Sikap aneh Angkara hari ini membuat Alana bertanya-tanya apa kesalahan dirinya semalam. Ketua osis yang terkenal dengan aturan ketatnya itu seakan menghindari dirinya. Bahkan untuk menatap sejenak Angkara enggang melakukannya.
"Ada apa sih dengannya?" gumam Alana sedikit menggerutu. Gadis itu kini ada di kantin bersama empat sahabat cowoknya. Menghabiskan banyak makanan tanpa takut tagihan akan membludak.
Sesekali Alana melirik Angkara yang tampak asik berbincang dengan Tiara.
"Pujaan hati lo anteng benar Al kalau dekat Tiara," celetuk Jayden yang seangkatan dengan Angkara.
"Iya woi, beda cerita kalau dekat sama lo. Hawanya murung mulu." Roy tertawa.
"Diam deh lo Royko ayam, gue kesal!" tegur Alana.
"Kata Gio, tadi Angkara pulang dengan wajah pucat. Apa jangan-jangan lo perkaos anak orang." Vian menaik turunkan alisnya.
"Dahlah makan sama kalian buat gue nggak mood." Alana beranjak dari duduknya, menghampiri Angkara dan Tiara yang menikmati makan siang.
Ia langsung duduk di samping Angkara. "Selamat siang Angkasaku," sapanya ramah.
"Lo ngapain sih gerecoki hidup Kara mulu? Dasar cewek gatal!" tegur Tiara.
"Gatal? Kayaknya nggak deh, gue nggak garuk-garuk sejak tadi." Alana memutar bola mata menyebalkan.
"Kalian bisa diam?" Angkara meletakkan sendoknya di samping mangkuk dan menatap malas dua gadis yang sedang adu mulut.
"Tau tuh si Alana. Nggak ada sopan-sopannya jadi adek kelas. Kita ke kelas saja yuk!" Tiara beranjak dan merangkul lengan Angkara, sayangnya Angkara langsung melepas rangkulan tersebut dan berjalan lebih dulu.
"Kak Angkasa, aku hamil!" teriak Alana, sehingga membuat pengunjung kantin menoleh secara serempak. Begitu pun dengan Angkara yang menghentikan langkahnya.
"Woi bu ketua lo ngomong apa anjir," bisik Roy yang mendekati Alana.
"Pokoknya aku mau kak Angkasa tanggung jawab!"
....
Dua siswa berbeda jenis kelamin sedang duduk di ruang guru BK beberapa menit yang lalu. Bagi Alana ini adalah hal yang biasa untuknya, tetapi tidak untuk Angkara yang jarang mengunjungi ruangan guru BK, apalagi bermasalah seperti saat ini.
"Alana." Guru BK tersebut menatap Alana malas. "Nama kamu sudah nggak asing bagi semua guru. Bukan karena pintar, tapi pembuat onar!"
"Saya tahu Pak."
"Apa yang terjadi hari ini nggak seperti yang bapak bayangkan. Saya dan Alana tidak punya hubungan apapun, apa lagi sampai harus menghamili. Alana tadi hanya bercanda." Angkara berusaha menjelaskan, meski ia tahu hal seperti ini akan sulit ditoleransi.
Angkara mengerti, ucapan Alana tadi bisa saja menjadi bumerang untuk sekolah. Di mana nama sekolah buruk karena siswanya hamil dengan ketua osis.
"Tetap saja orang tua kalian harus di panggil!"
Guru BK tanpa rambut di kepalanya tersebut, segera menghubungi orang tua Alana dan Angkara. Memberikan banyak wejangan pada Alana agar lebih berhati-hati lagi dalam mengucapkan sesuatu apalagi di lingkungan sekolah.
Beberapa menit berlalu, para wali siswa pun datang dan masuk bersamaan ke ruang guru. Alih-alih bersikap angkuh, guru BK itu pun berdiri dan memberikan bow pada pemilik sekolah.
"Maaf karena mengganggu waktunya pak Azka."
"Nggak masalah, kesalahan tetaplah kesalahan." Azka duduk di samping putranya, begitupun Dito yang duduk di dekat Alana.
"Begini Pak, untuk kebaikan nama sekolah, kami membutuhkan konfirmasi dari masing-masing pihak, bahwa ucapan Alana nggak benar. Terlebih video tentang di kantin telah digoreng sedemikian rupa."
"Memangnya bakwan di goreng," gumam Alana. "Sakit Daddy," lirihnya kala mendapatkan cubitan di tangan.
"Video apa?" tanya Azka dengan kening mengerut.
"Video putri aku mengaku hamil karena putramu," jawab Dito.
"Kara benar-benar nggak melakukan apapun Pah."
"Tapi semalam kak Kara tidur sama aku sampai pagi ... Hhhmmpp." Mulut Alana seketika dibekap oleh Angkara.
"Saya akan mengonfirmasi, terima kasih untuk kebijakannya." Azka langsung berdiri, mengkode putranya agar segera ikut bersamanya.
"Benar kamu tidur dengan Alana, Kara? Apa ini alasan kamu pergi semalam?" tanya Azka setelah berada di dalam mobil dan berdua saja.
"Benar, Pa."
"Alasannya?"
"Karena Angkara nggak mau terjadi sesuatu pada Alana. Dia menginap di markas Avegas dan di sana banyak laki-laki. Kara berani bersumpah nggak menyentuh apalagi melecehkannya."
"Kamu mencintainya?"
"Nggak."
"Lalu kenapa kamu peduli pada Alana? Biarkan saja dia tidur di markas. Bahaya atau nggak nya bukan urusan kamu."
"Dia perempuan Pa."
"Papa tahu, tapi nggak perlu peduli pada perempuan yang nggak kamu cintai."
"Sudahlah Pa, Kara harus ke kelas." Angkara membuka pintu mobil, tapi urung turun karena ucapan papanya.
"Papa tahu apa yang kamu sembunyikan Nak. Itu bukan kelainan, jangan malu pada siapa pun."
"Papa bicara apa?"
"Philophobia."
Angkara menelan salivanya kasar, tanpa bicara lagi ia segera meninggalkan papanya. Sekarang Angkara tahu alasan sang papa ingin menjodohkan dirinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
Yunia Afida
alana emang ajaib
2024-02-06
1
Arsyad Al Ghifari 🥰
ya ampuuun Alana .menurun dari siapa sih dirimu kocak bener🤣🤣🤣
2024-02-05
1
Eva Karmita
jangan nyesel loo nanti Alana benar" pergi menjauh sun Kara kayak papa Dito yg ditinggalkan mama Rora 🤦🏻♀️
2024-02-05
1