Bab Sembilan Belas

Awan ... terima kasih sudah menangis bersamaku dan terima kasih sudah menghapus jejak air mataku.

Hujan begitu derasnya turun dari langit kelabu, membasahi bumi dengan derasnya. Ghendis tak peduli jika itu membasahi tubuhnya. Dia terus mencoba memperbaiki taman yang Alice rusak tadi.

Seperti langit yang gelap serta mendung, begitulah hati Ghendis pun terasa gelap. Dia teringat pada kenangan indah yang pernah ia bagikan dengan orang yang ia cintai. Namun kini, mereka telah berpisah. Dia ingin kembali bersama Dicky. Hanya pria itu yang mengerti dirinya.

Ghendis mengernyitkan dahi, mencoba menahan air mata yang ingin pecah. Dia merasakan titik-titik hujan yang jatuh seakan-akan menyentuh hati yang patah. Setiap tetes hujan yang turun membasahi tubuhnya, mengingatkannya pada kesedihan yang menghantui pikirannya.

Ghendis terlihat rapuh dan lemah, ia ingin meluapkan segala emosinya, namun tidak ada yang bisa dia ceritakan. Sebatang pena tidak sanggup mengungkapkan perasaan yang terpendam di dalam dirinya.

Hujan semakin deras, mengalir mebasahi tubuhnya. Ghendis merasakan air hujan mencium pipinya, tetes demi tetes, seolah membacakan cerita kesedihannya. Dalam diam, hujan memeluk Ghendis, menghapus sejumput kepedihan yang ada dalam hatinya.

Ketika kilatan petir melintas di langit, Ghendis teringat pada masa lalu yang tak bisa kembali. Dia merasakan kekosongan mendalam, seakan-akan kebahagiaan telah meredup menjadi nyala kecil yang hampir padam. Hujan semakin menekan hatinya, seperti mencoba memadamkan cahaya itu.

Dari kamarnya Aksa melihat Ghendis yang kehujanan menanam semua bunga agar kembali seperti semula.

"Apa aku keterlaluan padanya? Aku rasa tidak. Dia yang begitu lancang merusak taman bunga itu, padahal sudah aku ingatkan jika dia tak boleh merubah apa pun di rumah ini!" ucap Aksa pada dirinya sendiri.

Malam mulai menjelang, hujan masih terus turun. Ghendis tampak kedinginan. Dia melihat taman itu, tapi tetap saja tak bisa kembali seperti semula. Ghendis lalu mendekati tempat dia melukis tadi. Beruntung dia tadi membawa dompetnya. Ghendis mengambil dompet. Dia menuliskan sesuatu di kain kanvas.

"Maaf Mas, aku harus pergi. Jika matahari mengalah dengan bulan demi keindahan, maka aku akan mengalah demi kebaikan bersama. Terlihat meyakinkan, tapi menyakitkan. Suatu hari kau pasti akan mengingatku sebagai perempuan bodoh yang bisa kau manfaatkan, atau sebagai perempuan bodoh dan baik yang telah kau sia-siakan. Tolong jaga Alice. Seperti katamu aku tak boleh masuk rumah jika tak bisa mengembalikan taman ini. Untuk itu aku pergi. Maaf aku tak langsung pamit denganmu. Sampaikan salam penuh cintaku untuk Alice."

Di bawah deras hujan Ghendis pergi dari rumah itu secara diam-diam. Dia melewati pintu belakang. Dengan baju basah dia menghentikan taksi yang lewat. Gadis itu mematikan ponselnya.

Aksa baru selesai mandi mendatangi kamar putrinya. Dia ingin membujuk Alice untuk memanggil Ghendis mengajaknya makan. Dia gengsi untuk melakukan itu.

"Sayang, sudah mandi ya. Wangi banget," ucap Aksa.

"Tadi enak Papi. Aku main bunga-bungaan," ucap Alice dengan suara khas anak-anaknya.

"Main bunga?" tanya Aksa.

"Iya, Mimi menggambar. Aku main bunga. Aku ambil semua bunga, beri untuk Mimi," jawab Alice dengan polosnya.

"Jadi yang cabut semua bunga itu kamu, Sayang?" tanya Aksa hampir tak percaya. Alice menganggukan kepalanya sebagai jawaban.

Aksa mengusap wajahnya kasar. Dia menjambak rambutnya frustasi. Menyesal tak mendengarkan penjelasan Ghendis tadi dan juga tak mau mendengarkan pembelaan istrinya itu, padahal dia bisa saja memeriksa CCTV. Karena emosinya dia meminta wanita itu memperbaiki sesuatu yang tidak dia rusak. Di bawah hujan deras pula.

"Kita panggil Mimi sekarang, ajak makan," ucap Aksa. Dia langsung menggendong sang putri menuju taman belakang.

Sementara itu Ghendis meminta supir taksi membawa ke tempat rumah kontrakan Dicky. Dia tak tahu harus kemana lagi. Pulang ke rumah orang tuanya, pasti dia yang akan disalahkan.

Air matanya tak berhenti turun. Supir taksi saja begitu iba melihatnya. Sesekali pria itu melirik ke arah Ghendis.

Tuhan ... Aku lelah. Ingin rasanya aku lari sejauh mungkin, teriak di sebuah tempat yang mungkin tidak ada satupun dari mereka yang tau. Menangis di bawah derasnya hujan, melepaskan semua beban didiri ini. Begitu sempurna cara engkau mendewasakan aku, tapi kenapa harus aku Tuhan? Sampai kapan aku harus belajar tegar di balik rasa sedih ini? Begitu berat skenario yang Engkau buat. Tuhan, bangunkan aku dari mimpi buruk ini.

Ghendis turun di halaman rumah Dicky. Dia mengeluarkan uang untuk membayar biaya taksi. Tapi supir itu tak mau menerima. Mungkin iba melihat gadis itu.

"Tak usah bayar, Neng. Simpan saja buat Neng. Bapak ikhlas," ucap Bapak supir itu.

"Pak, ini hak Bapak. Terima saja. Aku masih ada uang," balas Ghendis.

"Tak apa, Neng. Bapak jadi ingat anak Bapak. Seusia Neng kira-kira. Doakan saja Bapak sehat dan murah rezeki. Bapak hanya ingin menolong," jawab Bapak itu lagi.

"Ya Tuhan, Pak. Semoga semua kebaikan Bapak di balas," doa Ghendis. Dia telah memaksa agar bapak itu menerima tapi dia tak juga mau.

Ghendis berjalan menuju pintu rumah kontrakan Dicky, mengetuknya beberapa kali. Barulah terdengar langkah kaki mendekat. Saat membuka pintu, pria itu terkejut melihat wanita yang dia cintai berdiri dengan baju basah dan mata sembab.

"Ghendis, kamu kenapa?" tanya Dicky kuatir.

Dicky meminta Ghendis masuk dan memberikan handuk. Dia meminta gadis itu mengganti pakaiannya. Celana training dan baju kaos miliknya dia berikan.

"Aku pergi dari rumah," ucap Ghendis.

"Ghendis, bukannya aku tak suka kamu ada di sini. Tapi kamu sudah menikah, jika suami kamu tahu kamu di rumahku, dia bisa mempidanakan aku dengan pasal menyembunyikan istri orang, pasal perselingkuhan. Aku bawa kamu ke hotel saja ya. Kita beli pakaian dulu," ucap Dicky.

Ghendis hanya menganggukan kepala sebagai jawaban. Dia mengerti posisi Dicky. Pasti serba salah jadi dirinya. Di satu sisi dia ingin menolong. Di sisi lain dia takut karena gadis itu telah menikah.

Setelah berganti pakaian, Dicky mengajak Ghendis ke toko pakaian sebelum mengantarnya ke hotel.

Di tempat lain, Aksa terkejut saat melihat tak ada orang di taman. Pandangannya lalu tertuju ke kain kanvas yang bertuliskan pesan dari Ghendis.

Kembali pria itu menarik rambutnya frustasi setelah membaca tulisan tangan Ghendis.

"Mimi mana, Pi?" tanya Alice, setelah melihat ke seluruh penjuru sudut taman, tapi tak tampak Ghendis di sana. Aksa tak bisa menjawab pertanyaan anaknya itu.

...----------------...

Terpopuler

Comments

𝓵𝔂𝓷𝓭𝓲𝓪🖤ᥫ᭡.

𝓵𝔂𝓷𝓭𝓲𝓪🖤ᥫ᭡.

maaf, metafora nya salah, seharusnya "awan, terima kasih sudah menangis"

2024-11-17

1

Katherina Ajawaila

Katherina Ajawaila

tau diri kamu Aska, Terima karmamu hanya manfaatin istri kalau ada perlunya 😭

2025-03-01

0

Ninik Srikatmini

Ninik Srikatmini

sedih thor 😭😭😭😭

2025-03-01

0

lihat semua
Episodes
1 Bab Satu
2 Bab Dua
3 Bab Tiga
4 Bab Empat
5 Bab Lima
6 Bab Enam
7 Bab Tujuh
8 Bab Delapan
9 Bab Sembilan
10 Bab Sepuluh
11 Bab Sebelas
12 Bab Dua Belas
13 Bab Tiga Belas
14 Bab Empat Belas
15 Bab Lima Belas
16 Bab Enam Belas
17 Bab Tujuh Belas
18 Bab Delapan Belas
19 Bab Sembilan Belas
20 Bab Dua Puluh
21 Bab Dua Puluh Satu
22 Bab Dua Puluh Dua
23 Bab Dua Puluh Tiga
24 Bab Dua Puluh Empat
25 Bab Dua Puluh Lima
26 Bab Dua Puluh Enam
27 Bab Dua Puluh Tujuh
28 Bab Dua Puluh Delapan
29 Bab Dua Puluh Sembilan
30 Bab Tiga Puluh
31 Bab Tiga Puluh Satu
32 Bab Tiga Puluh Dua
33 Bab Tiga Puluh Tiga
34 Bab Tiga Puluh Empat
35 Promo Novel Terbaru
36 Bab Tiga Puluh Lima
37 Bab Tiga Puluh Enam
38 Bab Tiga Puluh Tujuh
39 Bab Tiga Puluh Delapan
40 Bab Tiga Puluh Sembilan
41 Bab Empat Puluh
42 Bab Empat Puluh Satu
43 Bab Empat Puluh Dua
44 Bab Empat Puluh Tiga
45 Bab Empat Puluh Empat
46 Bab Empat Puluh Lima
47 Bab Empat Puluh Enam
48 Bab Empat Puluh Tujuh
49 Bab Empat Puluh Delapan
50 Bab Empat Puluh Sembilan
51 Bab Lima Puluh
52 Bab Lima Puluh Satu
53 Bab Lima Puluh Dua
54 Bab Lima Puluh Tiga
55 Bab Lima Puluh Empat
56 Bab Lima Puluh Lima
57 Bab Lima Puluh Enam
58 Bab Lima Puluh Tujuh
59 Bab Lima Puluh Delapan
60 Bab Lima Puluh Sembilan
61 Bab Enam Puluh
62 Bab Enam Puluh Satu
63 Bab Enam Puluh Dua
64 Bab Enam Puluh Tiga
65 Bab Enam Puluh Empat
66 Bab Enam Puluh Lima
67 Bab Enam Puluh Enam
68 Bab Enam Puluh Tujuh
69 Bab Enam Puluh Delapan
70 Bab Enam Puluh Sembilan
71 Bab Tujuh Puluh
72 Bab Tujuh Puluh Satu
73 Bab Tujuh Puluh Dua
74 Bab Tujuh Puluh Tiga
75 Bab Tujuh Puluh Empat
76 Bab Tujuh Puluh Lima
77 Bab Tujuh Puluh Enam
78 Bab Tujuh Puluh Tujuh
79 Bab Tujuh Puluh Delapan
80 Bab Tujuh Puluh Sembilan
81 Bab Delapan Puluh
82 Bab Delapan Puluh Satu
83 Bab Delapan Puluh Dua
84 Bab Delapan Puluh Tiga
85 Bab Delapan Puluh Empat
86 Bab Delapan Puluh Lima
87 Bab Delapan Puluh Enam
88 Bab Delapan Puluh Tujuh
89 Novel ISTRI KEDUA
90 Bab Delapan Puluh Delapan
91 Bonchap
92 Promo Novel Terbaru
93 Pengantin Pengganti Tanpa Nasab
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Bab Satu
2
Bab Dua
3
Bab Tiga
4
Bab Empat
5
Bab Lima
6
Bab Enam
7
Bab Tujuh
8
Bab Delapan
9
Bab Sembilan
10
Bab Sepuluh
11
Bab Sebelas
12
Bab Dua Belas
13
Bab Tiga Belas
14
Bab Empat Belas
15
Bab Lima Belas
16
Bab Enam Belas
17
Bab Tujuh Belas
18
Bab Delapan Belas
19
Bab Sembilan Belas
20
Bab Dua Puluh
21
Bab Dua Puluh Satu
22
Bab Dua Puluh Dua
23
Bab Dua Puluh Tiga
24
Bab Dua Puluh Empat
25
Bab Dua Puluh Lima
26
Bab Dua Puluh Enam
27
Bab Dua Puluh Tujuh
28
Bab Dua Puluh Delapan
29
Bab Dua Puluh Sembilan
30
Bab Tiga Puluh
31
Bab Tiga Puluh Satu
32
Bab Tiga Puluh Dua
33
Bab Tiga Puluh Tiga
34
Bab Tiga Puluh Empat
35
Promo Novel Terbaru
36
Bab Tiga Puluh Lima
37
Bab Tiga Puluh Enam
38
Bab Tiga Puluh Tujuh
39
Bab Tiga Puluh Delapan
40
Bab Tiga Puluh Sembilan
41
Bab Empat Puluh
42
Bab Empat Puluh Satu
43
Bab Empat Puluh Dua
44
Bab Empat Puluh Tiga
45
Bab Empat Puluh Empat
46
Bab Empat Puluh Lima
47
Bab Empat Puluh Enam
48
Bab Empat Puluh Tujuh
49
Bab Empat Puluh Delapan
50
Bab Empat Puluh Sembilan
51
Bab Lima Puluh
52
Bab Lima Puluh Satu
53
Bab Lima Puluh Dua
54
Bab Lima Puluh Tiga
55
Bab Lima Puluh Empat
56
Bab Lima Puluh Lima
57
Bab Lima Puluh Enam
58
Bab Lima Puluh Tujuh
59
Bab Lima Puluh Delapan
60
Bab Lima Puluh Sembilan
61
Bab Enam Puluh
62
Bab Enam Puluh Satu
63
Bab Enam Puluh Dua
64
Bab Enam Puluh Tiga
65
Bab Enam Puluh Empat
66
Bab Enam Puluh Lima
67
Bab Enam Puluh Enam
68
Bab Enam Puluh Tujuh
69
Bab Enam Puluh Delapan
70
Bab Enam Puluh Sembilan
71
Bab Tujuh Puluh
72
Bab Tujuh Puluh Satu
73
Bab Tujuh Puluh Dua
74
Bab Tujuh Puluh Tiga
75
Bab Tujuh Puluh Empat
76
Bab Tujuh Puluh Lima
77
Bab Tujuh Puluh Enam
78
Bab Tujuh Puluh Tujuh
79
Bab Tujuh Puluh Delapan
80
Bab Tujuh Puluh Sembilan
81
Bab Delapan Puluh
82
Bab Delapan Puluh Satu
83
Bab Delapan Puluh Dua
84
Bab Delapan Puluh Tiga
85
Bab Delapan Puluh Empat
86
Bab Delapan Puluh Lima
87
Bab Delapan Puluh Enam
88
Bab Delapan Puluh Tujuh
89
Novel ISTRI KEDUA
90
Bab Delapan Puluh Delapan
91
Bonchap
92
Promo Novel Terbaru
93
Pengantin Pengganti Tanpa Nasab

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!