"Tita.."
"Jangan dekat-dekat! Aku jijik Mas!" Pekik Tita.
"Tita aku mohon dengarkan aku!"
"Apa, apa yang mau kamu jelaskan ha? Aku tidak menyangka Mas. Milikmu hanya akan normal jika bersama kekasihmu itu iya? Menjijikkan sekali!"
"Aku sudah mau bertaubat Ta! Makanya aku menikahimu, aku mau berubah! Tapi Marco datang mengancamku! Aku dia bertindak nekat."
"Kenapa dari awal kamu tidak jujur sama aku Mas?"
"Aku malu Ta! Tolong beri aku kesempatan Ta! Aku ingin berubah."
"Oh, jadi mulai dari dua hari yang lalu itu kamu bercinta dengan pasanganmu itu iya? Aku sudah curiga denganmu Mas!"
"Tita, aku terpaksa!"
"Terpaksa tapi menikmati? Astagfirullah... cukup Mas! Aku kecewa, jangan sentuh aku lagi!"
"Tita... aku ingin membina keluarga yang bahagia bersamamu! Aku ingin punya anak denganmu."
"Tapi kamu sakit Mas! Dan sakitmu itu sulit untuk diobati! Maaf Mas, aku tidak bisa terima. Besok kita pulang ke rumah masing-masing."
"Tidak, itu tidak mungkin Tita! Aku tidak mau orang tuaku kecewa!"
"Lalu apa maumu Mas? Kekasihku itu bisa saja bertindak nekat! Dia yang mengirimkan pesan agar aku datang ke kamarnya! Rupanya dia ingin memberi tahu bahwa kalian sedang menikmati percintaan kalian! Aku tidak habis pikir Mas! Mas tahu, aku trauma melihat adegan kalian! Kalau Mas mau aku tidak membuka aib ini, besok Mas pulang ke Kalimantan. Beri alasan yang logis agar orang tua kita tidak curiga! Jika Mas sudah bisa bilang kepada mereka, segera ceraikan aku!"
"Tidak, aku tidak ingin menceraikanmu!"
"Jangan egois Mas! Aku mohon!"
Tita menangkupkan kedua tanganmu seraya memohon. Ia sudah tidak sanggup untuk berkata apa pun lagi.
Tita mengemas semua barang-barangnya. Ia sudah lelah mengeluarkan unek-unek nya. Tita tidur di sofa kamar itu. Sedangkan Raja ia keluar menemui Marco. Raja marah dan membuang semua barang-barang Marco.
"Kurang ajar! Berani-beraninya kamu menjebakku! Marco... kamu sudah sangat berlebihan!"
"Aku tidak pernah menjebakmu! Kita melakukannya atas dasar suka sama suka. "
Bug
Raja menghajar tubuh Marco hingga Marco tersungkur ke lantai.
"Stop Raja! Aku bisa melaporkanmu atas kasus penganiayaan!"
"Arrgghh... kamu menghancurkan segalanya! Aku benci kamu Marco! Persetan dengan semuanya! Silahkan berbuat semaumu!"
Raja kembali ke kamarnya, ia melihat Tita tidur di sofa. Ia ingin mendekatinya, tapi ia takut Tita akan semakin membencinya. Ia pun naik ke tempat tidur. Namun ia tidak bisa tidur.
Keesokan harinya.
Tita dan Raja sudah siap untuk meninggalkan hotel. Keduanya tidak ada yang membuka pembicaraan. Sesuai dengan permintaan Tita, nantinya mereka akan transit di Singapura. Tita akan terbang ke Surabaya dan Raja ke Kalimantan.
"Tita, aku minta maaf sudah membuat kamu kecewa. Aku tidak berniat untuk membuatmu begini! Aku sudah bertekat untuk berubah, namun aku masih kalah."
"Aku juga minta maaf, aku tidak bisa mempertahankan pernikahan kita Mas. Kamu sakit, kamu harus berobat. Jika kamu sudah bisa sembuh dan tidak tergantung dengan masa lalumu, aku yakin kamu akan mendapatkan jodoh yang lebih baik dari aku. Untuk sementara aku akan bilang kepada keluarga kita, bahwa kamu sedang ada proyek yang harus diselesaikan. Dan aku tidak bisa ikut denganmu karena aku belum terbiasa."
"Terima kasih, aku masih berharap kalau jodoh kita akan panjang. Semoga kamu bisa berubah pikiran."
Mereka berpisah di Bandara Singapura.
Tita dijemput oleh Tristan dan Rayhan.
"Dek, mana Raja?"
"E itu, Mas Raja langsung terbang ke Kalimantan Bang. Ada proyek yang harus diselesaikan. Kalau tidak, dia akan rugi besar."
"Kenapa kamu tidak menemaninya? Istri itu harus ada di samping suami."
"Bang, aku masih belum terbiasa. Mas Raja mengerti kok."
"Ya sudah, yang penting Raja ridha. Karena berdosa kalau suamimu tidak ridha."
" Suami yang seperti apa Bang? Maafkan aku Bang, aku berbohong demi kebaikan Mas Raja." Batin Tita.
Tristan pun mengantar Tita ke rumah orang tua mereka.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Bu Ratna dan Pak Ferdi sudah menyambut mereka di depan rumah.
"Lho Rajanya mana ini?"
"Lho Tristan pikir kalian sudah tahu kalau Raja langsung pulang ke Kalimantan."
"Ada apa Tita? Kalian baik-baik saja kan?"
"Kami baik-baik saja kok Ummi. Mas Raja proyek yang harus diselesaikan. Kalau dia tidak pulang , dia akan mengalami kerugian besar. Tita memang nggak ikut ke sana karena Tita belum terbiasa. Nanti juga kalau sudah selesai Mas Raja akan kembali menyusul Tita."
"Oh Umi kira kalian bertengkar, syukurlah kalau begitu. Bagaimana dengan bulan madunya, pasti menyenangkan toh? Ummi lihat di story-nya Raja kalian foto-foto di beberapa tempat, Ummi jadi pengen juga ke sana."
"Umi mau ke sana juga sama Abi? Ya sudah tinggal berangkat saja biar Tristan yang tanggung. Ya syukur-syukur Kristen dapat Adik lagi, haha..."
"hahaha Abang bisa saja."
Tita membagikan oleh-oleh untuk mereka. Untuk keluarga Tristan juga.
...----------------...
Satu minggu berlalu.
Baik Tita ataupun Raja sama-sama bungkam. Mereka tidak saling menghubungi. Setiap hari Tita dilanda kecemasan. Ia trauma dengan kejadian itu. Ummi Ratna selalu bertanya kapan menantunya akan datang.
-
Di Balikpapan
Kedua orang tua Raja sudah tahu tentang masalah anaknya. Mereka marah besar kepada Raja. Sebenarnya mereka sudah tahu jika anaknya itu sakit. Penyakit sek*hal yang sulit diobati. Bu Siska menangis mengetahui anaknya belum juga berubah. Mereka malu kalau sampai keluarga Pak Ferdi tahu kebenarannya.
"Kamu sudah mencoreng muka Papa, Raja! Mau ditaruh di mana muka Papa dan Mamamu ini, Hah? Kami pikir kamu sudah sembuh dan mau berubah. Tapi apa ini? Bahkan Tita sendiri yang melihatnya! Astagfirullah... mungkin ini salah kami. Kami kurang membekali ilmu agama kepadamu!"
"Maafkan Raja Pa! Raja mau sembuh! Raja mau berobat. Raja ingin menjadi laki-laki normal. Tolong Raja, Pa! Raja tidak mau bercerai dengan Tita."
"Telat, kamu sudah telat! Tita sendiri yang minta bercerai kan? Perempuan mana yang tidak kecewa jika melihat suaminya selingkuh? Itu pun dengan sesama laki-laki! Jijik Raja... Membayangkannya saja jijik apa lagi melihatnya? Besok lusa Papa yang akan menghadap Pak Ferdi. Papa yang akan mengurus perceraian kalian."
"Mama.."
Bu Siska tidak dapat berkata apa-apa. Ia hanya menangis.
"Kamu anak tertua Raja, kamu panutan! Kalau kamu tidak berubah juga, kamu aka melihat orang tuamu mati mendadak karena kelakuanmu! Besok kita ke psikiater! Buang nomermu! Ganti dengan nomer baru!"
Raja diam, ia harus menuruti orang tuanya kali ini. Ia tidak mau menyesal untuk yang ke sekian kalinya.
Bersambung...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
💗 AR Althafunisa 💗
Udah bagus Tita ga nyebar aib nya 😔
2024-10-15
1
Ibu Dewi
ah bukan kasian sebel aku ko tidak bisa betahan klo memang mau tobat harus y hatus kuat iman da mental jangan goyah gampang tergoda rayuan setan dasar cowo menjijikan ta ber iman
2024-03-23
3
blecky
kshan raja...buat dia smbuh Thor walau cerai dgan tita
2024-02-15
2