"Bu ketua, dari tadi ponselnya bunyi mulu noh!" tunjuk Gio pada benda pipih di atas meja.
Alana yang baru saja keluar dari dapur, sehabis membuat kopi, segera mengambil ponselnya dan menjawab panggilan dari daddy tercinta. Ia duduk dengan kaki bertumpu di kursi rotan bagian luar markas Avegas.
"Siang Daddy ku Sayang," sapa Alana sambil menyeruput kopi hitamnya.
"Pulang! Jangan keluyuran mulu kamu. Anak gadis kok pergaulannya bebas banget!" Omel lelaki tampan di seberang telepon.
"Maaf Dad, Alana lupa jalan pulang ke rumah. Sharelock, Alana otw sekarang."
"Alana!"
"Ayolah Dad, Alana cuma di markas ini. Lagian kan Daddy salah satu inti Avegas angkatan 1."
"Beda Alana sayang. Kamu itu perempuan, harusnya tinggal di rumah, main boneka dan ...."
"Perempuan dan laki-laki sama saja Daddy, bahkan perempuan bisa melakukan apapun yang dilakukan seorang lelaki, tapi kaum adam tidak akan bisa melalukan hal sebaliknya!"
"Contohnya?"
"Melahirkan, benar nggak?" Alana mengulum senyum mendengar helaan napas di seberang telepon. Sudah pasti ia menang berdebat jika berhadapan dengan daddynya, beda cerita jika bersama Angkara.
"Pulang sekarang!" ucap Dito, Daddy Alana tidak terbantahkan.
"Siap Dad!"
Bukannya beranjak setelah sambungan terputus, ia kembali menikmati kopi hangatnya.
"Pulang lo sana!" usir Gio.
"Berani lo sama gue?" Alana memasang wajar datar dan hanya di balas cengiran oleh Gio. Lelaki itu ikut duduk di samping Alana, menyeruput kopi hangat ketuanya yang tersisa setengah.
....
"Sayang sepertinya akan turun hujan, pakai mobil saja perginya," peringatan Salsa saat melihat putra sulungnya hendak meninggalkan rumah.
"Hanya sebentar Ma, lagian perginya cuma ke gramedia." Mencium punggung tangan sang mama. Setelah pembicaraan sepulang sekolah, Angkara belum menemui papanya.
"Hati-hati kalau begitu. Setelah pulang, temui papa di ruang kerja. Minta maaf karena tadi suara kamu meninggi Sayang."
"Tapi papa yang mulai Ma."
"Papa, urusan mama. Kamu hanya perlu minta maaf untuk menurunkan ego papamu."
"Baiklah." Angkara menghela napas panjang.
Remaja tampan itu segera meninggalkan lingkungan rumah orang tuanya dengan mengendarai motor kesayangan. Menghentikan tepat di depan rumah Tiara setelah sampai. Ia tidak turun, hanya membunyikan klakson sebagai pemberitahuan.
Kening Angkara mengerut melihat penampilan Tiara yang berbeda hari ini. Gadis itu memakai rok di atas lutut padahal ia telah mengabari akan membawa motor.
"Kenapa pakai Rok? Paha kamu bisa saja terlihat."
"Kamu nggak lihat lutut aku yang terluka? Ini semua karena adek kelas menyebalkan itu," gerutu Tiara.
Lantas, tatapan Angkara tertuju pada lutut mulus teman sekelasnya, dan benar saja lutut gadis itu memerah. Ia turun dari motor, melepas jaketnya kemudian mengikat di pinggang Tiara.
"Ayo!" ajaknya.
Tiara mengangguk antusias, segera naik ke motor dan memegang pundak Angkara. Gadis itu tahu bentul jika Angkara tidak suka dipeluk sedekat apapun hubungan mereka. Hati Tiara sungguh berbunga-bunga mendapatkan perlakuan manis dari Angkara.
Andai saja hubungan mereka lebih dari seorang teman, mungkin dia adalah gadis paling beruntung di dunia. Sayangnya, sampai saat ini Tiara tidak berani jujur pada Angkara, lantaran tidak ingin lelaki itu menjauhinya seperti teman-teman yang lain.
"Kara, itu di depan bukannya Alana ya?" tunjuk Tiara pada pengendara bermotor putih yang sedang berhenti di lampu merah, seperti yang mereka lakukan.
"Hm."
"Ternyata bukan hanya nakal di sekolah, di luar pun sama saja."
"Lingkungan sekolah dan lingkungan kehidupan pribadi adalah dua hal yang berbeda, Tiara. Kamu nggak boleh mengurusi siswa SMA Angkasa saat jam pulang sekolah, karena itu bukan hakmu!"
"Kamu benar." Tiara pun mengalihkan perhatiannya di ke arah lain, bertepatan lampu merah berubah hijau.
Para pengendara pun mulai melaju secara tertib, begitu pun dengan gadis yang sejak tadi Tiara dan Angkara bicarakan. Mata gadis itu memicing melihat ketua osis pujaannya boncengan dengan perempuan lain.
"Nggak boleh dibiarkan ini, kak Angkara milik gue!" gumam Alana.
Tanpa pikir panjang, Alana memutar balik motornya dan mengikuti Angkara ke mana pun. Tak akan ia biarkan miliknya didekati oleh nenek lampir seperti Tiara.
Sesampainya di gramedia, Alana berlari dan langsung menerobos di tengah-tengah Angkara dan Tiara.
"Kebetulan kita bertemu di sini Kak." Alana menyengir sambil merangkul lengan Angkara. Hal itu membuat Tiara naik pitam.
Siapa yang tidak kesal jika momen berduanya diganggu oleh seseorang? Terlebih siswa bandel seperti Alana.
"Bukannya tadi lo berlawanan arah sama kita?" celetuk Tiara.
"Memang benar, tapi gue tiba-tiba kepikiran mau baca buku. Eh malah bertemu pujaan hati. Memang benar ya, jodoh nggak akan ke mana."
"Cari lah buku!" perintah Angkara dan melepaskan rangkulan Alana secara paksa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
Yunia Afida
angkara jangan cuek lah tar bucin lo ke alana
2024-02-05
2
Arsyad Al Ghifari 🥰
Alana wanita tangguh tak seperti ibunya yang mudah di tindas .
bagaimana kabarnya Aurora Thor apa jadi menikah dengan Adam atau nggak
2024-02-04
1
Valent Theashef
entr klo alana dh gk ngejar2 baru brsa ya angkara,hehe jngan2 angkara djodohin ma tiara lgi,trs entr pa2 fitnah alana bis tu alana jauh baru deh angkara kehilangan,hehe moga lbih seru ya crtany..
2024-02-04
1