Dua minggu kemudian
Tita, Bunda Raisya, dan Ayah Haris berangkat umroh. Kali ini Salman langsung yang akan memandu mereka dengan 50 jama'ah lainnya.
Keluarga Tita ikut mengantarkan mereka ke Bandara.
"Haris, aku Titip Tita. Anggap saja dia anak kalian."
"Tidak usah bilang begitu, kami sudah menganggapnya anak sejak dulu."
"Tolong sambil diingetin makannya ya Jeng."
"Beberapa hari ini dia susah makan."
"Tenang Mbak, tidak usah khawatir!
Setelah melepas kepergian mereka. Keluarga yang mengantar pun pulang.
Di dalam pesawat, mereka bertiga duduk berjejer. Tita selalu diperhatikan oleh Bunda Raisya dan Ayah Haris.
"Aku tidak tahu apa sebabnya kamu dan Raja berpisah. Tapi kalau masih ada harapan, semoga Allah menjodohkan kamu dengan Ricky." Batin Bunda Raisya. Ia melihat Tita yang kini sedang tertidur lelap. Bunda Raisya mengelus pipi Tita.
"Bun, awas anaknya bangun!" Tegur Ayah Haris.
"By, salahkah kalau aku ingin Tita berjodoh dengan Ricky?"
"Tidak salah, mereka sama-sama sendiri saat ini. Tapi Tita masih dalam masa iddah. Kenapa kamu kepikiran begitu Bunda?"
"Huh..."
Bunda Raisya menghela nafas panjang.
"Ada sesuatu yang belum selesai antara mereka."
"Apa aku melewatkan sesuatu?"
"Sudah ah, ayo tidur! Perjalanan masih panjang. Do'akan saja yang terbaik.
Mereka tidak tahu bahwa sebenarnya akta cerai Tita Qabla dukhul (Belum masuk) Artinya belum berhubungan suami istri, sama seperti Bunda Raisya dulu. Dan itu tidak mewajibkan Tita untuk mengikuti masa iddah.
Mereka pun sampai di bandara Internasional King Abdul Azis, Jeddah. Setelah seblumnya transit di Doha, Qatar.
"Alhamdulillah bisa sampai di tanah suci kembali." Hati Tita menjadi berbunga-bunga saat menapakkan kaki di tanah suci.
Bunda Raisya melihat wajah Tita yang jauh lebih cerah dari sebelumnya. Mereka langsung ke hotel menaruh barang. Kemudian berangkat ke Makkah untuk melakukan umroh.
Dengan khusuk mereka menjalankan rukun umroh. Tita memanjatkan segala do'a. Ia berserah diri, mengharap ampunan dari-Nya.Ia sampaikan segala keluh Kesahnya. Sungguh ia rasanya tidak ingin beranjak dari depan Ka'bah.
"Tita, ayo kita kembali dulu ke hotel. Nanti kita ke sini lagi."
"Iya, Tante."
Rombongan jama'ah Salman kembali ke hotel. setiap waktu shalat mereka akan berjamah'ah ke masjidil haram.
Tita sudah memberi kabar bahwa dirinya sudah sampai dan sudah mulai melakukan ibadah umroh.
Di hotel Tita tidur sekamar dengan Bunda Raisya. Dan Ayah Harus sekamar dengan Salman.
"Tita, ayo makan dulu!"
"Males Tante."
"Jangan gitu! Nanti kalau sakit, Tante dan Om yang dimarahin orang tuamu. Ayo makan, kita keluar ke restoran cari makanan yang cocok di lidah kita."
Dengan terpaksa Tita pun ikut mereka. Saat makan di restoran. Ada telpon dari Ricky.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
"Bunda, apa kabar?"
"Bunda dan Ayah baik-baik saja, ini kami sudah di Makkah Rik. Ini kami sedang makan di restoran."
"Masyaallah... titip do'a ya Bun?"
"Kami selalu mendo'akanmu."
"Ya sudah lanjut makannya, aku mau lanjut kerja. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Tita mendengar percakapan mereka. Entah kenapa hatinya gelisah mendengar suara Riky samar-samar.
"Ya Allah jagalah hatiku. Jangan beri aku perasaan yang salah. Dia sudah beristri." Batin Tita.
"Tita, ayo habiskan!"
"Ah, iya Om."
Setelah makan malam, mereka kembali ke ke kamarnya masing-masing.
Seperti biasa, sebelum tidur Ayah Haris akan menghampiri istrinya terlebih dahulu. Meski sudah tidak muda lagi, mereka tetap menjaga keharmonisan.
"Bunda, Selamat tidur ya!"
"Iya, Ayah juga. Jangan lupa diminum vitamin sebelum tidur."
"Iya, Bunda."
Ayah Haris mengecup kening Bunda Raisya.
"Ya sudah, aku ke kamar dulu. Mimpi indah ya!"
"Iya, Ayah juga."
"Tita selamat tidur ya, janga begadang! Nanti kita harus pergi beribadah lagi."
"Iya, terima kasih Om."
"Sama-sama."
Bunda Raisya menutup pintu kamarnya.
"So sweet sekali mereka. Ya Allah izinkan hamba memiliki pasangan hidup setia seperti mereka. Batin Tita.
......................
Enam hari telah berlalu.
Saat ini Salman dan jama'ahnya sudah berada di Madinah. Mereka sedang mengunjungi kebun kurma. Saat bersantai makan kurma, Ricky melakukan panggilan vidio kepada Sang Bunda. Bunda Raisya pun menerima panggilannya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
"Masyaallah Bunda cantik sekali, sedang apa?"
"Kami sedang di kebun kurma Rik. Nih lagi makan kurma. Kamu mau mau?"
"Maulah Bunda."
"Jangan ngerayu istriku!" Sahut Ayah Haris.
"Astaga... Ayah aku sedang memuji Ibuku."
Bunda Raisya mengganti kamera depan menjadi kamera belakang. Ia menunjukkan Riky perkebunan kurma. Namun saat mengarahkan ke arah lain tidak sengaja terlihat Tita yang sedang duduk makan kurma di samping Salman bersama jama'ah yang lain.
"Bentar-bentar Bunda, barusan aku lihat Tita. Apa aku salah lihat?'
"Kamu lihat Tita kayak lihat setan saja Rik! Itu memang Tita!" Sahut Ayah Haris.
"Oh Tita sama suaminya umroh bareng kalian?"
"Katanya saja!"
Bunda Tasya membawa handphone-nya mendekati Salman. Ia merubah arah kamera depan.
"Hai Bang? Banyak jama'nya Bang?'
"Alhamdulillah... kamu kalau belum masuk kuliah susul kita ke Turki ya? Pulang dari sini empat hari lagi kita akan tour ke sana. Ya lumayan lah siapa tahu ada yang istimewa di sana."
"Oh iya benar kata Abangnya Rik." Sahut Bunda Raisya.
"Nggak ah males!"
"Nyesel nanti kamu Rik! Ujar sang Bunda."
Tita hanya mendengarkan percakapan mereka. Salman mengarahkan kamera ke sampingnya. Dan nampak dengan jelas Tita duduk di kurang lebih 50 cm dari Salman.
"Tita...." Panggil Salman. Tita pun mendongak. Pandangan Ricky dan Tita bertemu. Di mata Ricky, Tita terlihat cantik meski tanpa olesan make-up dengan memakai hijab syar'i warna putih.
"E- Tita... apa kabar?"
"Alhamdulillah, baik Kak. Kak Ricky juga bagaimana kabarnya?" Tita menundukkan pandangan. Begitupula dengan Ricky.
"Alhamdulillah baik juga."
"Keduanya terlihat salting." Batin Bunda Raisya.
"Eh Rik sudah dulu ya? Kita mau melanjutkan perjalanan."
"Baiklah, sukses terus ya Bang. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Mereka pun naik ke Bus dan akan melanjutkan perjalanan ke Jabal Uhud. Di dalam perjalanan, dalam hati pikiran Tita masih terbesit wajah Ricky.
"Ya Allah... ada apa dengan pikiranku. Tolong hilangkan bayangannya dari benakku. Aku ingin fokus beribadah ya Allah." Batin Tita.
Sedangkan di Mesir
"Kenapa kamu terlihat gusar Bro? Habis nelpon orang tua kok jadi murung begini? Fida Ibra.
"Ib, kenapa istri orang itu bikin aku linglung?"
"Heh... siapa yang kamu maksud? Bro jangan sampai kamu jadi pebinor!'
"Astagfirullah... jangan sampai. Aku hanya terkejut saja Ib. Ternyata Tita berangkat umroh bersama orang tuaku. Barusan aku baru saja bercakap dengannya sebentar. Hanya sebentar, tapi bayangannya membekas."
"Tikung saja kalau begitu Bro!"
"Ish, ngajari yang bener dong Bro!"
"Maksudku, tikung lewat jalur langit haha...."
"Huh... nasib-nasib."
Ricky pun melanjutkan pembuatan tesisnya.
Bersambung...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ayo siapa yang belum baca novelnya Bunda Raisya. Jangan lupa mampir ya Kak di novel pertama author "Ketegaran Hati Raisya"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Dwi Setyaningrum
aku yg blm baca critanya bundanya Salwa thor..hbs dr ini pasti cuss kesana..mampir disini juga hbs baca kisahnya Salwa d Tristan thor..semangat berkarya terus thor 💪
2025-03-24
0
Gamar Abdul Aziz
jande ame.dude
2024-08-27
1
Sri Rahayu
suka dgn ceritanya Thorr 👍👍👍😘😘😘
2024-03-02
4