Bab 17 : Mesti jawab apa?

Mobil berhenti tak jauh dari rumah Kanaka, masih di sekitaran komplek rumahnya sebenarnya.

Kanaka jadi bingung sendiri karena selepas mereka pergi dari rumah Kanaka, tiba-tiba Rere terisak.

"Kamu kenapa nangis Re? Kamu kepikiran perkataan Mimo tadi?" tanya Kanaka.

"Aku tuh terharu sama kebaikan keluarga kamu Ka, ada orang sebaik Mimo sama Pipo, tapi aku juga bingung bagaimana aku menjawab permintaan Mimo tadi, aku takut ngecewain dia yang sebegitu baiknya sama aku," ucap Rere sendu.

"Tenang aja sayang, Mimo cuman bercanda tadi, jangan dimasukin ke hati, nanti aku bilang kalo kamu belum siap, kalo ibu kamu juga belum siap," ucap Kanaka sambil mengelus kepala Rere, Kanaka lalu kembali menjalankan mobil dan fokus menyetir.

Rere menggusah nafasnya panjang, bertemu Kanaka, terlibat kerja bareng selama dua bulan dan menjalin asmara yang sampai saat ini masih aneh di pikiran Rere.

Dunianya diibaratkan seperti bola salju yang menggelinding ke bawah, semakin membesar dan membesar, Rere takut bola salju itu menabrak sesuatu yang membuatnya hancur berkeping-keping.

Jelas dunia Kanaka bukanlah dunianya, mereka seperti berasal dari dua alam, susah untuk disatukan 'seperti pungguk merindukan bulan' dan Rere sedih dibuatnya dengan perbedaan ini.

"Sudah ah nggak usah overthinking seperti itu, Mimo memang orangnya seperti itu kok, um....cenderung ekspresif, Pipo emang dari dulu cool dan nurut sama Mimo, kayak Mimo tuh udah bisa menafsirkan apapun tanpa Pipo bicara dulu, jadi Pipo juga setuju ama kamu, jadi nikmati perjalanan cinta kita ini ya," ucap Kanaka menyakinkan membuat Rere terdiam.

Sampai di depan rumah Rere, Kanaka turun dan mengantarkan sang kekasih, menyapa bu Laras sebentar lalu pamit pulang.

"Gimana Re? Sakit kan ditolak?" tanya bu Laras sinis, karena dia melihat jejak air mata di kedua mata bening sang anak.

"Bu..... orang tuanya Kanaka mau bertemu ibu," ucap Rere hati-hati.

"Hah mau ngapain?! Mau ngehina ibu karena nggak bisa ngedidik kamu, karena kamu merayu anaknya?" Tambah sinis tuh kalimat bu Laras.

"Bukan bu, mereka mau kenalan sama ibu, kayaknya mau sekalian ngelamar Rere, kalo Rere setuju," jawab Rere membuat mata bu Laras melotot.

Ini mereka bukan sedang diolok-olok kan? Mana mungkin orang tua Kanaka mau melamar, atau jangan-jangan.....

"Kamu nggak hamil kan Re?!" tanya bu Laras dengan suara panik.

"Ibu bicara apaan sih! Nggak lagi bu!" Rere ikutan panik mendengar pertanyaan sang ibu yang lebih ke. menuduh itu.

"Ibu jadi bingung Re, masak seperti itu sih?" tanya bu Laras mulai kebingungan dengan alasan keluarga Kanaka yang ingin melamar itu.

"Rere aja bingung harus ngomong apa bu," gumam Rere lalu beranjak menuju ke kamarnya, dia butuh meletakkan kepalanya yang panas ke bantal, siapa tahu otaknya kembali ke tempat semula.

Ketika Rere meletakkan kepalanya, ponselnya yang ia taruh di sampingnya berkedip.

Rere menatap nama yang tertera di layar tersebut, mau ia reject pasti cowok di seberang sana tak akan berhenti menghubunginya.

Dengan berat hati Rere menggeser tombol hijau dan menerima panggilan tersebut.

"Hallo Yang," sapa Kanaka.

Panggilan baru dari Kanaka untuknya itu membuat wajah Rere merona, kenapa jadi sweet gitu sih cowok garang itu, pengen heran tapi Rere tahu emang Kanaka itu seromantis itu.

"Yang... " sapa Kanaka.

"Iya Ka." Akhirnya Rere membalas sapaan Kanaka.

"Aku udah sampai rumah, kamu lagi ngapain?" tanya Kanaka.

"Aku..... Aku lagi rebahan, tiba-tiba pusing," jawab Rere.

Kanaka yang sedang rebahan di kamarnya langsung bangkit saat mendengar kata 'pusing' tadi.

"Aku ke apotik ya beliin obat, atau mau ke dokter sekalian nggak?" tanya Kanaka berniat menyambar jaket dan kunci motornya.

"Ini bukan pusing sakit Ka, ini pusing mikirin yang tadi diomongin sama Mimo,"jawab Rere kesal, andai Kanaka di depannya sudah pasti Rere akan menjitak kepala Kanaka.

"Oh itu..... kirain sakit beneran." Kanaka kembali membaringkan tubuhnya di kasur.

"Emang kamu nggak pusing gitu?" tanya Rere penasaran.

"Nggak sih, soalnya aku sih oke aja kok, pilihan Mimo pasti terbaik buatku, apalagi aku juga cinta sama kamu," ucap Kanaka tanpa basa basi.

"Kita ini masih dua satu lho Ka, masih banyak yang harus kita kejar, kamu juga kan pengen puas-puasin balap sampai lulus nanti," kata Rere pelan, malu mendengar gombalan receh yang tadi diucapkan Kanaka, karena selama mereka pacaran baru kali ini Rere mendengar Kanaka bilang cinta.

"Kan semua juga bisa jalan barengan, ngapain mikir jauh-jauh?"

"Emang Pipo nggak ngelarang kamu nikah muda?" tanya Rere penasaran.

"Ya nggaklah, dia aja nikahin Mimo ketika umurnya baru delapan belas," jawab Kanaka membuat Rere reflek berteriak.

"Aduh Yang, kenceng amat teriak 'HAH' nya?" omel Kanaka sambil terkekeh, karena siapapun pasti tak ada yang percaya bahwa Piponya itu masih muda banget.

Sebenarnya Devano dan Letta itu tak pantas jadi orang tua Kanaka sih, pantesnya jadi kakak Kanaka dan saudara-saudara nya.

Mungkin karena hubungan keluarganya terbilang adem dan jauh dari berantem-beranteman, makanya wajah Devano dan Letta terbilang awet muda jika dibandingkan dengan usia mereka sesungguhnya.

Jiwa muda Devano memberi warna cantik dalam dunia Letta hingga Letta masih secantik itu meski usianya sudah memasuki setengah abad.

"Ya udah kalo memang kamu belum siap, orang tuaku biar kenalan sama ibu kamu dulu," ucap Kanaka akhirnya, tak mungkin kan dia memaksakan kehendak orang tuanya untuk segera meminang Rere segera.

"Nanti aku bilang ke ibu aku dulu ya, nanti aku kabarin kamu lagi."

"Ya udah istirahat sana, nggak usah mikir berat-berat.

Lalu sambungan telepon mereka terputus, Rere merebahkan dirinya ke kasur, dalam benaknya tetap bingung dengan yang terjadi.

Andai pertemuan keluarga mereka beneran terjadi, lalu apa yang akan Rere jawab apabila Mimo beneran memintanya jadi menantunya.

Dengan mengacak rambutnya frustasi, Rere menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal.

Bingung dan terharu dia, tapi bingung karena belum siap membina rumah tangga.

Terpopuler

Comments

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

MMG BETUL, BAGUSNYA LETTA DN VANO KNALAN DLU SAMA LARAS..

2024-06-28

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 : Kemenangan Pertama
2 Bab 2 : Pemuja setia
3 Bab 3 : High Quality Jomblo
4 Bab 4 : Dia lagi....
5 Bab 5 : Satu Tim
6 Bab 6 : Kudu kuat kuat mental
7 Bab 7 : Ternyata perhatian juga
8 Bab 8 : Didekatkan keadaan
9 Bab 9 : Semakin diperhatiin semakin menarik.
10 Bab 10 : Pacarnya Kanaka
11 Bab 11 : Jika Mimo sudah ikut campur
12 Bab 12 : Perhatian lo bikin gue bingung
13 Bab 13 : Terhalangnya Restu
14 Bab 14 : Siap Melamar
15 Bab 15 : Go public
16 Bab 16 : Berkenalan dengan Mimo
17 Bab 17 : Mesti jawab apa?
18 Bab 18 : Bertamu
19 Bab 19 : Dia bilang yes
20 Bab 20 : Rumah Masa Depan.
21 Bab 21 : Kamar dengan jendela besar.
22 Bab 22 : Posesifnya tambah parah.
23 Bab 23 : Selalu direndahkan
24 Bab 24 : Hasil keringat sendiri
25 Bab 25 : Meluruskan kesalahpahaman
26 Bab 26 : Mau balas dendam?
27 Bab 27 : Menikah denganmu
28 Bab 28 : Bukan Malam Pertama
29 Bab 29 : Angkat wajahmu, sombonglah!
30 Bab 30 : Dia terhormat
31 Bab 31 : Perjalanan sesungguhnya dimulai
32 Bab 32 : Isi duluan ya?
33 Bab 33 : Kecolok belum sih?!
34 Bab 34 : Cinta ini menggelembung sempurna.
35 Bab 35 : Tersanjung sekaligus nyebelin.
36 Bab 36 : Aku lho yang dimusuhin
37 Bab 37 : Hanya anak magang
38 Bab 38 : Masih abu-abu
39 Bab 39 : Terbongkar tanpa sadar
40 Bab 40 : Pengusik ketenangan
41 Bab 41 : Membangunkan macan tidur.
42 Bab 42 : Jangan sentuh milik gue!
43 Bab 43 : Berbuntut panjang.
44 Bab 44 : Posesif disana, posesif disini, posesif dimana-mana
45 Bab 45 : Bikin rusuh saja
46 Bab 46 : Upaya melengserkan Kanaka
47 Bab 47 : Salah Sasaran
48 Bab 48 : Lakukan saja yang kamu mau.
49 Bab 49 : Kanaka Unjuk Gigi
50 Bab 50 : Keputusan sulit
51 Bab 51 : Berbagi tugas
52 Bab 52 : Diinterogasi Mimo
53 Bab 53 : Ngobrol bareng keluarga
54 Bab 54 : Letta-Vetsa-Anwar
55 Bab 55 : Tiga pembalap seksi
56 Bab 56 : Sumpah seru!
57 Bab 57 : Balapan persaudaraan
58 Bab 58 : Pasangan Sejati
59 Bab 59 : Si bucin junior
60 Bab 60 : Bukan strategi yang seperti itu
61 Bab 61 : Panggilan sidang
62 Bab 62 : Kedewasaan Kanaka
63 Bab 63 : Dua Jagoan ganteng
64 Bab 64 : Be gentleman
65 Bab 65 : Ngamuk
66 Bab 66 : Nggak harus menyakiti.
67 Bab 67 : Rapat keluarga
68 Bab 68 : Pertarungan dimulai
69 Bab 69 : Memori yang tertinggal
70 Bab 69 : Mengulang.
71 Bab 71 : Ketemu si dia
72 Bab 72 : Yang terindah
73 Bab 73 : Bermain-main sedikit
74 Bab 74 : Menghadapi Pecundang
75 Bab 75 : Berkunjung ke rumah ibu
76 Bab 76 : Menuai apa yang ditabur
77 Bab 77 : Posesif ya posesif aja...
78 Bab 78 : Ngidamnya Rere
79 Bab 79 : Jadi kesayangan semua orang
80 Bab 80 : Ending
81 Extra part 1
82 Extra part 2
83 Extra part 3
84 Extra part 4
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Bab 1 : Kemenangan Pertama
2
Bab 2 : Pemuja setia
3
Bab 3 : High Quality Jomblo
4
Bab 4 : Dia lagi....
5
Bab 5 : Satu Tim
6
Bab 6 : Kudu kuat kuat mental
7
Bab 7 : Ternyata perhatian juga
8
Bab 8 : Didekatkan keadaan
9
Bab 9 : Semakin diperhatiin semakin menarik.
10
Bab 10 : Pacarnya Kanaka
11
Bab 11 : Jika Mimo sudah ikut campur
12
Bab 12 : Perhatian lo bikin gue bingung
13
Bab 13 : Terhalangnya Restu
14
Bab 14 : Siap Melamar
15
Bab 15 : Go public
16
Bab 16 : Berkenalan dengan Mimo
17
Bab 17 : Mesti jawab apa?
18
Bab 18 : Bertamu
19
Bab 19 : Dia bilang yes
20
Bab 20 : Rumah Masa Depan.
21
Bab 21 : Kamar dengan jendela besar.
22
Bab 22 : Posesifnya tambah parah.
23
Bab 23 : Selalu direndahkan
24
Bab 24 : Hasil keringat sendiri
25
Bab 25 : Meluruskan kesalahpahaman
26
Bab 26 : Mau balas dendam?
27
Bab 27 : Menikah denganmu
28
Bab 28 : Bukan Malam Pertama
29
Bab 29 : Angkat wajahmu, sombonglah!
30
Bab 30 : Dia terhormat
31
Bab 31 : Perjalanan sesungguhnya dimulai
32
Bab 32 : Isi duluan ya?
33
Bab 33 : Kecolok belum sih?!
34
Bab 34 : Cinta ini menggelembung sempurna.
35
Bab 35 : Tersanjung sekaligus nyebelin.
36
Bab 36 : Aku lho yang dimusuhin
37
Bab 37 : Hanya anak magang
38
Bab 38 : Masih abu-abu
39
Bab 39 : Terbongkar tanpa sadar
40
Bab 40 : Pengusik ketenangan
41
Bab 41 : Membangunkan macan tidur.
42
Bab 42 : Jangan sentuh milik gue!
43
Bab 43 : Berbuntut panjang.
44
Bab 44 : Posesif disana, posesif disini, posesif dimana-mana
45
Bab 45 : Bikin rusuh saja
46
Bab 46 : Upaya melengserkan Kanaka
47
Bab 47 : Salah Sasaran
48
Bab 48 : Lakukan saja yang kamu mau.
49
Bab 49 : Kanaka Unjuk Gigi
50
Bab 50 : Keputusan sulit
51
Bab 51 : Berbagi tugas
52
Bab 52 : Diinterogasi Mimo
53
Bab 53 : Ngobrol bareng keluarga
54
Bab 54 : Letta-Vetsa-Anwar
55
Bab 55 : Tiga pembalap seksi
56
Bab 56 : Sumpah seru!
57
Bab 57 : Balapan persaudaraan
58
Bab 58 : Pasangan Sejati
59
Bab 59 : Si bucin junior
60
Bab 60 : Bukan strategi yang seperti itu
61
Bab 61 : Panggilan sidang
62
Bab 62 : Kedewasaan Kanaka
63
Bab 63 : Dua Jagoan ganteng
64
Bab 64 : Be gentleman
65
Bab 65 : Ngamuk
66
Bab 66 : Nggak harus menyakiti.
67
Bab 67 : Rapat keluarga
68
Bab 68 : Pertarungan dimulai
69
Bab 69 : Memori yang tertinggal
70
Bab 69 : Mengulang.
71
Bab 71 : Ketemu si dia
72
Bab 72 : Yang terindah
73
Bab 73 : Bermain-main sedikit
74
Bab 74 : Menghadapi Pecundang
75
Bab 75 : Berkunjung ke rumah ibu
76
Bab 76 : Menuai apa yang ditabur
77
Bab 77 : Posesif ya posesif aja...
78
Bab 78 : Ngidamnya Rere
79
Bab 79 : Jadi kesayangan semua orang
80
Bab 80 : Ending
81
Extra part 1
82
Extra part 2
83
Extra part 3
84
Extra part 4

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!