Bab. 17.

“Tidak!” teriak Lizzie dengan lantang.

“Lizzie harus berucap dengan sopan ya, tidak boleh teriak.” Ucap Ratih menegur Lizzie dengan lembut. Sedangkan Purnomo tampak menunduk menatap Lizzie yang masih menarik narik tangannya. Tetapi tidak paham dengan maksud Lizzie.

“Iya Bun, habisnya Lizzie kan sudah menggelengkan kepala.” Ucap Lizzie sambil mendongak menatap Ratih, namun tangannya masih menarik narik tangan Purnomo.

“Maaf Pak Lik Arko, Lizzie mau istirahat. “ ucap Ratih sambil tersenyum menatap Arko lalu menunduk menatap Lizzie.

“Ya sudah, aku cabut ya. Sampai jumpa Lizzie..” ucap Arko lalu melangkah menuju ke mobilnya.

“Ayah...” ucap Lizzie lagi.

“Apa?” tanya Purnomo

“Ayo ke rumah Eyang Ayu, aku kan belum pernah masuk ke rumah Eyang Ayu..” ucap lirih Lizzie, sangat lirih...

Purnomo dan Ratih pun lalu menggandeng tangan Lizzie, lambat laun mereka berdua paham kalau anak angkatnya itu keukeuh jika mempunyai kemauan.

Mereka bertiga terus melangkah menuju ke pintu utama rumah induk.

Sementara yang di dalam rumah induk yang baru saja selesai mengintip dan menguping.

“Eh.. mereka ke sini. Cepat kamu sembunyi!” perintah Ibu Ayu pada orang yang tadi diajak mengintip dan menguping pembicaraan Purnomo. Mereka ingin tahu berita terkini hasil Purnomo dari kantor Polisi.

Satu orang laki laki segera melangkah dengan cepat menuju ke belakang.

Sesaat kemudian...

TOK

TOK

TOK

TOK

Purnomo mengetuk ngetuk pintu yang terbuat dari kayu jati asli dan kayu jati tua. Model kupu tarung dengan ukiran indah.

Tidak lama kemudian pintu terbuka, tampak sosok Ibu Ayu Lestari tangannya masih memegang handel pintu.

“Gimana Pur hasil dari kantor Polisi?” tanya Ibu Ayu Lestari basa basi sebab dia sudah mendengar kabar beritanya.

“Belum ada hasil Bu, mau diproses.” Ucap Purnomo sambil melangkah masuk karena pintu sudah terbuka dengan lebar. Lizzie pun turut melangkahkan kakinya karena masih digandeng oleh Purnomo.

Sesaat Ratih yang juga baru masuk melihat ada beberapa keranjang bunga mawar tabur, teronggok di lantai di samping pintu.

“Bu, kok banyak sekali keranjang bunga mawar?” tanya Ratih kepo.

“Ooo buat mengirim ke anak anak kamu.” Jawab Ibu Ayu Lestari meluncur begitu saja kalimatnya.

“Dikirim ke mana Bu? Makam mereka kosong.” Ucap Purnomo sambil terus menggandeng tangan Lizzie.

“Ooo itu ya seperti biasa kan di taruh di bawah tempat tidur kamu.” Ucap Ibu Ayu Lestari agak gelagapan.

“Tapi kok banyak sekali.” Ucap Purnomo yang mengikuti langkah kaki Lizzie yang menuju ke kursi di dekat jendela kaca yang lebar. Di situ ada dua kursi kayu dan ada satu meja marmer bulat.

Mata Purnomo terbelalak saat melihat ada satu bungkus rokok kretek dan satu korek api zippo.

“Bu, rokok dan korek siapa?” tanya Purnomo sambil duduk di kursi itu dan menunjuk benda benda yang ada di atas meja marmer bulat itu.

“Ooo punya Arko ketinggalan. “ ucap Ibu Ayu Lestari

“Kapan Arko ganti rokok kretek?” tanya Purnomo.

“Jangan tanya ke aku, tanya saja langsung ke Arko.” Ucap Ibu Ayu Lestari dengan ketus. Lalu dia duduk di kursi yang satunya. Sedangkan Ratih masih melihat lihat bunga tabur di keranjang keranjang itu. Di dalam keranjang juga ada kemenyan, dupa, minyak wangi cap puteri duyung, juga satu plastik telur ayam kampung. Dia masih ingin bertanya tetapi melihat gelagat ibu mertua yang baru saja omong dengan ketus dia batalkan.

Lizzie yang berdiri di depan tubuh Purnomo sambil menyandar di tubuh Ayah angkatnya itu menatap tajam pada rokok dan korek api zippo itu.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara orang laki laki bersin bersin dari belakang.

HAAAAAAZZZZJJIIIINNNGGGG

HAAAWZZZZZJJJJIIIINNNGGG

HAAAAZZZZJJJIIIIINNNGGG

Purnomo dan Ratih kaget dan menoleh ke arah sumber suara yang tampak nya ada di kamar belakang.

“Siapa Bu?” tanya Purnomo sambil menatap Ibu Ayu Lestari, sebab di rumah induk itu tidak ada orang laki laki yang tinggal, yang biasa menemani adalah Mbok Lastri, asisten rumah tangga sejak dulu.

“Hmm temannya Mbok Lastri tadi katanya kompor bermasalah, mau beneri kompor.” Jawab Ibu Ayu Lestari tidak berani menatap Purnomo.

Purnomo pun mulai curiga jika laki laki yang bersin bersin adalah pemilik rokok dan korek api zippo itu.

“Lizzie mau kenalan dengan Mbok Lastri.” Ucap Lizzie sambil tersenyum.

“Bun, antar Lizzie ke belakang.” Ucap Purnomo sambil menatap Ratih yang kini duduk di kursi tamu. Purnomo mulai membiasakan diri untuk memanggil Ratih dengan sebutan Bunda.

“Ayo..” ucap Ratih sambil bangkit berdiri.

“Ngapain juga kenalan dengan Mbok Lastri.” Ucap Ibu Ayu Lestari dengan nada tidak suka.

“Haus.. Eyang mau minum....” ucap Lizzie sambil melangkah dan menggandeng tangan Ratih.

Ratih dan Lizzie terus melangkah ke belakang, sementara suara laki laki yang bersin bersin masih saja terus terdengar.

Dan suara itu semakin lama semakin jelas dan dekat. Ibu Ayu Lestari pun jantungnya semakin berdetak lebih kencang.

Dan tidak lama kemudian muncul satu sosok laki laki setengah baya, dengan penampilan perlente. Rambut klimis, seperti diberi pomid dan sepatu hitam mengkilap. Kemeja garis garis lengan panjang digulung sampai siku dimasukkan ke dalam celana panjang kain yang licin setrikaannya. Di jarinya melingkar cincin. batu akik besar. Perut buncitnya semakin tampak menonjol akibat kemeja yang dimasukkan di dalam celana.

“Siapa Bu? Tukang kompor?” tanya Purnomo sambil tersenyum miring.

Laki laki itu tampak mengusap usap hidungnya dengan sapu tangannya. Suara bersinnya pun telah reda.

“Jeng aku mau pulang sekarang.” Ucap laki laki itu sambil melangkah menuju ke meja marmer bulat.

“Tidak kuat aku.” Ucap laki laki itu lagi sambil meraih rokok kretek dan korek api zippo nya.

“Pak, kenalkan ini Purnomo anakku yang aku cerita kan tadi.” Ucap Ibu Ayu Lestari selanjutnya.

“Gini Pur, aku harap kamu jangan salah paham. Ini Pak Darus, dia paranormal, akan membantu kasus kamu dengan cara alternatif.” Ucap Ibu Ayu Lestari lagi sambil menatap Purnomo.

“Maaf Bu, saya tidak begitu yakin dengan cara cara seperti itu.” Ucap Purnomo sambil menatap Ibu Ayu Lestari.

Bibir Purnomo pun kembali tersenyum...

“Aku kira Pak Darus yang tukang kompor.” Ucap Purnomo kemudian.

“Pur, Pak Darus juga bisa membantu istri kamu agar bisa kembali hamil.” Ucap Ibu Ayu Lestari.

Mata Purnomo membulat menatap Ibu Ayu Lestari..

“Apa lagi itu Bu, aku tidak akan membiarkan istriku disentuh oleh laki laki lain.” Ucap Purnomo dengan nada tinggi wajahnya pun mulai menegang.

“Ooo tidak dengan cara itu Nak... Aku tidak akan menyentuh istri kamu.” Ucap Pak Darus sambil menatap Purnomo.

“Apa pun caranya aku tidak mengizinkan!” ucap Purnomo lalu dia bangkit dari tempat duduknya.

“Ratih... Lizzie ... ayo pulang!” teriak Purnomo sambil menatap ke arah belakang. Karena emosi pada Ibu Ayu Lestari, Purnomo lupa jika dia akan membiasakan untuk memanggil Ratih dengan sebutan Bunda, sebutan Dik pun kelupaan...

Terpopuler

Comments

Minartie

Minartie

yaelah ...paranormal to...bukan tukang kompor....

2025-02-01

1

⍣⃝ꉣꉣAndini Andana

⍣⃝ꉣꉣAndini Andana

rambut klimis, kemeja bergaris 👔 celana cutbray👖sepatu mulut buaya yg lancip depan 👞 plus kaca mata hitam 😎, jangan2 personil Changcuters atau Naif.. 😳🤔🤔🤣🤣

2024-01-19

6

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!