Angkara langsung beranjak dari meja belajarnya setelah membereskan laptop yang sejak tadi menemani di dalam kamar. Lelaki tampan itu menyambar kunci motor juga jaket kulit yang menggantung di dekat meja.
Merapikan sedikit rambutnya sebelum keluar dari kamar untuk menemui sang mama, yang ternyata duduk dengan papanya di ruang tengah.
"Mau kemana anak mama? Rapi banget," ucap Salsa.
"Kara ada urusan Ma, mungkin sampai pagi," jawab Angkara. Menunduk untuk mencium punggung tangan mama dan papanya.
"Hati-hati dan jaga diri di luar sana," ucap Azka.
"Iya Pa."
Angkara pun meninggalkan rumahnya mengantongkan restu dari orang tua. Memang orang tuanya tidak pernah mengatur pergaulan Angkara sejak dulu, itu lah mengapa ia sedikit terkejut kala papanya membicaran perjodohan. Padahal sebelum-sebelumnya Azka adalah orang pertama yang mendukung setiap langkahnya.
Angkara menghentikan motornya setelah sampai di depan rumah sederhana berlantai dua, dengan chat usang di sekeliling. Terdapat banyak motor besar di bagian kanan, sementara di bawah pohon, beberapa orang sedang seru-seruan, entah menikmati gorengan atau pun sebatas menyesap benda bernikotin. Di antaranya ada gadis cantik yang sedang tertawa di apit dua lelaki tampan.
"Alana!" panggil Angkara, berhasil mengalihkan semua perhatian anggota Avegas, begitupun dengan pemilik nama.
"Tunggu sebentar," ucap Alana pada teman-temannya, kemudian menghampiri Angkara dengan senyuman mengembang. Senang rasanya dihampiri oleh pujaan hati, seolah Angkara datang untuk berkencan dengannya.
"Iya, aku mau jadi pacar kak Angkasa. Sekarang kita pacaran!" seru Alana mesem-mesem sendiri karena salting. Ia menendang-nendang rumput yang tak bersalah.
"Tawarannya sudah basi, aku nggak mau pacaran lagi."
"Lah?" Alana mendongak dengan raut kekecewaan.
"Aku juga tadi cuma bercanda, nggak ada niatan mau pacaran." Alana bersedekap dada, bersikap jual mahal. Padahal seluruh anggota Avegas dan siswa SMA Angkasa tahu betul bagaimana gilanya Alana mengejar cinta ketua osis.
"Pulang, daddy kamu bisa saja marah. Ini sudah jam 10 malam dan kamu masih asik bersama mereka."
"Apa bahayanya bersama mereka? Mereka teman-teman aku. Bagaimana kalau kak Angkasa bergabung?"
"Alana!" Tatapan Angkara menggelap, tetapi tidak membuat Alana takut sedikit pun.
"Woi, gue tidur duluan ya. Pawangnya datang nih!" teriak Alana dan dibalas jempol oleh yang lain.
Alana pun menarik paksa Angkara memasuki markas, tidak sampai di situ saja, ia bahkan membawa pujaan hatinya ke kamar.
"Aku juga laki-laki," peringatan Angkara.
"Nggak apa-apa, hamil sama kak Angkasa aku ikhlas lahir batin." Alana merebahkan tubuhnya di atas ranjang tanpa peduli pada Angkara.
Sebenarnya dia lelah, tetapi enggang istirahat karena pintu kamar di markas sedang rusak dan tidak bisa dikunci. Jika boleh jujur ia juga takut jika tidur di markas, terlebih beberapa anggota Avegas sering bermalam di sana.
"Kenapa kak Angkasa susah di tebak? Kadang baik dan perhatian. Kadang pula kasar dan sering bentak-bentak aku. Aneh banget."
Angkara tersenyum tipis, gadis yang sedang tidur di kasur sepertinya tidak sadar dengan perkataannya sendiri. Sikap Alana pun susah untuk ditebak.
"Kak Angkasa diam mulu dah? Aku perkaos lama-lama!"
"Diam Alana, dan tidur. Kamu harus sekolah besok!"
....
Jarum jam sudah menunjukkan angka 1 dini hari, tetapi mata Angkara enggang untuk terpejam. Perasaan takut mulai menghantuinya sejak Alana memeluk tubuhnya layaknya guling hidup. Jantungnya berdebar tidak beraturan beserta keringat dingin di seluruh tubuh.
Rasa mual pun lebih mendominasi setiap kali menatap wajah gadis cantik yang terlelap di sampingnya. Angkara langsung turun dari ranjang dan duduk di lantai bersandar pada tembok. Ia bagai lelaki frustrasi.
Angkara mengatur napasnya agar kembali normal. "Nggak, aku nggak bisa!" lirihnya seperti orang gila.
Angkara melakukan hal itu hingga tenang dan terlelap dalam posisi yang sama. Lelaki itu baru terbangun saat matahari mulai menerpa tubuhnya yang tidak terlalu berisi, tetapi sempurna untuk ukuran pria.
Ia mengerjapkan matanya, merasa telah pagi, ia pun meninggalkan kamar beserta gadis yang membuatnya tidak tenang semalam. Angkara berbeda, ia tahu itu. Tetapi memalukan rasanya jika ia mengatakan pada orang lain, termasuk orang tuanya.
Ia memiliki kecemasan tentang jatuh cinta pada seseorang. Setiap kali rasa itu muncul, perasaan takut dan gelisah pun menghantuinya.
"Kak Angkasa?" gumam Alana meraba tempat di sampingnya dan tidak menemukan siapa pun. "Lah bukannya semalam dia tidur bersama gue? Sekarang ke mana?"
Tanpa memedulikan penampilan, Alana pun berlari keluar kamar untuk melihat motor Angkara.
"Sudah pergi," celetuk Gio, langsung menghadiahkan susu di hadapan Alana.
"Baru saja?" tanya Alana, meminum susu itu hingga tandas tanpa cuci muka dan berkumur. Sangat jorok.
"Hm, tapi wajahnya pucat banget. Lo ngapain anak orang?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Ciihh katanya MIMPI Saat Alana ajak datang kesana,Kok sekarang malah nyamperin..😂😂
2024-03-23
1
Teh Yen
ankara knp yah apa dia trauma dengan kisah kedua orang tuanya ???
2024-02-08
1
Ummi_ Qiadina
owwh
2024-02-07
0