Setelah mengantar Alana ke kampus, mobil Adam langsung pergi dari sana.
Sementara itu, Alana menjadi pusat perhatian lantaran baru saja turun dari mobil mewah Adam.
“Kenapa, Al? Ada masalah?” tanya Clara yang tak lain adalah sahabat Alana sejak kecil.
Alana menggeleng. “Aku merasa mereka semua sedang berbisik dan membicarakan aku,” ujar Alana menundukkan wajahnya sambil terus berjalan menuju ruang kelas.
Clara mengusap punggung Alana. Menenangkan sahabatnya itu. “Sudahlah, apa pentingnya. Katakan saja kalau itu—” kalimat Clara terhenti saat baru saja paham dengan ucapan Alana.
“Ada apa?”
“Tunggu. Benar juga sih, sejak kapan kak Sherly punya mobil baru? Bukankah kamu bilang dia sedang sibuk dengan pekerjaannya?” Clara menatap curiga pada Alana.
Memang benar, saudara kembar Alana itu sedang sibuk dengan bisnisnya sedangkan Alana memilih kuliah. Itu yang Alana ceritakan pada Clara.
“Tidak, kak Sherly dia sedang berada di luar kota,” bohongnya. Alana terpaksa melakukan itu karena Clara adalah gadis yang sangat kepo dan akan menanyakannya sampai ia mendapat jawaban.
“Lalu, siapa yang mengantarmu barusan?” tanya Clara lagi.
“Itu ... em dia, pamanku. Ya, pamanku,” jawab Alana dengan sedikit gugup.
“Paman? Sejak kapan kamu punya paman Al?” benar saja dugaan Alana, sahabatnya itu akan terus bertanya.
Alana menarik tangan Clara. “Sudahlah, jangan pikirkan itu. Bagaimana kalau aku traktir kamu nanti siang ke kafe biasa?” Alana menaik turunkan alisnya.
Berharap kalau Clara melupakan pertanyaannya barusan. Untuk sekarang, Alana belum ingin memberitahukan apapun pada gadis itu.
Kedua manik mata Clara berubah berbinar. Ia mengangguk antusias. “Deal, aku setuju.”
Alana menggelengkan kepala. Namun, mendengar ucapan Clara membuat Alana tiba-tiba diam dengan wajah pucat.
“Kamu habis berkencan?” tanya Clara mengeluarkan buku-bukunya dari dalam tas. Mereka sudah berada di ruang kelas beberapa saat lalu.
“Maksudmu?”
Tatapan Clara tertuju pada leher Alana, dimana ada beberapa tanda merah yang ditinggalkan oleh Adam.
“Di sini ada tanda merah bekas–”
“Ada dosen masuk! Diam lah!” Alana memotong ucapan Clara lalu memalingkan wajahnya kearah lain karena malu.
Sungguh, ia tidak menyangka jika Adam akan meninggalkan banyak tanda merah di sana. Dan dengan bodohnya, ia tidak menyadari itu.
“Dasar menyebalkan. Bisa-bisanya dia melakukan ini padaku. Awas saja nanti,” gumamnya namun dalam hati.
Berbeda dengan Clara, gadis itu menatap curiga pada Alana. Seakan-akan ada yang sedang sahabatnya itu sembunyikan.
“Aneh...” lirihnya.
****
Di kantor, Adam yang terlambat dua jam dari jadwal meeting langsung duduk di kursi kebesarannya.
Pria tampan itu mengendorkan dasinya dan sesekali tersenyum tipis. Entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini.
“Apa kamu sudah tidak waras. Terlambat dua jam, sampai di kantor malah senyum-senyum seperti orang gila!” sahut Kenan yang baru saja masuk ke ruangan Adam.
Adam melirik Kenan sekilas. “Aku ada urusan penting yang tidak bisa ditinggalkan,” jawabnya sambil menggulung lengan kemejanya sebatas siku.
“Urusan apa? Tidak biasanya kamu terlambat di jam meeting.” Kenan tak habis pikir, Adam adalah pria yang selalu tepat waktu. Terlambat sedikit saja biasanya pria itu marah-marah tidak jelas.
Yang ditanya malah mengedikkan bahunya acuh. “Bagaimana meeting hari ini? Lancar?”
Kenan meletakkan beberapa berkas hasil meeting di atas meja Adam. “Semua berjalan lancar. Aku pikir kamu memintaku untuk menundanya dan menunggumu datang. Ternyata kamu berubah pikiran.”
Ucapan Kenan bak angin lalu. Lihat saja, Adam mulai senyum-senyum sendiri tak menghiraukan sahabat sekaligus asisten pribadinya itu.
Kenan berdecak kesal. “Apa semalam malam pertama kalian begitu indah? Sherly memuaskan mu, hum?” tanya Kenan penasaran.
Bukankah biasanya seseorang yang menghabiskan malam pertama akan menunjukkan sikap yang sama seperti Adam?
“Bicara apa kamu? Aku bahkan tidak jadi menikah dengannya!” Adam mulai memeriksa satu persatu berkas yang diberikan oleh Kenan.
“Lalu semalam kamu menikah dengan siapa? Kamu bahkan tidak mengundangku, sialan!” umpat Kenan. Memang benar dirinya tidak diundang entah karena alasan lain atau memang lupa. “Atau, jangan-jangan kamu mulai bosan dengan Sherly dan menikahi wanita lain.”
“Penghianat itu tidak datang dan malah menukar dirinya dengan adiknya.” Adam menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya.
“What?” pekik Kenan tak percaya.
Pasalnya selama ini Kenan tahu bagaimana perjalanan kisah cinta mereka. Dan Sherly terlihat begitu tulus mencintai Adam.
“Bocah kecil sekaligus kembaran Sherly, aku menghabiskan malam pertama dengannya.”
“Sinting!” ketus Kenan menggelengkan kepala melihat raut wajah Adam yang tidak merasa bersalah sama semala
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
sherly
aku tu agak bingung.... kan Alana tu kembar Ama si Sherly tp kenapa seolah2 si alana tu masih bocah dan msh kuliah sementara si Sherly dah dewasa.. jd kesannya ngk kembar
2024-08-14
0
Sandisalbiah
Adam memang sinting, Ken..
2024-06-20
0
Nurlisa Jannah
lagi nyimak
2024-06-20
0