Purnomo pun lalu menghubungi nomor telepon pun rumahnya, dia berharap Ratih dan Lizzie sudah berada di rumah.
Tut...
Tut...
Tut...
Sementara itu, di rumah Purnomo. Mbok Mirah yang sedang sibuk mencari cari boneka Michelle, segera keluar dari kamar Lizzie karena mendengar suara dering telepon. Demi uang satu juta cash, Mbok Mirah rela menahan rasa takut dan prindang prinding di tubuhnya
“Kok tidak ada apa dibawa ke sekolah boneka itu, gagal lagi dapat uang satu juta. “ gumam Mbok Mirah sambil berjalan cepat menuju ke ruang tengah tempat pesawat telepon terdekat.
“Hallo...” ucap Mbok Mirah setelah mengangkat ganggang telepon.
“Mbok, apa Ratih dan Lizzie sudah di rumah?” tanya Purnomo.
“Belum Den.” Jawab Mbok Mirah dan Purnomo pun semakin khawatir.
“Tapi tadi Bu Ratih telepon katanya di rumah Den Mas Aryo, Mbak Pipit yang minta Mbak Lizzie main ke sana.” Ucap Mbok Mirah selanjutnya dan membuat hati Purnomo sedikit lega.
“Ya sudah.” Ucap Purnomo lalu memutus sambungan teleponnya.
Purnomo lalu menghubungi telepon rumah Aryo. Dan benar Ratih dan Lizzie masih berada di sana. Purnomo pun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju ke rumah Aryo.
Beberapa menit kemudian mobil Purnomo sudah memasuki halaman rumah Aryo.
“Hmmm tidak ada mobil Aryo, apa dia pergi. Semoga saja Ratih dan Lizzie masih di sini.” Gumam Purnomo sambil memarkirkan mobilnya. Baru saja diam mata Purnomo melihat sosok mungil Lizzie yang membuka pintu rumah Aryo.
“Ayahhhh.” Teriak Lizzie saat Purnomo turun dari mobil.
“Hand phone Bunda kenapa mati hmm?” ucap Purnomo sambil melangkah menuju ke pintu rumah Aryo.
“Batere habis Mas, biasa dipakai Pipit buat main game, karena ngambek ga boleh pinjam boneka nya Lizzie.” Ucap Ratih yang sudah berada di belakang Lizzie. Lalu Ratih memberi salam pada suaminya, begitu juga Lizzie memberi salam pada Ayah angkatnya.
“Bagaimana Mas?” tanya Ratih yang tidak sabar juga menunggu hasil Purnomo di kantor Polisi.
“Belum ada hasil.” Jawab Purnomo dengan nada kecewa sambil melangkah masuk ke ruang tamu.
“Ayah ayo kita pulang sekarang.” Ajak Lizzie yang sejak tadi menggendong tas ransel nya. Kadang digendong di belakang kadang digendong di depan.
“Lizzie, Bu Lik Citra mengajak kita makan bersama dulu.” Ucap Ratih sambil mengelus kepala Lizzie.
“Bun, kita pulang sekarang saja.” Ucap Lizzie dengan nada dan ekspresi wajah serius.
“Dik Pipit sudah tidak akan pinjam boneka kamu kok, dia sudah bermain dengan boneka nya sendiri.” Ucap Ratih membujuk Lizzie , sebab Citra sudah menyiapkan makanan untuk mereka.
“Ayo sudah siap nih... Mas Purnomo cuci tangan dulu sana. Mas Aryo tadi habis mengantar pulang kita kembali kerja Mas. Maaf aku dan Mbak Ratih ga telepon Mas Pur khawatir mengganggu Mas Pur yang sedang di kantor Polisi, tadi rencana selesai makan Mbak Ratih pulang pakai taxi on line, tapi syukur lah Mas Purnomo menjemput ke sini... . “ ucap Citra yang sudah berada di ruang tamu.
“Bagaimana Mas informasi dari kepolisian?” tanya Citra selanjutnya.
“Belum ada hasil, rekaman CCTV terpotong.” Jawab Purnomo.
“Kok bisa terpotong? kurang ajar benar pelakunya, jasad saja dicuri, benar benar kurang kerjaan.” Ucap Citra juga dengan nada kesal. Lalu dia mempersilahkan Purnomo dan Ratih untuk menuju ke ruang makan.
Purnomo dan Ratih terus membujuk Lizzie agar mau makan siang dulu. Akhir nya Lizzie pun mau. Tampak Pitaloka keluar dari kamarnya membawa boneka nya yang besar dan bagus.
“Aku tukar pakai boneka ku ini mau ga?” ucap Pitaloka sambil menatap Lizzie. Lizzie pun menggelengkan kepalanya.
“Pelit.” Ucap Pitaloka sambil cemberut sebab dia ingin melihat mainan yang ada di dalam tas Lizzie sejak tadi, tapi tidak dibolehkan oleh Lizzie.
Tampak Lizzie tidak semangat saat makan. Purnomo dan Ratih pun lantas cepat cepat menghabiskan makanannya, termasuk Ratih harus menghabiskan makanan yang ada di piring Lizzie. Dia dengan senang hati menghabiskan sisa makanan Lizzie, bukan karena sangat lapar, doyan atau maruk. Tapi dia ingin merasakan juga apa yang sudah sering dilakukan oleh kaum ibu ibu, baru kali ini kesampaian oleh Ratih.
“Awas lho nanti Mbak Ratih jadi ndut..” ucap Citra sambil tersenyum menatap Ratih yang sudah menghabiskan makanan Lizzie.
“Ndut tak apa ya Mas, sayang juga makanan terbuang, di luar sana banyak orang kelaparan. Kata orang orang kalau kita mau menghabiskan makanan anak, hubungan emosional juga akan dekat.” Ucap Ratih sambil tersenyum menatap Purnomo.
“Hmmm yang penting sehat...” Ucap Purnomo.
“Ayo Bun..” ajak Lizzie yang sudah tidak sabar untuk pulang. Akhirnya mereka bertiga pun segera mohon diri.
Lizzie berjalan dengan cepat menuju ke mobilnya. Purnomo dan Ratih pun juga segera mengikut langkah kaki Lizzie.
Mobil pun segera melaju setelah mereka bertiga masuk ke dalam nya.
Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki pintu gerbang. Mata Purnomo menatap satu buah mobil terparkir di depan rumah induk.
Dan sesaat kemudian tampak satu sosok laki laki keluar dari rumah induk itu.
“Lizzie itu Pak Lik Arko. Kakaknya Pak Lik Aryo.” Ucap Purnomo sambil terus menjalankan mobil mendekati mobil yang terparkir di depan rumah induk, yang tidak lain mobil milik Arko, yang juga keponakan Ibu Ayu Lestari.
Lizzie tampak menoleh dan menatap tajam sosok Arko dari dalam mobil.
“Ayo turun Ayah kenalkan pada dia. Dia orang sibuk.” Ucap Purnomo sambil mematikan mesin mobilnya.
“Ko....” teriak Purnomo sambil membuka pintu mobil.
Tampak Arko melangkah dengan tergesa gesa menuju ke mobilnya.
“Eh Mas. Sudah pulang? Bagaimana info dari kepolisian?” ucap Arko sambil menghentikan langkahnya dan menatap Purnomo.
“Turut prihatin ya Mas. Mbak.” Ucap Aryo selanjutnya saat Purnomo dan Ratih sudah ke luar dari mobil.
“Belum ada hasil, sedang akan diproses.” Ucap Purnomo dengan nada sedih.
“Lizzie ayo keluar Nak, kenalan dengan Pak Lik Arko .” Ucap Purnomo selanjutnya sambil membuka pintu belakang kemudi, sebab Lizzie juga belum turun. Dan Ratih gagal mengajak Lizzie keluar dari mobil.
“Ooo ya mana anak kamu Mas, aku ingin kenalan.” Ucap Arko sambil menatap arah pintu belakang mobil Purnomo.
Lizzie pelan pelan keluar dari mobil, tas ransel nya tetap dia gendong.
“Wuih cantiknya, siapa namanya...” ucap Arko sambil tersenyum.
Lizzie digandeng oleh Purnomo dan diajak melangkah mendekati Arko. Lizzie pun menjabat tangan Arko dan menyebutkan namanya.
“Lizzie nama yang cantik seperti orangnya.” Gumam Arko.
“Ayo ikut Pak Lik Arko jalan jalan.” Ucap Arko selanjutnya sambil menatap Lizzie. Dan Lizzie hanya menggeleng gelengkan kepala.
“Ayahhhh.” Ucap lirih Lizzie sambil menarik narik tangan Purnomo.
“Apa mau ikut Pak Lik Arko, dengan Ayah? Ayokk..” ucap Arko lagi.
Sementara itu di balik jendela kaca rumah induk ada dua pasang mata menatap mereka ber empat. Dan dua pasang telinga nya pun ikut mendengar apa yang sedang dibicarakannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Bunda Silvia
ibu ayu yg kepo ngintip
2024-07-01
0
Nit_Nit
siapa yang mengintip itu? yang ditelepon pak Karman itu siapa
2024-01-20
1
Deriana Satali
Kayanya anak2 Poernomo di curi sm keluarganya sendiri Arko dan Arya jg bu Ayu
2024-01-19
1