Shanum datang ke apartemen atas permintaan Ricky. Ricky pergi dari apartemen untuk mencari tahu tentang Mustafa.
"Aisyah, bagaimana semua ini bisa terjadi?"
"Hidupku hancur Num! Aku sudah tidak suci, bahkan aku sedang hamil! Aku benci hidupku, hiks..!"
"Istigfar Syah! Semua pasti ada jalan keluarnya. Kamu tidak sengaja berbuat dosa. Keadaan yang membuatmu begini."
Ricky pun mencari Mustafa ke tempat kerjanya sesuai petunjuk dari Aisyah. Namun ternyata Mustafa tidak bekerja di tempat itu lagi. Ricky mencari ke alamat rumah Mustafa. Namun ternyata Mustafa sudah tidak ngontrak di rumah itu lagi. Ricky menelpon seseorang untuk membantunya mencari Mustafa. Ia mengirimkan foto Mustafa yang ia dapat dari Aisyah. Hati ini ia tidak pulang ke apartemen, ia pergi ke kontrakan Ibra.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam, Bro!"
Ibra melihat wajah Ricky yang nampak lesu dan tidak bersemangat.
"Kenapa lahi bro? Perasaan kamu punya istri bukan tambah bahagia tapi malah mengkhawatirkan, ada apa lagi? Malam-malam begini kok main ke rumah si bujang ini?"
"Tolong jangan tanya sesuatu apapun dulu kepadaku! Aku mau numpang tidur karena kepalaku pusing sekali!"
"Oke, silahkan!"
Ricky pun malam ini tidur di kontrakan Ibra. Ia tidak makan lagi kecuali pagi tadi. Namun saat terlelap baru beberapa menit ia mendapat telpon dari Bundanya. Terpaksa ia mengangkat, takut orang tuanya khawatir.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikum salam, Bunda. Ada apa nelpon Ricky tengah malam begini? Bunda sehat kan?"
Di Indonesia saat ini sudah jam 1 dini hari.
"Bunda sehat, kelurga di sini juga sehat semuanya."
"Alhamdulillah..."
"Kamu dan istrimu sehat?"
"Sehat Bunda, kami sehat."
"Bunda terbangun karena mimpi buruk, makanya Bunda langsung menelponmu. Bunda takut ada apa-apa dengan anak-anak Bunda."
"Kami baik-baik saja Kok. Raka sudah Bunda telpon?"
"Sudah, Raka juga baik-baik saja."
"Bunda mimpi kan cuma bunga tidur. Jangan berpikiran macam-macam! Do'akan saja kami."
"Iya tapi perasaan Bunda nggak enak Rik."
"Sekarang Bunda kan sudah tahu kami baik-baik saja."
"Iya, kalau begitu salam ya sama Aisyah. Bunda tutup dulu, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
"Maafkan aku Bunda, aku tidak ingin membuatmu kepikiran." Batin Ricky.
Keesokan harinya.
Ricky sudah bangun untuk shalat shubuh. Ibra memang sengaja tidak membangunkannya, namun ternyata Ricky bangun sendiri. Karena dia memang sudah terbiasa bangun pagi bahkan kadang sebelum waktu shubuh.
Setelah selesai shalat, Ibra melihat sahabatnya itu lebih tenang dibandingkan semalam. Ibra pun mencoba membuka percakapan.
"Bro, sebenarnya kamu kenapa? Bertengkar dengan istrimu?"
"Tidak!"
"Lalu?"
"Masalahku lebih berat dari itu, Ib."
"Kalau kamu mau cerita, aku siap mendengarkan."
"Tidak, ini aib. Kamu hanya cukup tahu kalau aku akan segera menceraikan Aisyah."
"Gila kamu bro! Kenapa?"
"Karena jodoh kami sampai di sini."
"Kamu bahkan belum menyentuhnya bro? Kamu tidak sedang bercanda kan?"
"Aku bersyukur belum sempat melakukannya. Allah tahu yang terbaik untuk kami. Ini sudah keputusan kami, bro."
"Ya ampun bro sayang sekali, statusmu jadi duda tapi perjaka. Ah senjatamu tidak jadi diasah! Berbeda dengan kebanyakan orang."
"Kamu itu bisa saja! Bro hari ini aku izin tidak masuk kuliah."
"Kenapa?"
"Ada sesuatu yang harus aku selesaikan. Aku ingin segera tuntas."
"Oke, semoga masalahmu segera tuntas. Dan jangan segan-segan meminta bantuanku, Bro!"
"Hem pasti, terima kasih."
"Iya sama-sama."
Ricky pun meninggalkan kontrakan Ibra untuk menemui seseorang.Ricky melakukan mobilnya ke suatu tempat. Di sana sudah ada seseorang yang menunggunya.
"Bagaimana, apa yang mau kamu infokan?"
"Mustafa sudah pulang ke kotanya. Dia sudah tidak tinggal di kota ini lagi.
"Di mana kotanya?"
"Bur Safaga."
"Ah jauh sekali. Tolong carikan aku nomer yang bisa dihubungi!"
"Aku sedang mengusahakannya. Menurut kabar yang aku dapat Mustafa dan Aisyah ini sebenarnya memang punya hubungan Bos. Mereka saling mencintai, tapi mereka tidak bisa menghadapi Aqil."
"Baiklah terima kasih atas informasinya, nanti akan aku transfer honormu!"
"Terima kasih kembali bos."
Sebenarnya sebelum menikah dengan Ricky, Aisyah sudah berusaha menghubungi Mustafa, namun nomernya tidak aktif. Aisyah memang lari saat itu karena dirinya takut Mustafa akan berbuat yang tidak pantas lagi. Namun saat tahu Ricky akan menikahinya, ia ingin meminta pertanggungjawaban dari Mustafa, meskipun ia tidak menyangka akan hamil. Namun semua sudah terjadi.
Dengan perkembangan teknologi yang canggih, Ricky pun bisa menemukan nomer handphone Mustafa dalam sekejap berkat bantuan orang kepercayaannya itu. Ricky tidak mau membuang waktu ia langsung menghubungi nomer Mustafa. Namun meski berkali-kali dihubungi, tidak diangkat.
"Sial! Angkat Mustafa!"
"Apa aku harus menyusul ke kotanya? Ya Allah permudahkan urusanku." Monolog Ricky.
Ricky pergi ke Hotel. Ia takut Sang Ayah memantau jika ia tidak pergi ke hotel hari ini. Karena Ayahnya juga memiliki orang kepercayaan yang bertugas mengabsen Ricky. Kecuali Ricky memiliki alasan yang pasti.
Ricky masuk ke ruangannya. Tidak lama kemudian handphone-nua berbunyi. Ia sangat bersemangat karena yang menelponnya adalah Mustafa.
Anggap saja mereka menggunakan Bahasa Arab.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam, apa benar ini Mustafa?"
"Iya saya Mustafa, maaf siapa anda?"
"Saya Ricky. Mustafa saya ada perlu dengan anda, apa kita bisa bertemu?"
"Maaf saya tidak kenal dengan anda."
"Mustafa, ini menyangkut Aisyah."
"Aisyah? Anda kenal Aisyah?"
"Iya, makanya kita harus bertemu!"
"Ba-baiklah kapan dan di mana?"
"Mungkin besok pagi. Malam ini juga aku akan berangkat ke sana. Simpan nomerku!"
"Baiklah."
Sore harinya, Ricky pulang ke apartemennya. Ia membawa sesuatu yang harus dibawanya. Ia juga meminta foto hasil USG Aisyah sebagai bukti kepada Mustafa.Ia tidak main-main mengusahakan mencari Mustafa. Ia tidak ingin anak yang dikandung Aisyah tidak memiliki Ayah.
"Bang kamu mau kemana?"
"Aisyah aku akan membantumu untuk menemukan Ayah bayimu. Dia harus mempertanggung jawabkan semuanya."
"Tapi dia tidak akan mampu menghadapi Kakak."
"Aku yang akan menghadapinya! Kamu sudah menjadi hakku. Lagian Kakak angkatmu itu sudah tidak perduli lagi kepadamu! Dia hanya butuh uang."
"Shanum, tetaplah di sini menjaga Aisyah! Aku akan pergi mencari Mustafa."
"Baik, Tuan!"
Ricky pun meninggalkan apartemen dan berangkat ke kota Bur Safaga untuk mencari Mustafa.
Setelah kepergian Ricky Aisya menangis lagi.
"Dia laki-laki baik, Num. Bahkan aku sudah mulai terbiasa dengannya. Tapi dia tidak pantas besanding denganku yang hina ini. Aku sangat berjuang budi kepadanya."
"Hem... dia seperti malaikat."
Hanin mengusap punggung Aisya untuk memberinya kekuatan dan ketenangan.
Ricky sengaja meminta Hanum menjaga Aisyah karena takut Aisyah akan berbuat di luar nalar.
Sementara di Indonesia.
Tita saat ini sedang menangis, ia sangat merindukan Ricky. Selama sebulan ini, mereka tidak bertukar pesan. Ricky memang bertekat untuk tidak menghubungi Tita. Itu dilakukan untuk menjaga perasaannya dan pasangan mereka.
"Kak, kenapa aku belum bisa menerima kenyataan ini? Padahal kamu sudah melupakan aku. Kamu sudah bahagia dengan istrimu."
Tita merenung sambil memandangi foto Profil Ricky yang menampilkan foto saat ia menikah dengan Aisyah.
"Ya Allah tolong cabut rasa ini!" Tita memegang dadanya yang terasa sesak.
Bersambung...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maaf ya kak belum bisa crazy up, karena banyak yang harus author hadapi dari kemarin. Terima kasih🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Indah Alifah
tita sarangheo ketika kita ingin melupakan seseorg TPI tidk bisa itu nyessekkkk
2024-10-03
0
Gamar Abdul Aziz
lanjuut
2024-08-27
0
Ades Astiti
banyak typo ... semangat Thor..ayoo perbaiki LG bahasamu
2024-03-06
2