Bab. 11.

Mbok Mirah yang masih penasaran membuka kunci pintu rumah itu. Dia buka pelan pelan daun pintu itu.

Saat daun pintu sudah terbuka, selain terdengar suara derasnya air hujan yang turun ke bumi juga ada makhluk yang membuat Mbok Mirah kaget hingga level sepuluh. Mbok Mirah pun njondil tubuhnya. (meloncat karena begitu kaget).

“Copot.... copot... copot...” suara latah Mbok Mirah sambil memegang dadanya yang berdegup kencang dengan kedua tangannya.

“Halah Den, bikin kaget saja... tidak dengar suara mobil datang kok tahu tahu sudah di depan pintu.” Ucap Mbok Mirah selanjutnya yang di depan pintu berdiri sosok Purnomo dan Ratih yang menggendong Lizzie.

“Mbok sediakan makan buat kami..” ucap Ratih sambil melangkah masuk.

“Iya Bu...” ucap Mbok Mirah yang masih memegang dadanya. Sekilas Mbok Mirah menatap boneka Michelle yang dipegang oleh Lizzie, tiba tiba bulu kuduk Mbok Mirah kembali berdiri. Lalu dia pun cepat cepat melangkah menuju ke dapur.

Sedangkan Ratih melangkah menuju ke kamar Lizzie untuk membersihkan tubuh Lizzie dan mengganti bajunya.

Purnomo melangkah lebih belakang dan di saat dia akan melangkah menuju ke kamarnya, dia berpapasan dengan Ibu Ayu yang baru melangkah dari belakang.

“Bu...” sapa Purnomo.

“Kalian dari mana saja?” tanya Ibu Ayu penasaran ingin tahu.

“Dari makam Bu, membongkar makam anak anak, dan ternyata kosong tidak ada jasad mereka.” Ucap Purnomo dengan nada dan ekspresi sedih.

“Kok bisa? Bagaimana penjaga makam?” ucap Ibu Ayu sambil menatap Purnomo, dengan ekspresi wajah yang sulit dijelaskan.

“Entahlah Bu, mereka saling lempar tanggung jawab dan mengatakan pencurian pakai cara mistis.” Ucap Purnomo sambil mengusap wajahnya dengan kasar.

“Aku akan mengusutnya Bu..” ucap Purnomo selanjutnya.

“Kalau pakai cara mistis susah Pur..” ucap Ibu Ayu singkat, lalu dia melangkah meninggalkan Purnomo yang masih berdiri dengan wajah yang terlihat sangat kusut.

“Kamu segera mandi!” ucap Ibu Ayu selanjutnya sambil menoleh ke arah Purnomo, dan dia melangkah menuju ke dapur untuk menemui lagi Mbok Mirah.

Sedangkan Mbok Mirah sedang menghangatkan sayur yang akan disajikan oleh keluarga kecil Purnomo.

Suasana sepi dapur dan derasnya air hujan juga mengingat yang tiba tiba ada kucing hitam besar di dalam dapur, membuat bulu kuduk Mbok Mirah berkali kali berdiri. Tangan Mbok Mirah berulang kali mengusap usap tengkuknya sendiri.

“Kenapa rumah ini jadi begini ya... anak anak Den Mas Purnomo berkali kali meninggal juga tidak ada yang aneh aneh, kok sekarang jadi begini.. kemarin foto Mbak Lizzie tiba tiba jatuh, boneka yang bisa ditenteng tenteng saat aku ambil beratnya minta ampun... tadi tiba tiba ada kucing dan tiba tiba hilang... hiiiiiiii...” gumam Mbok Mirah dalam hati....

Dan tiba tiba... pintu dapur terbuka...

Mbok Mirah pun kembali njondil...

“Copot... copot... copot...” latah Mbok Mirah sambil memegang dadanya.

“Mbok, jangan lupa nanti kamu ambil boneka itu! Aku beri kamu uang satu juta kalau boneka itu sudah tidak ada di sini.” suara Ibu Ayu Lestari yang berdiri di depan dapur.

“Sudah aku pulang, tadi Aryo telepon katanya dia dan anak istrinya mau menginap di sini.” Ucap Ibu Ayu Lestari lalu menutup pintu dapur meninggalkan Mbok Mirah yang masih memegang dadanya. Ibu Ayu Lestari pun melangkah untuk keluar dari rumah Purnomo menuju ke rumah induk tempat tinggalnya. Ibu Ayu Lestari membawa satu ikat kunci yang berisi beberapa kunci rumah dan kunci kamar.

Waktu pun terus berlalu, dan malam hari pun tiba.. Lizzie masih diajak tidur bersama Ratih dan Purnomo. Lizzie sudah tidur pulas sambil memeluk boneka Michelle nya. Sedangkan Ratih dan Purnomo belum juga bisa memejamkan matanya.

“Aku mau lapor Polisi, Dik. Di perempatan jalan menuju makam kan ada CCTV nya. Lima tahun terakhir belum begitu lama, pasti masih mudah untuk melihat rekamannya. Aku yakin orang yang mengambil jasad Pramita itu juga yang mengambil jasad Kakak Kakaknya.” Gumam Purnomo yang masih duduk di kursi.

“Iya Mas, terus buat apa mereka mengambil jasad anak anak kita..” ucap Ratih yang berbaring di atas tempat tidur sambil membelai belai rambut panjang Lizzie.

“Entahlah tapi pasti itu hubungannya dengan masalah mistis, mungkin untuk pesugihan atau untuk kekuatan mistis mereka.” Ucap Purnomo sambil memijit mijit pelipisnya.

“Hati hati ya Mas, aku takut jika nyawa kita juga terancam..” ucap Ratih sambil berhenti membelai rambut panjang Lizzie lalu dia bangkit karena tiba tiba ada rasa takut dan khawatir. Purnomo yang melihat ekspresi dan bahasa tubuh Sang istri lalu bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Ratih.

“Kita berdoa Dik, semua kita diberi keselamatan dan bisa menemukan jasad anak anak kita.” Ucap Purnomo sambil duduk di tepi tempat tidur dan memeluk tubuh Ratih.

Purnomo pun di hatinya juga muncul sebersit khawatir jika jasad anak anaknya sudah benar benar hilang tidak bisa ditemukan, sebab dia pernah dengar berita ada orang memakan jasad demi suatu kepercayaan bisa mendapatkan kekuatan mistis.

Sedangkan di luar kamar Purnomo, Mbok Mirah yang tergoda uang satu juta. Dia melangkah mengendap endap menuju ke kamar Lizzie.

Saat di depan pintu, Mbok Mirah mendengar suara tangis seorang anak kecil. Bibir Mbok Mirah tersenyum...

“Hmmm itu pasti Mbak Lizzie yang menangis karena takut tidur sendirian.” Gumam Mbok Mirah yang senyum bibirnya semakin mengembang.

“Aku temani dia tidur, dan saat dia sudah tidur aku ambil boneka nya. Dan besok aku dapat uang satu juta.” Gumam Mbok Mirah lagi lalu dia membuka pintu kamar Lizzie itu.

Saat pintu sudah dibuka, tidak ada lagi suara tangis seorang anak yang tadi didengar oleh Mbok Mirah, pandangan mata Mbok Mirah pun menyapu seisi ruangan itu mencari sosok Lizzie.

“Apa dia di dalam kamar mandi, kenapa tiba tiba diam? Apa tahu aku datang..” gumam Mbok Mirah lalu pelan pelan melangkah masuk ke dalam kamar Lizzie, sebab dia kini mendengar suara gemericik air di dalam kamar mandi.

Mbok Mirah pun terus melangkah menuju ke kamar mandi, dan masih terdengar suara gemericik air.

TOK

TOK

TOK

“Mbak Lizzie....” suara Mbok Mirah sambil mengetuk ngetuk pintu kamar mandi, akan tetapi tidak ada sautan suara Lizzie.

Mbok Mirah pun pelan pelan membuka pintu kamar mandi.

“Hah? Kosong?” ucap Mbok Mirah dengan mata melotot dan jantung berdetak lebih kencang. Keringat dingin Mbok Mirah pun mulai ke luar dari pori pori kulitnya.

Mbok Mirah segera berlari tunggang langgang meninggalkan kamar Lizzie.

Suara langkah kaki Mbok Mirah yang berlari gedebukan, apalagi tubuh Mbok Mirah yang beratnya kurang lebih delapan puluh kilo gram itu, terdengar sampai di dalam kamar Purnomo dan Ratih.

“Apa itu.” Gumam Purnomo lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju ke pintu kamar untuk melihat siapa yang berlari gedebukan tengah malam.

Terpopuler

Comments

paty

paty

ibu ayu dan anaknya yg curi mayat anak2 purnomo

2025-01-19

0

Tuxepos Jasmine

Tuxepos Jasmine

mbok mbok....udh tau byk kejadian aneh..msh jg ngeyel ngambil boneka cm grgr duit sejt

2024-04-03

1

Nit_Nit

Nit_Nit

Benar hati hati Pur, semoga aman selamat tdk diserang balik dengan cara mistis

2024-01-17

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!