Bab 7

“Pulanglah bersamaku, sudah lama ‘kan kamu tidak menginap?” Clara bergelayut manja di lengan Alana.

“Maaf aku tidak bisa, Ra. Lain kali, ya.” Alana menyesal tidak bisa mampir ke rumah Clara.

Setelah selesai kuliah dan mentraktir sahabatnya itu, Alana kembali ke kampus menunggu kedatangan Adam.

Pria itu mengatakan kalau akan menjemputnya dan tidak mengizinkannya pulang sendirian naik angkutan umum.

Jadi, Alana memilih mengalah daripada kejadian seperti semalam terulang lagi. Dimana Adam menghukumnya tanpa ampun.

Ting.

Ponsel milik Alana berbunyi. Ia mendapat pesan dari Adam kalau pria itu tidak bisa menjemputnya dengan alasan masih ada pekerjaan.

“Tadi bilang bisa, sekarang bilang tidak bisa. Dasar plin plan!” Alana menggerutu namun hanya dalam hati.

“Kenapa? Kamu ada janji dengan pacarmu?” tanya Clara, hari ini ia harus memastikan siapa yang mengukir tanda merah yang ada di leher milik Alana.

“T–tidak kok. Aku naik taksi. Lagipula aku tidak punya pacar, Ra. Kamu tahu ‘kan aku masih jomblo,” jawab Alana gelagapan.

Clara melipat kedua tangan di depan dada. Terus memperhatikan perubahan Alana yang akhir-akhir ini terlihat berbeda.

“Al, bolehkan aku bertanya sesuatu padamu?”

Alana menoleh. “Katakan saja.”

“Apa kamu–” tatapan mereka berdua teralihkan saat sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan gerbang kampus.

Mobil yang sana dimana Clara melihat Alana turun dari mobil itu. “Bukankah itu mobil yang mengantarmu tadi, Al?” Clara menunjuk pria tampan yang keluar dari mobil tersebut. “A-apa dia pangeran?” ujarnya terbata. Bibirnya menganga lebar dan air liurnya hampir menetes.

Dengan setelan kemeja berwarna putih yang di gulung sampai siku dan rambut yang terlihat acak-acakan, Adam menghampiri mereka berdua.

Jika Clara tersihir dengan ketampanan Adam, berbeda dengan Alana yang nampak tidak suka.

“Bukankah dia bilang tidak bisa menjemput ku? Kenapa sekarang ada di sini?” batinnya dengan bibir memberengut sebal.

“Al, dia mendekat kemari. Pria tampan itu astaga, jantungku rasanya mau lepas,” bisik Clara menyentuh dadanya yang berdebar-debar.

Tatapan Adam terus tertuju pada Alana. Tak teralihkan sedikitpun.

Sadar ditatap seperti itu oleh suaminya, dengan cepat Alana menghampiri Adam sebelum pria itu bicara macan-macam pada Clara.

“Kenapa malah menjemput ku? Bukankah Kakak bilang sedang sibuk?” lirihnya tepat di samping telinga Adam dengan sedikit berjinjit.

Adam menaikkan satu alisnya ke atas. “Apa ada masalah?” tanyanya.

“Bukan begitu, Kak. Hanya saja–”

“Kalian saling mengenal, Al?” tanya Clara. Entah sejak kapan gadis itu sudah berada di belakang Alana.

Alana menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal, lalu menoleh ke belakang. “Dia pamanku, Ra. Pria yang aku ceritakan tadi pagi.”

“Oh,” Clara manggut-manggut.

Sedangkan Adam wajahnya berubah kesal. Ia mengeraskan rahangnya menahan emosi. Bagaimana bisa Alana mengatakan pada temannya kalau dia adalah pamannya?

“Hai, paman. Perkenalkan aku Clara, sahabat baik Alana sejak kecil.” Clara mengulurkan tangannya dan disambut oleh Adam.

“Benarkah? Kamu terlihat sangat cantik. Matamu bulat dan indah.” Adam mendekati Clara. “Bibirmu juga terlihat sangat menggoda, Clara.”

Clara menelan ludahnya dengan susah payah. Mendengar semua ucapan Adam membuat seluruh tubuhnya merinding.

Kenapa paman Alana sangat mesum sekali. Apa memang seperti itu watak aslinya?

Alana memutar bola mata dengan malas. Enggan menatap Adam.

“Mau ku antar pulang, Clara?” tawar Adam melirik Alana sekilas lalu beralih pada Clara.

“Paman mau mengantarku?” Clara bertanya sambil menunjuk dirinya sendiri. “Bagaimana Al, apa aku tolak saja?” bisik nya.

Alana mengabaikan pertanyaan Clara dan memilih masuk ke mobil lebih dulu lalu duduk di bangku belakang.

Sedangkan Adam malah mempersilahkan Clara untuk duduk di bangku depan.

“Lihat saja apa yang akan pamanmu ini lakukan, bocah nakal!” ucap nya dalam hati sambil tersenyum smirk.

Clara sesekali menengok ke belakang, lalu beralih pada Adam. Mereka berdua tidak terlihat seperti paman dan keponakan, pikir Clara.

“Kenapa aku merasa ada yang aneh diantara mereka berdua?” gumamnya.

Terpopuler

Comments

Ronaya Endengi-Marunduh

Ronaya Endengi-Marunduh

manthb,,lanjut💪💪👍

2024-08-05

0

Sandisalbiah

Sandisalbiah

fix.. Adam emang beneran sinting.. bukan bukan tp tepatnya gak waras..

2024-06-20

0

nobita

nobita

mengapa tidak mengakui klo Adam suami kamu Alana???

2024-06-04

4

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!