Sejak terjadinya masalah pengakuan Alana di depan umum, hubungan Angkara dan Alana pun kian meregang. Jika biasanya gadis bar-bar itu mendapatkan makanan di atas mejanya saat siang hari, maka kali ini tidak lagi. Bahkan untuk hukum menghukum pun, Angkara tak pernah berurusan dengan Alana.
Tiara, ya gadis itu lah yang selalu memberikan sangsi pada Alana jika berbuat ulah di sekolah. Seperti saat ini, lima inti Avegas yang terkenal dengan kecantikan dan ketampanannya sedang berdiri di tengah lapangan. Mereka berlima terlambat datang dan kedapatan memanjat tembok.
"Tiara cantik, gue hampir gosong loh ini dijemur mulu," celetuk Jayden.
"Diam lo, ini akibatnya kalau kalian berani terlambat dan memanjat tembok." Tiara bersedekap di tempat yang teduh.
"Bu Ketua diam-diam bae dah sejak tadi. Ada apa sih?" Roy mencolek lengan Alana. Baru kali ini gadis itu tidak membalas setiap ucapan sarkas Tiara.
"Keknya datang bulan dia," timpal Gio yang berdiri tepat di samping Alana.
Namun, celetukan para inti Avegas tak Alana hiraukan. Tatapan gadis itu sejak tadi tertuju pada Angkara yang sedang berjalan bersama beberapa anak osis di lantai dua.
Ada rasa sesal di hati Alana telah menempatkan Angkara dalam masalah hingga berakhir dijauhi seperti ini.
"Apa sikap gue kali ini keterlaluan hanya untuk mengambil perhatian kak Kara?" batin Alana. "Senyumnya manis banget, sayang bukan buat gue. Kenapa sih kak kamu sering buat gue terbang lalu dijatuhkan begitu saja?"
Batin Alana terus bermonolog. Sikap Angkara sering kali membuat Alana berasumsi bahwa lelaki itu mencintainya. Tetapi di sisi lain, Angkara seolah menyuruhnya mundur lewat isyarat yang tak menentu.
"Bu Ketu, hukumannya selesai," bisik Jevian.
"Oh oke." Alana pun berlari meninggalkan lapangan basket, membuat empat inti Avegas menatap dengan heran.
"Alana keknya ada masalah deh, baru kali ini gue liat dia nggak banyak bicara," lirih Jevian.
"Masalahnya banyak, salah satunya tuh!" Roy menunjuk Alana yang ternyata menghampiri Angkara di depan perpustakaan.
"Kak Angkasa, aku mau bicara," ucap Alana dengan wajah seriusnya.
"Bicaralah!"
"Tapi nggak di sini, aku mau bicara berdua saja."
"Di sini atau nggak sama sekali."
Alana menghela napas panjang. "Kenapa kak Angkasa seolah menjauh? Apa karena kesalahan aku saat di kantin? Jika iya, tolong maafkan aku kak. Aku benar-benar nggak bermaksud buat kak Angkasa dalam masalah. Aku hanya ingin kak Angkasa selalu melihatku."
"Aku nggak marah, dan kamu nggak perlu melakukan apapun untuk menarik perhatianku." Berlalu begitu saja.
"Aku benar-benar mencintai kak Angkasa, bukan hanya sekedar kagum atau pun bahan candaan saat gabut!" teriak Alana tetapi tak sekalipun Angkara menoleh.
"Kenapa sih mengejar sampai segitunya, Al? Jangan merendahkan harga diri lo dengan mengemis cinta kak Kara," celetuk Gio yang menghampiri Alana.
"Lo harusnya buktikan kalau lo itu berharga. Lo ketua Avegas nggak boleh menye-menye kayak gini," lanjut Gio.
"Lo benar." Alana tersenyum pada Gio, melingkarkan lengannya di leher Gio dan berjalan ala laki-laki menuju kelas. Bersikap seolah hatinya baik-baik saja.
"Gue kangen deh lawan Mr.K, kali ini gue yakin menang."
"Perlu dicoba bu Ketu. Kita tantang dia ntar malam."
Alana dan Gio menyeringai, bermain dengan Mr.K harus menunggu waktu yang pas. Mr. K akan aktif jika di atas jam sepuluh malam.
....
"Al, All Star mengacak-acak markas dan keyboard lo rusak," lapor anggota Avegas saat Alana dan inti Avegas lainnya baru saja mendaratkan kakinya di markas.
"Maksud lo?"
"Pagi-pagi banget setelah kita berangkat ke sekolah. All Star datang dan menghancurkan semuanya."
Tangan Alana terkepal, keyboard adalah benda yang sangat berharga untuknya. Tanpa keyboard dan mouse mereka tidak akan bisa bermain.
"Anjing lo Devano!" teriak Alana.
Gadis itu kembali naik ke motornya dan melajukan di atas rata-rata. Di belakangnya ke empat ini Avegas menyusul. Alana adalah orang yang sangat berbahaya jika sedang marah.
Gadis berambut panjang itu akan bertindak sesuka hati tanpa memikirkan risiko, jika sedang diliputi emosi.
Bukannya memelankan laju motor setelah sampai di markas All Star, Alana malah kembali menambah kecepatan hingga berhasil memasuki markas dengan motornya. Itu semua karena pagar dan pintu markas All Star tidak tertutup tadi.
"Lo nantangin gue?!" Terlihat jelas dari wajahnya bahwa Devano marah karena Alana menerobos begitu saja bahkan menjatuhkan sesuatu yang sangat berharga di atas meja.
"Bukannya lo yang nantangin? Lo yang menjual dan giliran gue yang membelinya." Alana tersenyum tipis. Turun dari motornya yang telah berada di tengah-tengah ruangan.
"Maksud lo apa menghancurkan barang berharga gue anjir?!" bentaknya dengan mata memerah. Melempar helmnya tepat mengenai wakil All Star
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
Teh Yen
betul.tuh kata gio jangan ngemis cinta kaya gt ke Angkara rendahin harga diri lu jd lah dirimu sendiri buatlah kara cinta dengan segala yg ada dlm.diri.lu Alana
Alana kl.lagi marah serem jg yah 😬
2024-02-08
2
Nena Anwar
bener Al kalo bisa kamu menjauh dan menghindar dulu dari Angkara
2024-02-06
2
Aqil Aqil
jual mhl dkt bs ngga sich al
2024-02-06
1