“Mbok, ada apa kok berlarian?” Tanya Purnomo saat sudah membuka pintu dan melihat tubuh Mbok Mirah dari belakang yang masih berlari menuju ke belakang ke arah kamarnya.
Mbok Mirah pun menghentikan langkahnya, dan menoleh ke arah Purnomo..
“Itu Den Mas.... ada suara anak nangis saya kira Mbak Lizzie nangis, saya lihat kamarnya kosong...” ucap Mbok Mirah sambil ngos ngos an nafasnya.
“Lizzie tidur nyenyak di kamar ku. Mungkin Mbok Mirah hanya salah dengar saja. Aku kira ada maling masuk Mbok Mirah kejar.” Ucap Purnomo lalu menutup pintu kamarnya. Dan kembali melangkah menuju ke tempat tidur.
“Ada apa Mas?” tanya Ratih sambil menatap Purnomo.
“Mbok Mirah katanya mendengar suara anak menangis, dia kira Lizzie yang menangis.” Ucap Purnomo sambil kembali duduk di tepi tempat tidur.
“Mas, apa anak anak kita yang menangis ya?” tanya Ratih dengan nada sedih.
“Kasihan mereka Mas, jika mereka belum tenang di alamnya..” ucap Ratih lagi dan kini air mata mulai menitik dari kedua ujung matanya.
Purnomo mengambil nafas dalam dalam, lalu dia keluarkan dari kedua lobang hidungnya. Selanjutnya Purnomo mengusap wajahnya dengan kasar.
“Kita berdoa Dik semoga kasus segera terungkap dan mereka bisa damai di alamnya.” Ucap Purnomo selanjutnya.
“Mas, berarti jika aku sering bermimpi mereka menangis itu firasat. Mas Pur kalau aku omongi tentang mimpiku selalu bilang kalau aku terlalu sedih memikirkan kematian mereka. “ ucap Ratih sambil menatap suaminya yang selama ini tidak begitu percaya dengan hal hal mistis dan juga mimpi mimpi yang dianggap suatu firasat.
“Ya sudah, sekarang kita tidur besok pagi pagi aku ke kantor Polisi. Kamu katanya mau mengajak Lizzie ke sekolah, mendaftarkan Lizzie.” Ucap Purnomo lalu mencium kening Ratih dan membaringkan tubuhnya di samping Ratih.
Sementara itu Mbok Mirah yang sudah masuk ke dalam kamar nya. Jantung nya masih terus berdetak dengan kencang.
“Kupingku tadi benar benar mendengar suara anak menangis, tapi kok Mbak Lizzie tidur di kamar Den Mas Purnomo. Terus suara tangis siapa? Hiiiiiii....” ucap Mbok Mirah sambil mengangkat kedua bahunya dan kepala bergeleng geleng dengan cepat.
“Benar benar aneh, selama ini rumah ini tenang tenang saja kenapa setelah Mbak Lizzie datang jadi ada hal yang aneh aneh .. “ gumam Mbok Mirah sambil melangkah menuju ke tempat tidur, namun baru saja dia mendudukkan pantatnya di tepi tempat tidur.
TOK
TOK
TOK
Terdengar suara ketukan di daun pintu kamar Mbok Mirah. Mbok Mirah pun kembali melangkah menuju ke arah pintu.
“Den Mas Purnomo mau tanya apa lagi... pintu sudah dikunci tidak bisa orang masuk..” gumam Mbok Mirah sambil terus melangkah menuju ke pintu kamar.
Mbok Mirah segera membuka daun pintu itu. Jantungnya kembali berdegup dengan kencang saat tidak ada siapa siapa di depan pintu. Suara derasnya air hujan di tengah malam yang sepi semakin membuat bulu kuduk Mbok Mirah berdiri.
Dengan cepat Mbok Mirah kembali menutup daun pintu itu dan dikunci rapat rapat. Dia pun melangkah dengan cepat menuju ke tempat tidur, dan langsung meloncat ke atas tempat tidur, menutup rapat rapat kepalanya dengan bantal.
Sedangkan di rumah induk, rumah luas dengan arsitektur tradisional jawa. Tiang tiang rumah yang besar dan tinggi terbuat dari kayu jati tua berukir ukir.
Ibu Ayu Lestari sudah berbaring di atas tempat tidur, di kamarnya. Matanya terus berkedip kedip dan belum bisa juga terpejam. Pikirannya masih berkutat pada boneka milik Lizzie dan Purnomo yang mengetahui makam anak anaknya kosong.
Di kamar sebelah, kamar Ibu Ayu Lestari, kini ditempati oleh Aryo keponakan Ibu Ayu Lestari bersama Citra, istri dan Pitaloka anaknya. Mereka menginap di sini karena ingin berkenalan dengan anak angkat Purnomo besok pagi.
Di saat Ibu Ayu Lestari baru saja makles tertidur tiba tiba dia terbangun lagi karena telinga Ibu Ayu Lestari mendengar suara anak menangis.
“Pipit kenapa nakal, sudah dibilang besok saja kenalan dengan Lizzie masih saja ngeyel...” ucap Ibu Ayu Lestari sambil menutup kuping nya dengan bantal. Karena dia sejak dulu tidak suka mendengar suara anak menangis.
Akan tetapi meskipun sudah ditutup dengan bantal, kupingnya masih saja terus mendengar suara tangisan dan justru semakin keras dan ndenginnging.
“Hah! Aryo dan Citra kenapa membiarkan anaknya menangis ndenginging malam malam begini mengganggu orang mau tidur!” ucap Ibu Ayu Lestari lalu melempar bantal di tempat tidur dan dia pun turun dari tempat tidur.
Ibu Ayu Lestari segera melangkah keluar kamar, telinga nya masih mendengar suara anak nangis.
TOK
TOK
TOK
“Yo... Cit...” suara Ibu Ayu Lestari sambil mengetuk ngetuk pintu.
TOK
TOK
TOK
“Mereka tidur nyenyak apa? Tidak mendengar anak nya menangis, apa Pipit lapar malam malam begini.” Gumam Ibu Ayu Lestari sambil mengetuk ngetuk pintu yang masih tertutup rapat. Ibu Ayu Lestari pun mengeraskan bunyi ketukan dan panggilan nya.
Tidak lama kemudian pintu terbuka muncul sosok laki laki kira kira usia tiga puluh tahun, lebih muda dari usia Purnomo. Wajah laki laki itu terlihat masih sangat mengantuk.
“Ada apa Bulik Ayu?” tanya laki laki itu yang tidak lain adalah Aryo.
“Pipit menangis kenapa kalian diam saja.” Ucap Ibu Ayu Lestari. Dan Aryo terlihat bengong sambil menoleh ke dalam kamar, dilihat nya tubuh anaknya masih tertidur pulas di samping istrinya yang juga tidur pulas, sama seperti diri nya yang tadi juga tidur pulas.
“Pipit tidur Bulik.” Ucap Aryo yang masih tampak bingung.
“Hah? Siapa yang menangis itu?” ucap Ibu Ayu Lestari karena dia masih mendengar suara tangis anak.
Aryo semakin tampak bingung dia pun mengusap usap telinganya dengan kasar agar mendengar sebab dia mengira belum sadar seutuhnya.
“Mana Bulik?” tanya Aryo masih bengong.
Ibu Ayu Lestari yang masih mendengar suara anak menangis itu tersenyum miring.
“Kamu masih setengah sadar maka tidak mendengar. Sudah sana tidur lagi.” Ucap Ibu Ayu Lestari lalu melangkah meninggalkan pintu kamar Aryo.
“Hmmm pasti itu, Lizzie yang menangis karena boneka nya sudah dibuang oleh Mbok Mirah dan dia mencari cari boneka nya.” Gumam Ibu Ayu Lestari lalu melangkah menuju ke jendela dia ingin mengintip karena masih mendengar suara anak menangis.
Ibu Ayu Lestari pun membuka gorden tebal yang menutupi kaca jendela yang sangat lebar itu.
Hujan di luar masih sangat deras, angin pun bertiup dengan kencang membuat ranting ranting dan dahan dahan pohon yang ada di halaman itu bergerak gerak. Telinga Ibu Ayu Lestari masih mendengar suara anak menangis.
Pandangan mata Ibu Ayu Lestari mencari cari sumber suara.
Sesaat mata Ibu Ayu Lestari menatap sosok anak perempuan kecil dengan rambut panjang yang terurai hingga menutupi pantatnya. Ibu Ayu Lestari memang melihat dari belakang anak perempuan itu yang berdiri di bawah pohon.
“Benar Lizzie itu, berani sekali anak itu malam malam keluar sendiri hujan deras begini pula.” Gumam Ibu Ayu Lestari yang masih menatap sosok anak perempuan dari belakang, suara tangis pun masih terdengar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Zara Rahmi
bahasa Jawanya berdenging
2024-10-22
0
ndenginnging ? artinya ?
2024-04-05
1
Tuxepos Jasmine
merindiiing disco bacanya🤭🤭🤭🤭🤭
2024-04-03
0