Atlana bersiap-siap sembari menunggu Regan menjemputnya. Hari ini mereka akan melakukan latihan bela diri di tempat latihan Regan. Atlana begitu bersemangat.
Suara bel berbunyi membuat Atlana dengan cepat berlari keluar kamar. Dia sudah tahu, pasti Regan yang datang. Benar saja, ketika pintu terbuka, wajah dingin Regan terpampang di depannya.
Meskipun bertampang dingin, tatapan lembut Regan pada Atlana tak bisa disembunyikan. Sangat terlihat seberharga apa Atlana dalam hidup Regan.
"Tumben pakai dibunyi in bel nya. Biasanya langsung masuk," ucap Atlana.
"Takut kemu terkejut kalau aku langsung masuk," jawabnya. Dia merangkul pundak Atlana, membawa gadisnya itu masuk.
"Langsung ke tempat latihan?"
"Hm."
Atlana mengangguk dan segera melepaskan dirinya dari rangkulan Regan. Dia berjalan menuju kamarnya, lalu kembali sambil menggendong tasnya. "Ayo!" ajaknya.
"Sini in tasnya." Regan meraih tas dari Atlana kemudian menggenggam tangan Atlana dan membawanya keluar dari apartemen. Keduanya menaiki lift lalu langsung menuju basement dimana mobilnya terparkir.
"Jovan sama Yudha ikut latihan?"
"Nggak," jawab Regan sambil memasang seatbelt untuk Atlana. Setelah itu dia memasuki mobil dan mulai mengendarainya meninggalkan apartemen Atlana.
Perjalanan mereka membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Atlana mengerutkan keningnya ketika mobil Regan malah berbelok ke sebuah gedung apartemen mewah yang ia yakini adalah apartemen Regan.
Atlana menoleh menatap Regan yang fokus menyetir. "Kenapa ke sini?"
"Kita latihan disini." Regan langsung menuju basement apartemen, dan memarkirkan mobilnya di sana. Dia turun dan mengitari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Atlana.
"Ayo," ucapnya lembut sambil mengulurkan tanganya pada Atlana.
Atlana meraih tangan Regan dan keluar dari sana. Regan mengambil alih tas Atlana, menggandeng tangan gadis itu kemudian membawanya menaiki lift menuju unitnya yang berada di lantai paling atas apartemen tersebut.
Atlana terdiam kagum melihat unit apartemen milik Regan. Semuanya sangat jauh jika dibandingkan dengan apartemen miliknya. Hal itu membuatnya merasa sangat kecil dibandingkan dengan Regan.
"Kenapa?" tanya Regan lembut. Dia merangkul Atlana, kemudian menuntun gadis itu masuk.
"Kamu tinggal sendiri disini?" Atlana duduk bersama Regan di sofa.
"Hm."
"Mama sama Papa kamu?"
"Mereka tinggal di rumah."
Atlana tak banyak bertanya lagi. Setelah beberapa menit beristirahat di sofa, Regan membawa Atlana menuju sebuah ruangan yang memang dikhususkan Regan sebagai ruang olahraga sekaligus ruang latihan untuknya, jika dia sedang malas ke tempat latihan.
Atlana sedikit ragu untuk memasuki ruangan tersebut. Regan menangkap keraguan dari Atlana. Dia mengeratkan genggamannya, lalu menatap Atlana dengan penuh kelembutan.
"Aku bukan cowok brengsek yang bakal macam-macam sama kamu, Na."
Atlana mengulas senyum. Ternyata Regan bisa menebak isi pikiranya. Tanpa ragu lagi, Atlana masuk dan segera menuju ruang ganti yang Regan tunjukkan.
Tak lama, dia keluar dengan stelan crop top olahraga yang mengekspos bagian perut ratanya yang putih bersih.
Regan tak mengatakan apapun. Dia mendekati Atlana, lalu membantu gadis itu mengikat rambut yang digerainya.
"Aku ganti baju dulu," ucap Regan usai membantu Atlana. Regan segera berlalu menuju ruang ganti. Setelah itu, ia keluar juga dengan stelan latihannya.
"Udah siap?"
"Udah." Atlana menjawab semangat.
"Ya udah. Ayo, pemanasan dulu." Regan memulai pemanasan bersama Atlana. Gadis itu sudah sangat menguasai proses pemanasan yang akan dia dan Regan lakukan. Ini adalah pemanasan yang sering ia lakukan ditempat latihan. Setelah itu, mereka memulai latihan.
Setelah merasa cukup berlatih, Atlana dan Regan menyudahinya. Atlana duduk selonjoran di lantai, mengistirahatkan diri.
Regan mendekat sambil membawa handuk kecil, lalu mengelap keringat Atlana. Setelah itu, Regan beranjak keluar dari ruang latihan, dan tak lama kembali dengan dua botol minuman.
"Ini, minum dulu," ucap Regan, membuka botol minum lalu menyerahkannya pada Atlana.
"Makasih." Atlana tersenyum dan meraih botol minum tersebut dari Regan.
Regan ikut duduk di sebelah Atlana. Matanya tak lepas memperhatikan Atlana yang meneguk minumannya. Sedikit senyum terukir di bibir Regan saat mendapati minuman Atlana tersisa setengah botol.
"Haus banget?" tanya Regan, mengelus lembut rambut Atlana. Gadis itu mengangguk pelan sebagai jawaban.
Regan menarik tangannya dari kepala Atlana. Tatapannya kini beralih menatap lurus ke depan. Ada suatu hal yang mengusik pikirannya. Membuatnya terus-terus memikirkan hal tersebut.
"Besok Delon kembali," ucap Regan tiba-tiba. Atlana sontak menoleh. Dilihatnya wajah Regan dari samping.
"Kamu masih ada rasa sama dia?" Regan menoleh hingga dia dan Atlana saling berhadap muka. Matanya menatap lekat wajah Atlana yang juga menatapnya. Ada perasaan takut jika Atlana masih memiliki perasaan untuk Delon.
Atlana menggeleng pelan. "Gak ada lagi perasaan apapun buat Delon. Perasaan aku buat Delon udah mati."
"Kamu yakin?"
"Yakin banget."
Regan menghembuskan nafasnya. Dia menarik Atlana dalam pelukannya, lalu memeluk erat gadis itu. "Jangan pernah tinggalin aku." Atlana mengangguk pelan lalu membalas pelukan Regan.
***
Sebuah taksi berhenti di depan rumah yang cukup mewah. Atlana keluar dari taksi tersebut setelah membayarnya. Atlana berdiri diam di depan pagar rumah sambil menatap ke arah rumah.
Seharusnya, itu rumah miliknya. Seharusnya dia yang ada di sana, bukan Dara dan Yuni, ibu tirinya. Rumah itu memiliki banyak kenangan tentangnya dan mendiang kedua orang tuanya. Tapi, Atlana akan pastikan jika rumah itu akan menjadi miliknya kembali.
"Non Atlana?" Suara yang terdengar menarik Atlana kembali ke alam sadarnya. Dia menatap pria 50-an tahun yang baru saja menyapanya. Dia adalah seorang supir yang bekerja di rumah tersebut.
"Ini beneran Non Atlana, kan?"
Atlana tersenyum. "Iya, Pak."
"Ya ampun, kemana aja Non sebulan lebih gak ketemu?" tanya Bapak tersebut sambil membukakan pintu pagar untuk Atlana. "Sekali ketemu, Non Atlana udah beda gini."
"Saya tinggal di apartemen, Pak," sahut Atlana. "Kalau begitu, saya ke dalam dulu." Si Bapak pun langsung menganggukkan kepalanya menjawab Atlana.
Entah kenapa, dia menyukai perubahan Atlana. Bagaimana pun, dia tahu apa yang terjadi pada Atlana selama ini di rumah tersebut. Dan mengetahui Atlana tinggal terpisah dengan ibu dan saudara tirinya, membuatnya merasa lega.
Atlana mengetuk pintu rumah. Walaupun dia tidak suka dengan penghuninya, dia masih cukup paham untuk tetap sopan. Tapi, tidak tahu kedepannya, apakah dia masih bisa bersikap sopan atau tidak.
Ketukan pertama, tak ada jawaban apapun. Atlana kembali mengetuknya sekali lagi, dan beberapa saat kemudian pintu terbuka.
Atlana menarik sudut bibirnya membentuk senyum. Senyum yang lebih menyerupai seringaian. Yuni, Ibu tirinya, yang merupakan orang yang membuka pintu, terkejut melihat Atlana. Gadis lugu yang sering disiksanya kini berubah drastis, seperti yang diceritakan Dara.
Mengingat Dara, membuat emosinya terhadap Atlana meluap. Putrinya sampai sekarang masih mengeluh pusing karena benturan saat Atlana menyiksanya.
"Anak kurang ajar!" ucap Yuni bersamaan dengan tangannya yang terangkat hendak menampar Atlana.
Namun, dia harus menelan kegagalan karena Atlana dengan cepat menahan tangannya. Setelah itu, Atlana menghempasnya dengan kasar. Membuat Yuni meringis pelan.
"Kenapa? Sakit?" tanya Atlana dengan ekspresi mengejeknya, lalu terkekeh pelan.
"Sialan ya, kamu! Kenapa kamu ke sini? Kamu apain anak saya? Hah?" Suara Yuni meninggi dan menggebu-gebu. Dia sangat kesal melihat Atlana yang begitu santai.
"Anak Mama tiri?" Atlana berpura-pura untuk berpikir. "Ups. Aku lupa. Aku punya saudara tiri yang kemarin lalu sengaja aku kerjain di toilet. Gimana kabarnya saudara tiri? Udah baikan? Mau aku bantu—"
"Atlana!!" bentak Yuni membuat ucapan Atlana terhenti. Gadis di depannya ini benar-benar membuatnya kesal.
"Mama tiri gak boleh marah-marah. Nanti bisa kena hipertensi, terus gak lama kena stroke, terus mati. Mama mau mati cep—"
"Diaam!!" Lagi-lagi Yuni membentak dan membuat ucapan Atlana terhenti. Dia sangat membenci Atlana sekarang, melebihi rasa bencinya yang dulu.
"Pergi kamu dari sini! Saya tidak suka kamu disini!" Yuni mendorong tubuh Atlana untuk menjauh dari pintu rumahnya dan meninggalkan rumah tersebut. Tapi, Atlana begitu keras kepala dan tetap berusaha berada di rumah itu.
Yuni juga tidak kalah keras kepalanya dari Atlana. Dia tetap berusaha mendorong Atlana untuk meninggalkan kediamannya. Pada akhirnya, Atlana balas mendorong hingga tubuh Yuni terhuyung dengan bokong yang membentur lantai dengan keras.
"Akhh..." ringis Yuni dengan wajah memerah menahan sakit.
"Seharusnya lo sadar diri! Lo sama anak lo yang gak berguna cuman numpang disini! Gue punya hak penuh atas rumah ini!!" tegas Atlana dengan raut dingin dan tatapan tajam menatap Yuni.
Setelah itu, dia melenggang masuk, tak peduli pada Yuni. Dia akan mengambil beberapa barang milik ayah dan ibunya, juga beberapa barang miliknya.
Sementara Yuni, dia mengumpat keras. Bokongnya begitu sakit. Dia ingin mengejar Atlana, namun untuk berdiri saja dia berusaha dengan susah payah.
"Dimana si Dara? Anak itu, apa dia tidak dengar keributan tadi? Akhh... Atlana kurang ajar!!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Persiapkan diri kamu,asetelah itu kamu bisa merebut HAK kamu dari mereka,yg tentunya menggunakan jalur hukum,Semoga Regan bisa bantuin kamu,Kan keluarga Regan punya kuasa..
2024-11-01
0
Kustri
luna siapa thor?
2024-03-21
1