Suara deruman motor yang memekakkan telinga terdengar silih berganti, ketika segerombolan jaket berlambangkan Avegas memasuki lingkungan sekolah dan tentu saja diketuai oleh Alana.
Gadis itu turun dengan wajah cerianya, bertos ria pada teman-teman segeng sebagai salam menyapa di pagi hari.
"Bu ketua, kita duluan ya," izin beberapa dari mereka dan berjalan menuju kelas.
"Siap, jangan lupa pulang sekolah!"
Alana tersenyum bangga setelah mendapatkan jempol dari anggotanya. Ia berjalan menuju kamar mandi untuk mengganti celananya menggunakan rok seperti siswa pada umumnya.
Saat keluar, ia berpapasan dengan pujaan hati. "Good morning kak Angkasa," sapa Alana, tetapi Angkara tidak merespon. Lelaki itu terus berjalan dengan raut wajah datarnya.
"Apa dia datang bulan kali ya?" gumam Alana. Ia mengedikkan bahunya acuh dan menuju lapangan. Hari ini ia sengaja datang cepat demi menghadiri upacara bendera di hari Senin.
Alana berdiri di bagian paling depan, bukan tertib pada aturan, tetapi ingin melihat betapa gagah ketua osis SMA Angkasa saat menjadi pemimpin upacara.
Senyuman di bibir Alana tak pernah surut sekalipun meski sinar matahari menerpa wajahnya.
"Hormat, gerak!" teriak Angkara sebagai pemimpin upacara.
"Anjir keren banget calon pacar gue!" pekik Alana tanpa sadar. Seketika tawa kecil mulai terdengar, tetapi berbeda dengan para guru yang menatap tajam pada siswa yang sangat bandel tersebut.
Tepat setelah upacara selesai, beberapa siswa diminta untuk tinggal di tengah lapangan, terutama Alana yang tadi tidak menaati peraturan.
"Apa susahnya kalian bangun subuh-subuh untuk mandi dan bersiap-siap hah?!" bentak Angkara dengan wajah dinginnya. Lelaki itu sedang memberikan perhitungan pada siswa yang terlambat ke sekolah.
Ada banyak alasan yang mereka lontarkan akibat keterlambatannya, tetapi tidak ada yang masuk akal di kepala Angkara. Terlebih jika alasan rumah jauh.
"Jika kalian memang niat datang ke sekolah, nggak akan ada namanya terlambat. Rumah jauh, kalian bisa bangun lebih awal. Macet di jalan? Berangkat sebelum macet terjadi!"
"Laki-lakinya, lari 5 putaran dan masuk ke kelas!"
"Siap." Para laki-laki pun mulai berlari di lapangan sepak bola yang ukurannya sangat luas.
Sementara para kaum hawa masih setia dijemur di tengah lapangan basket. "Berdiri sampai gue lelah berdiri!" ucapnya.
Sebagai ketua osis yang baik, Angkara pun ikut berjemur bersama kaum hawa, demi memastikan tidak ada yang pingsan dan membutuhkan pertolongan.
"Kak Angkara, kak Tiara pingsan di kelas!" teriak seorang siswa.
Lantas, Angkara pun berlari menuju kelasnya untuk menolong Tiara. Di belakang lelaki itu, ada Alana yang menyusul.
"Biar aku yang mengendongnya!" Alana mendorong Angkara yang hendak mengendong Tiara ke UKS. Tidak akan dia biarkan jika pujaan hatinya mengendong orang lain.
Tanpa peduli dengan pinggangnya yang mungkin akan patah, Alana membawa Tiara seperti tas ransel dan mendaratkan dengan aman di brankar UKS.
"Gila, berat juga nih nenek lampir," lirih Alana berkacak pinggang. "Dokter, tolong periksa, sepertinya dia pura-pura pingsan karena butuh perhatian," celetuknya.
Dokter yang bertugas di UKS pun melongo tidak percaya, tetapi tetap memeriksa kondisi Tiara. Berbeda dengan Alana yang telah menuju kantin sekolah. Duduk di sana seorang diri sambil menikmati minuman dingin.
"Satu hari nggak mencari masalah bisa?" tanya Angkara yang ternyata menyusul.
"Sebenarnya tadi aku mau jadi siswa teladan, tapi pesona kak Angkara membuatku hilang kendali."
"Mau jadi pacarku?"
"Huh?" Mata Alana membola mendengar pertanyaan Angkara.
"Jadi pacar aku."
"Wait!" teriak Alana. "Tolong tampar aku kak! Buktikan bahwa semua ini hanya mimpi!" pinta Alana yang wajahnya tiba-tiba pias hanya karena diajak pacaran oleh Angkara.
"Aku ...."
Brugh
Tubuh Alana terjatuh ke lantai karena pingsan.
"Malah pingsan," gumam Angkara.
....
Alana berbaring di sofa markas sambil menatap teman-temannya yang berlalu lalang. Ucapan Angkara yang mengajaknya pacaran terus terngiang-ngiang bagai lagu yang disetel ulang.
"Aaaakkkkkhhhhh, harusnya gue nggak pingsan, tapi bilang iya. Bodoh!" teriak Alana mengacak-acak rambutnya.
"Bu Ketua, ada yang nantangin kita nih. Lawan nggak?" tanya Gio yang baru dari luar.
"Gas ajalah!" Alana langsung bangkit dan menyambar jaket kebanggaannya. Kebetulan sekali dia butuh pelampiasan setelah menyia-menyiakan kesempatan emas dari Angkara.
Gadis itu memimpin segerombolan motor besar mayoritas lelaki menuju tempat yang telah ditentukan sebelumnya. Mereka telah membawa alat tempur masing-masing agar tidak kalah melawan geng sebelah.
"Harus memang kita," celetuk Gio setelah sampai di lokasi.
"Haruslah, gue sudah beli senjata baru, ya kali kalah."
"Tapi bu ketua sering kalah kalau mainnya sama Mr.K," ledek Gio membuatnya mendapatkan tatapan tajam dari Alana.
"Gue bisa mengalahkan Mr.K suatu hari nanti, lihat saja."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
Rumi29
bagus tp sedikit kecewa karna author sangkut pautkan karya disini sm karya cetak,apalagi aku yg gk bisa beli novel karna kendala duit
2024-02-08
3
Teh Yen
lah Alana d tembak malah pingsan pdhl nembak mau jd pacar bukan nembak beneran knp pingsan sih Alana 🙈🤣🤣🤣🤣
2024-02-08
1
Yunia Afida
siapa mr k itu
2024-02-05
1