Setelah keduanya selesai membersihkan diri, Adam membopong Alana dan membawanya keluar menuju ke kamar.
Adam merebahkan tubuh Alana yang masih berbalut handuk tipis tersebut ke sisi tempat tidur, lalu melangkahkan kakinya menuju ke walk in closed.
Mengambil satu set piyama tidur dan memberikannya pada Alana.
“Pakai ini,” titahnya, meletakkan piyama itu tepat di samping Alana.
Alana hanya diam menunduk tanpa menjawab ucapan Adam. Masih teringat jelas di ingatan Alana apa yang sudah adam perbuat padanya.
Menghembuskan nafasnya kasar, Adam berkata, “Cepat pakai! Jangan membuatku bertambah marah karena diam mu ini.”
Alana langsung mengambil piyama tidur itu dari tangan Adam.
“Pelayan akan datang dan mengantarkan makanan untukmu. Aku harap kamu segera menghabiskannya. Atau aku tidak akan segan-segan menghukum mu seperti tadi!” ancam Adam.
Setelah mengatakan itu, Adam keluar dari kamarnya meninggalkan Alana yang masih tidak mau menatapnya sama sekali.
“Kenapa kamu melakukan ini padaku Sherly? Kenapa?” tangisan Alana pecah. Dadanya terasa sesak dan sakit. “Apa kamu sadar, karena ulah mu aku yang harus menjadi korban kemarahan pria seperti Adam dan bahkan aku harus menyerahkan…”
Alana tak melanjutkan kalimatnya. Butiran bening mengalir dari sudut matanya.
Alana masih ingat dengan jelas, saat dimana Sherly saudara kembarnya, berlutut dan memohon padanya untuk menggantikan dirinya menikah dengan Adam. Pria yang sama sekali belum pernah Sherly perkenalkan padanya.
Alana sudah menolaknya dengan alasan dia sudah memiliki seseorang yang ia cintai di dalam hatinya. Namun, Sherly sama sekali tidak mau mengerti dan malah berniat untuk bunuh diri.
“Kamu egois Sherly, sangat egois!” Alana menghapus air matanya, lalu memakai piyama yang Adam berikan.
Tak lama, ada pelayan yang mengetuk pintu kamarnya. Seperti yang sudah Adam? katakan tadi, pelayan itu pasti mengantarkan makan malam untuknya.
Sementara itu, Adam memilih berganti pakaian di ruang kerjanya. Setelah selesai ia meminta Boy, asisten pribadinya untuk membeli beberapa pakaian yang akan dipakai oleh Alana selama wanita itu tinggal disini sebagai istrinya.
“Boy!”
“Ya, Tuan.” Boy langsung berlari masuk dan menghampiri Adam. “Apa anda membutuhkan sesuatu, Tuan?” tanya Boy.
“Cari tahu dimana keberadaan Sherly sekarang dan alasan kenapa dia pergi di malam pernikahan kami!”
Boy mengangguk dan segera pamit undur diri dari hadapan Adam. Langkahnya terhenti saat tiba-tiba tuannya itu kembali memanggil namanya.
“Apa ada yang anda butuhkan lagi. Tuan?” tanya Boy.
Adam bangkit dari tempat duduknya, menghampiri Boy dan menatap tajam pria itu. “Cari tahu juga tentang Alana!”
Boy mengernyit bingung. Apa ia tidak salah dengar? Tuannya ingin tahu tentang Alana, pengantin pengganti Sherly?
Bukankah yang Adam butuhkan adalah informasi mengenai mantan kekasihnya?
“Istriku! Cari tahu informasi mengenai istriku dan ada hubungan apa antara dia dan Sherly!” tegas Adam tanpa mau ada bantahan sama sekali dari Boy.
Boy masih diam di tempat. Mencerna semua ucapan Adam.
“Kenapa malah diam, hah! Cepat pergi sana!”
“Baik, Tuan. Saya akan melakukan apa yang anda suruh,” jawab Boy lalu pergi dari hadapan Adam.
Adam menghela nafas kasar, mendudukkan tubuhnya ke sofa dan memijat keningnya yang terasa pusing. “Kenapa kamu pergi di hari pernikahan kita Sherly. Apa salahku padamu? Apa kamu sudah tidak mencintaiku? Apa aku tidak ada artinya untukmu?” gumamnya lirih.
“Apa kamu tahu, kalau aku dan saudara kembar mu itu, kami sudah...” Adam tak melanjutkan perkataannya. “Argh! Brengsek!” Adam mengusap wajahnya frustasi dan menghancurkan semua barang-barang yang ada di atas meja kerjanya.
Sungguh, Adam benar-benar tidak menyangka kalau dirinya adalah pria pertama yang sudah mengambil paksa mahkota Alana.
Amarah dan rasa kecewanya pada Sherly membuat kedua matanya tertutup tanpa mau mendengar penjelasan Alana lebih dulu.
“Tidak! Alana memang pantas mendapatkannya. Dia adalah saudara kembar Sherly. Jadi, aku pastikan Alana akan hidup menderita bersama denganku.” seringai licik terukir dari bibir Adam.
Baginya, penghianat akan mendapatkan hukuman yang setimpal dari perbuatannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Deasy Dahlan
sudah kasar..mau apalagi adam.
2024-06-20
0
Sandisalbiah
naif sekali cara berfikirmu, Adam... ternyata sebagai seorang pengusaha otakmu sangat picik.. emang bisa melimpahkan kesalahan org lain dan melampiaskan kemarahan pd saudaranya... aneh dan gak dewasa kesannya..
2024-06-20
0
Febby Fadila
pergi aja alana dari situ. serly saja bisa kabur
2024-06-12
0