Sepeninggal Alina keluar dari apartemen sahabatnya memergoki suaminya bermesraan kini Fera telah mengenakan pakaiannya kembali, disusul oleh Nino yang sudah lebih dulu sudah rapi.
" Sayang cepat kita kerumah, aku takut nanti Alina akan membawa puteri kita." ujar Fera
"Shit, hampir saja lupa hal itu, aku akan pulang sekarang "
"Aku ikut sayang." Rengek Fera memeluk suami temannya.
"Sudah ayo buruan." Sahut Nino yang sudah kemudian menggandeng tangan Fera.
Sedangkan kini Alina sudah sampai dikediaman rumah suaminya, begitu ia sampai rumah Martha mertuanya mencecar begitu banyak pertanyaan pada menantunya itu, namun bukannya menjawab Alina hanya terdiam, ia masih shock akan hal yang baru saja terjadi.
" Kau dengar aku tidak Alina ?? Alina....!! bentak sang mertua
" Ahh sakit ibu." teriak Alina tubuhnya terbentur sudut meja.
Alina terjatuh setelah Martha mendorongnya karena emosi pertanyaannya tidak direspon oleh menantunya.
" Kau tidak dengar haaahh apa yang aku ucapkan tadi ??"
Alina hanya menggeleng, ia perlahan bangun dari tempat ia terjatuh, sedangkan Lisa adik iparnya baru saja pulang dari kuliahnya.
" Ada apa lagi sama mbak Alina ini mom ?? Cari gara-gara lagi ya dia ?? " ujar Lisa
" Kihat kakak iparmu ini, selain miskin dan penyakitan, dia juga tuli....!!" hina Martha tangannya sudah berkacak pinggang.
" Aku heran sama kak Nino, sampai kapan sih dia mempertahankan isteri penyakitan kayak gini."
" Lisa, kenapa kamu tega berkata seperti itu, aku isteri sah kakakmu " tangis Alina mengusap bahunya yang sakit.
" Persetan dengan itu semua, dari awal aku sudah tidak suka kak Nino menikahi wanita macam kamu."
" Ibu....tolong maafkan aku, sungguh aku tadi tidak mendengar ucapanmu, itu karena aku...."
plaaakkkk
"Ibu, kenapa menampar Alina." ujar Alina, tangannya mengusap pipinya yang perih akibat tamparan.
"Kkarena memang ini hukuman yang pantas untuk menantu yang tidak tahu diri seperti kamu, kesalahanmu pergi keluar terlalu lama bodoh....!! bilangnya ke apotek sampai membutuhkan waktu 3 jam, apa itu mungkin ??" teriak Martha.
" Sudah pukul saja mom, beri pelajaran." Lisa pun mengompori ibunya.
"Aww sakit bu, ampun...maafkan Alina " tangis Alina kian menjadi, tangannya memegangi bagian perutnya yang ditendang ibu mertuanya.
" Bagus mom, itu memang pantas untukmu mbak supaya tidak membangkang." Ucap Lisa dengan kejamnya.
Tubuh Alina beringsut kebawah setelah ia mendapatkan pukulan cukup keras dari martha, tak lama dari itu Nino datang bersama Fera.
"Sayang, lihat isteri kamu dia sudah berani membangkang padaku." Martha sengaja mengadu domba anaknya dan memutar balikan fakta.
"Tidak mas, sungguh aku tidak seperti itu " ucap Alina yang sudah berdiri kembali dan mendekati suaminya. Berulang kali Alina mengelengkan kepalanya bahwa apa yang dituduhkan keluarga Nino padanya salah.
"Kau sebagai suami harusnya paham siapa yang benar dan yang salah." ucap Martha menatap nyalang Alina.
"Mas Nino kamu harus percaya padaku." tangan Alina memeluk bahu suaminya seakan meminta pertolongan sekaligus meyakinkan suaminya.
"Kak Nino harus percaya kami, dia itu wanita ular dan jahat untuk itulah dia dihukum Tuhan dengan penyakit mematikan." Seringai Lisa adik Nino.
Hati Alina begitu sakit saat tangan Nino menghempas tangannya, ia sampai hampir terjatuh kembali, namun ia bisa menahannya supaya ia tidak ambruk dilantai.
"Mas nino...!! Tangis Alina.
Dibalik kekalutan itu ada rasa senang yang terukir diwajah Fera menyaksikan Alina sahabatnya teraniaya, ada rasa kepuasan tersendiri.
" Pergi kamu dari rumah ini Alina, aku sudah tidak ingin kamu berada dirumah ini untuk menyakiti keluargaku."
Mata Alina membola, bibirnya bergetar dan dadanya terasa sakit.
"Apa...apa kamu bilang mas, kamu mengusirku ??"
"Iya...keluarlah dari rumahku dan balik saja ke panti, aku sudah tidak mau lagi memiliki isteri jelek dan penyakitan sepertimu." Hina sang suami dengan kalimat sarkas.
" Kau tega mas kau jahat, setelah apa yang aku lakukan untukmu dan keluargamu, kau kini membuangku bagai sampah." Tangis Alina makin menjadi.
Fera tersenyum menyeringai, wanita ular itu tak tahu malu mendekati suaminya dan menyenderkan kepalanya dibahu kekar suami Alina.
" Dan kalian tega mengkhianatiku. " ujar Alina menatap keduanya.
" Nino, jadi isteri mandul dan penyakitan sudah tahu bahwa kalian berselingkuh ??"
"Iya mom." balas Fera manja pada mertua Alina.
Wajah Alina terkejut, netranya yang teduh menatap Fera dan yang lainnya dengan mata yang membola sempurna.
"Mom....bukankah ibu tidak suka jika aku juga memanggilmu dengan sebutan mommy, tapi kenapa Fera yang bukan siapa-siapa memanggilmu dengan sebutan itu...?? apakah ibu tahu perselingkuhan yang dilakukan mereka ??"
"Tebakanmu hebat temanku sayang." jawab Fera.
" Tidak....tidaaaakkk." teriak Alina frustasi.
"Sudahlah mom, kasih tau si penyakitan ini semua faktanya." Timpal Lisa.
" Bagaimana Nino ?? Apakah tidak apa ?? " Martha seakan meminta persetujuan dari puteranya.
"Terserah mommy saja." Sahut Nino mengusap wajahnya secara kasar.
Martha mendekati Alina dan mencengkeram dagu menantunya dan ia tarik ke atas, mata Alina masih saja menitikan air matanya hingga wajahnya basah.
"Dengar Alina....anakku Nino dan sahabatmu sudah lama berselingkuh, mereka berhubungan dibelakangmu sudah 5 tahun." ucap Martha membeberkan semuanya.
" Apa....!! Mereka sudah lama membohongiku ??"
" Lebih tepatnya membodohi kamu Alina." sentak Fera yang malah mendorong tubuh Alina
"Aakhh sakit Fera." Alina meringis menahan sakit pada perutnya.
"Kau tega mas, kenapa diam saja aku diperlakukan seperti ini ?? Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi ??" Alina menatap nanar pada suaminya.
"Iya aku sudah tidak mencintaimu lagi Alina, dulu saat pertama aku berselingkuh darimu, aku tak mau melepaskanmu karena saat itu aku masih tergila-gila pada wajah dan tubuhmu, tapi kini aku jijik melihatmu sekarang Alina, jijik " teriak sang suami dengan kasarnya.
"Itu karena aku sakit mas, kau harus paham itu."
"Cukup, keluar dari rumahku Alina, mulai sekarang kamu Alina Pratiwi aku talak kamu, mulai hari ini kamu bukan istriku lagi dan haram untukku menyentuhmu." tekan Nino dengan suara menggelegar
Tubuh Alina luruh dilantai, ia menangis menahan rasa sakit didada, tangannya setia berada diperutnya menahan sakit.
"Baiklah jika itu maumu mas, tapi aku akan bawa Nesya bersamaku, dimana Nesya ?? Nesya ini mama nak, kamu di mana ??" teriak Alina bagai orang yang kehilangan arah.
"Mas jangan sampai Alina bawa puteri kita." ucap Fera kencang.
"Apa maksudmu ?? Dia anakku, puteriku." Ujar Alina menampik tangan Fera ketika Nino dan Fera menahannya mencari Nesya.
"Alina aku katakan satu fakta lagi bahwa neysa sebenarnya puteri kandungku bersama suami, jadi kau tak punya hak untuk mengambilnya" ucap Fera.
Alina memundurkan langkahnya, ia mengelengkan kepalanya berulang kali dengan satu fakta yang cukup menyakitkan.
"Tidak, kalian bohong neysa puteriku yang aku ambil dari panti asuhan, kau kan juga ingatkan Nino ??"
" Iya aku ingat, tapi apa yang diucapkan fera itu benar, Nesya puteri kami, anak hasil perselingkuhanku dengan Fera." Jawab Nino.
"Alina kau ingat bukan saat aku bilang akan ke kampung halamanku untuk merawat orang tuaku ?? Saat itu aku sedang hamil anak suamimu, dan aku melahirkan Nesya dikampungku, dan aku kembali saat Nesya berumur 2 bulan." Fera menimpali omongan Nino.
Alina memang mengingat semuanya saat sahabatnya itu berpamitan akan pulang kampung dalam kurun waktu 1 tahun, dan kembali lagi, namun anehnya ia bekerja Kembali diperusahaan suaminya, seakan ingin memungkirinya namun Alina takut akan kenyataan pahit itu.
" Kalian jahat padaku, kalian kejam." Teriak Alina.
"Lihat mom si penyakitan ini sudah mau gila." seringai Lisa dengan ketusnya.
Martha dan Lisa segera menarik tangan Alina dengan kasar dan mereka menyeretnya sampai pada depan pintu.
"Keluar kamu Alina, asal kamu tahu aku yang menyuruh Fera melahirkan pewaris kami, karena kamu mandul." Ucap martha.
" Aku tidak mandul bu."
" Buktinya kau bertahun-tahun tidak hamil, lagi pula aku menemukan surat ketidaksuburan yang kamu sembunyikan dari kami."
" Surat ?? surat apa ??" kening Alina kini mengkerut tak paham.
"Sudahlah tak usah banyak bicara, keluar kamu dari rumahku mbak, aku lebih senang Fera yang akan menjadi pendamping kakakmu ketimbang wanita udik dan penyakitan macam kamu." Hardik Lisa.
" Pergi .....!!"
Alina berdiri dan menggerakan kakinya begitu berat menapaki jalanan di malam hari yang sudah lengang dan hujan deras.
Dengan langkah beratnya Alina meringis menahan sakit diarea perutnya, dari pangkal pahanya keluar darah segar mengalir begitu deras, Alina terkejut, ia panik.
Kepalanya juga terasa pening dan akhirnya tubuh itu ambruk dan tak sadarkan diri, Alina menatap bayangan lelaki mendekatinya, tangan Alina berusaha menggapai bayangan itu.
" Tolonglah saya....tolong !!" ucapnya lirih dan akhirnya Alina menutup matanya.
Jangan lupa like ya 🤗 semoga kalian suka karyaku 😘❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 181 Episodes
Comments
S
Satu yg membuat ku tetap tenang.Othor tidak akan kesusahan membuat mereka membayar smua kekejamannya pd Alina dan aku pastikan mereka akan lebih menderita dr Alina.
2024-05-20
0
Uthie
kejamnya 😡😡😡😡
semoga nanti si Fera juga bakalan penyakitan kaya Alina 😡
2024-04-02
0
Agustia Anggraini Sinaga
biadab kejam 😡😡😡😭😭😭
2024-03-15
0