Bab. 15.

Setelah sarapan selesai, Purnomo segera pamit untuk lebih dulu berangkat ke kantor Polisi. Sementara itu Lizzie dan Ratih berjalan memasuki ruang tamu. Tampak Lizzie sudah menggendong tas ransel yang berisi boneka Michelle nya.

Lizzie memberi salam dan berkenalan pada keluarga kecil Aryo. Lalu dia melangkah dengan riang gembira di samping Pitaloka. Aryo sudah melangkah lebih dulu menuju ke mobilnya.

“Tas Lizzie besar sekali Mbak, bawa apa saja dia?” tanya Citra yang berjalan di samping Ratih.

“Buku, peralatan tulis, bekal makanan minuman dan mainannya.” Jawab Ratih sambil terus melangkah di belakang Lizzie.

“Kenapa harus bawa mainan segala di sekolah sudah ada banyak mainan.” Ucap Citra sambil tersenyum.

“Namanya anak anak Dik, dia mau bawa mainan, biar saja nanti lama lama juga mau berpisah dengan mainannya.” Ucap Ratih sambil terus berjalan di samping Citra dan di belakang Lizzie. Dan Citra pun hanya tersenyum. Mereka semua segera masuk ke dalam mobil, dan mobil melaju meninggalkan halaman rumah Purnomo menuju ke sekolah TK.

Sedangkan Purnomo juga terus melajukan mobilnya menuju ke kantor Polisi. Sesaat hand phone yang berada di saku kemejanya berdering. Tangan kiri Purnomo pun segera mengambil hand phone nya.

“Pak Karman? Ada apa?” gumam Purnomo sambil menggeser tombol hijau.

“Den.. maaf saya izin karena anak masuk rumah sakit, Slamet juga tidak bisa menggantikan dia juga baru saja masuk rumah sakit, Den...” suara Pak Karman di balik hand phone milik Purnomo.

“Hmmm..” gumam Purnomo tidak berkomentar apa apa selanjutnya, karena hatinya masih kesal dengan penjaga makam yang tidak bertanggung jawab menjaga makam anak anaknya itu.

Beberapa saat kemudian..

“Maaf ya Den..” suara Pak Karman lagi..

“Hmmm..” gumam Purnomo lagi lalu sambungan telepon terputus.

Purnomo menaruh hand phone miliknya ke dalam saku kemejanya lagi. Dan dia terus melajukan mobil menuju ke kantor Polisi.

Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki halaman kantor Polisi. Setelah memarkir mobilnya Purnomo segera keluar dari mobil, dan berjalan menuju bagian penerimaan tamu. Purnomo menyampaikan tujuannya datang.

Pak Polisi pun tampak mengetik laporan Purnomo yang kehilangan jenazah anak anaknya.

“Wah, sudah lama sekali Pak, kenapa baru lapor sekarang.” Ucap Pak Polisi sambil jari jarinya mengetik ngetik.

“Tahunya juga baru kemarin Pak. Saya datang ke sini karena ingin melihat rekaman CCTV yang ada di perempatan jalan dekat makam itu. Paling tidak yang lima tahun terakhir ini.” Ucap Purnomo tetap dengan nada santun. Sebab dia merasa ucapan Pak Polisi ada unsur menyalahkan dirinya yang baru lapor.

“Baik Pak, tunggu dulu.. “ ucap Pak Polisi selanjutnya. Purnomo pun lalu duduk menunggu di bangku yang ada di kantor Polisi itu.

Satu jam lamanya Purnomo menunggu dengan rasa gelisah dan berharap kedatangan nya di kantor Polisi membawa hasil, bisa mengungkap siapa yang sudah mengambil jasad anak anaknya.

Sesaat kemudian, terdengar suara langkah kaki yang memakai sepatu. Purnomo menoleh ke arah suara itu. Tampak satu sosok laki laki memakai seragam baju polisi datang mendekati Purnomo.

“Pak, mari ikut saya.” Ucap Polisi itu.

“Baik Pak.” Ucap Purnomo sambil bangkit berdiri. Purnomo terus melangkah di belakang Bapak Polisi itu. Tidak lama kemudian mereka masuk ke dalam suatu ruangan.

“Silakan duduk Pak.” Ucap Pak Polisi lalu Pak Polisi duduk di kursi di depan komputer. Purnomo duduk di kursi yang tidak jauh dari letak komputer itu.

“Tanggal, bulan dan tahun berapa?” Tanya Pak Polisi, dan Purnomo pun menyebutkan dengan rinci tanggal, bulan dan tahun pemakaman Pramita.

Pak Polisi tampak sibuk jari jarinya pada tuts tuts keyboard komputer. Beberapa menit kemudian...

“Lihat ini Pak.” Ucap Pak Polisi selanjutnya. Purnomo pun mendekat pada Pak Polisi dan melihat layar komputer itu.

“Iya Pak..” ucap Purnomo saat melihat rekaman CCTV di layar komputer itu terlihat mobil ambulance yang membawa jenazah Pramita, mobil Purnomo dan mobil mobil keluarga membuntuti mobil jenasah yang menuju ke makam.

“Coba lihat rekaman selanjutnya Pak. “ pinta Purnomo, jari jari Pak Polisi pun kembali sibuk. Di layar menampilkan kembalinya mobil ambulance dan mobil mobil keluarga Purnomo dari arah makam. Dan selanjutnya nya tampak rekaman lalu lintas biasa yang tidak ramai.

Pak Polisi terus melanjutkan memperlihatkan rekaman CCTV itu, Purnomo pandangan matanya terus menatap layar monitor komputer dan jantungnya berdebar debar menunggu rekaman rekaman selanjutnya.

Akan tetapi Purnomo mengernyitkan keningnya saat melihat rekaman itu ada janggal.

“Pak, kok seperti nya ada yang hilang rekamannya.” Ucap Purnomo.

“Coba saya lihat ulang.” Ucap Pak Polisi itu untuk melihat kembali rekaman yang tadi diputar.

“Benar Pak, malam harinya dan satu hari berikutnya, tidak ada rekaman.” Ucap Pak Polisi dengan nada sesal.

“Coba yang rekaman tanggal pemakaman Dewa Pak.” Ucap Purnomo selanjutnya dan dia pun menyebutkan tanggal, bulan dan tahun meninggalnya Dewa, anak ketiga nya.

Jantung Purnomo terus berdebar debar menunggu hasil rekaman, tetapi dia kembali menelan kekecewaan, sebab hasilnya sama, hanya ada rekaman sama seperti saat pemakaman Pramita, dan selanjutnya malam hari nya dan satu hari berikutnya tidak ada rekamannya. Dan begitu terus hingga pemakaman Erlangga.

“Maaf ya Pak, kami tidak bisa membantu.” Ucap Pak Polisi di bagian rekaman CCTV itu.

“Tapi nanti bagian lain akan tetap membantu kasus Pak Purnomo.” Ucap Pak Polisi itu selanjutnya.

“Baik Pak.” Ucap Purnomo dengan nada sedih dan kecewa, selanjutnya dia berjalan menuju ke ruang bagian Intelijen.

Hingga jam satu siang Purnomo berada di kantor Polisi dan belum mendapatkan hasil seperti yang dia harapkan.

“Kami akan segera mengusut kasus ini Pak, hari ini juga kami akan menemui penjaga makam itu di rumah sakit, untuk minta keterangan dari mereka.” Ucap Pak Polisi setelah Purnomo memberikan keterangan keterangannya.

“Terima kasih Pak.” Ucap Purnomo lalu dia mohon diri.

Purnomo melangkah menuju ke mobilnya.

“Sampai lupa aku belum menanyakan pada Ratih, mereka pulang pakai taxi on line apa diantar Aryo.” Gumam Purnomo dalam hati. Purnomo lalu mengambil hand phone miliknya untuk menghubungi Ratih. Akan tetapi hand phone milik Ratih tidak bisa dihubungi alias off.

Purnomo lalu menghubungi nomor hand phone milik Aryo. Ada nada panggil tetapi tidak diangkat oleh Aryo.

“Kok tidak diangkat.” Gumam Purnomo dan terus mengulangi panggilan video pada nomor hand phone milik Aryo. Sudah berkali kali menghubungi tetap tidak diangkat oleh Aryo.

Purnomo lalu menghubungi nomor hand phone milik Citra.

“Sial!” umpat Purnomo saat nomor hand phone milik Citra sama seperti punya Ratih, off.

Terpopuler

Comments

Zudiyah Zudiyah

Zudiyah Zudiyah

sangat matang sekali rencana jahat mereka

2024-06-03

1

penjahatnya sudah profesional.

2024-04-05

0

Deriana Satali

Deriana Satali

Apa yg terjadi dgn Ratih dan Citra

2024-01-18

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!