Bab Delapan Belas

Ghendis yang telah selesai mandi tak melihat Aksa di kamar. Dia tersenyum dan menepuk jidatnya.

"Apa yang kamu lakukan tadi Ghendis? Apa yang ada dipikiran pria itu melihatnya?" tanya Ghendis pada dirinya sendiri.

Dia lalu berjalan keluar dari kamar menuju ruang keluarga. Tak terlihat satu orang pun di sana. Ghendis langsung ke ruang makan. Terlihat Aksa yang sedang memangku putrinya. Wajah garis itu memerah menahan malu teringat apa yang dia lakukan tadi.

"Mimi ...," panggil Alice begitu melihat kehadiran Ghendis. Dengan senyum manisnya gadis itu menghampirinya. Mengecup kedua pipinya. Pandangan Ghendis dan Aksa bertemu kembali.

"Sayangnya Mimi wangi banget. Pasti sudah mandi," ucap Ghendis menghilangkan kegugupan.

"Iya, Mi. Papi juga wangi. Coba Mimi cium," ucap Alice dengan polosnya. Ghendis memandangi wajah Aksa. Pria itu sepertinya tersenyum mengejek.

Ghendis lalu berjalan ke bangku di samping mama Reni tanpa suara lagi. Mama Reni melihat rambut gadis itu yang masih basah tersenyum.

"Selamat Pagi, Ma," ucap Ghendis dan mengecup pipi mertuanya.

"Selamat Pagi, Sayang. Kamu tampak lebih fres pagi ini."

"Mungkin tidurku nyenyak tadi malam, Ma," balas Ghendis.

Mama Reni masih terus tersenyum. Dia meminta semua segera sarapan.

"Aku mau di suapin Mimi," ucap Alice.

"Iya, Sayang. Sini Mimi pangku," ucap Ghendis. Dia berdiri menghampiri bocah itu dan menggendongnya.

Ghendis lalu menyuapi Alice dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Mama Reni yang memperhatikan semua interaksi cucu dan menantunya merasa sangat bahagia dan bersyukur karena merasa Alice berada di tangan wanita yang tepat.

"Alice, nanti kalau sudah punya adik tak boleh manja lagi dengan Mimi. Sebentar lagi pasti di perut Mimi ada adiknya," ucap Mama Reni.

Ghendis dan Aksa serempak memandangi wajah mama Reni. Terkejut dengan ucapan wanita itu. Dalam hatinya gadis itu berkata, bagaimana dia bisa hamil, berhubungan badan saja tak pernah dengan suaminya.

"Ma, kenapa bicara begitu sama Alice," ucap Aksa.

"Mama ingin cucu dari kalian berdua. Umur mama sudah semakin tua. Takut tak bisa melihat kelahiran cucu kedua. Mama harap kalian tak menunda memiliki momongan," balas Mama Reni.

Aksa dan Ghendis hanya diam tak menjawab ucapan sang mama. Karena bagiamana mungkin bisa hamil jika berhubungan saja mereka tak pernah.

Setelah sarapan, Aksa dan Ghendis pamit pulang. Hari ini gadis itu tak perlu datang lagi ke kantor karena Aksa telah mendapatkan kesalahan dalam perhitungan pengeluaran kantor. Dan dia akan mengadakan rapat dengan staf keuangan.

"Ghendis, sesuai dengan janjiku, aku akan memberikan apa pun yang kamu inginkan sebagai bayaran. Kamu ingin uang cash berapa? Atau mobil?" tanya Aksa saat dalam perjalanan menuju rumah mereka.

"Aku tak mengharapkan imbalan. Aku melakukan dengan ikhlas. Bukankah membantu suami itu juga merupakan kewajiban. Aku tak ingin kamu rugi, karena jika perusahaan bangkrut yang akan menanggung akibatnya bukan hanya kamu seorang. Kasihan Alice, saat memasuki bangku sekolah dia pasti butuh banyak biaya," jawab Ghendis.

"Anggap ini bukan bayaran, tapi hadiah dariku. Kamu ingin apa? Mumpung aku baik," ujar Aksa.

Ghendis memandangi wajah pria itu. Dia sudah mulai tak kaku lagi. Apakah sebenarnya Aksa pria yang perhatian, sehingga Grace jatuh cinta dengannya? Tanya gadis itu dalam hatinya.

Sampai di rumah, Aksa tak turun dari mobil. Dia harus langsung ke kantor. Alice dan Ghendis saja yang keluar.

"Ghendis, pikirkan apa yang kamu inginkan. Setelah itu katakan padaku. Aku pasti akan memberikan," ucap Aksa kembali mengingatkan.

"Aku pikirkan dulu, Mas," balas Ghendis.

"Papi, da da ...," ucap Alice saat Aksa menjalankan mobilnya kembali. Dia melambaikan tangan pada pria itu dan di balas Aksa dengan melakukan hal yang sama.

***

Sore hari, Ghendis dan Alice kembali melukis di taman belakang rumah. Gadis itu memberikan satu kain kanvas untuk bocah itu melukis.

Ghendis meneruskan lukisannya yang belum selesai. Dia ingin menyalurkan hobinya yang tak bisa dia lakukan jika di rumah ibunya. Ibu akan marah jika melihat gadis itu melukis. Hanya membuang waktu, begitu yang ibu katakan.

"Sayang, mau kemana?" tanya Ghendis melihat Alice yang turun dari kursinya.

"Main di sana, Mi," tunjuk Alice ke arah taman bunga.

"Jangan jauh-jauh mainnya. Di sana saja ya!"

"Iya, Mi ...," jawab Alice.

Bocah itu berlari ke arah taman bunga. Taman yang di buat oleh Aksa untuk istrinya Grace, karena dia sangat menyukai bunga.

Walau Grace telah tiada taman itu tetap di jaga dan di rawat oleh Aksa. Dia meminta tukang kebun untuk merawat bunga-bunga itu. Sehingga bunganya tumbuh mekar dan sangat indah.

Ghendis begitu serius dengan lukisannya sehingga tak menyadari apa yang Alice lakukan. Bocah itu mencabut dan merusak taman bunga itu sehingga tak berbentuk lagi.

Alice mengambil bunga dan berjalan menuju Ghendis. Dia ingin memberikan pada gadis itu.

"Mimi, ini bunga untuk Mimi," ucap Alice memberikan beberapa tangkai bunga yang dia cabut.

Ghendis melihat itu dengan pandangan heran. Dari mana bocah itu mendapatkan banyak bunga hidup.

"Sayang, dari mana bunga ini kamu dapat?" tanya Ghendis.

"Itu ...." Alice menunjuk ke arah taman bunga yang sudah tak berbentuk lagi. Semua telah berantakan.

Ghendis berdiri dan melihat secara dekat. Jantungnya langsung berdetak cepat, melihat taman yang sudah tak berbentuk itu lagi.

"Alice, kenapa kamu mencabut bunga di taman ini, Sayang?" tanya Ghendis dengan frustasi. Dia menarik rambutnya.

"Bunganya cantik, Mimi," ucap Alice dengan polosnya.

Ghendis berjongkok. Mengambil bunga yang telah Alice cabut. Mengumpulkan di satu tempat. Dia mengambil tangkai yang mungkin masih bisa ditanami.

"Sayang, kamu duduk saja di sana. Sepertinya akan turun hujan. Biar Mami tanami lagi bunga ini. Siapa tahu masih bisa diselamatkan. Mimi takut papi marah jika melihat taman ini berantakan," ucap Ghendis.

"Iya, Mi," balas Alice. Dia berlari menuju teras, duduk di kursi yang ada. Sedangkan Ghendis mencoba menanami kembali. Dadanya terasa sesak, takut Aksa akan marah mengetahui semua ini.

"Ini kelalaianku, kenapa membiarkan Alice bermain tanpa pengawalan," gumam Ghendis dalam hatinya.

Ghendis yang serius menanami bunga tak menyadari kehadiran Aksa. Pria itu tegak dengan tangan di pinggang. Napasnya memburu menahan emosi melihat taman yang sudah tak berbentuk.

"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Aksa dengan suara lantang

Ghendis menoleh dan melihat ke arah Aksa dengan ketakutan. Wajah pria itu tampak memerah menahan amarah.

"Aku sedang memperbaiki taman ini, Mas," jawab Ghendis ketakutan.

"Dari awal sudah aku katakan padamu, jangan pernah merubah apa pun yang ada di rumah ini. Apa lagi merusaknya!" ucap Aksa dengan suara yang tinggi, membuat Ghendis makin katakutan.

"Bukan aku yang merusak, tapi ...."

Belum sempat Ghendis menjelaskan terdengar lagi suara Aksa, yang bicara dengan lantang.

"Kembalikan taman ini seperti semula. Jangan karena aku mulai baik padamu sehingga kau bisa dan boleh melakukan semaumu. Ingat posisimu di sini, Ghendis. Kau bukan pemilik rumah ini. Ini milik Grace. Dan akan jatuh ke tangan Alice. Jangan bermimpi kau akan memiliki semua ini!" ucap Aksa dengan lantang.

Harga diri Ghendis tak terima dengan ucapan Aksa yang seakan menuduhnya ingin menguasai dan memiliki harta miliknya. Gadis itu berdiri dan menatap pria itu dengan mata tajam dan terluka.

"Aku juga tak pernah berpikir sedikitpun untuk menguasai atau memiliki rumah ini. Aku sadar posisiku di sini, hanya sebagai pengasuh Alice. Tak perlu kau ingatkan lagi! Akan aku perbaiki seperti semula walau bukan aku yang melakukannya, tadi Alice yang mencabutnya," ucap Ghendis dengan penuh penekanan.

"Jangan kau limpahkan kesalahanmu pada Alice, Ghendis! Kau perbaik saja taman ini. Jika belum bagus seperti semula, jangan pernah masuk ke rumah," ucap Aksa.

Aksa berjalan meninggalkan Ghendis seorang diri. Hujan turun membasahi bumi seolah tahu dan mengerti perasaan gadis itu.

...----------------...

Terpopuler

Comments

Katherina Ajawaila

Katherina Ajawaila

suami Edan, ngk punya hati, tidur aja sana Aska di kuburan grace, ngk sopan. 🥸

2025-03-01

0

Ninik Srikatmini

Ninik Srikatmini

dsr laki2 bodoh.. msh aja hidup dgn masa lalu

2025-03-01

0

Rahma Waty

Rahma Waty

kadian
thor. bikin aksa nyesel

2024-11-18

0

lihat semua
Episodes
1 Bab Satu
2 Bab Dua
3 Bab Tiga
4 Bab Empat
5 Bab Lima
6 Bab Enam
7 Bab Tujuh
8 Bab Delapan
9 Bab Sembilan
10 Bab Sepuluh
11 Bab Sebelas
12 Bab Dua Belas
13 Bab Tiga Belas
14 Bab Empat Belas
15 Bab Lima Belas
16 Bab Enam Belas
17 Bab Tujuh Belas
18 Bab Delapan Belas
19 Bab Sembilan Belas
20 Bab Dua Puluh
21 Bab Dua Puluh Satu
22 Bab Dua Puluh Dua
23 Bab Dua Puluh Tiga
24 Bab Dua Puluh Empat
25 Bab Dua Puluh Lima
26 Bab Dua Puluh Enam
27 Bab Dua Puluh Tujuh
28 Bab Dua Puluh Delapan
29 Bab Dua Puluh Sembilan
30 Bab Tiga Puluh
31 Bab Tiga Puluh Satu
32 Bab Tiga Puluh Dua
33 Bab Tiga Puluh Tiga
34 Bab Tiga Puluh Empat
35 Promo Novel Terbaru
36 Bab Tiga Puluh Lima
37 Bab Tiga Puluh Enam
38 Bab Tiga Puluh Tujuh
39 Bab Tiga Puluh Delapan
40 Bab Tiga Puluh Sembilan
41 Bab Empat Puluh
42 Bab Empat Puluh Satu
43 Bab Empat Puluh Dua
44 Bab Empat Puluh Tiga
45 Bab Empat Puluh Empat
46 Bab Empat Puluh Lima
47 Bab Empat Puluh Enam
48 Bab Empat Puluh Tujuh
49 Bab Empat Puluh Delapan
50 Bab Empat Puluh Sembilan
51 Bab Lima Puluh
52 Bab Lima Puluh Satu
53 Bab Lima Puluh Dua
54 Bab Lima Puluh Tiga
55 Bab Lima Puluh Empat
56 Bab Lima Puluh Lima
57 Bab Lima Puluh Enam
58 Bab Lima Puluh Tujuh
59 Bab Lima Puluh Delapan
60 Bab Lima Puluh Sembilan
61 Bab Enam Puluh
62 Bab Enam Puluh Satu
63 Bab Enam Puluh Dua
64 Bab Enam Puluh Tiga
65 Bab Enam Puluh Empat
66 Bab Enam Puluh Lima
67 Bab Enam Puluh Enam
68 Bab Enam Puluh Tujuh
69 Bab Enam Puluh Delapan
70 Bab Enam Puluh Sembilan
71 Bab Tujuh Puluh
72 Bab Tujuh Puluh Satu
73 Bab Tujuh Puluh Dua
74 Bab Tujuh Puluh Tiga
75 Bab Tujuh Puluh Empat
76 Bab Tujuh Puluh Lima
77 Bab Tujuh Puluh Enam
78 Bab Tujuh Puluh Tujuh
79 Bab Tujuh Puluh Delapan
80 Bab Tujuh Puluh Sembilan
81 Bab Delapan Puluh
82 Bab Delapan Puluh Satu
83 Bab Delapan Puluh Dua
84 Bab Delapan Puluh Tiga
85 Bab Delapan Puluh Empat
86 Bab Delapan Puluh Lima
87 Bab Delapan Puluh Enam
88 Bab Delapan Puluh Tujuh
89 Novel ISTRI KEDUA
90 Bab Delapan Puluh Delapan
91 Bonchap
92 Promo Novel Terbaru
93 Pengantin Pengganti Tanpa Nasab
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Bab Satu
2
Bab Dua
3
Bab Tiga
4
Bab Empat
5
Bab Lima
6
Bab Enam
7
Bab Tujuh
8
Bab Delapan
9
Bab Sembilan
10
Bab Sepuluh
11
Bab Sebelas
12
Bab Dua Belas
13
Bab Tiga Belas
14
Bab Empat Belas
15
Bab Lima Belas
16
Bab Enam Belas
17
Bab Tujuh Belas
18
Bab Delapan Belas
19
Bab Sembilan Belas
20
Bab Dua Puluh
21
Bab Dua Puluh Satu
22
Bab Dua Puluh Dua
23
Bab Dua Puluh Tiga
24
Bab Dua Puluh Empat
25
Bab Dua Puluh Lima
26
Bab Dua Puluh Enam
27
Bab Dua Puluh Tujuh
28
Bab Dua Puluh Delapan
29
Bab Dua Puluh Sembilan
30
Bab Tiga Puluh
31
Bab Tiga Puluh Satu
32
Bab Tiga Puluh Dua
33
Bab Tiga Puluh Tiga
34
Bab Tiga Puluh Empat
35
Promo Novel Terbaru
36
Bab Tiga Puluh Lima
37
Bab Tiga Puluh Enam
38
Bab Tiga Puluh Tujuh
39
Bab Tiga Puluh Delapan
40
Bab Tiga Puluh Sembilan
41
Bab Empat Puluh
42
Bab Empat Puluh Satu
43
Bab Empat Puluh Dua
44
Bab Empat Puluh Tiga
45
Bab Empat Puluh Empat
46
Bab Empat Puluh Lima
47
Bab Empat Puluh Enam
48
Bab Empat Puluh Tujuh
49
Bab Empat Puluh Delapan
50
Bab Empat Puluh Sembilan
51
Bab Lima Puluh
52
Bab Lima Puluh Satu
53
Bab Lima Puluh Dua
54
Bab Lima Puluh Tiga
55
Bab Lima Puluh Empat
56
Bab Lima Puluh Lima
57
Bab Lima Puluh Enam
58
Bab Lima Puluh Tujuh
59
Bab Lima Puluh Delapan
60
Bab Lima Puluh Sembilan
61
Bab Enam Puluh
62
Bab Enam Puluh Satu
63
Bab Enam Puluh Dua
64
Bab Enam Puluh Tiga
65
Bab Enam Puluh Empat
66
Bab Enam Puluh Lima
67
Bab Enam Puluh Enam
68
Bab Enam Puluh Tujuh
69
Bab Enam Puluh Delapan
70
Bab Enam Puluh Sembilan
71
Bab Tujuh Puluh
72
Bab Tujuh Puluh Satu
73
Bab Tujuh Puluh Dua
74
Bab Tujuh Puluh Tiga
75
Bab Tujuh Puluh Empat
76
Bab Tujuh Puluh Lima
77
Bab Tujuh Puluh Enam
78
Bab Tujuh Puluh Tujuh
79
Bab Tujuh Puluh Delapan
80
Bab Tujuh Puluh Sembilan
81
Bab Delapan Puluh
82
Bab Delapan Puluh Satu
83
Bab Delapan Puluh Dua
84
Bab Delapan Puluh Tiga
85
Bab Delapan Puluh Empat
86
Bab Delapan Puluh Lima
87
Bab Delapan Puluh Enam
88
Bab Delapan Puluh Tujuh
89
Novel ISTRI KEDUA
90
Bab Delapan Puluh Delapan
91
Bonchap
92
Promo Novel Terbaru
93
Pengantin Pengganti Tanpa Nasab

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!