Tak kuat menahannya, air mata menetes tepat pada halaman yang barusan dibaca. Sayang sekali, kertas itu menjadi sedikit basah dan buram. Jemima membiarkannya agar terlihat berkesan dan juga berbeda dari tulisan lain. Barusan dilihatnya kalender, hari ini tanggal 12 Juni 2023. Tepat 5 tahun yang lalu dia memberi 2 tangkai bunga mawar merah. Tangisan semakin menjadi-jadi ketika menyadari hal tersebut. 5 tahun yang lalu Jemima sangat bahagia dibuatnya. Sedangkan tahun ini di tanggal dan bulan yang sama, Jemima tidak bahagia sama sekali. Waktu berputar secepat itu.
Kembali melakukan kebiasaan saat SMA. Jemima menulis beberapa kalimat yang mewakili hatinya saat ini. Serta harapannya di masa depan.
“12 Juni 2023.
Ga terasa ya, kamu ngasih bunga ke aku 5 tahun yang lalu. Sekarang jadi aku yang ngasih bunga ke kuburan kamu hehe. Aku udah sayang sama kamu dari lama, bodohnya aku ga pernah berani ngungkapin. Senang bisa ketemu, kenal, ngobrol, bahkan sayang sama kamu. Kadang aku sadar kalau kamu ga pernah naruh rasa yang sama. Sampai kamu udah menikah juga perasaan itu masih sama Ka, maaf. Hari ini kamu malah ninggalin aku untuk selama-lamanya. Sebelumnya makasih banyak udah berjuang untuk tetap hidup, kamu hebat banget Ka! Meskipun pada akhirnya kamu nyerah juga. Aku. Kalau kehidupan selanjutnya itu beneran ada, aku harap kita bisa bersama. Ayo kita bertemu kembali, tentunya dengan perasaan yang sama ya Ka!”
Chandra tidak akan pernah membacanya, tidak apa-apa. Yang terpenting hati Jemima sudah lumayan lega karena sudah menuangkan perasaannya lewat tulisan. Jemima masih menyimpan bunga yang diberikan Chandra. Bunga tersebut dikeringkan dan ditaruh dalam cetakan bercampur dengan gel. Jemima menutup diary miliknya dan disimpan kembali pada tempat asalnya. Selang beberapa menit, ia izin untuk pergi keluar rumah sebentar. Tujuan awal hanyalah untuk jalan-jalan seraya meghirup udara segar. Jemima menyusuri jalanan yang basah bekas hujan. Jemima menemukan sebuah toko bunga tepat di hadapan dirinya berdiri. Entah mendapat ide dari mana ingin membeli bunga mawar merah. Tanpa berpikir panjang, ia masuk ke dalam.
Jemima memasuki toko bunga yang benar-benar cantik nan indah. Ia disambut pemilik toko dengan ramah. Hampir seluruh jenis bunga kesukaannya ada di tempat ini. Namun pandangannya tetap saja tertuju pada bunga mawar merah. Ia sudah mencari bunga yang sama persis dengan pemberian Chandra, namun hasilnya nihil.
“Permisi, ada yang bisa saya bantu Kak?” Tanya seorang yang menjaga toko bunga. Mungkin Jemima terlihat kebingungan.
“Eh ini mba, saya lagi nyari bunga mawar merah. Di rak yang mana ya?” Jemima bingung karena terlalu banyak rak di toko tersebut.
“Oh bunga mawar. Mari sebelah sini Kak,” ucapnya dan Jemima mengikutinya dari belakang.
“Maaf Kak, bunga mawar merahnya sudah habis.”
“Kebetulan barusan diborong sama laki-laki, baru banget keluar dari sini.” Mendengar penjelasan darinya membuat Jemima kehilangat semangat. Ternyata bunga yang diinginkannya baru saja diborong oleh seorang laki-laki. Ia mencoba melihat-lihat jenis bunga mawar lainnya. Memang menurut pandangan orang lain, bunga ini pasti akan terlihat sama saja. Hanya warnanya saja yang berbeda, tetapi hal itu sangat berarti bagi Jemima. Setelah dilanda kebingungan, akhirnya Ia bisa memutuskan bunga mana yang akan kubeli. Pilihan jatuh kepada buket bunga mawar putih. Segera ia membayarnya dan keluar dari toko bunga.
“Totalnya jadi 50 ribu Kak,” ujar penjaga toko. Jemima membuka dompetnya dan mengeluarkan selembar uang berwarna biru.
“Uangnya pas ya Terimakasih,”
“Sekali lagi maaf ya Kak, stoknya belum datang hari ini.”
“Iya ga apa-apa Mba, terimakasih juga.”
Lalu Jemima kembali berjalan menuju ke rumah. Meskipun sebenarnya masih ada rasa belum puas di hati. Jemima tidak bisa mendapatkan bunga yang diharapkannya. Lagi-lagi Ia melewati SMAnya dulu, karena memang kebetulan berdekatan dengan toko bunga barusan. Anehnya, ketika berangkat dari rumah Ia tidak sadar melewati sekolah. Terlihat seorang lelaki sedang memegang beberapa tangkai bunga mawar merah. Rasanya ingin sekali Ia membeli bunga yang ada di tangan lelaki itu. Setelah diamati, sepertinya Ia kenal dengan lelaki tersebut.
“Haii Jemima!” sapa lelaki itu dari tempatnya berdiri, sedangkan Jemima masih berjalan menghampirinya. Jemima sedikit menyipitkan matanya untuk mencoba mengenali dari jauh. Dia terus melambaikan tangannya yang membuat Jemima mempercepat langkah kakinya.
“Eh hai juga Ka Joy!” jemima menyapa balik dan tersenyum. Rupanya lelaki yang memegang bunga mawar merah adalah Joy.
Joy dulunya ketua ekskul yang pernah Jemima ikuti bersama Chandra. Sekaligus dia juga yang mengadakan kegiatan saling memberi bunga pada 5 tahun yang lalu. Jemima bingung, mengapa Joy bisa ada di sini ya? Sampai membawa beberapa tangkai bunga mawar merah.
“Kamu pasti mau bunganya kan? Nih Je,” tebak Joy seakan-akan mengetahui bahwa Jemima ingin bunga itu. Langsung diberikannya, Jemima menerimanya dan benar-benar bahagia.
“Loh ini beneran buat aku Ka? Makasii banyakk ya Ka Joy!” seru Jemima sambil melompat-lompat saking gembiranya. Bunga yang diinginkan ada di tangannya sekarang.
“Iya sama-sama. Lagipula aku juga sengaja beli bunganya banyak buat dibagiin ke orang lain,” jelas Joy pada Jemima yang mengangguk mengerti.
“Oh jadi Kaka yang habisin mawar merah di toko sana?” tanya Jemima sembari menunjuk ke arah belakang, sebenarnya Ia menunjuk dengan asal. Joy pasti akan mengerti, karena hanya itu toko bunga di dekat sekolah.
“Bener, kok kamu bisa tau Je?”
“Aku barusan dari sana juga nyari bunga ini. Nah penjualnya bilang udah diborong sama laki-laki,”
“Gimana kabarnya Je udah lulus dari SMA? Kita baru ketemu lagi sekarang ya,”
“Kabar aku baik Ka, kecuali hari ini. Kabar kaka sendiri gimana?”
“Aku juga baik-baik aja selama ini,”
“Kalo boleh tau, emang hari ini kenapa Je?”
“Loh kaka ga tau?”
“Oh iya maaf aku baru inget. Sabar ya Je,”
Keduanya terus mengobrol dan sampailah topik pembicaraan pada kegiatan ekskul kala itu. Jemima mulai mengecilkan volume bicaranya, tidak mau mengingatnya lagi. Sepertinya Joy paham dengan kondisi saat ini. Beberapa menit kemudian dia pamit dan pergi meninggalkan Jemima sendirian. Menurut Jemima, tatapan Joy sama persis dengan tatapan Chandra. Jemima kebingungan apa yang harus dilakukannya sekarang, semua terasa hampa. Padahal baru saja dia berbahagia mendapatkan bunga. Pandangannya tidak lepas dari bunga mawar merah yang berada di tangan kanannya. Ada rasa sedih saat melihatnya, akan tetapi ada juga rasa senang. Karena apa? Sudah pasti karena terbayang saat diberi bunga oleh Chandra. Kalian pun pasti pernah merasakan hal seperti ini. Jemima terhanyut dalam lamunan. Dia terus membayangkan wajah dan senyum Chandra ketika memberikan bunga mawar kepadanya. Namun, seketika itu juga matanya kembali berair dan dia hanya bisa menahan tangis. Karena kini semua itu benar - benar hanya tinggal kenangan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 63 Episodes
Comments
fauzi dmstra
keren amat idenya, semangat yaa
2024-01-19
1
valya nazwa
kini tinggal kenangan
2024-01-13
2
melody
sedih bgt, kejadiannya di tanggal yang sama😞😞
2024-01-13
2