Bab. 14.

Pak Karman pulang ke rumah dengan berjalan kaki, karena motor miliknya dan motor Pak Slamet tidak juga mau menyala mesinnya.

Sedangkan Pak Slamet kini yang menjaga makam keluarga Purnomo itu sendirian.

“Hmmm aku pikir paling Den Mas Purnomo tidak bisa mengusut hilangnya jasad bocah bocah itu, selain sudah lama kejadiannya. Polisi juga malas ngurus kasus kasus macam begitu an.” Gumam Pak Slamet sambil menghabiskan kopinya.

“Ehhh apa tadi Kang Karman bilang anak kecil? Punya kelebihan?”

“Anak kecil yang tadi ikut Den Mas Purnomo dan Mbak Ratih itu.. aku kok tidak begitu memperhatikan.. kalau masalah itu mah gampang...” gumam Pak Slamet sambil tersenyum lalu merebahkan badannya di balai balai yang ada di bangunan kecil itu. Dia akan memejamkan matanya dan tidur. Sarung milik Pak Karman yang dia pinjam pun sudah ditarik untuk menutup tubuhnya yang meringkuk.

Namun tiba tiba betapa kagetnya Pak Slamet, saat pantatnya terasa sakit macam ada tangan yang menepuk pantatnya dengan keras.

Pak Slamet langsung membukakan matanya, dan melihat ke arah belakang tubuhnya. Tidak ada siapa siapa.

“Hmmm mau apa mengganggu aku.” Ucap Pak Slamet yang paham jika makhluk tak terlihat baru saja menepuk pantatnya.

Dan tiba tiba ada suara anak anak tertawa cekikikan di luar bangunan kecil itu.

“Kik.... Kik.... kik... “

“Hi... hi... hi.... hi....”

“Kik... kik... kik.. kik...”

“Hi... hi... hi....”

Suara tawa anak anak kecil di antara derasnya air hujan yang turun ke bumi.

Meskipun Pak Slamet sudah kebal dengan segala penampakan dan suara suara aneh di makam. Namun tetap saja jantungnya berdetak lebih keras, bulu kuduk nya pun juga berdiri, saat tiba tiba pintu yang terbuat dari kayu jati kuat itu terbuka dengan lebar dan angin bertiup dengan kencang masuk ke dalam bangunan kecil tempat dia berjaga.

Angin yang kencang itu pun juga membawa air hujan hingga ruangan itu pun basah. Suara tawa cekikikan anak anak masih terus terus terdengar.

“Sial, mereka menyerang aku yang sedang sendirian.” Gumam Pak Slamet yang kini baju dan sarungnya sudah basah.

Pak Slamet lalu teringat akan jimat milik Kakaknya yang ditaruh di bawah bantal yang ada di balai balai itu.

Dengan cepat Pak Slamet mengambil jimat itu dan diarahkan pada pintu yang terbuka dimana angin besar dan air hujan terus masuk.

“Kik.... Kik... Kik...”

“Hi... hi... hi....”

Suara tawa anak kecil kecil masih terdengar di telinga Pak Slamet.

“Sial kenapa tidak mempan.” Gumam Pak Slamet yang terus mengarahkan jimat yang berujud keris pusaka itu ke arah pintu. Angin dan air hujan masih juga terus masuk.

“Kik... kik... kik....”

“Hi.... hi... hi....”

Suara tawa anak anak masih terdengar akan tetapi mulai menjauh, air hujan dan angin pun mulai tidak lagi kencang masuk ke dalam bangunan kecil itu, dan lama lama mereda lalu berhenti.

BRAAK

Suara pintu kayu jati yang kembali menutup. Pak Slamet sedikit lega, akan tetapi dia tidak bisa tidur. Tubuh nya menggigil kedinginan sebab semua yang ada di dalam bangunan itu basah oleh air hujan. Tidak ada baju ganti yang kering, sebab baju baju Pak Karman hanya digantung di dinding dan ditaruh pada keranjang baju.

Malam terasa begitu panjang.

Keesokan harinya di rumah Purnomo. Purnomo, Ratih dan Lizzie sudah bangun. Hanya Lizzie yang bisa tidur nyenyak.

“Bun, aku boleh bawa Michelle kan?” tanya Lizzie yang sudah mandi dan sudah memakai baju rapi, rambut panjang nya pun sudah dikepang dan digulung gulung diberi pita cantik oleh Ratih. Kini mereka berdua sedang berada di kamar Lizzie.

“Kalau tidak boleh, aku tidak usah sekolah saja Bun. Kemarin Bunda kan bilang boleh.” Ucap Lizzie sambil menatap Ratih yang sedang memberi bedak pada wajahnya.

“Kalau kamu diejek teman teman gimana kalau sekolah bawa bawa boneka.” Ucap Ratih dengan lembut, dia tidak melarang Lizzie membawa boneka namun khawatir jika Lizzie di bully oleh teman temannya.

“Dimasukkan tas Bun, biar mereka tidak melihat.” Ucap Lizzie.

“Baiklah.” Ucap Ratih lalu melangkah menuju ke lemari yang ada di dalam kamar Lizzie itu. Dia dan Purnomo sudah membelikan beberapa tas buat Lizzie.

Ratih memilih dari tas tas yang ada. Dia lalu mengambil satu tas yang agak besar agar boneka Michelle bisa masuk.

Lizzie tampak tersenyum lalu dia segera meminta tas yang masih dipegang oleh Ratih, dia pun segera memasukkan boneka Michelle ke dalam tas nya.

“Hmmm sebenarnya terlalu besar tas itu untuk dibawa Lizzie ke sekolah.” Gumam Ratih di dalam hati.

Sementara di luar kamar Lizzie, tepatnya di ruang tamu. Terdengar suara ketukan pintu berkali kali. Mbok Mirah yang sedang menyiapkan sarapan pun segera berjalan menuju ke pintu ruang tamu.

Saat pintu dibuka udara segar pagi yang semalaman di guyur hujan mulai masuk ke dalam ruang tamu itu. Dan di depan pintu tampak Aryo, Citra dan Pitaloka sudah cantik memakai baju seragam TK.

“Ee Den Mas Aryo, Mbak Citra dan mbak Pipit sudah cantik mau menghampiri Mbak Lizzie ya, dia baru berdandan. Ayo masuk, sudah sarapan belum..” ucap Mbok Mirah dengan ramah, dia juga punya harapan jika Lizzie berangkat ke sekolah akan mengambil boneka Michelle.

“Sudah Mbok, mana Mas Purnomo?” ucap Aryo sambil masuk ke dalam ruang tamu. Dan mereka bertiga pun lalu duduk di kursi ruang tamu.

Mbok Mirah segera melangkah masuk untuk memberi tahu pada Purnomo dan Ratih.

Sesaat kemudian Purnomo yang sudah berpakaian rapi melangkah menuju ke ruang tamu.

“Pak De, mana Mbak Lizzie?” tanya Pitaloka saat melihat sosok Purnomo.

“Tunggu sebentar baru dandan.” Ucap Purnomo sambil tersenyum menatap Pitaloka. Ada rasa sedih di hatinya sebab usia Pitaloka juga sebaya dengan Pramita.

“Mas, aku turut prihatin atas kabar hilangnya jasad anak anak Mas Pur.” Ucap Aryo dengan nada dan ekspresi wajah sedih.

“Iya Yo, aku tidak menyangka. Benar benar tidak menyangka. Selama ini aku mengirim bunga dan doa pada nisan kosong. Aku juga tahu kalau kita bisa berdoa dari mana saja untuk arwah mereka, tapi tetap saja sedih dan kesal. Pagi ini aku akan ke kantor Polisi.. Rencana mau mengantar dulu Ratih dan Lizzie ke sekolah , baru ke kantor Polisi. Tapi kalau kamu mau mengantar Pitaloka ke sekolah biar Ratih dan Lizzie ikut mobil kamu.” Ucap Purnomo sambil menatap Aryo.

“Iya Mas, biar mereka ikut di mobil ku, nanti kalau Mas Pur, tidak bisa menjemput Mbak Ratih dan Lizzie biar ikut lagi kami. Aku nanti juga akan menjemput Pitaloka.” Ucap Aryo sambil menatap Purnomo.

“Ya sudah kami sarapan dulu, kalau kalian belum sarapan ayo sekalian.” Ucap Purnomo selanjutnya.

“Silakan Mas, kami sudah tadi bersama Eyang Ayu..” ucap Citra sambil mengusap kepala anaknya.

Terpopuler

Comments

Nyi Roro Gendis

Nyi Roro Gendis

aku juga punya boneka arwah

2024-06-12

2

~🌛JimSu🌜~

~🌛JimSu🌜~

pernah dengar suara anak2 yg tertawa dan sedang main bola di jam 2 malam, krn aq begadang nonton drakor dan setelahnya langsung doa tidur. dan suara itu ga ada lagi😵😵

2024-02-24

1

~🌛JimSu🌜~

~🌛JimSu🌜~

😂😂😂😂😂😂😂😂

2024-02-24

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!