Bab Tujuh

Ghendis memasuki kantor tempatnya bekerja dengan langkah yang ragu. Dia takut saat bertemu dengan Dicky, pria itu ternyata tak ingin bertemu dengannya.

Saat sampai di meja resepsionis, Maya teman kantornya menghampiri Ghendis diikuti yang lain. Mereka menyalami dan mengucapkan selamat pada gadis itu.

"Selamat menempuh hidup baru, Ghendis. Kamu datang pasti untuk pamit karena telah resign'kan?" tanya Maya.

Ucapan Maya membuat Ghendis jadi terkejut. Kapan dia mengajukan resign? Tanya gadis itu dalam hatinya.

"Resign ...?" Ghendis balik bertanya karena merasa keheranan.

"Bukankah kemarin suami kamu datang mengantar surat pengunduran diri kamu. Dia mengatakan kamu tak sempat mengantarnya sehingga dia yang mewakili," ucap Dewi kepala HRD di kantor.

Ghendis menarik napas. Pasti ini semua kerjaan Aksa. Dia memalsukan tanda tanganku. Ucap gadis itu dalam hatinya.

Dia tak menyangka jika Aksa akan melakukan sejauh ini. Padahal dia masih ingin bekerja. Jika di rumah saja, bisa-bisa dia akan depresi. Pikir Ghendis.

Namun, sebenci apa pun Ghendis dengan pria itu, dia masih menghormatinya sebagai seorang suami. Dia tak ingin menjelekan nama baiknya.

"Aku datang memang untuk pamit. Maaf kemarin tak mengundang kalian, aku tak mengadakan pesta. Hanya syukuran biasa," jawab Ghendis akhirnya.

Salah seorang rekan kerja yang juga mencintai Dicky tampak tersenyum miring mendengar ucapan gadis itu. Dia maju selangkah mendekati Ghendis.

"Ternyata pacaran lama tak membuat cinta itu tumbuh dengan tulus. Yang tulus akan kalah dengan yang berduit. Yang berjuang akan kalah dengan yang beruang. Kasihan Dicky ternyata menjaga jodoh orang selama ini," ucap Sinta.

Semua rekan kerja mereka pasti mengenal Aksa, karena perusahaannya sering bekerja sama dengan perusahaan tempat Ghendis bekerja. Mereka sering bertanya kenapa gadis itu tidak kerja di perusahaan abang iparnya saja.

Grace dulu pernah menawari agar Ghendis melamar di perusahaan Aksa saja. Kakaknya yakin sang suami akan menerima gadis itu karena kepintarannya. Namun, dia menolak karena tak ingin nanti ada suara sumbang yang mengatakan jika dia sukses atas bantuan Grace dan Aksa. Dia ingin berdiri dengan kaki sendiri tanpa bantuan siapa pun.

"Jangan asal bicara Sinta. Nanti jatuhnya fitnah. Kamu tak tahu cerita sebenarnya. Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan. Maaf, semua di sini juga tahu jika kamu menaruh hati dengan Dicky. Aku tahu kamu mencoba menyiram bensin ke api, tapi hati-hati jika tak ingin terbakar," balas Ghendis tak mau kalah.

Sinta jadi terdiam mendengar jawaban dari gadis itu. Wajahnya memerah menahan malu. Namun Ghendis tak takut. Gadis itu lalu menyalami temannya satu persatu.

Ghendis pamit juga dengan atasannya. Mereka sebenarnya menyayangkan berhentinya gadis itu. Saat ini karirnya sedang berkembang. Dia baru saja menduduki jabatan manager.

Setelah dari rumah pimpinan, dia menuju ruang dimana Dicky berada. Dia tak melihat kehadiran pria itu. Baru saja Ghendis akan bertanya, dia dikejutkan dengan genggaman tangan seseorang.

Ghendis membalikan tubuhnya. Nampak berdiri seorang pria yang sangat dia cintai. Ingin rasanya gadis itu berlari ke dalam pelukan kekasihnya itu. Air mata tak bisa dia tahan. Tanpa sadar jatuh membasahi pipinya.

"Kamu mencariku?" tanya Dicky dengan suara tertahan. Ghendis hanya menjawab dengan anggukan kepala.

"Kita bicara di kafe depan saja. Hapus air matamu. Nanti kamu jadi bahan omongan. Aku tak mau itu terjadi," ucap Dicky lagi dengan lembut.

Ghendis mengangguk tanda setuju. Dia menghapus air matanya. Hanya Dicky yang bisa membuat gadis keras kepala itu menurut. Dengan kelembutan pria itu membuatnya jatuh cinta sedalamnya. Tak pernah sekalipun selama lima tahun hubungan mereka, Dicky bicara kasar.

Ghendis dan Dicky berjalan keluar dari kantor dengan rasa canggung. Mereka sadar saat ini menjadi pusat perhatian.

**

Ghendis dan Dicky telah duduk di sebuah kafe yang tak jauh dari perusahaan tempat mereka bekerja. Keduanya tampak sangat canggung. Beberapa saat mereka terdiam, larut dengan pikiran masing-masing hingga akhirnya gadis itu yang memulia obrolan.

"Di, aku minta maaf karena mengingkari janji kita. Aku tak pernah menginginkan ini semua. Aku terpaksa, Ibu memohon dan berlutut padaku. Aku tak bisa menolaknya," ucap Ghendis dengan suara terbata menahan sebak di dada.

"Kenapa kamu tak jujur? Kenapa kamu mematikan ponsel? Kamu tahu bagaimana perasaan ini saat mendengar dari temanku jika kamu telah menikah dengan abang iparmu. Jika saja aku tahu ketika pesta itu berlangsung, pasti aku akan datang dan menyaksikan langsung kekasihku bersanding dengan pria lain. Aku ingin melihat orang yang aku cintai begitu teganya bersenang di atas kesedihan ini," balas Dicky.

Air mata Ghendis tak bisa dia tahan lagi. Dia tak tahu harus bicara apa. Lidahnya terasa kelu. Tenggorokannya terasa tercekat.

"Apa kamu begitu mudahnya melupakan janji kita, Ghendis? Apa kamu telah lupa tentang rencana masa depan yang telah kita rancang?" tanya Dicky lagi.

Ghendis makin terisak mendengar ucapan kekasihnya itu. Makin besar rasa bersalah pada dirinya. Lihatlah kekasihnya, di saat ini masih berkata dengan baik, tak ada emosi.

"Apa cinta kita tak ada artinya bagimu, Ghendis. Lima tahun tenyata belum cukup bagiku mengenal dirimu, kau begitu mudahnya melupakan semua. Di sini aku merasa cuma aku yang mencintaimu selama ini, sedangkan kamu hanya menganggap ku teman biasa," ucap Dicky.

"Di, jangan berkata begitu. Kamu pasti tahu bagaimana perasaan ini. Jika saja aku boleh memilih, aku tak mau berada di posisi saat ini, sekali lagi aku katakan, aku terpaksa," ucap Ghendis.

Keduanya terdiam. Memikirkan semua tentang perjalanan cinta mereka selama ini. Setelah beberapa saat terdiam akhirnya Dicky yang mulai obrolan lagi.

"Apa yang harus aku lakukan saat ini, Ghendis? Aku merasa diri ini hancur sehancurnya saat mendengar kamu menikah. Ingin rasanya aku meninggalkan dunia ini, agar aku tak melihat kamu lagi. Kamu tahu aku sangat mencintaimu. Kenyataan ini sangat menyakitkan bagiku, apa lagi kamu tak bisa dihubungi untuk aku minta penjelasan. Aku tak tahu, apakah aku sanggup melihat kekasih ku berjalan dengan pria lain," ucap Dicky.

"Maafkan aku, Dic. Aku udah bikin kamu kecewa dan sedih. Aku nggak bermaksud buat kamu marah. Membuatmu kecewa sungguh bukan keinginanku, maaf terkadang aku tak seperti yang kamu harapkan. Maafkan aku, karena aku telah membuatmu terluka, dan saat ini aku terus mencoba untuk memperbaiki semua kesalahanku. Kamu boleh menghinaku, mencaciku, karena aku memang pantas mendapatkan semua itu. Aku akan terima, asal kamu mau memaafkan aku," ucap Ghendis lagi.

"Bagaimana bisa aku mencacimu, membencimu, sedangkan aku sangat mencintaimu. Mendengar orang mengatakan hal buruk tentangmu saja membuat aku marah dan tak terima. Ghendis, dari kamu aku belajar menyayangi, dari kamu aku belajar tentang mencintai, tapi kamu lupa mengajari aku mengucapkan selamat tinggal sehingga aku sulit untuk melepaskan kamu," ucap Dicky dengan suara sendu.

Ghendis tak bisa berkata apa pun. Air matanya terus saja jatuh membasahi pipi. Di meja lain tampak Aksa memperhatikan keduanya. Entah apa yang ada dalam pikiran suami Ghendis saat melihat istrinya bertemu dan bicara sangat akrab dengan seorang pria.

...----------------...

Terpopuler

Comments

Katherina Ajawaila

Katherina Ajawaila

Dicky, baik amat msh mau ketemu dan mendengar jeritan hati wanita yg di sayanginya, semoga Aksa sadar diri dengar kata ibu mu, Ghendis lebih baik dr pd grace 🥸

2025-03-01

0

Ma Malikha

Ma Malikha

aduuh mama Reni niih.. jago banget bikin kata-kata romantis... 😫😭😭😭😭

2024-12-22

1

Cinta Alona putri

Cinta Alona putri

nyesek banget 😭😭😭

2024-10-24

4

lihat semua
Episodes
1 Bab Satu
2 Bab Dua
3 Bab Tiga
4 Bab Empat
5 Bab Lima
6 Bab Enam
7 Bab Tujuh
8 Bab Delapan
9 Bab Sembilan
10 Bab Sepuluh
11 Bab Sebelas
12 Bab Dua Belas
13 Bab Tiga Belas
14 Bab Empat Belas
15 Bab Lima Belas
16 Bab Enam Belas
17 Bab Tujuh Belas
18 Bab Delapan Belas
19 Bab Sembilan Belas
20 Bab Dua Puluh
21 Bab Dua Puluh Satu
22 Bab Dua Puluh Dua
23 Bab Dua Puluh Tiga
24 Bab Dua Puluh Empat
25 Bab Dua Puluh Lima
26 Bab Dua Puluh Enam
27 Bab Dua Puluh Tujuh
28 Bab Dua Puluh Delapan
29 Bab Dua Puluh Sembilan
30 Bab Tiga Puluh
31 Bab Tiga Puluh Satu
32 Bab Tiga Puluh Dua
33 Bab Tiga Puluh Tiga
34 Bab Tiga Puluh Empat
35 Promo Novel Terbaru
36 Bab Tiga Puluh Lima
37 Bab Tiga Puluh Enam
38 Bab Tiga Puluh Tujuh
39 Bab Tiga Puluh Delapan
40 Bab Tiga Puluh Sembilan
41 Bab Empat Puluh
42 Bab Empat Puluh Satu
43 Bab Empat Puluh Dua
44 Bab Empat Puluh Tiga
45 Bab Empat Puluh Empat
46 Bab Empat Puluh Lima
47 Bab Empat Puluh Enam
48 Bab Empat Puluh Tujuh
49 Bab Empat Puluh Delapan
50 Bab Empat Puluh Sembilan
51 Bab Lima Puluh
52 Bab Lima Puluh Satu
53 Bab Lima Puluh Dua
54 Bab Lima Puluh Tiga
55 Bab Lima Puluh Empat
56 Bab Lima Puluh Lima
57 Bab Lima Puluh Enam
58 Bab Lima Puluh Tujuh
59 Bab Lima Puluh Delapan
60 Bab Lima Puluh Sembilan
61 Bab Enam Puluh
62 Bab Enam Puluh Satu
63 Bab Enam Puluh Dua
64 Bab Enam Puluh Tiga
65 Bab Enam Puluh Empat
66 Bab Enam Puluh Lima
67 Bab Enam Puluh Enam
68 Bab Enam Puluh Tujuh
69 Bab Enam Puluh Delapan
70 Bab Enam Puluh Sembilan
71 Bab Tujuh Puluh
72 Bab Tujuh Puluh Satu
73 Bab Tujuh Puluh Dua
74 Bab Tujuh Puluh Tiga
75 Bab Tujuh Puluh Empat
76 Bab Tujuh Puluh Lima
77 Bab Tujuh Puluh Enam
78 Bab Tujuh Puluh Tujuh
79 Bab Tujuh Puluh Delapan
80 Bab Tujuh Puluh Sembilan
81 Bab Delapan Puluh
82 Bab Delapan Puluh Satu
83 Bab Delapan Puluh Dua
84 Bab Delapan Puluh Tiga
85 Bab Delapan Puluh Empat
86 Bab Delapan Puluh Lima
87 Bab Delapan Puluh Enam
88 Bab Delapan Puluh Tujuh
89 Novel ISTRI KEDUA
90 Bab Delapan Puluh Delapan
91 Bonchap
92 Promo Novel Terbaru
93 Pengantin Pengganti Tanpa Nasab
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Bab Satu
2
Bab Dua
3
Bab Tiga
4
Bab Empat
5
Bab Lima
6
Bab Enam
7
Bab Tujuh
8
Bab Delapan
9
Bab Sembilan
10
Bab Sepuluh
11
Bab Sebelas
12
Bab Dua Belas
13
Bab Tiga Belas
14
Bab Empat Belas
15
Bab Lima Belas
16
Bab Enam Belas
17
Bab Tujuh Belas
18
Bab Delapan Belas
19
Bab Sembilan Belas
20
Bab Dua Puluh
21
Bab Dua Puluh Satu
22
Bab Dua Puluh Dua
23
Bab Dua Puluh Tiga
24
Bab Dua Puluh Empat
25
Bab Dua Puluh Lima
26
Bab Dua Puluh Enam
27
Bab Dua Puluh Tujuh
28
Bab Dua Puluh Delapan
29
Bab Dua Puluh Sembilan
30
Bab Tiga Puluh
31
Bab Tiga Puluh Satu
32
Bab Tiga Puluh Dua
33
Bab Tiga Puluh Tiga
34
Bab Tiga Puluh Empat
35
Promo Novel Terbaru
36
Bab Tiga Puluh Lima
37
Bab Tiga Puluh Enam
38
Bab Tiga Puluh Tujuh
39
Bab Tiga Puluh Delapan
40
Bab Tiga Puluh Sembilan
41
Bab Empat Puluh
42
Bab Empat Puluh Satu
43
Bab Empat Puluh Dua
44
Bab Empat Puluh Tiga
45
Bab Empat Puluh Empat
46
Bab Empat Puluh Lima
47
Bab Empat Puluh Enam
48
Bab Empat Puluh Tujuh
49
Bab Empat Puluh Delapan
50
Bab Empat Puluh Sembilan
51
Bab Lima Puluh
52
Bab Lima Puluh Satu
53
Bab Lima Puluh Dua
54
Bab Lima Puluh Tiga
55
Bab Lima Puluh Empat
56
Bab Lima Puluh Lima
57
Bab Lima Puluh Enam
58
Bab Lima Puluh Tujuh
59
Bab Lima Puluh Delapan
60
Bab Lima Puluh Sembilan
61
Bab Enam Puluh
62
Bab Enam Puluh Satu
63
Bab Enam Puluh Dua
64
Bab Enam Puluh Tiga
65
Bab Enam Puluh Empat
66
Bab Enam Puluh Lima
67
Bab Enam Puluh Enam
68
Bab Enam Puluh Tujuh
69
Bab Enam Puluh Delapan
70
Bab Enam Puluh Sembilan
71
Bab Tujuh Puluh
72
Bab Tujuh Puluh Satu
73
Bab Tujuh Puluh Dua
74
Bab Tujuh Puluh Tiga
75
Bab Tujuh Puluh Empat
76
Bab Tujuh Puluh Lima
77
Bab Tujuh Puluh Enam
78
Bab Tujuh Puluh Tujuh
79
Bab Tujuh Puluh Delapan
80
Bab Tujuh Puluh Sembilan
81
Bab Delapan Puluh
82
Bab Delapan Puluh Satu
83
Bab Delapan Puluh Dua
84
Bab Delapan Puluh Tiga
85
Bab Delapan Puluh Empat
86
Bab Delapan Puluh Lima
87
Bab Delapan Puluh Enam
88
Bab Delapan Puluh Tujuh
89
Novel ISTRI KEDUA
90
Bab Delapan Puluh Delapan
91
Bonchap
92
Promo Novel Terbaru
93
Pengantin Pengganti Tanpa Nasab

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!