Bab. 13.

“Hmmm aku telepon Purnomo saja, kalau dia sakit aku pasti yang disalahkan karena sudah menyuruh Mbok Mirah mengambil boneka nya.” Gumam Ibu Ayu Lestari lalu dia menutup jendela garden nya.

Di saat baru saja jendela kaca itu tertutup rapat oleh gorden yang ditarik oleh Ibu Ayu Lestari. Suara tangis anak perempuan itu terhenti.

Ibu Ayu Lestari pun penasaran....

“Sudah berhenti.” Gumam Ibu Ayu Lestari lalu dia kembali sedikit membuka gorden.

Tiba tiba bulu kuduk Ibu Ayu Lestari berdiri. Dia cepat cepat menutup kembali gorden itu, dan melangkah dengan cepat pula menuju ke kamarnya. Jantungnya berdetak lebih cepat, keringat dingin pun keluar dari pori pori kulit tubuhnya.

Ibu Sari tidak lagi melihat anak kecil perempuan berdiri di bawah pohon tetapi yang dia lihat kucing hitam besar dan matanya menatap dirinya dengan tajam.

“Kenapa aku masih prindang prinding begini.” Gumam Ibu Ayu Lestari saat sudah masuk ke dalam kamarnya.

Ibu Ayu Lestari lalu mengambil hand phone yang ada di atas nakas. Dia ingin memastikan pada Purnomo, Lizzie apa baru saja keluar dari rumah.

“Hmmm hand phone Purnomo off.” Gumam Ibu Ayu Lestari, lalu dia kembali mengusap usap layar hand phone miliknya untuk menghubungi nomor telepon rumah.

Purnomo yang tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan jasad anak anaknya yang hilang pun segera membuka matanya. Demikian juga Ratih yang juga tidak bisa tidur nyenyak telinganya juga mendengar suara dering telepon rumah.

“Siapa malam malam telepon. “ gumam Purnomo sambil bangkit dari tidurnya.

“Angkat Mas, siapa tahu kabar penting dari kerabat.” Ucap Ratih yang juga sudah membukakan matanya.

Purnomo yang sudah duduk di tepi tempat tidur segera melangkah menuju ke meja tempat pesawat telepon yang masih berdering.

“Hallo...” ucap Purnomo dengan suara parau.

“Pur, apa Lizzie sudah masuk rumah?” suara Ibu Ayu Lestari di balik ganggang telepon yang dipegang oleh Purnomo. Purnomo terlihat bingung.

“Maksud Ibu bagaimana?” tanya Purnomo.

“Lizzie sekarang di mana? Tadi baru saja aku lihat di bawah pohon kepel dekat rumah induk.” Suara Ibu Ayu Lestari lagi dan membuat Purnomo semakin bingung.

“Bu, Lizzie sejak tadi tidur di kamarku. Dia sangat nyenyak tidur sejak jam delapan tadi. Ratih memang sudah menyuruh tidur sejak tadi agar besok bisa bangun pagi, akan kami daftarkan untuk masuk sekolah Bu...” ucap Purnomo lagi tetapi sambungan telepon sudah terputus...

Tut...

Tut...

Tut...

Purnomo pun segera menaruh ganggang telepon itu pada tempatnya. Dan kembali melangkah menuju ke tempat tidur.

“Ada kabar apa Mas?” tanya Ratih

“Ibu tanya apa Lizzie sudah tidur. “ ucap Purnomo yang tidak mengatakan jika Ibu Ayu Lestari melihat Lizzie di bawah pohon kepel baru saja, agar Ratih tidak semakin banyak pikiran.

Sedangkan Ibu Ayu Lestari setelah mendapat kabar jika Lizzie sejak tadi tidur dan tidak pergi pergi, bulu kuduknya semakin berdiri, detak jantungnya berpacu semakin keras.

“Tidak mungkin kalau anak itu, aku sudah selalu memberi sesaji pada mereka berempat agar tidak rewel...” gumam Ibu Ayu Lestari bersedekap erat untuk mengurangi rasa dingin yang menyergap tubuhnya.

“Kucing hitam itu yang tadi masuk rumah Purnomo.. apa itu kucing jadi jadian..” gumam Ibu Ayu Lestari lagi yang ekspresi wajahnya tampak berpikir keras.

Dan beberapa saat kemudian....

“Hmmm perasaanku memang boneka yang selalu dibawa oleh Lizzie itu yang membuat kejadian kejadian aneh.. “ gumam Ibu Ayu Lestari lagi, mengingat ada efek setrum yang sangat tinggi saat dia berusaha merebut boneka Michelle.

“Aku tadi malah tidak bertanya pada Purnomo apa Lizzie masih bersama boneka nya. Semoga saja Mbok Mirah sudah berhasil membuangnya.” Gumam Ibu Ayu Lestari lalu membaringkan tubuhnya meskipun tidak juga bisa terlelap tidur meskipun mata sudah dipejamkan.

Sedangkan di tempat lain, di makam keluarga Purnomo. Hujan angin besar juga terjadi di lokasi makam itu. Pak Karman dan Pak Slamet berada di bangunan kecil tempat mereka tinggal dan bertugas menjaga kubur. Pak Slamet terpaksa ikut di situ karena motor nya macet tidak bisa menyala mesinnya.

Mereka berdua yang sudah terbiasa dengan suasana sepi dan mencekamnya lokasi kuburan biasa biasa saja.

“Kang untung tadi kita keluar dari lobang galian ya.. Hujan sejak tadi tidak berhenti juga, motorku jadi macet karena kehujanan.” Ucap Pak Slamet sambil menyesap kopi dari gelasnya.

“Iya, tapi aku sedang mikir Den Mas Purnomo sudah tahu kalau makam anak anaknya kosong, pasti dia akan mengusut mencari tahu siapa yang mengambil.” Ucap Pak Karman lalu menaruh gelas kopi yang tinggal separo isinya.

“Ini gara gara anak kecil itu. Aku pikir kita harus cari cara untuk menghabisi anak kecil itu. Tapi kalau melihat dia yang punya kanuluwihan (kelebihan di atas rata rata), kita tidak bisa pakai cara biasa biasa saja.” Ucap Pak Karman dengan ekspresi wajah yang sangat serius.

Dan baru saja bibir Pak Karman mengatup diam, terdengar bunyi dering hand phone milik Pak Karman.

“Ambil itu paling juga istri kamu tanya kenapa kamu tidak pulang.” Ucap Pak Karman yang enggan bangkit berdiri, sebab dia masih berpikir pikir untuk meniadakan Lizzie.

Pak Slamet pun bangkit berdiri sebab dia juga mengira yang menelepon itu istrinya sebab dia tidak membawa hand phone. Pak Slamet segera mengambil hand phone milik Pak Karman yang masih berada di saku pakaian yang tergantung di paku dinding.

“Istrimu Kang.” Ucap Pak Slamet saat melihat di layar telepon tertera tulisan istriku, sedang melakukan panggilan video.

“Kamu terima saja, paling juga istri kamu yang menyuruh istriku telepon menanyakan kamu.” Ucap Pak Karman yang ekspresi wajahnya masih tampak tegang.

“Hallo ..” ucap Pak Slamet saat sudah menggeser tombol hijau, tampak wajah istrinya Pak Karman di layar hand phone.

“Kok kamu Met, mana suamiku ada yang penting.” Suara istrinya Pak Karman. Tanpa berkata apa apa Pak Slamet langsung menyerahkan hand phone pada Pak Karman.

“Kang pulang sekarang juga Rani sakit tiba tiba tubuhnya panas menggigil.” Suara seorang perempuan di balik hand phone milik Pak Karman.

“Dikasih obat atau jamu.” Ucap Pak Karman.

“Sudah Kang, tapi tidak juga reda. Cepat pulang Kang, aku bingung mana hujan deras begini, tambah panik aku, ini sudah minta tolong tetangga katanya suruh membawa ke rumah sakit sekarang. “ suara istrinya Pak Karman.

“Iya iya..” ucap Pak Karman dan sambungan telepon pun terputus.

“Sial, kenapa juga Rani pakai sakit malam malam begini.” Gumam Pak Karman lalu dia bangkit berdiri untuk mengambil jas hujan.

Terpopuler

Comments

Deriana Satali

Deriana Satali

Kayanya anak2 poernomo di jadiin tumbal sama ibu Ayu

2024-01-17

4

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!