"Lo kalah lagi kali ini!" ucap Alana dengan angkuhnya. Lagi-lagi ia memenangkan permainan melawan geng sebelah.
"Halah, gue yakin yang jago cuma lo doang, yang lainnya numpang tenar saja!" ujar Devano, ketua geng All Star.
"Jaga mulut lo ya!" bentak Alana tak suka teman-temannya diremehkan. "Perjanjiannya, Avegas menang, geng lo harus patuh sama geng kita!" ucapnya penuh tekanan.
"Halah bacot lo anjir!" Menampar pipi Alana sekeras mungkin. Devano sangat kesal karena kalah bermain dengan Alana tiga ronde.
Ya perkelahian geng motor angkatan 10 memang berbeda. Alih-alih balapan di lapangan atau saling adu kekuatan, mereka malah bermain game di warnet lima lawan lima.
"Sialan lo nampar ketua gue!" Gio mengepalkan tangannya, menarik kerah baju Devano agar keluar dari warnet tersebut.
Gigi Gio bergemeletuk sakin geramnya. Tidak ada yang boleh menyakiti Alana meski seujung kuku saja, terlebih di hadapannya langsung. Terjadi perkelahian di depan warnet, bukan hanya Gio dan Devano, melainkan anggota Avegas dan All Star yang saling beradu.
Sejak awal, mereka telah berjanji untuk menerima kesepakatan, tetapi sepertinya All Star tidak ingin berada di bawah Avegas.
"Harusnya lo di rumah saja main boneka anjir, nggak usah sok-sokan jadi ketua geng motor!" teriak Devano yang beralih melawan Alana.
"Bacot lo bangsat!" Melayangkan tendangan di perut Devano hingga lelaki itu jatuh tersungkur ke tanah. "Kabur woi, polisi!" teriak Alana.
Avegas pun bergegas meninggalkan warnet dengan wajah babak belur hasil perkelahian tadi. Niat awal hanya bermain game, malah beradu jotos.
Alana meringis sambil memperhatikan wajah di depan cermin, setelah sampai di markas. "Setan tuh si Vano, wajah cantik gue rusak," gerutunya mengompres pipinya dengan air es.
"Sini biar gue bantu kompres." Gio merebut alat kompres di tangan Alana.
"Nggak usah, noh obati luka lo sendiri." Merebutnya kembali dan fokus pada cermin, tanpa memperhatikan tatapan Gio yang sangat dalam.
Wakil Avegas itu memiliki rasa yang berbeda pada ketuanya. Melebihi seorang sahabat.
Jarum jam yang terus berdetak, tak terasa membuat hari mulai gelap. Namun, Alana tidak kunjung pulang ke rumahnya. Gadis itu tidak berani menampakkan diri dengan wajah terluka, yang ada motor kesayangannya akan disita oleh sang daddy.
"Mau makan apa Bu ketu? Kita mau ke luar ini," celetuk Jayden, inti Avegas yang memiliki gingsul di bagian kiri. Tingginya 180 cm, membuat Alana bagai bocah di dekat lelaki itu.
"Sate ayam saja."
"Siap."
Sepeninggalan Jayden, Alana pun mengirim pesan pada pujaan hatinya yang entah sedang apa di seberang sana. Mungkin memikirkannya yang terlewat cantik bak bidadari?
📩Alana: Nggak mau pulang, takut sama daddy
📩Kak Angkasa: Ngapain sampai takut?
📩Alana: Wajah aku babak-belur karena berkelahi tadi.
📩Kak Angkasa: Oh
📩Alana: Dih, nanya kek kenapa bisa terluka.
📩Kak Angkasa: Kan sudah dijelaskan di atas Alana. Pulang sana, sudah malam.
📩Alana: Nggak mau. Aku bermalam di markas saja deh, demi keamanan motor. Nanti kalau daddy nanya-nanya ke kak Angkasa, bilang saja ada tugas kelompok.
📩Kak Angkasa: Pulang! Markas nggak aman untuk cewek, di sana banyak laki-laki.
📩Alana: Aman lah, kan aku ketuanya. Tapi kalau kak Angkasa mau ke sini menemani, dengan senang hati aku menunggu.
📩Kak Angkasa: Mimpi!
Alana merengut melihat pesan terakhir Angkara. Benar-benar tidak tersentuh, padahal hari belum berganti saat lelaki itu mengajaknya pacaran secara tiba-tiba. Ia bangkit dari posisinya dan menghampiri anggota Avegas yang sedang seru-seruan di luar markas.
Menjadi anggota satu-satunya perempuan, membuat ia dijaga begitu baik, meski ia sendiri adalah ketua. Avegas bagi Alana, adalah rumah kedua yang tidak akan dia tinggalkan meski banyak pilihan yang dilayangkan.
"All Star kayaknya nggak mau nepatin janji Al. Buktinya mereka nyerang geng motor lain di luar sana," celetuk Gio yang baru saja datang bersama Jayden.
"Salah kita juga nggak ada perjanjian hitam di atas putih sebelum bermain," sahut Alana bertumpu kaki.
"Pria sejati akan memegang ucapannya," timpal Jayden.
"Berarti dia bukan pria dong?" Roy tertawa di ikuti yang lainnya. Roy Koandra adalah inti Avegas yang sangat ahli memainkan taktik saat bermain game. Mata tajamnya membuat ia lihai bersembunyi untuk mengelabui musuh di dunia nyata atau pun game.
"Nah benar tuh yang dikatakan Royko."
"Anjir Royko, bumbu dapur dong!" ejek Gio.
Roy seketika melempar kulit kacang ke arah Gio yang selalu saja bahagia jika ia dinistakan oleh ketuanya sendiri.
"Sial, gegara lewat jalan tikus gue jadi target salah sasaran," gerutu Jevian, inti Avegas yang baru saja datang ke markas. Wajah lelaki itu memerah karena pukulan dari seseorang.
"Siapa yang lakuin?" Alana berdiri.
"All Star!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
ayfa
🤣🤣🤣🤣 aku kira taurannn🤣😭😭
2024-03-21
2
Yunia Afida
jangan sampai gio, jadi jahat gara gara ditolak cintanya
2024-02-05
1
Yunia Afida
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣diluar nulur ni, ku kira perlawanan balapan motor ternyata oh ternyata perlawanan main game to
2024-02-05
1