Di antara pintar dan bodoh

"Ck ... disuruh ke ruang kerja! Mau ngapain? Mau bicara, jangan-jangan dia mau kasih list berbagai peraturan di rumah ini! Atau kayak di novelnya Mommy Ghina si prianya kasih surat perjanjian pernikahan kontrak. Ck ... siapa takut, bakal Jihan ikutin semua yang dia pinta deh, mau jungkir balik ke kolong tempat tidur juga boleh. Asal jangan dia berani-berani minta anu-anuan sama Jihan!” ngerundel sendiri Jihan, sembari mengeluarkan bawaannya dari koper ke dalam lemari dengan gerakkan slow motion, menurut dia buat apa buru-buru merapikan, lagi pula ruang kerja milik Fathi tidak pindah keluar rumahkan. Ish si Jihan cari perkara baru sama suami galaknya.

Sengaja sekali Jihan melama-lamakan merapikan bajunya, kemudian setelah selesai bukannya bergegas ke ruang kerja justru dia merebahkan dirinya ke atas ranjang ukuran single tersebut sembari menscroll ponselnya. Padahal di ruang kerja, Fathi sudah menunggunya hampir satu jam, wajahnya pun mulai tak sedap dipandang.

“Non Jihan!” suara ketukan pintu berulang kali bersamaan dengan suara orang memanggil, membuat Jihan menolehkan wajahnya ke arah pintu kamarnya.

“Non Jihan!” kembali namanya dipanggil.

Jihan mendesah, “Ya ... tunggu sebentar,” jawab Jihan, tubuhnya yang sudah posisi weenak terpaksa diangkat bergerak membuka pintu.

“Eh Bik Murni, ada apa?” tanya Jihan sembari menahan rasa ingin menguapnya.

“Anu itu Non Jihan, dicariin sama Bapak ... diminta ke ruang kerjanya sekarang,” pinta wanita paruh baya tersebut.

“Oh ....” hanya ber-O saja si Jihan, netranya melirik ke arah luar kamarnya.

“Iya Non, cepetan ya Non ... kayaknya Bapak lagi marah besar. Bibi jadi agak takut lihatnya,” pinta Bik Murni.

“Ya nanti Jihan ke sana, Bik Murni nanti bilang aja sama bapak, marahnya dikecilin aja gak usah yang besar-besar, soalnya mubazir juga gak ada yang mau terima marahnya,” timpal Jihan dengan santainya, dan sudah tentu bikin Bik Murni tercenung. Dia aja udah ketar-ketir lihat majikan marah-marah, lah ini yang ditunggu malah gayanya sangat santai.

“Kalau begitu Bibi permisi dulu ya Non,” pamit Bik Murni mau konfirmasi kembali ke majikannya.

“Makasih  ya Bik Murni,” jawab Jihan melambaikan tangannya, lalu kembali menutup pintu kamarnya. Bukannya nyamperin suaminya, gadis itu malah merebahkan dirinya kembali.

Sekitar 10 menit kemudian, pintu kamarnya kembali terketuk tapi ini bukan ketukan biasa, tapi menggedor pintu seakan pintu kamar tersebut terkunci dari dalam.

“Astaga ... bisa gak sih gak ngedor-ngedor pintu. Jihan dengar kok, telinganya masih nyaring dengarnya ini!” sahut Jihan dari dalam kamarnya, dan sangat terpaksa dia kembali bangkit dari rebahan dan melangkah malas membukakan pintu.

“Astagfirullah,” Jihan berjingkat kaget saat melihat sosok yang menakutkan sudah berdiri dengan gagahnya, salah satu tangannya sudah berkacak pinggang, netra yang berwarna hitam kelam itu membulat secara sempurna ditemani dengan kedua alis hitam itu menjulang naik ke udara.

“Eh ... ada Om Dokter,” ucap Jihan nyengir kuda, merasa gak berdosa.

“Telinga masih nyaring buat dengar ... hem?” tanya Fathi menaikkan nada suaranya satu oktaf.

“Hihi ... iya Om Dokter masih nyaring dengan jelas,” jawab Jihan dengan wajah polosnya.

“Mengaku masih nyaring tapi sudah dipanggil sama Bik Murni gak datang juga!” sentak Fathi mulai terlihat emosi.

“Oh itu anu ... Om Dokter, tadi mendadak telinga Jihan agak budek sedikit jadi gak engeh kalau disuruh ke ruang kerja,” balas Jihan dengan santainya dan tak ada rasa takutnya dengan mantan kakak ipar.

Pria dewasa itu mendengkus kesal dengan mantan adik iparnya, yang mampu membuat dirinya marah, padahal selama menikah sama Embun dia tidak suka marah-marah, justru sangat lembut dan penyayang.

“Ikut aku!” Meninggi suara Fathi.

“Ikut ke mana Om Dokter?” tanya Jihan dengan tatapan yang pura-pura bodoh.

Fathi berdecap kesal. “Kamu itu sebenarnya bodoh atau pintar! Sejak tadi kamu sudah dengarkan aku nyuruh kamu apa, ini sudah satu jam lebih aku menunggu!” Sudah membentak ditambah raut wajahnya terlihat galak.

“Di antaranya sih Om, terkadang pintar terkadang bodoh, jadi Om Dokter mau yang mana tinggal pilih salah satunya,” jawab Jihan nyeleneh.

Fathi mulai meradang dengan istri barunya itu, dia pun maju satu langkah agar lebih dekat dengan posisi Jihan, sementara Jihan yang melihat pergerakan kaki suaminya, dia agak melangkah mundur juga sembari pasang kuda-kuda. Kali aja pria itu mau berbuat khilaf, jadi dia sudah siap mengeluarkan jurus taekwondonya.

“Aku tidak bercanda Jihan, aku serius!” seru Fathi sudah habis kesabarannya, dicekallah pergelangan tangan Jihan kemudian diseretnya gadis itu secara paksa untuk mengikuti langkah kakinya.

“Om, Jihan mau dibawa kemana! Jihan gak mau!” Jihan pura-pura menolak sambil menjulurkan lidahnya di balik punggung suaminya tersebut.

“Diam, gak usah banyak cincong!” sentak Fathi tanpa menolehkan wajahnya ke belakang.

“Udah galak, ternyata tukang paksa! Ya Allah ... Kak Embun, ternyata sikap suaminya jauh berbeda sekali. Kenapa Jihan baru tahu,” Jihan ngedumel sendiri dan membiarkan suaminya menarik dirinya menuju ruang kerja yang ada di lantai satu. Dan pria itu sangat jelas mendengar ucapan Jihan.

BRAK!

Fathi membanting pintu ruang kerjanya saat menutupnya, sampai Jihan kembali berjingkat saking kagetnya.

“Kayaknya kalau kelamaan tinggal di sini bisa jadi pasien dokter spesialis jantung, hobi banget banting pintu mentang-mentang orang kaya,” gumam Jihan sembari  melirik daun pintu yang terbuat dari kayu jati.

Pergelangan tangan yang sempat dicekal oleh Fathi dihempaskannya dengan kasar seakan tangan Jihan benda mati.

“Sudah cukup ngedumel sendiri!” sentak Fathi, dia berdiri di hadapan istrinya dengan tatapan nyalangnya.

Jihan agak mendongakkan wajahnya lalu menatap santai mantan kakak iparnya itu. “Sebenarnya sih belum selesai. Tapi udah keburu ditanya sama Om Dokter,” jawab Jihan masih tenang, lalu dia menjatuhkan bobot tubuhnya ke atas sofa yang sangat empuk. Ini sofa pasti harganya mahal sekali pikir Jihan saat merasakan kelembutan ketika duduk.

“Siapa yang nyuruh kamu duduk!” sentak Fathi.

Bergegaslah Jihan bangkit dari duduknya. “Oh gak boleh duduk di sini ya, Om Dokter?” Jihan mengedipkan netranya, lalu mengusap sofa bekas duduknya takut ada kotoran yang menempel di sana.

Lantas, Jihan kembali bergerak menjatuhkan bobotnya duduk di atas permadani, duduk bersila. Dan Fathi menarik napasnya dengan kasar.

“Siapa yang nyuruh kamu duduk, Jihan Aisha!” seru Fathi suaranya naik dua oktaf, mau naik empat oktaf bisa-bisa semua asisten rumah tangganya ke ruang kerjanya.

Dengan gerakkan tenang, Jihan menengadahkan wajahnya. “Tadi Jihan duduk di sofa gak boleh, terus duduk di atas karpet gak boleh juga. Terus Jihan bolehnya duduk di mana? Apa di pangkuan Om Dokter duduknya?” tanya Jihan, netranya mengerjap-ngerjap hingga berulang kali.

Tergidiklah Fathi melihat tingkah mantan adik iparnya itu, percuma aja dia marah-marah sama anak manja, ambyar sudah emosinya kebuang begitu saja. “Cih ... siapa juga yang mau pangku dia, amit-amit!” batin Fathi kesal.

“Berdiri di sana, dan dilarang duduk sebelum aku suruh kamu duduk!” perintah Fathi menunjuk ke arah pojokkan ruang kerjanya.

 Bersambung ... ✍🏻

 

Terpopuler

Comments

Vera Wilda

Vera Wilda

Kena setrap kamu Jihan sama om dokter 😁😁😁

2025-04-08

1

Dewi Dama

Dewi Dama

hhhhhh....lucu bangat...sangat mengibur...cerita nya thooorrr

2024-11-13

0

rae

rae

/Facepalm//Joyful/

2025-02-19

0

lihat semua
Episodes
1 Kakak Ipar, Adik Ipar
2 Apa! menikah!
3 Hutang budi atau balas budi?
4 Hari pernikahan
5 Di antara pintar dan bodoh
6 Tak semudah itu minta cerai!
7 Mau berapa lama memeluk Jihan?
8 Mie rebus
9 Memarahi Jihan
10 Jangan konyol, Jihan!
11 Mengobati luka Jihan
12 Saran Kinan
13 Pergi tanpa pamit
14 Makan siang
15 Ada yang menahan emosi
16 Bertengkar kembali
17 Lehernya kenapa Mas Fathi?
18 Jangan lampiaskan emosi pada anak!
19 Just two of us
20 Lakukanlah sampai puas
21 Tolong, bertahanlah Jihan!
22 Amarah Papa Gibran
23 Pergi untuk selamanya?
24 Kembalilah Jihan!
25 Kegelisahan Bu Kaila
26 Jangan tinggalkan Ibu, Nak!
27 Jihan ingat siapa aku?
28 Ezra sakit
29 Gosip para perawat
30 Mbak Kinan dan Om Dokter cocok jadi suami istri
31 Jihan tidak pantas bersanding dengan Fathi?
32 Jangan minta aku bercerai dengan Jihan
33 Perhatian Fathi
34 Apakah luka ini ada hubungan dengan Om Dokter?
35 Loh kenapa tidur di sini!
36 Pelampiasan!
37 Perkara cake
38 Perjodohan Fathi dengan Kinan
39 Amarah Fathi
40 Pingsan
41 Jihan, ternyata Kak Beni menyukaimu!
42 Jihan ingin bercerai dengan Om Dokter
43 Penjelasan Fathi
44 Istriku hanyalah kamu, Jihan!
45 Tunggu aku mati jika ingin bercerai!
46 Maafkan Tante, Ezra
47 Pembicaraan sahabat
48 Papa janji
49 Jihan minta maaf, Kak
50 Bolehkah aku diberikan kesempatan lagi?
51 Mintalah kesempatan kepada istrimu
52 Ezra bilang sama Mama, Papa minta maaf
53 Kegaduhan di makan malam
54 Time to sleeping
55 Iya Mama, sekarang bobo ya
56 Jangan bilang Mama ya!
57 Aku mencintaimu, Jihan Aisha
58 Aku mohon padamu, Jihan sayangku
59 Kasih waktu
60 Rempeyek ikan teri
61 Hanya Jihan-lah istri satu-satuku!
62 Mengusir Kinan
63 Mama anak kecilnya Papa
64 Lakukan seperti tempo hari!
65 Om Dokter udah gak cemburu lagi'kah?
66 Bolehkan kalau aku cemburu
67 Fathi bucin
68 Om sugar daddy
69 Makan siang yang damai!?
70 Perdebatan di restoran
71 Pembicaraan ayah dan anak
72 Kembali tinggal di rumah Fathi
73 Tanpa bayangan masa lalu
74 Penolakan Rahmat
75 Jangan bertindak gegabah!
76 Kejujuran Rahmat
77 Nafkah dari suami
78 Waspadalah dengan Kinan!
79 Menghadap Papa Gibran
80 Mengumpulkan bukti kejahatan Kinan
81 Perjuangan Fathi dan Rahmat
82 Penangkapan Kinan
83 Cepat bangun ya, Pah!
84 Peluk aku Sayang
85 Theo terkejut!
86 Keadaan Rahmat
87 Back to home
88 Beneran, Mas gak minta?
89 Honeymoon - 1
90 Honeymoon - 2
91 Honeymoon - 3
92 Honeymoon - 4
93 Akhir kisah Jihan dan Fathi
94 Info karya terbaru Mommy Ghina
Episodes

Updated 94 Episodes

1
Kakak Ipar, Adik Ipar
2
Apa! menikah!
3
Hutang budi atau balas budi?
4
Hari pernikahan
5
Di antara pintar dan bodoh
6
Tak semudah itu minta cerai!
7
Mau berapa lama memeluk Jihan?
8
Mie rebus
9
Memarahi Jihan
10
Jangan konyol, Jihan!
11
Mengobati luka Jihan
12
Saran Kinan
13
Pergi tanpa pamit
14
Makan siang
15
Ada yang menahan emosi
16
Bertengkar kembali
17
Lehernya kenapa Mas Fathi?
18
Jangan lampiaskan emosi pada anak!
19
Just two of us
20
Lakukanlah sampai puas
21
Tolong, bertahanlah Jihan!
22
Amarah Papa Gibran
23
Pergi untuk selamanya?
24
Kembalilah Jihan!
25
Kegelisahan Bu Kaila
26
Jangan tinggalkan Ibu, Nak!
27
Jihan ingat siapa aku?
28
Ezra sakit
29
Gosip para perawat
30
Mbak Kinan dan Om Dokter cocok jadi suami istri
31
Jihan tidak pantas bersanding dengan Fathi?
32
Jangan minta aku bercerai dengan Jihan
33
Perhatian Fathi
34
Apakah luka ini ada hubungan dengan Om Dokter?
35
Loh kenapa tidur di sini!
36
Pelampiasan!
37
Perkara cake
38
Perjodohan Fathi dengan Kinan
39
Amarah Fathi
40
Pingsan
41
Jihan, ternyata Kak Beni menyukaimu!
42
Jihan ingin bercerai dengan Om Dokter
43
Penjelasan Fathi
44
Istriku hanyalah kamu, Jihan!
45
Tunggu aku mati jika ingin bercerai!
46
Maafkan Tante, Ezra
47
Pembicaraan sahabat
48
Papa janji
49
Jihan minta maaf, Kak
50
Bolehkah aku diberikan kesempatan lagi?
51
Mintalah kesempatan kepada istrimu
52
Ezra bilang sama Mama, Papa minta maaf
53
Kegaduhan di makan malam
54
Time to sleeping
55
Iya Mama, sekarang bobo ya
56
Jangan bilang Mama ya!
57
Aku mencintaimu, Jihan Aisha
58
Aku mohon padamu, Jihan sayangku
59
Kasih waktu
60
Rempeyek ikan teri
61
Hanya Jihan-lah istri satu-satuku!
62
Mengusir Kinan
63
Mama anak kecilnya Papa
64
Lakukan seperti tempo hari!
65
Om Dokter udah gak cemburu lagi'kah?
66
Bolehkan kalau aku cemburu
67
Fathi bucin
68
Om sugar daddy
69
Makan siang yang damai!?
70
Perdebatan di restoran
71
Pembicaraan ayah dan anak
72
Kembali tinggal di rumah Fathi
73
Tanpa bayangan masa lalu
74
Penolakan Rahmat
75
Jangan bertindak gegabah!
76
Kejujuran Rahmat
77
Nafkah dari suami
78
Waspadalah dengan Kinan!
79
Menghadap Papa Gibran
80
Mengumpulkan bukti kejahatan Kinan
81
Perjuangan Fathi dan Rahmat
82
Penangkapan Kinan
83
Cepat bangun ya, Pah!
84
Peluk aku Sayang
85
Theo terkejut!
86
Keadaan Rahmat
87
Back to home
88
Beneran, Mas gak minta?
89
Honeymoon - 1
90
Honeymoon - 2
91
Honeymoon - 3
92
Honeymoon - 4
93
Akhir kisah Jihan dan Fathi
94
Info karya terbaru Mommy Ghina

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!