Bab. 9

Hampir dua jam lamanya, Adam memainkan aksinya bersama sang istri di kamar mandi dan dibawah kucuran air shower.

Pria itu melakukannya dengan mencoba berbagai banyak gaya. Hingga tak lama terdengar suara le ngu han panjang dari bibir Adam. Pertanda kalau ia sudah mencapai puncak kenikmatan.

“Hah... hah...” Adam mengatur nafasnya yang naik turun. Menoleh ke arah Alana yang sejak tadi tidak bergerak sama sekali.

“Alana, kamu kenapa?” tanya Adam menggoyangkan pundak Alana dan perlahan membalik tubuhnya.

Wajah Alana terlihat pucat dan bibirnya juga kering. Ya, tentu saja semua karena ulah Adam yang memperlakukan Alana seenak jidatnya sendiri.

“Sial! Dia pingsan? Apa aku terlalu kasar saat melakukannya tadi?” gumamnya sambil terus menepuk-tepuk pipi Alana.

Namun, Alana sama sekali tidak merespon apa yang Adam lakukan.

Adam segera membopong Alana, membawa istrinya itu ke dalam pelukannya. “Bangun Alana. Buka matamu! Jangan bermain-main denganku!” teriaknya seraya keluar dari sana.

Adam menidurkan tubuh polos Alana ke atas tempat tidur dan menyelimutinya sebatas dada. Kemudian, menyambar handuk kimono lalu memakainya.

Pria yang nampak khawatir itu langsung bergegas keluar dari kamar mencari keberadaan Boy.

“Selamat sore, Tuan. Apa ada yang Anda butuhkan?” tanya seorang pelayan yang berpapasan dengan Adam.

“Dimana Boy?”

Pelayan tersebut menunjuk ruang kerja Adam. “Boy ada di sana, Tuan,” jawabnya sedikit menyingkir dan mempersilahkan Adam untuk lewat.

“Ganti pakaian istriku dengan pakaian yang sedikit tertutup. Dan ingat, jangan sampai memperlihatkan bagian tubuhnya, mengerti?!” perintahnya sebelum pergi dari sana.

Pelayan wanita tersebut mengernyit bingung. Namun tak lama, ia segera melakukan apa yang Adam suruh.

Di ruang kerja, Boy tengah di sibukkan dengan beberapa berkas yang dikirim oleh Kenan ke rumah. Yang tak lain adalah berkas yang Adam tinggalkan tadi siang sebelum menjemput Alana.

“Astaga, sebanyak ini? Tumben sekali tuan jadi pemalas!” gerutu Boy seraya mengumpat Adam berulang kali.

Adam selalu disiplin waktu. Pria itu akan menyelesaikan pekerjaannya di kantor tanpa membawanya pulang. Dan sekarang, Boy harus menyelesaikan itu sendirian sebelum Adam mempertanyakannya.

Boy memijat pelipisnya. “Dasar bucin tingkat—” belum selesai Boy berucap, ia dikagetkan dengan pintu ruangan yang tiba-tiba terbuka dari luar.

“Boy, dimana kamu!” teriak Adam masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu lebih dulu.

Boy memutar bola mata dengan malas. Pasti sedang terjadi sesuatu yang tidak beres. “Ya, Tuan. Saya disini. Ada apa?” Boy bangkit dari tempat duduknya, menghampiri Adam.

“Panggil dokter Raka kemari.” Adam mengusap wajahnya frustasi. Terlihat sekali kalau ia mengkhawatirkan Alana.

“Apa Anda sakit, Tuan?” tanya Boy penasaran.

Selama tinggal bersama Adam, pria itu belum pernah sakit sama sekali. Kecuali saat asam lambungnya kambuh, itupun Adam hanya meminum obat dan menolak memanggil atau pun pergi ke dokter.

“Bukan aku, tapi istriku! Cepat, jangan banyak bertanya, Boy!”

Boy menahan tawanya. Ini adalah kesekian kalinya Adam menyebut Alana sebagai istrinya.

“Cih! Ternyata benar dugaan ku, kalau tuan memang sudah mulai jadi bucin,” gumamnya menerka-nerka namun hanya dalam hati.

“Boy! Apa kamu mendengar ku, hah?!” teriak Adam tak sabaran. Kesal melihat Boy yang hanya diam saja sejak tadi.

Boy mengangguk. “Ah, iya, Tuan. Saya akan segera menghubungi dokter Raka.” lalu merogoh ponselnya.

...****...

“Apa kamu sudah menganti pakaiannya?” tanya Adam pada pelayan wanita yang baru saja keluar dari kamarnya.

Sesekali, Adam melihat ke dalam. Belum ada tanda-tanda Alana bangun dari pingsannya.

“Sudah, Tuan.” pelayan tersebut undur diri.

Tak lama setelah pelayan itu pergi, Boy datang bersama seorang pria yang berjalan beriringan dengannya.

“Saya sudah membawa dokter Raka, Tuan,” sahut Boy membuyarkan lamunan Adam.

Adam menoleh, menjabat tangan dokter Raka. “Masuklah, istriku sudah menunggu di dalam.”

Dokter Raka tersenyum lalu melangkah masuk diikuti oleh Adam. Sedangkan Boy, memilih untuk menunggu di luar.

“Aku pikir kamu yang sakit. Sampai-sampai aku shock saat Boy menghubungiku dan memintaku untuk. datang kemari.”

Adam berdecak kesal, dokter Raka sekaligus sahabatnya itu selalu saja meledeknya. “Cepat periksa istriku dan jangan banyak bicara!” ketusnya.

“Ya, ya. Baiklah.”

Dokter Raka menoleh ke arah Alana. Pria itu membeku ditempat saat melihat siapa wanita yang saat ini sedang terbaring lemah di atas tempat tidur.

“Kenapa malah diam?” tanya Adam mendongak menatap dokter Raka.

Dokter Raka menelan cairan yang ada di tenggorokannya dengan susah payah. Jantungnya berdetak sangat kencang. Kedua tangannya terkepal erat. “Dia istrimu?”

Adam mengangguk. “Ya, aku menikahinya dua hari yang lalu,” jawab Adam masih dengan raut wajah datar. “Apa kamu mengenalnya?”

“Tidak! Aku sama sekali tidak mengenalnya,” ujar dokter Raka terpaksa berbohong. Tidak mungkin 'kan ia mengatakan pada Adam kalau Alana adalah cinta pertamanya.

Terpopuler

Comments

Sandisalbiah

Sandisalbiah

nasib Alana sangat buruk, Raka.. dia menikah dgn suami gak waras..

2024-06-20

0

Ezhi Alfarizy

Ezhi Alfarizy

wowww ternyata yg datang ehem alana😜

2024-04-26

3

❤️⃟Wᵃf🤎⃟ꪶꫝ🍾⃝ͩDᷞᴇͧᴡᷡɪͣ𝐀⃝🥀ᴳ᯳

❤️⃟Wᵃf🤎⃟ꪶꫝ🍾⃝ͩDᷞᴇͧᴡᷡɪͣ𝐀⃝🥀ᴳ᯳

waduh cinta segitiga.. pupus sudah cintamu dokter Raka potek hatimu 💔💔🥀🥀

2024-04-22

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!