Bab Delapan

Setelah bertemu Dicky, Ghendis langsung menuju rumah kediaman orang tuanya Aksa. Dia ingin menjemput ponakan yang sekarang telah menjadi anak tirinya juga.

Ghendis mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Hatinya sedikit lega karena Dicky bisa mengerti posisinya saat ini. Mereka memutuskan untuk berteman saja. Bagiamana pun Ghendis menghormati pernikahannya.

Dengan langkah pasti gadis itu melangkah menuju pintu utama rumah orang tua Aksa. Rumah model klasik yang halamannya sangat luas. Mungkin lima kali lebih besar dari rumah orang tuanya.

Belum sempat Ghendis mengetuk, pintu itu telah terbuka. Pasti ada CCTV yang memperlihatkan kedatangannya. Pintu itu sepertinya menggunakan remote.

Ghendis berjalan masuk, dan di sambut dengan bibi. Wanita paruh baya itu memintanya langsung menuju meja makan karena sudah waktunya makan siang.

Langkah kaki gadis itu terhenti saat melihat Aksa juga berada di ruang makan. Dia menarik napas. Takut pria itu berkata kasar.

"Duduklah Ghendis, kebetulan kami mau makan," ajak mama Reni.

Alice yang duduk di samping Aksa langsung tersenyum dan mengembangkan tangannya minta di gendong.

"Mimi ...," panggil bocah itu.

"Iya, Sayang. Pasti kangen sama Mimi," ucap Ghendis mendekati bocah itu dan menggendongnya.

Mama Reni tersenyum manis melihat Ghendis dan Alice yang tampak akrab dan saling menyayangi. Dia meminta menantunya duduk di sebelah kursinya.

Ghendis menyuapi Alice terlebih dahulu, baru dia sendiri yang makan. Sisa makanan Alice juga dihabiskan. Aksa melirik diam-diam ke arah gadis itu. Apa lagi saat Alice yang terus-menerus mencium pipinya.

"Alice, jangan ganggu Mimi. Biar Mimi makan dulu," ucap Mama Reni saat melihat cucunya yang selalu mencium Ghendis membuat gadis itu terkadang menghentikan suapannya.

"Tak apa, Ma. Aku masih bisa makan. Alice memang selalu begitu," ucap Ghendis.

Alice memang selalu melakukan hal serupa jika dalam gendongannya. Dia tak akan berhenti mencium pipi gadis itu.

Setelah makan, Aksa dan mamanya duduk di ruang keluarga. Ghendis masih di dapur dengan Alice.

"Kamu lihat sendiri, Alice begitu menyayangi Ghendis. Anak kecil itu hatinya bersih dan suci. Pasti dia dapat merasakan ketulusan gadis itu. Mama harap kamu juga mencintai istrimu itu. Saat ini yang jadi prioritas kamu adalah Ghendis bukan Grace lagi. Mama lihat di rumah masih terpampang foto kamu dan Grace, seharusnya kamu bisa menjaga perasaan istrimu!" ucap Mama Reni menasehati sang putra.

"Ghendis tak keberatan jika foto Grace yang terpajang. Lagi pula itu semua agar Alice tahu siapa ibu kandungnya," balas Aksa.

"Jangan kamu kira orang diam itu setuju. Mungkin saja dia hanya menghindari perdebatan. Kamu jangan lupa, saat ini dia istrimu. Melukai perasaan istri itu bisa membuat rezekimu mandek!" ujar Mama Reni.

Mata Aksa sedikit melotot mendengar ucapan ibunya. Pria itu heran melihat sang ibu yang seperti menyayangi istrinya dari dia sendiri.

"Kenapa mama dan Alice menyukai wanita keras kepala itu? Pelet apa yang dia pakai," gumam Aksa dalam hatinya.

Ghendis berjalan dibelakang Alice. Dia terlihat menjaga si kecil dari belakang, takut bocah itu jatuh karena berjalan dengan sedikit berlari.

"Kamu kenapa datang tak barengan dengan Aksa, Nak?" tanya Mama Reni saat gadis itu telah duduk di sofa.

Ghendis memandangi wajah Aksa sebelum menjawab pertanyaan mertuanya. Dia lalu tersenyum. Sedangkan wajah suaminya tampak menegang seperti menahan sesuatu.

"Tadi aku ke kantor dulu, Ma. Pamit sama teman-teman karena aku harus resign," jawab Ghendis dengan senyum khasnya.

"Maafkan Aksa, karena dia kamu harus resign," balas Mama Reni.

"Bukan karena aku, Ma. Sebagai seorang wanita yang telah berkeluarga, dia memang harus resign. Untuk apa menikah jika urusan rumah tetap pembantu yang lakukan!" ucap Aksa.

"Aksa, kamu menikahi Ghendis, bukan pembantu. Dia bisa bekerja jika Alice telah masuk sekolah. Sekarang sudah tak zaman istri itu hanya di rumah. Apa kamu lupa Grace juga dulu bekerja?" tanya Mama Reni.

"Grace hanya bekerja kapan dia mau, dan juga hanya sebagai model!" jawab Aksa.

"Tetap namanya bekerja. Jangan egois. Mama yakin Ghendis akan tetap melakukan kewajibannya walau harus bekerja," balas Mama Reni lagi.

Aksa tampak menarik napas. Mama Reni awalnya memang kurang menyukai Grace, karena mantan istrinya itu hanya mementingkan penampilan saja. Untuk hamil saja, awalnya dia tak mau. Dia takut tubuhnya menjadi jelek. Akhirnya karena ancaman dia akan mencari wanita lain, membuat Grace akhirnya mau. Tapi karena pendarahan akhirnya dia meninggal.

Aksa merasa menyesal karena memaksa istrinya hamil. Dia merasa menjadi penyebab kematian sang istri.

"Aku mau ke kantor sebentar. Sore baru pulang. Apa kamu mau ikut denganku? Aku akan antar kamu dan Alice pulang baru aku lanjut ke kantor," ucap Aksa dengan suara yang datar.

"Aku dan Alice pulang pakai motor saja. Kamu langsung ke kantor saja, Mas," jawab Ghendis.

"Apa kau ingin mencelakai putriku dengan membawanya pakai motor?" tanya Aksa dengan suara tinggi. Ghendis dan Alice menjadi terkejut mendengar suara Aksa yang besar. Alice memeluk leher Ghendis dengan erat sambil menangis.

"Aksa, kecilkan nada bicaramu! Alice jadi ketakutan. Apa begini cara bicaramu dengan Ghendis?" tanya Mama Reni.

"Aku tak mau dia bawa Alice dengan motor!"

"Kamu bisa bicara baik-baik. Tidak harus dengan suara gede!" balas Mama Reni.

"Papi jahat ....!" ucap Alice dengan terisak.

Aksa mengusap wajahnya dengan kasar. Dia tak menyangka Alice akan menangis mendengar suara dan ucapannya yang besar.

"Sayang, maafkan papi. Papi tak marah dengan Alice," ucap Aksa. Dia meraih Alice dalam dekapan Ghendis, tapi tangannya ditepis sang putri.

"Papi marahi Mimi," ucapnya lagi. Aksa terkejut dengan ucapan sang putri. Dalam hatinya bertanya, kenapa Alice bisa tahu jika itu ditujukan untuk Ghendis.

"Sayang, maafkan Papi. Papi tak sengaja, Nak!" ucap Aksa lagi.

Ghendis berusaha menenangkan ponakannya itu, hingga akhirnya diam dan tertidur dalam pelukan Ghendis.

"Ghendis, sebaiknya kamu pulang dengan mobil saja. Takutnya Alice mengantuk," ucap Mama Reni dengan lembutnya.

"Iya, Ma."

"Aksa, antarlah anak dan istrimu pulang. Baru setelah itu kamu ke kantor!" ucap Mama Reni.

Aksa dan Ghendis akhirnya setuju. Motor akan dibawa supir Mama Reni ke kediaman Aksa sore harinya.

**

Ghendis dan Aksa saat ini telah berada di dalam mobil. Alice masih tertidur dalam pelukan gadis itu. Aksa menyetir dengan kecepatan sedang. Lama keduanya saling terdiam tanpa suara. Larut dengan pikiran masing-masing. Hingga hampir sampai barulah pria itu bersuara.

"Jangan mempermalukan aku dengan berselingkuh. Jika kamu ingin bertemu pria idamanmu itu lakukan di luar kota, dimana tak ada seorangpun yang mengenal kamu sebagai istriku!" ucap Aksa dengan penuh penekanan.

...----------------...

Terpopuler

Comments

Katherina Ajawaila

Katherina Ajawaila

Egois tingkat tinggi pd hal cemburu tuh Aksa tp ngk di rasakan dasar muka bantal🙂

2025-03-01

0

Dewa Rana

Dewa Rana

ternyata Aksa bukan lelaki yg baik

2024-12-14

1

Lily Miu

Lily Miu

oalah jelek sifatnya

2024-08-05

0

lihat semua
Episodes
1 Bab Satu
2 Bab Dua
3 Bab Tiga
4 Bab Empat
5 Bab Lima
6 Bab Enam
7 Bab Tujuh
8 Bab Delapan
9 Bab Sembilan
10 Bab Sepuluh
11 Bab Sebelas
12 Bab Dua Belas
13 Bab Tiga Belas
14 Bab Empat Belas
15 Bab Lima Belas
16 Bab Enam Belas
17 Bab Tujuh Belas
18 Bab Delapan Belas
19 Bab Sembilan Belas
20 Bab Dua Puluh
21 Bab Dua Puluh Satu
22 Bab Dua Puluh Dua
23 Bab Dua Puluh Tiga
24 Bab Dua Puluh Empat
25 Bab Dua Puluh Lima
26 Bab Dua Puluh Enam
27 Bab Dua Puluh Tujuh
28 Bab Dua Puluh Delapan
29 Bab Dua Puluh Sembilan
30 Bab Tiga Puluh
31 Bab Tiga Puluh Satu
32 Bab Tiga Puluh Dua
33 Bab Tiga Puluh Tiga
34 Bab Tiga Puluh Empat
35 Promo Novel Terbaru
36 Bab Tiga Puluh Lima
37 Bab Tiga Puluh Enam
38 Bab Tiga Puluh Tujuh
39 Bab Tiga Puluh Delapan
40 Bab Tiga Puluh Sembilan
41 Bab Empat Puluh
42 Bab Empat Puluh Satu
43 Bab Empat Puluh Dua
44 Bab Empat Puluh Tiga
45 Bab Empat Puluh Empat
46 Bab Empat Puluh Lima
47 Bab Empat Puluh Enam
48 Bab Empat Puluh Tujuh
49 Bab Empat Puluh Delapan
50 Bab Empat Puluh Sembilan
51 Bab Lima Puluh
52 Bab Lima Puluh Satu
53 Bab Lima Puluh Dua
54 Bab Lima Puluh Tiga
55 Bab Lima Puluh Empat
56 Bab Lima Puluh Lima
57 Bab Lima Puluh Enam
58 Bab Lima Puluh Tujuh
59 Bab Lima Puluh Delapan
60 Bab Lima Puluh Sembilan
61 Bab Enam Puluh
62 Bab Enam Puluh Satu
63 Bab Enam Puluh Dua
64 Bab Enam Puluh Tiga
65 Bab Enam Puluh Empat
66 Bab Enam Puluh Lima
67 Bab Enam Puluh Enam
68 Bab Enam Puluh Tujuh
69 Bab Enam Puluh Delapan
70 Bab Enam Puluh Sembilan
71 Bab Tujuh Puluh
72 Bab Tujuh Puluh Satu
73 Bab Tujuh Puluh Dua
74 Bab Tujuh Puluh Tiga
75 Bab Tujuh Puluh Empat
76 Bab Tujuh Puluh Lima
77 Bab Tujuh Puluh Enam
78 Bab Tujuh Puluh Tujuh
79 Bab Tujuh Puluh Delapan
80 Bab Tujuh Puluh Sembilan
81 Bab Delapan Puluh
82 Bab Delapan Puluh Satu
83 Bab Delapan Puluh Dua
84 Bab Delapan Puluh Tiga
85 Bab Delapan Puluh Empat
86 Bab Delapan Puluh Lima
87 Bab Delapan Puluh Enam
88 Bab Delapan Puluh Tujuh
89 Novel ISTRI KEDUA
90 Bab Delapan Puluh Delapan
91 Bonchap
92 Promo Novel Terbaru
93 Pengantin Pengganti Tanpa Nasab
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Bab Satu
2
Bab Dua
3
Bab Tiga
4
Bab Empat
5
Bab Lima
6
Bab Enam
7
Bab Tujuh
8
Bab Delapan
9
Bab Sembilan
10
Bab Sepuluh
11
Bab Sebelas
12
Bab Dua Belas
13
Bab Tiga Belas
14
Bab Empat Belas
15
Bab Lima Belas
16
Bab Enam Belas
17
Bab Tujuh Belas
18
Bab Delapan Belas
19
Bab Sembilan Belas
20
Bab Dua Puluh
21
Bab Dua Puluh Satu
22
Bab Dua Puluh Dua
23
Bab Dua Puluh Tiga
24
Bab Dua Puluh Empat
25
Bab Dua Puluh Lima
26
Bab Dua Puluh Enam
27
Bab Dua Puluh Tujuh
28
Bab Dua Puluh Delapan
29
Bab Dua Puluh Sembilan
30
Bab Tiga Puluh
31
Bab Tiga Puluh Satu
32
Bab Tiga Puluh Dua
33
Bab Tiga Puluh Tiga
34
Bab Tiga Puluh Empat
35
Promo Novel Terbaru
36
Bab Tiga Puluh Lima
37
Bab Tiga Puluh Enam
38
Bab Tiga Puluh Tujuh
39
Bab Tiga Puluh Delapan
40
Bab Tiga Puluh Sembilan
41
Bab Empat Puluh
42
Bab Empat Puluh Satu
43
Bab Empat Puluh Dua
44
Bab Empat Puluh Tiga
45
Bab Empat Puluh Empat
46
Bab Empat Puluh Lima
47
Bab Empat Puluh Enam
48
Bab Empat Puluh Tujuh
49
Bab Empat Puluh Delapan
50
Bab Empat Puluh Sembilan
51
Bab Lima Puluh
52
Bab Lima Puluh Satu
53
Bab Lima Puluh Dua
54
Bab Lima Puluh Tiga
55
Bab Lima Puluh Empat
56
Bab Lima Puluh Lima
57
Bab Lima Puluh Enam
58
Bab Lima Puluh Tujuh
59
Bab Lima Puluh Delapan
60
Bab Lima Puluh Sembilan
61
Bab Enam Puluh
62
Bab Enam Puluh Satu
63
Bab Enam Puluh Dua
64
Bab Enam Puluh Tiga
65
Bab Enam Puluh Empat
66
Bab Enam Puluh Lima
67
Bab Enam Puluh Enam
68
Bab Enam Puluh Tujuh
69
Bab Enam Puluh Delapan
70
Bab Enam Puluh Sembilan
71
Bab Tujuh Puluh
72
Bab Tujuh Puluh Satu
73
Bab Tujuh Puluh Dua
74
Bab Tujuh Puluh Tiga
75
Bab Tujuh Puluh Empat
76
Bab Tujuh Puluh Lima
77
Bab Tujuh Puluh Enam
78
Bab Tujuh Puluh Tujuh
79
Bab Tujuh Puluh Delapan
80
Bab Tujuh Puluh Sembilan
81
Bab Delapan Puluh
82
Bab Delapan Puluh Satu
83
Bab Delapan Puluh Dua
84
Bab Delapan Puluh Tiga
85
Bab Delapan Puluh Empat
86
Bab Delapan Puluh Lima
87
Bab Delapan Puluh Enam
88
Bab Delapan Puluh Tujuh
89
Novel ISTRI KEDUA
90
Bab Delapan Puluh Delapan
91
Bonchap
92
Promo Novel Terbaru
93
Pengantin Pengganti Tanpa Nasab

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!