Sudah 8 hari Tita dan Raja pisah rumah. Perasaan Pak Ferdi dan Bu Ratna tidak enak.
Mereka merasa ada yang tidak beres dengan pernikahan Tita. Pak Ferdi pun menelpon besannya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
"Pak Harun, bagaimana kabarmu dan keluarga?"
"Alhamdulillah Pak Ferdi, kami sehat. Bagaimana dengan kalian?"
"Kami juga sehat. Maaf Pak Harun apa proyek yang dikerjakan Raja belum selesai?"
"Proyek? Ah iya Pak, Raja masih sangat sibuk. Maaf belum bisa kembali ke Surabaya."
"Oh iya tidak apa-apa, saya mengerti."
"Maaf Pak Ferdi Insyaallah besok saya akan berkunjung ke Surabaya, dan akan mampir ke rumah Pak Ferdi."
"Dengan senang hati Pak Harun. Rumah kami selalu terbuka. Kalau begitu saya tutup dulu telponnya Pak.Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikum salam."
Pak Ferdi pun memberitahu Tita bahwa besok mertuanya akan ke Surabaya. Tita menjadi kepikiran, ia membayangkan apa yang akan terjadi besok. Karena sebenarnya yang paling terluka di sini adalah Tita. Namun ia berusaha berdamai dengan hatinya.
"Semoga Abi dan Ummi bisa menerima kenyataan." Batin Tita.
Keesokan harinya.
Tita sudah selesai mandi dan shalat Ashar. Ia berdo'a, meminta yang terbaik dalam hidupnya. Ia juga meminta kekuatan kepada keluarganya dalam menghadapi yang akan terjadi nanti.
"Tita... ada Pak Harun!" Panggil Ummi Ratna dari depan pintu kamar Tita.
"Iya Ummi.
Tita pun melipat mukenahnya dan memakai gamis rumahan serta jilbab instan.
"Assalamu'alaikum Pa."
"Wa'alaikum salam."
Tita mencium punggung tangan Mertuanya.
"Pak Harun ayo diminum dulu."
"Iya Bu Ratna, terima kasih."
Nampak Pak Harun lebih kurus dibandingkan saat pernikahan Raja dan Tita. Ia juga nampak tidak nyaman saat berbicara.
"Pak Ferdi, Bu Ratna, kedatangan saya ke sini bukan tanpa sebab. Tapi saya ke sini untuk menyampaikan sesuatu. Saya berharap apa pun yang terjadi ke depannya, hubungan kita akan tetap baik-baik saja."
"Ada apa ini Pak Harun? Kok jadi serius begini?" Tanya Pak Ferdi, tegang.
"Begini Pak, antara Raja dan Tita, mereka tidak ada kecocokan. Jadi Raja akan menggugat cerai Tita."
"Apa?" Ujar Bu Ratna dan Pak Ferdi bersamaan.
"Tita, apa benar yang dikatakan Pak Harun?"
"Be-benar Bi."
"Apa maksudnya? Kalian juga sudah pergi bulan madu! Tita katakan dengan jelas, ada apa dengan kalian?"
"A-aku..."
"Maaf Pak Ferdi saya potong, Dalam hal ini Tita tidak bersalah. Raja sedang sakit, kami harus mengobatinya. Tita berhak untuk mendapatkan laki-laki yang tidak punya penyakit."
"Raja sakit apa? Bukankah sekarang serba canggih, semua penyakit ada obatnya!"
"E, e.. Raja impoten Pak Ferdi."
"Impoten? Gampang Pak Harun, sekarang sudah banyak terapi dan obat herbal. Kenapa harus bercerai? Aku tidak setuju."
"Tapi ini atas keinginan Raja, Pak Ferdi. Kita tidak tahu akan sampai kapan dia sembuh. Mungkin dia tidak ingin Tita menunggu."
"Tita, apa kamu tidak mau bersabar?" Tanya Pak Ferdi.
"Maaf Abi, aku tidak bisa."
"Kalian menikah baru dua minggu, apa sesingkat ini? Astagfirullah... Tita, ini jangan mempermainkan pernikahan!"
Pak Ferdi mulai naik pitam. Ia justru menyalahkan Tita. Tita hatinya sangat lembut dan mudah tersinggung. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia ingin berkata jujur, tapi ia kasihan kepada Raja.
"Pak Ferdi, sekali lagi jangan salahkan Tita. Mungkin jodoh mereka hanya sebentar. Atas nama Raja saya minta maaf." Pak Harun menangkupkan kedua tangannya.
"Kenapa Raja tidak datang sendiri Pak Harun?"
"Maaf, Raja sedang sibuk Pak Ferdi. Ini saya sudah membawa data yang dibutuhkan. Saya ke sini mau meminta surat nikah mereka.Kuasa hukum saya akan mengurus semuanya. Pak Ferdi tidak perlu repot. Tita juga tidak perlu datang ke pengadilan."
Bu Ratna menangis.
"Kenapa secepat ini? Aku bahkan sudah membanggakan Tita hamil, hiks..."
"Maafkan anak saya, Bu Ratna. Saya juga menyayangkan semua ini. Kami sangat senang memiliki menantu Tita dan besan seperti Bu Ratna dan Pak Ferdi. Namun takdir berkata lain."
Pak Harun pun pamit setelah menerima file dan surat nikah dari Tita. Setelah kepergian Pak Harun, Tita menjadi sasaran kemarahan Abinya.
"Tita! Kamu sudah bikin malu Abi dan Ummi! Kenapa kamu tidak mau bersabar sebentar saja hah? Kamu tidak kasihan dengan Raja dan keluarganya yang sudah sangat baik?"
Tita menangis menahan sakit. Ia tetap menutup aib Raja.
"Maafkan aku Bi, Mi! Aku hanya manusia biasa. Kesabaranku sangat tipis, hingga harus memutuskan semua ini."
Tita kembali ke kamarnya. Ia menangis sejadi-jadinya. Meluapkan yang ada di hatinya.
"Kalian mungkin hanya memikirkan martabat keluarga, kalian tidak memikirkan perasaanku. Aku yang terluka, aku yang sakit, tapi aku juga yang disalahkan. Andai kalian tahu yang sebenarnya, mungkin kalian juga akan berpihak padaku." Monolog Tita.
Pak Ferdi menghubungi Tristan. Tristan pun langsung ke rumah orang tuanya sepulang dari kantor.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Dengan menangis Bu Ratna mengadu kepada anak tertuanya itu. Pak Ferdi memegang kepalanya. Sepertinya darah tingginya kumat.
"Abi... Abi... tenanglah! Kembalikan semuanya kepada Allah." Tristan memapah Abinya ke kamar dan membaringkannya di tempat tidur. Tristan segera menelpon dokter. Bu Ratna hanya terus menangis.
"Ummi, tolong berhentilah. Masalah tidak akan selesai dengan menangis. Tita sudah dewasa, dia tahu mana yang baik untuk hidupnya. Dia sudah mengikuti kemauan kalian. Bukan salahnya juga jika mereka harus berpisah."
Dokter datang dan memberikan Pak Ferdi.
"Tekanan darahnya 190, sangat tinggi. Nanti saya akan berikan obatnya. Pak Ferdi jangan terlalu banyak pikiran."
"Terima kasih Dokter."
Tristan mengantar dokter ke depan, kemudian ia pergi ke kamar Tita.
Tok tok tok
Tita ini Abang, buka pintunya!"
Mendengar suara Abangnya, Tita pun membukakan pintu.
"Abang...." Tita pun memeluk Tristan.
"Sudah, sudah, jangan menangis!"
Tristan mengusap kepala asiknya.
"Abang akan memarahiku juga?"
"Tidak, abang ke sini cuma mau bilang Abi darah tingginya kumat."
"Semua ini gara-gara Tita Bang, maafkan Tita."
"Semua yang sudah terjadi karena kehendak Allah. Kita tidak akan bisa mengembalikan keadaan, tapi kita bisa memperbaiki keadaan. Abi hanya masih terkejut dan shock. Nanti juga akan sembuh. Ayo ke kamar Abi, jangan menangis lagi! Lihat nih matanya udah sipit begini!"
Tita pun ikut dengan Tristan ke kamar orang tuanya. Perbedaan usia mereka memang cukup jauh, dan hal itu yang membuat Tristan sangat mengayomi adiknya.
-
Di Mesir
Ricky sedang berbelanja oleh-oleh untuk keluarganya. Karena satu minggu lagi ia akan pulang ke Indonesia. Ricky juga menyiapkan kado untuk Tita. Walau bagaimana pun keluarganya dan keluarga Tita memiliki hubungan yang baik.
Bersambung...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Salma Suku
Duda perjaka, janda perawan👍
2025-02-12
1
Gamar Abdul Aziz
janda dan duda bakalan jodoh
2024-08-27
1
Ibu Dewi
ga begitu emang tita perempun baik g membuka sib orang utu bagusmenutupi aib sesama adalah perbuatan mulia klo tita buka nya raja ksn kata pedangdut roma sama dengan memakan bangkai teman nya sendiri gitukan
2024-03-23
3