“Atas dasar apa kamu memintaku untuk menceraikannya?” Adam melepaskan cengkraman Raka di pundaknya. “Pantas saja aku merasa ada yang aneh denganmu. Ternyata kamu menyimpan perasaan untuk Alana, iya?”
Adam benar-benar tidak menyangka jika dokter Raka memiliki perasaan lebih untuk Alana. Yang jelas-jelas sudah menjadi istrinya.
“Aku mencintai Alana. Dia adalah cinta pertamaku, sekaligus perempuan yang berhasil merebut hatiku. Tapi karena kamu dia—” dokter Raka memukul wajah Adam hingga pria itu tersungkur ke lantai.
“Brengsek kamu, Adam!” teriak dokter Raka, menunjuk wajah Adam.
Mendengar suara keributan, Alana bergegas turun ke bawah. Penasaran, apa yang sedang terjadi di bawah sana.
“Dokter Raka, apa yang Anda lakukan?” Alana berlari menghampiri Adam dan memapahnya untuk berdiri.
“Alana ... ” lirih dokter Raka, kecewa karena Alana lebih mempedulikan Adam.
“Kenapa Dokter memukulnya? Kesalahan apa yang di lakukan?” tanya Alana menatap tajam dokter Raka.
“Alana, dengarkan penjelasan ku. Suamimu ini, sebenarnya dia bukan pria yang baik!” dokter Raka mencoba mempengaruhi Alana.
Alana mengernyit bingung. “Maksud Dokter apa?”
“Argh! Sakit sekali... ” Adam berpura-pura kesakitan untuk mencari perhatian Alana. “Sepertinya aku terluka di bagian dalam,” rengek Adam seraya melirik dokter Raka.
“Kak, mana yang sakit, katakan.” Alana beralih memegang dada Adam. Tak mempedulikan dokter Raka dan memilih membawa pria itu masuk ke kamar mereka.
Dokter Raka mengepalkan kedua tangannya erat. Ingin sekali dokter Raka mengatakan kalau ia sangat mencintai Alana.
Namun, sepertinya dokter Raka harus melakukannya dengan perlahan. Situasi saat ini bukanlah situasi yang tepat.
“Alana!”
Mendengar teriakan dokter Raka, wanita itu hendak menoleh namun dihalangi oleh Adam.
“Cepatlah, sayang. Bibirku perih dan dadaku sesak.”
“Em, iya, Kak.” Alana melanjutkan langkahnya, hingga mereka berdua menghilang di balik pintu.
Samar-sama, dokter Raka bisa melihat senyum licik Adam sebelum pintu kamar mereka tertutup.
“Sial!” umpat dokter Raka seraya mengusap wajah frustasi.
****
Sesampainya di dalam kamar, Alana merebahkan Adam. Meminta pria itu untuk duduk dan bersandar di sandaran ranjang.
Ia mulai membasuh luka Adam dan mengompresnya dengan air hangat yang baru saja di bawa oleh pelayan.
“Kenapa kalian sampai berkelahi seperti anak kecil begini?” tanya Alana mengoles salep di sudut bibir Adam yang sedikit robek akibat ulah dokter Raka.
Adam menahan pergerakan tangan Alana. “Kamu masih bertanya? Tentu saja ini karena kamu!”
“Kenapa aku? Aku bahkan tidak ada di sana saat kalian bertengkar dan saling pukul.” Alana menarik tangannya menjauh dari Adam. Berada sangat dekat dengan Adam seperti ini membuatnya sedikit risih.
“Karena sepertinya aku jatuh cinta padamu, istri kecilku... ” lirih Adam.
Alana mendongak. “Apa kamu bilang? Aku tidak mendengarnya?” tanya Alana penasaran.
Adam berdecak kesal. Ia merutuki kebodohannya sendiri karena hampir bicara keceplosan di depan Alana. “Apa? Memangnya aku bicara apa?” bukannya menjawab Adam malah balik bertanya.
“Bodoh, bodoh, bodoh! Apa yang kamu katakan, Adam! Kamu mencintai Alana? Tidak! Ini tidak mungkin.” batin Adam meronta.
Alana menghela nafas lalu meletakkan baskom kecil berisi air hangat itu ke atas meja. “Lain kali bicara yang jelas dan jangan membuatku bingung. Katakan, Kakak bilang apa tadi?”
Adam menggeleng cepat. Rasa gengsinya mengalahkan segalanya. “Tidak ada apa-apa. Berapa kali aku harus menjelaskannya? Aku dan Raka kamu berdua mencintai wanita yang sama, puas!” ketus Adam.
Mendengar ucapan Adam seketika pikirannya tertuju pada sang kakak. “Apa wanita itu Sherly?” tanya Alana.
“Sherly?” oh ayolah, sepertinya Alana sudah salam paham pada Adam. Karena bukan wanita penghianat itu yang Adam maksud.
“Benarkan tebakanku. Kalian berdua mencintai Sherly. Dia sungguh beruntung,” ucap Alana tersenyum miris.
Sherly memang terlihat lebih cantik, dewasa dan lebih segalanya di bandingkan dengan dirinya. Pantas saja, dia selalu diperebutkan banyak pria.
“O–oh, iya. Aku dan Raka, kami menyukai Sherly,” jawab Adam sedikit gugup.
Alana mengangguk pelan. “Hari sudah mulai gelap dan aku juga sudah mengantuk. Aku akan tidur lebih dulu,” ucap Alana membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Membelakangi Adam.
Adam diam mematung melihat raut wajah Alana yang berubah dingin.
“Apa yang terjadi padanya? Apa dia marah?” gumam Adam.
“Asal kamu tahu, Alana. Saat bersamamu seperti ini aku sampai lupa siapa Sherly. Yang aku tahu hanya kamu, istriku.” Adam berucap dalam hati seraya ikut berbaring di samping Alana, memperhatikan punggung rapuh wanita itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
sherly
ntahlah
2024-08-14
0
Sandisalbiah
sepolos itu si Alana.. tp polos dan bego itu hampir sama lho..
2024-06-20
1
Febby Fadila
sabar ya alana
2024-06-12
0