Keesokan harinya.
Tita pun terbangun. Dan ia sudah mendapati Raja selesai mandi dengan rambutnya yang basah.
"Mas, kamu sudah bangun dari tadi?"
"Iya, aku susah mandi."
"Aku juga mau mandi. Kamu shalat dulu saja nggak pa-pa."
Tita pin masuk ke kamar mandi."
Hari ini adalah hari terakhir mereka di Swiss. Namun bulan madu mereka rasanya lebih ke arah liburan. Tidak ada kepuasan yang dirasakan oleh keduanya.
Saat ini mereka sedang sarapan di restoran hotel. Namun saat mereka asyik makan, ada seseorang yang menghampiri.
"Pagi Raja..." Sapa Marco.
Sontak Raja terkejut dan merasa kesal. Namun ia tahan karena ada Tita di depannya.
"Bukankah orang ini yang Mas Raja temui semalam?" Batin Tita.
"Ah iya pagi Marco."
"Hai cantik, perkenalkan nana saya Marco."
Marco mengulurkan tangannya, namun Tita menangkupkan kedua tangannya.
"Maaf, Tita."
"Oh iya, Tita saya adalah teman Raja. Kebetulan kita bertemu di sini ya. Boleh saya bergabung dengan kalian?"
"Oh iya silahkan! Maaf kami makan duluan. Anda ingin pesan apa?" Ujar Tita dengan Ramah.
"Saya sudah pesan, mungkin sebentar lagi akan diantar."
Beda halnya dengan Raja yang saat ini menggenggam tangannya sendiri menahan emosi.
"Apa anda sedang bulan madu juga?" Tanya Tita.
"Oh tidak- tidak, saya ke sini menyusul pacar saya." Marco melirik Raja.
"Oh...."
Pesanan Marco pun datang. Ia benar-benar ikut makan bersama denga Raja dan Tita.
"Raja, Tita, saya sudah selesai. Setelah ini kalian mau ke mana?"
"Lake Lugano."
"Oh, kalian mau ke danau juga? Kok bisa kebetulan ya? Bagaimana kalau kita berangkat bersama?"
"Tidak!" Ujar Raja
"Mas."
"Eh maksud saya tidak masalah, kalau kamu mau Marco."
"Tentu aku akan senang sekali."
"Apa anda akan mengajak pacar anda?" Tanya Tita.
"Tidak untuk kali ini, sepertinya dia sibuk."
"Ya sudah kami bersiap dulu, nanti Mas Raja bisa menghubungi anda."
"Baiklah Nyonya Raja."
Raja dan Tita kembali ke kamar untuk mengambil barang mereka. Setelah itu mereka pun berangkat bertiga dengan diantar mobil hotel. Marco duduk di depan samping kemudi. Sedangkan Tita dan Raja duduk di kursi tengah. Di sepanjang perjalanan Marco selalu melirik pasangan suami istri di belakangnya itu dari kaca spion.
"Tita, kamu lelah?"
"Sedikit ngantuk Mas!"
"Bersandarlah!" Raja memberikan bahunya.
"Terima kasih Mas." Tita pun bersandar dan memejamkan mata. Raja pun menggenggam tangan istrinya. Marco menggenggam tangannya sendiri menahan emosi. Ia cemburu melihat kemesraan keduanya. Karena sudah sampai di tempat tujuan, mereka pun turun dari mobil.
"Masyaallah indah sekali."
Lake Lugano adalah salah satu destinasi wisata di Swiss. Danau ini terletak di antara Danau Como dan Danau Maggiore. Airnya yang jernih dengan warna hijau tua, membuat wisatawan senang untuk piknik atau sekadar bersantai di tepi danau. Tita memandang takjub pemandangan di depannya.
"Kamu suka?"
"Suka sekali Mas, coba tadi kita bawa alas ya? Kan kita bisa piknik kecil-kecilan kayak orang-orang. Tuan Marco bisa tolong fotokan kami berdua di sebelah sana?" Pinta Tita.
"Oh, iya tentu."
Raja dan Tita berpose di tepi danau.
"Sudah!"
"Terima kasih."
"Iya sama-sama."
"Tuan Marco apa kekasihmu itu orang sini?"
"Bukan, dia orang Indonesia yang kebetulan juga berlibur ke sini. Tapi sekarang dia sedang ada acara dengan keluarganya."
"Oh..."
"Maaf aku permisi dulu mau ke toilet. Apa kamu mau ke toilet juga?" Ujar Raja kepada istrinya.
"Tidak Mas, aku di sini saja."
"Baiklah!
Raja memberi kode dengan mata kepada Marco agar dirinya ke toilet juga.
"Sepertinya aku juga kebelet, maaf Nona Tita aku permisi ke toilet juga."
Marco dan Raja tidak masuk ke toilet, tetapi mereka berdebat di samping toilet.
"Marco, apa-apaan sih? Kenapa kamu harus membuntuti kami? Kurang puas kamu mengancamku?"
"Siapa yang membuntutimu? Istrimu sendiri yang mengizinkan aku, haha... Tidak usah takut, aku tidak akan memberitahunya. Selama kamu masih mau bercinta denganku!"
"Gila!"
"Iya aku memang gila karena kamu! Sweety, jangan lupa nanti malam!" Marco mengerlingkan sebelah matanya. Lalu ia masuk ke dalam toilet. Sedangkan Raja kembali kepada Tita.
"Sudah Mas?"
"I-iya sudah."
Marco tidak kembali ke tempat mereka. Ia memantau Tita dan Raja dari kejauhan. Tita pun bertanya kepada suaminya karena tidak melihat Marco kembali.
"Mas Ke mana Tuan Marco?"
"Oh barusan dia kirim pesan, katanya Iya balik duluan karena kekasihnya sudah nelponnya." bohong Raja.
Mereka pun melanjutkan menikmati pemandangan di danau tersebut.
Malam harinya.
Tita sudah jera tidak ingin memakai lingerie seperti tadi malam. Sepertinya percuma, karena suaminya tidak bisa melanjutkan percintaan mereka. Lagi pula Tita terlalu berharap. Justru saat ini Tita khawatir.
"Apa jangan-jangan Mas Raja Impoten? Apa itu yang menyebabkannya sulit untuk mencari kekasih selama ini?" Batinnya.
"Tita...."
"Eh, iya Mas. Ada apa?"
"Aku ada perlu dengan Marco. Kami akan membicarakan bisnis batu kami. Apa kamu tidak masalah jika aku tinggal sendiri?"
"Apa tidak bisa dibicarakan saat di Indonesia saja Mas?"
"Tidak bisa, Marco akan langsung pulang ke Kalimantan. Sedangkan aku masih di Surabaya kan sama kamu?"
"Oh.. ya sudah nggak pa-pa!"
"Aku keluar dulu."
"Iya Mas."
Siang tadi Tita mendapat pesan dari nomor yang tak dikenal.
Ada yang tidak beres dengan suamimu. Kalau kamu ingin tahu, datanglah nanti malam ke kamar 102.
Dan ternyata benar malam ini suaminya pamit menemui Marco. Kamar tersebut memang milik Marco.
"Aku harus mengikutinya."
Raja sudah berada di dalam kamar Marco. Seperti biasa, mereka menyakitkan hasrat. Marco memang sengaja tidak mengunci kamarnya, karena berharap Tita terpengaruh dengan pesannya. Jadi dia tidak perlu mengirim vidio untuk merusak hubungan mereka.
"Ah... faster sweety! Ah..."
Brak...
"Astagfirullah..." Tita langsung menutup matanya dengan kedua tangannya. Kakinya rasanya beku, tubuhnya bagai dihantam batu besar. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
"Tita..."
Raja segera memakai celana dan bajunya. Sedangkan Marco bersembunyi di balik selimutnya dengan senyum kemenangan.
Tita pun pergi berlari ke kamarnya. Hatinya hancur berkeping-keping. Ia sudah berusaha untuk menerima kehadiran Raja meski ia belum bisa mencintainya. Namun kini usahanya telah dipatahkan oleh sesuatu yang membuatnya jijik.
Tita masuk ke dalam kamarnya, lalu mengunci pintu kamar. Ia menangis di atas tempat tidurnya sambil memegang dadanya yang terasa sesak.
"Ya Allah... ampuni dosa hamba hiks hiks"
Tok tok tok
"Tita buka pintunya! Tita aku bisa jelaskan semuanya."
Tita tak menghiraukannya. Ia larut dalam kekecewaan yang mendalam. Raja tidak kehilangan akal.
"Tita buka... atau aku akan mendobraknya!"
Tidak ingin menimbulkan keributan, Tita pun membuka pintu tersebut.
Bersambung...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
⛱ᵃᵞᵘ🏝
Hiks...Hiks...Kasian Tita..😢😢
2024-12-19
2
Gamar Abdul Aziz
jeruk ma'am jeluk
2024-08-27
1
Ibu Dewi
y kurang ajar tuh si marco menjijikan sekali tidak normal cowo sama cowo yaalloh astagpirulloh manusia sesat
2024-03-23
3