Semua siswa pun berhamburan keluar kelas, layaknya ayam yang baru saja di buka kandangnya, saat jam istirahat tiba. Begitupun dengan Angkara dan Tiara yang berencana menuju kantin untuk makan siang. Mereka yang selalu bersama, sering kali mendapatkan rumor pacaran, dan anehnya tidak ada bantahan dari pihak mana pun.
Seperti saat ini, makan di kantin hanya berdua saja, menimbulkan asumsi dari penikmat kapal Angkara dan Tiara.
"Sejak tadi aku perhatikan kamu celingak-celinguk mulu Kara, cari apa sih?" tanya Tiara karena Angkara tak kunjung menyantap makan siangnya.
"Nggak ada, kamu makan saja. Aku ke kelas sebentar." Angkara pun meninggalkan kantin dengan membawa roti juga susu di tangannya.
Langkah lelaki itu membawanya ke kelas sebelas Ipa 2, di mana gadis gila yang sering mengejarnya berada. Ia menghela napas panjang melihat gadis itu ternyata tidur dengan menelungkupkan kepalanya di atas meja. Padahal tadi lari-larian di koridor hanya untuk menggodanya.
Angkara meletakkan roti juga susu di atas meja. "Makan jangan tidur!" celetuknya.
Pemilik bangku pun membuka mata, mengusap wajahnya cepat demi mencegahnya terjadi pulau. Tersenyum lebar sehingga matanya hampir menghilang.
"Terima kasih kak Angkasa untuk makan siangnya."
"Nama aku Angkara!"
"Tetap saja aku akan memanggil Angkasa, Angkara sayang." Alana menyengir. Di balik popularitas mereka yang bertolak belakang di sekolah. Mereka adalah dua remaja yang hampir seluruh hidupnya dihabiskan bersama. Semuanya di mulai saat di bangku kanak-kanak. Terlebih orang tua mereka sahabat yang tak terpisahkan.
"Terserah!"
"Bibir aku sakit, tidak bisa makan. Lihat, tadi ditampar sangat keras sama kak Tiara."
"Salah kamu karena bandel!"
"Ish, menyebalkan. Aku nggak mau makan!" Alana beranjak dari duduknya. Ia berharap di kejar, tetapi Angkara malah diam saja dengan alis terangkat.
Gadis itu menghembuskan napas kesal, berbalik dan langsung memeluk Angkara. "Kak Angkasa jangan galak-galak kenapa? Aku tuh sayang banget sama kakak. Serius," gumamnya dalam dekapan.
"Nggak usah manja, ketua kok letoy!" Angkara mendorong kepala Alana agar menjauh dari dadanya. "Makan siang sana!" Berlalu pergi.
"Oh Angkasaku, kamu adalah duniaku!" teriak Alana sambil memegangi dadanya.
"Lebay lo ah, kalau anak-anak melihat, lo akan dipecat sebagai ketua," celetuk Gio.
"Yey, gini-gini gue bucin nya sama satu orang saja," cibir Alana. Gadis itu kembali duduk di bangkunya, kemudian menyantap cemilan pemberian Angkara.
Perhatian tapi menyebalkan, itulah kata untuk Angkara yang terlalu baik pada orang terdekatnya.
....
"Jadi kan?" tanya Tiara memastikan setelah mereka telah berada di pagar sekolah.
"Hm, nanti aku jemput." Angkara menganggukkan kepalanya. Mulai melajukan motor ducati hitam miliknya meninggalkan pekarangan sekolah.
Lelaki itu sempat menghentikannya di depan pagar sekolah ketika melihat segerombolan motor besar baru saja meninggalkan lingkungan SMA Angkasa. Di barisan paling depan, yang memimpin tidak lain adalah Alana. Gadis cantik yang mempunyai dua kepribadian bagi Angkara. Kadang manja kadang pula seperti setan. Tetapi siapa yang peduli.
Angkara melanjutkan laju motornya hingga sampai di rumah, dan disambut hangat oleh mama tercinta.
"Langsung ke meja makan saja, Sayang," sambut sang Mama bernama Salsa.
Angkara mengangguk dan langsung bertemu sang ayah juga adik perempuannya yang berusia 10 tahun.
"Kak Kara!" sapa Sheila, si kecil cerewet.
"Makan dulu, sekalian papa ingin membicarakan sesuatu."
"Bicara apa Pa?" tanya Angkara sambil menyendok nasi ke piring.
"Tentang masa depanmu. Kamu nggak seperti papa saat muda dulu. Pergaulan kamu kalau bukan di kamar, ya gramedia atau pun sekolah."
"Terus?" Kening Angkara mengerut.
"Kamu punya pacar?" Azka, sang papa menatap Angkara lekat, seolah mangsa yang tidak boleh lolos dari jangkauannya.
"Angkara nggak memikirkan hal seperti itu."
"Kenapa?"
"Bukannya Papa harus bersyukur Kara tidak terpengaruh pengaulan bebas?"
"Tau papa kamu, Kara. Malah aneh-aneh," celetuk Salsa.
"Papa berencana untuk menjodohkan kamu dengan seseorang."
Pergerakan tangan Angkara berhenti, begitupun dengan Salsa yang tampak terkejut mendengar penuturan sang suami. Suami yang baru saja datang setelah perjalanan bisnis hampir seminggu, malah membicarakan perjodohan di meja makan.
"Azka, kamu bicara apa? Jangan mengulang hal bodoh. Cukup kita yang diuji dulu, tidak untuk anak-anak," tegur Salsa tak setuju.
"Angkara nggak ada niatan untuk mengenal lebih dalam apa itu perempuan dan harus mencintainya." Angkara beranjak. Dekat dengan perempuan, bukan berarti Angkara mudah membuka hati.
"Duduk Angkara!" perintah Azka.
"Kara kenyang, mau mandi dan ada urusan dengan Tiara," jawab Angkara dan berlalu pergi. Moodnya tiba-tiba buruk mendengar perjodohan keluar dari mulut papanya.
Apa itu perjodohan? Memangnya di usianya yang baru memasuki 17 tahun, harus banget mengenal cinta? Angkara ingin bebas melakukan apapun tanpa terikat hubungan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Waahh bau2 akan di jodohkan nih,Pasti sama Alana,Kan ortu mereka sahabatan..
2024-03-23
1
Teh Yen
kenapa papa.azka mau jodohin kara ,,,bukannya dulu kamu menolak saat sahabat mu mau jodohin ank"nya saat kara masih kecil pasti ada alasan knp.azka ke gitu yah 🤔
2024-02-08
2
Yunia Afida
pK azka jangan gitu lah, jangan jodohin anaknya g enak lo
2024-02-05
1