“Bu Isyana...”
Tidak sengaja Elvano menyentuh tangan Isyana saat perempuan itu ingin meletakan proposal nya keatas meja.
Isyana terkejut. Mereka berdua saling memandang selama beberapa detik lalu kembali tersadar. Elvano menarik kembali tangan nya kemudian meminta maaf.
“Maaf, maksud saya sebaiknya kita makan lebih dulu,” kata Elvano gugup.
“Hah?” Isyana termangu.
“Oh iya, apa jangan-jangan Bu Isyana sudah makan malam? Maaf saya tidak tahu...seharusnya saya tidak memesan-”
“Tidak-tidak, saya juga belum makan malam kok,” ucap Isyana menyela perkataan Elvano.
“Baguslah, kalau begitu kita makan malam lebih dulu lalu membicarakan proposal acaranya...”
Isyana mengangguk setuju.
Tidak berselang lama pelayan pun datang membawakan hidangan-hidangan istimewa restoran. Lalu menyajikan nya kepada Elvano dan juga Isyana. Hingga meja di hadapan mereka berdua penuh dengan makanan.
Uhuk...uhuk...uhuk.
Isyana tersedak saat menyantap makanan nya. Perempuan cantik itu hendak meraih gelas berisi jus di dekatnya. Namun lagi-lagi, tanpa sadar Elvano menahan tangan Isyana lalu dengan sigap memberikan segelas air putih ke tangannya sebagai pengganti untuk diminum.
Isyana menatap Elvano dan meminum air putih yang diberikan olehnya.
“Terima kasih...”
“Sama-sama,” ucap Elvano dengan tersenyum
Mereka pun kembali menyantap makanan masing-masing. Sangat hening, tanpa sepatah kata yang keluar dari mulut mereka untuk berbasa basi. Keduanya seperti merasa gugup tanpa sebab. Akhirnya setelah selesai makan Isyana dan Elvano mulai membahas mengenai pekerjaan mereka.
“Jadi besok saya akan mengecek lokasinya, Pak,” ucap Isyana.
“Baiklah, kalau begitu saya akan ikut bersama anda,” sahut Elvano dengan pandangan yang intens kepada Isyana.
Isyana tertegun dan cepat-cepat mengalihkan pandangan nya.
“Apa-apaan aku ini, kenapa mataku tidak bisa berhenti menatap nya?” batin Isyana menggila.
“Maksudnya, saya juga ingin melihat lokasinya...tidak masalah bukan?” jelas Elvano gugup.
“Tidak masalah, Pak.” Isyana tersenyum kikuk.
“Kalau begitu saya akan menghubungi Bu Isyana besok pagi...”
“Baik, Pak.”
Isyana pun tersadar dan teringat akan sang suami. Saat dia melirik arloji di tangan kirinya. Isyana teringat di kota mereka pasti sudah pagi jika di Newyork malam seperti ini. Ia pun meminta izin kepada Elvano untuk menelpon.
“Permisi,” ucap Isyana sopan yang dibalas senyuman dan anggukan oleh Elvano.
Isyana pun berjalan ke arah balkon restoran. Kemudian ia langsung mengeluarkan ponsel dari saku celana dan menghubungi sang suami dengan cepat.
Isyana mengerutkan dahinya ketika tiga panggilan nya tidak dijawab oleh Ikbal. Sempat merasa kesal tetapi Isyana mencoba untuk tenang dan mengontrol emosinya di depan Elvano.
Melihat Isyana yang mencoba menghubungi suaminya. Elvano hampir melupakan Nabila, ia pun tergerak untuk menghubungi istrinya itu. Mengingat tadi pagi dia sudah marah dan menutup panggilan secara sepihak.
Disisi lain di waktu yang sama, namun berbeda keadaan.
Di Apartemen mewah.
Pukul delapan pagi, Di kota J.
Seorang pria yang tidak mengenakan baju sedang tidur tengkurep di atas ranjang dengan selimut tebal yang hanya menutup hingga ke pinggangnya. Tubuhnya polos tanpa busana dari kepala sampai kaki.
Kepalanya begitu berat untuk membuka mata sekedar menjawab sebuah panggilan di ponselnya. Namun tetap dia berusaha meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas lalu menjawab panggilan tersebut.
“Mas, kamu kok baru angkat sih? Aku dari tadi nelpon kamu!”
Mata Ikbal seketika terbelalak saat mendengar suara Isyana. Dia langsung melirik arloji ditangan kirinya. Astaga! Dia tidak sadar jika sudah jam delapan pagi. Akibat mabuk semalam di acara reuni kampus, membuat Ikbal merasa kepalanya berat pagi itu.
Ikbal pun beranjak dan duduk dipinggiran ranjang. Mengusap wajah nya yang tampan untuk menyadarkan diri. Dia tidak mau Isyana akan curiga jika mendengar suaranya yang lemas.
“I-iya sayang maaf ya, aku baru bangun ini,” jawab Ikbal dengan gugup.
Namun, tiba-tiba saja terdengar suara sebuah ponsel berdering dari sebelahnya. Mendengar nya sontak Ikbal langsung menoleh kearah sumber suara itu. Matanya terbelalak melihat ada perempuan yang sedang tidur di ranjang yang sama dengan nya. Tanpa mengenakan sehelai kain untuk menutupi tubuhnya..
“Mas? Itu hpnya siapa?” tanya Isyana yang curiga.
“Oh, itu hp kantor aku sayang,” Ikbal menjawab dengan kikuk.
Ikbal pun membangunkan perempuan yang sedang tertidur itu dengan menepuk bahunya. perempuan itu pun terbangun. Dengan wajah cantik saat bangun tidur, perempuan itu menyibak rambutnya kebelakang. Ikbal menunjuk arah ponsel wanita itu yang terus berdering.
“Elvano...” desis wanita itu pelan. Dia pun segera beranjak dari ranjang sambil membalut tubuhnya dengan selimut kemudian berlari kearah balkon. Menjawab panggilan di ponselnya.
“Aku mandi dulu ya sayang,” ucap Ikbal seraya mengalihkan pembicaraan Isyana yang terus bertanya tentang suara ponsel yang dia dengar.
“Baiklah Mas, aku juga lagi ada pertemuan ini. Kamu jangan lupa sarapan ya...” Panggilan pun terputus.
Ikbal menghela nafas lega. Dia pun merebahkan kembali tubuhnya sambil memijit keningnya yang terasa penat. Hampir saja dia ketahuan.
“Astaga, apa yang sudah kulakukan? Ini pasti gara-gara mabuk semalam...” Ikbal memaki dirinya sendiri.
“Nabila? Kamu baru bangun? Kamu dimana sekarang?” Suara Elvano terdengar kesal di seberang panggilan.
Nabila menggigit kukunya bingung untuk menjawab pertanyaan Elvano. “A-aku baru bangun El, semalam capek banget...”
“Bagaimana dengan Nano? Apa kamu tidak mengurusnya sekolah?” Suara Elvano terdengar semakin kesal membuat Nabila semakin ketakutan.
“Nano sudah pergi sekolah El, kamu tenang saja. Aku mau mandi dulu nanti aku hubungi lagi ya...”
Nabila segera menutup panggilan dengan cepat. Kemudian berjalan masuk kembali kedalam kamar menghampiri Ikbal.
“Via, apa yang sudah kita lakukan?” ucap Ikbal dengan wajah bingung nya.
Ikbal memanggil Nabila dengan sebutan Via, seperti waktu mereka masih kuliah bersama.
“A-aku juga gak tau, mungkin karena kamu mabuk semalam.” Nabila menghela nafas panjang.
“Bagaimana jika istriku tahu?” Ikbal meremas rambutnya untuk menjernihkan pikiran nya.
“Ya aku juga gak tau, bagaimana juga jika Elvano tahu tentang ini...habislah kita berdua...” Nabila juga ketakutan mengingat seperti apa watak Elvano.
“Aku tidak takut pada Elvano, dari waktu kuliah aku tidak pernah takut padanya...” ucap Ikbal dengan percaya diri karena Nabila membandingkan nya dengan Elvano.
“Cihh sombong sekali, dia pasti bakal marah besar jika tahu ini...” Nabila berdecih sambil memutar malas bola matanya.
“Sekarang sebaiknya kamu mandi, Vi! Habis mandi aku akan mengantarmu pulang, kita bicarakan masalah ini nanti...” ucap Ikbal.
Nabila pun mengangguk dan langsung masuk kedalam kamar mandi. Didalam kamar mandi Nabila terus mengingat kejadian semalam. Walaupun itu kesalahan. Akan tetapi Nabila diam-diam malah merasa senang.
“Via makin cantik aja...” batin Ikbal.
“Sepertinya Ikbal sudah sangat mapan, dari dulu aku memang tidak bisa melupakan nya...” batin Nabila.
Nabila dan Ikbal dulunya adalah sepasang kekasih waktu kuliah. Namun karena sebuah kesalahan Nabila harus menikah dengan Elvano, membuat Ikbal sangat geram. Sejak saat itu Ikbal tidak pernah bertemu dengan Nabila lagi. Akan tetapi di reuni semalam mereka dipertemukan kembali.
***
Kembali ke restoran tempat Isyana dan Elvano makan.
Isyana kembali duduk di kursinya. Bersamaan dengan Elvano yang juga baru selesai melakukan panggilan telepon. Elvano menatap Isyana dan menyadari perubahan raut di wajahnya. Tanpa ragu ia pun bertanya.
“Ada apa Bu Isyana? Apa ada masalah?” tanya Elvano.
Isyana tersenyum. “Tidak ada apa-apa, Pak. Mari kita lanjutkan pembahasan proposal nya.”
“Baiklah, jadi besok kita pergi bersama ke lokasinya ya...”
Isyana mengangguk. Meskipun dia sedang membicarakan masalah pekerjaan. Akan tetapi pikiran nya tidak bisa berhenti memikirkan Ikbal suaminya. Ada rasa curiga yang terbesit dibenaknya. Perasaan nya tidak tenang. Terlebih saat dia mendengar deringan ponsel yang sangat asing di telinganya tadi.
“Ada apa denganku? Isyana kamu tidak boleh mencurigai suami sendiri hanya karena suara hp ... mungkin aja Mas Ikbal mengganti nada dering hp kerjanya ... berpikirlah positif Isyana,” batin Isyana tidak karuan karena Ikbal.
Elvano yang melihat raut wajah Isyana yang tidak karuan. Apalagi saat di ajak bicara Isyana sesekali hanya melamun. Elvano pun mengibas udara di depan wajah Isyana.
“Bu Isyana? Apa anda yakin baik-baik saja?”
Isyana tersadar dari lamunannya dan mengangguk cepat. “Saya baik-baik saja.”
“Sepertinya pembahasan kita kali ini sampai sini saja,” tutur Elvano.
To Be Continued.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
A Yes
maka nya udah deh, untuk mempersempit CLBK jangan suka reunian pada yaaak🤣🤣🤣🤣🤣
2024-01-04
2