Langit tengah sibuk membaca berkasnya di Ruangannya, kemudian Awan Sekertaris sekaligus sahabatnya datang.
"Assalamualaikum Bos..." Salam Awan.
"Wa'alaikumusalam Wan, ada apa?" Jawab Langit.
"Pagi ini kita ada santunan pembangunan pondok Nahrul Hayah." Kata Awan.
"Jam berapa? " Tanya Langit.
"Jam 9 Bos." Jawab Awan.
"Ok. Kita Jalan sekarang." Langit beranjak dari duduknya.
Merekapun menuju lokasi pembangunan pondok itu. Butuh waktu 40 menit untuk sampai di lokasi itu, karena macet di jalan.
Namun saat di sana pandangan Langit tertuju pada wanita bergamis hitam dengan jilbab biru muda yang tengah tertawa dengan temannya. Tawanya yang cerah, senyumnya yang indah seperti matahari terbit.
Dada Langit tiba-tiba berdetak lebih saat membayangkan jika senyum itu diberikan kepadanya. Awan menyenggol bahu Langit karena tidak fokus saat berbincang dengan pemilik Pondok.
"Wah... Sepertinya kamu tertarik ya pada gadis itu." Bisik Awan.
"Apaan sih." Sungut Langit tidak mau mengakui.
"Kalau tidak tertarik buat aku aja." Lanjut Awan.
Pak Ahmad Pemilik pondok pun tersenyum saat melihat bisik-bisik kedua pemuda di depannya itu. Kedua pemuda di depannya sepertinya, tertarik pada Alumni Pondoknya.
"Namanya Mentari, Mas Langit dan Mas Awan... "
Katanya mengagetkan Langit dan Awan.
" Dia Alumni Pondok ini, Sekarang sudah tidak di sini semenjak sudah jadi Dokter." Ujarnya lagi.
"Kebetulan hari ini datang berkunjung, kangen adik-adik Pondoknya." Lanjut Pak Ahmad.
"Insya Allah masih sendiri, sibuk mengurusi pasien sepertinya sampai belum menikah." Lanjutnya Pak Ahmad lagi.
"Bila berkenan bisa saya ta'aruf kan." Kata Pak Ahmad lagi sambil tersenyum.
"Masya Allah Pak Ahmad, Terimakasih atas tawarannya. " Kata Awan memanasi Langit.
"Uhuk uhuk... " Langit terbatuk mendengar perkataan Awan dan pak Ahmad.
"Seperti sudah siang ya Pak, saya masih ada agenda lagi." Langit mengalihkan pembicaraan.
Akhirnya pun mereka mengakhiri pertemuan itu dan Langit juga Awan pun berpamitan, untuk kembali ke perusahaan Langit lagi.
Sepanjang jalan Langit hanya terdiam, senyuman Mentari masih saja menari di pelupuk matanya. Setelah sekian tahun dia tidak pernah lagi memandang perempuan, sudah di tutup matanya dengan rasa dendam pada masa lalu.
Hingga kini sejak pertemuan di Rumah Sakit di kantin itu, Langit selalu terbayang Senyuman Mentari. Sudah berusaha di tepis perasaan aneh dan penasaran yang hadir saat di Rumah Sakit tapi hari ini justru dipertemukan lagi.
"Wan, Aku minta kamu selidiki semua tentang Dokter Mentari." Lanjutnya.
"Wih, kamu beneran tertarik Lang sama Dia?" Awan terkejut.
Baru kali ini, setelah penghianatan Lucy, Awan mau membahas tentang perempuan, padahal dulu semenjak pulang dari Jakarta Langit menjadi laki-laki yang anti dengan perempuan.
Setiap Perempuan yang mendekatinya di kampus selalu di acuhkan, bahkan ada yang terang-terangan menembaknya di tinggal begitu aja tanpa Jawaban.
Bunda Kharisma sampai memohon-mohon pada Awan untuk mencarikan kenalan perempuan yang baik untuk Langit, Namun setiap kali di tunjukan Langit tak mau melihat sama sekali.
"Udah gak usah banyak tanya, Lakukan aja!" Langit menyahut tapi dengan wajah kesal.
"Ok Siap Bos, Laksanakan." Sahut Awan semangat.
Jujur dia sendiri juga tertarik dengan paras Mentari, tapi Mamanya sudah menjodohkan dirinya sejak SMA dengan anak sahabatnya jadi demi baktinya untuk Mamanya Awan menyanggupi, dan percaya sama orang tuanya.
Langit tersenyum tipis lalu memejamkan matanya, berharap senyum itu hilang sekejap setelah dia tertidur sambil menanti sampai di kantornya. Namun senyum itu tetap menari-nari di pelupuk matanya.
"Sial... kapan kamu mau pergi..." Umpatnya dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒋𝒐𝒅𝒐𝒉𝒏𝒚𝒂 𝑳𝒂𝒏𝒈𝒊𝒕 𝒚𝒂 𝑴𝒆𝒏𝒕𝒂𝒓𝒊 𝒏𝒚𝒂 😅😅
2024-05-29
1
Rini Musrini
ada bintang sm bulan gk ya d langit setelah mentari dan awan.
2024-05-28
1
Sapna Anah
nama bosnya langit nama asistenya awan trus nama sekretarisnya biru
2024-05-05
4