."
"Serius, btw daddy mana?" Mengintip ruangan yang tampak lenggang.
"Ada di ruangannya, tapi sebelum menemui daddy, mommy obati luka kamu terlebih dahulu."
Alana mengangguk pasrah, tidak ada salahnya ia menerima perhatian mommynya. Toh ibu mana pun akan khawatir jika mendapati putrinya pulang tengah malam, dengan wajah terluka.
Setelah menerima pengobatan dari sang mommy dan ganti baju, Alana pun menemui daddynya. Pria paruh baya itu ternyata sedang menikmati segelas kopi.
"Ada apa Daddy menyuruh Lana pulang?" tanyanya duduk di samping sang daddy.
"Disuruh pulang sama daddy saat tengah malam harus dipertanyakan lagi?" Kening Dito mengerut.
"Iya juga ya?" Alana menyengir sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ia memandangi wajah daddynya yang sangat tampan, sambil menunggu pria paruh baya itu mengatakan sesuatu. Entah terbuat dari apa hati daddynya sehingga untuk marah-marah saja rasanya sangat sulit.
Senakal apapun dia, ia tidak pernah mendapatkan bentakan atau pun perlakuan kasar dari daddy Dito.
"Lana sayang banget sama daddy." Langsung memeluk tubuh daddynya karena tidak tahan menahan gemas.
"Sayang tapi selalu bohong sama daddy," cibir Dito.
Harus semua orang tahu, Dito memang membebaskan putrinya keluyuran di luar sana, tetapi ia tidak pernah melewatkan satu pun kegiatan Alana dan selalu pura-pura tidak tahu apa-apa. Tidak ada orang tua yang membiarkan putrinya hidup bebas tanpa pengawasan.
"Beda konsep." Menyengir sekali lagi, membuatnya mendapatkan kecupan di pipi.
"Daddy mau bicara serius sama Alana, tapi janji jangan teriak-teriak apalagi ngambek."
"Hal serius apa?"
"Bagaimana kalau kamu menikah saja? Dengan begitu daddy nggak perlu pusing memikirkan kamu ada di mana."
"Daddy mau menyerahkan Lana sama orang lain karena sudah lelah? Jahat banget!" Bersedekap dada dengan bibir mengerucut.
Dito tertawa, ia sangat suka jika putrinya berwajah masam seperti itu. "Daddy bercanda. Tapi untuk menikah muda, daddy serius Sayang. Ada teman daddy yang mau menjadikan Alana menantu, mau nggak?"
"Teman daddy yang mana? Om Keen? Ih anaknya baru 10 tahun. Tante Alana? Alana nggak mau sama Arga."
"Bukan Sayang."
"Terus?"
"Om Azka."
"Om Azka!" Mata Alana seketika membola. Ayolah, nama itu sangat ia idam-idamkan untuk menjadi papa mertuanya. "Alana mau."
"Giliran sama Angkara saja, cepat banget."
"Karena Lana cinta bangetttttttt sama kak Kara. Menikah kapan Dad? Besok?"
"Ck, baru kali ini daddy bertemu remaja yang dijodohkan tapi senang." Dito menjawil hidung putrinya. "Tidur sana, besok kita makan malam bersama calon mertua kamu."
"Siap komandan!" Alana memberikan hormat dan meninggalkan ruangan kerjanya daddynya.
Malam ini hatinya sedang berbunga-bunga karena mendengar kabar yang sangat menyenangkan.
"Nggak sabar ke sekolah dan bertemu kak Angkasa. Ternyata dia diam-diam suka gue." Alana menyembunyikan kepalanya di balik bantal sakin senangnya.
Meski ia menjabat sebagai ketua geng motor, ia tetap saja perempuan yang bahagia jika sedang jatuh cinta.
Berbeda dengan Alana yang sedang bahagia, Angkara malah duduk di balkon kamarnya. Menikmati angin malam sambil sesekali memetik tali gitar. Ia ingin seperti orang normal lainnya. Jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan seorang gadis. Namun, ia takut memulai. Pikirannya selalu menjurus bagaimana jika hubungan mereka berakhir nantinya?
....
Pagi-pagi sekali Alana telah tiba di sekolah. Bahkan siswa pun masih bisa dihitung jari sakin paginya. Gadis itu duduk di atas motornya sambil memperhatikan pagar, berharap yang di tunggu-tunggu segera datang.
Alana berlari mendekati motor yang baru saja berhenti tidak jauh dari motornya. "Good morning kak Angkasa!" sapanya penuh senyuman, pada lelaki dengan seragam rapi dan atribut lengkap dari kepala hingga ujung kaki.
Angkara melangkah begitu saja tanpa memedulikan Alana, sayangnya gadis itu langsung memeluk lengan Angkara.
"Tebak kenapa hari ini aku sanang dan datang pagi-pagi ke sekolah?"
"Karena ingin."
"Salah. Jawaban yang benar adalah aku ingin bertemu dengan kak Angkasa."
"Al, berhenti bersikap konyol hanya untuk menarik perhatian aku. Kita punya kehidupan masing-masing."
"Tapi kehidupan aku ada di kak Angkasa. Lagi pula kenapa aku harus berhenti padahal kita akan menikah?"
"Menikah?" Kening Angkara mengerut. Ia sedikit terkejut mendengarnya.
"Iya, kata daddy kita akan menikah sebentar lagi."
"Kara!"
Alana dan Angkara langsung menoleh dan mendapati Tiara menghampiri mereka.
"Mau langsung ke kelas?" tanya Tiara.
"Boleh." Angkara melepaskan rangkulan Alana dan beralih menggenggam tangan Tiara.
"Lalu untuk apa pernikahan direncanakan?" lirih Alana.
.
.
.
.
.
Plis, jangan ada yang nabung bab ya. Kalau up langsung baca hehehe. Soalnya aksi nabung bab buat retensi anjlok😔
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
Teh Yen
kara kok.gt makin ngehindar dari Alana yah
2024-02-08
1
Yunia Afida
maaf telat baca soalnya lagi repot bantu tetangga yang lagi ada hajatan nikah
2024-02-07
1
Aqil Aqil
lnjt upx thor buat alana jngn tralalu mngms cnt thor
2024-02-07
1