“Kita langsung pulang saja ya Dik, ke salon bisa lain waktu.” Ucap Purnomo sambil mulai menjalankan mobilnya.
“Iya Mas, suasana hatiku juga tidak nyaman setelah tahu makam anak anak kosong.” Ucap Ratih masih dengan nada sedih.
“Iya, tadi aku rencana setelah mengantar kalian ke salon, terus ke perusahaan juga aku batalkan..” gumam Purnomo sambil terus melajukan mobilnya membelah jalan raya yang diguyur oleh hujan lebat.
Lizzie tampak duduk tenang di pangkuan Ratih. Sesaat Purnomo menoleh sekilas pada Lizzie.
“Sampai lupa kita belum makan siang. Pikiranku tadi fokus pada jasad anak anak yang hilang.” Ucap Purnomo yang kembali fokus ke depan.
“Kita mampir di rumah makan dulu ya kasihan Lizzie. “ ucap Purnomo selanjutnya.
“Iya Mas, aku juga lupa, tidak rasa lapar tadi inginnya keempat makam anak anak segera selesai dibongkar.” Ucap Ratih sambil mengusap usap kepala Lizzie.
“Maaf ya Sayang.. kamu pasti lapar.” Ucap Ratih selanjutnya.
“Lizzie tidak lapar kok, sudah biasa makan tidak teratur sebelum di panti, kadang satu hari tidak makan juga tidak apa apa...” ucap Lizzie sambil menoleh mendongak menatap kedua orang tua angkatnya.
“Kita langsung pulang saja Ayah.” Ucap Lizzie selanjutnya.
“Baiklah kita makan di rumah saja.” Ucap Purnomo sambil menoleh sekilas ke arah Lizzie ada rasa haru di hatinya mendengar kejujuran Lizzie yang dulu kadang seharian tidak makan. Purnomo terus melajukan mobil nya agar bisa segera sampai rumah.
Sementara itu, Pak Karman dan Pak Slamet masih berjibaku di dalam lobang galian. Mereka berdua sudah berkali kali membuat panjatan untuk naik ke atas dengan cangkul atau linggisnya, tapi terus saja ambrol atau longsor saat dipijak. Dan membuat mereka berdua masih berada di dalam lobang yang terus kemasukan air dan tanah.
“Kenapa jadi susah sekali kita naik ke atas Kang, air sudah semakin tinggi ini, dan tanah jadi pekat liat berlumpur begini. “ ucap Pak Slamet yang berusaha untuk membuat pijakan kaki lagi untuk naik ke atas.
“Iya nih, lumpur sudah setinggi betis, dan makin naik. Mampus kita kalau tidak bisa naik. Mana Den Mas Purnomo sudah pergi. Siapa yang bisa dimintai tolong.” Ucap Pak Karman yang juga membuat pijakan kaki dengan linggisnya.
Mereka berdua terus berusaha untuk naik melalui pijakan kaki yang sudah dibuat tapi lagi lagi terpeleset dan jatuh lagi ke dalam lobang.
“Kang salah satu dulu saja yang naik. Kang Karman menyangga tubuhku agar tidak jatuh. Kalau aku sudah di atas gampang nanti Kang Karman aku tarik. Lumpur sudah selutut Kang.” Ucap Pak Slamet yang ingin segera keluar dari lobang galian.
“Hah! Tadi kita juga kenapa harus menggali dalam dalam akhirnya susah sendiri.” Gumam Pak Karman sambil menaruh linggis nya dia setuju dengan usul adiknya.
“Ya biar Den Mas Purnomo ga marah.” Ucap Pak Slamet sambil naik lewat pijakan yang sudah dibuat. Kini Pak Karman memegangi tubuh nya agar tidak jatuh terpeleset.
Hujan masih turun dengan deras, tanah dan air terus saja masuk ke dalam lobang galian itu. Pak Slamet tersenyum lega di saat kepalanya sudah menyembul keluar dari lobang galian. Hidungnya bisa menghirup udara segar bukan lagi udara pengap di dalam tanah. Kakinya terus naik, Pak Karman terus memegang tubuhnya. Kini dada Pak Slamet pun sudah berada di atas, tinggal bagian bawahnya yang masih di dalam.
Akan tetapi tiba tiba..
DUUUUUUEEEEERRRRR
Suara petir dengan sangat keras, membuat Pak Slamet kaget dan terjatuh lagi ke dalam lobang galian.
“Sial!” umpat Pak Slamet dengan sangat kesal.
“Payah kamu!” ucap Pak Karman yang juga kesal sebab tenaga nya menyangga adiknya sia sia saja.
“Sekarang ganti aku yang naik, kamu yang mengangkat aku. Atau aku naik di pundak kamu.” Ucap Pak Karman yang punya cara lain.
“Benar Kang, kenapa tidak dari tadi gitu.” Ucap Pak Slamet lalu jongkok agar Pak Karman naik ke atas pundaknya.
“Biasanya juga naik pakai panjatan gampang.” Gumam Pak Karman sambil naik di pundak adiknya. Tangannya berpegang pada dinding tanah kuat kuat. Pak Slamet pun pelan pelan berdiri.
Hujan masih turun dengan sangat lebat disertai angin yang sangat kencang. Hari pun juga sudah tampak gelap meskipun belum juga senja hari.
Sedangkan di rumah Purnomo. Ibu Ayu sedang marah marah pada Mbok Mirah.
“Mosok tidak kuat bawa boneka macam itu. Lizzie saja dengan mudah menenteng nenteng!” ucap Ibu Ayu Lestari dengan nada tinggi.
“Benar Den Ayu... saya tidak kuat, sudah saya pegang dan saya angkat berat sekali, bergerak saja tidak.” Ucap Mbok Mirah dengan nada dan ekspresi wajah serius cenderung takut.
“Mungkin ketidihan tubuh Lizzie.” Ucap Ibu Ayu selanjutnya.
Mbok Mirah tiba tiba bengong wajahnya, lalu..
“Ooo mungkin juga Den Ayu, coba nanti saya coba ambil lagi semoga saja...” ucap Mbok Mirah belum selesai bicara nya, tiba tiba terdengar bunyi sangat keras dari arah dapur.
KROMPYAANGG
Terdengar suara keras suatu benda jatuh. Mbok Mirah dan Ibu Ayu Lestari tampak kaget.
“Apa Mbok yang jatuh?” tanya Ibu Ayu Lestari sambil memegang dadanya karena masih kaget.
“Panci mungkin Bu.” Ucap Mbok Mirah sambil membalikkan tubuhnya dan akan melangkah menuju ke dapur untuk melihat benda apa yang jatuh.
Saat membuka pintu dapur betapa kagetnya Mbok Mirah, sebab di dalam dapur ada kucing hitam yang besar sekali, apalagi mata kucing itu menatap tajam ke arah Mbok Mirah.
Jantung Mbok Mirah berdetak lebih kencang.
“Kucing siapa itu? Bagaimana bisa masuk ke dalam dapur yang pintu dan jendela nya ditutup rapat.” Gumam Mbok Mirah yang masih berdiri mematung di depan pintu.
“Apa yang jatuh Mbok?” tanya Ibu Ayu sambil melangkah mendekati Mbok Mirah. Ibu Ayu penasaran melihat Mbok Mirah yang masih berdiri mematung.
Saat Ibu Ayu hampir berada di dekat Mbok Mirah tiba tiba...
“Aaaaaaaaa.” Teriak Mbok Mirah sambil memundurkan tubuh nya . Sebab kucing hitam besar itu meloncat dan keluar dari pintu dapur yang otomatis melewati Mbok Mirah.
“Aaaaaaaa...” teriak Mbok Mirah lagi karena kaget menabrak tubuh Ibu Ayu..
“Aduuuuhhhhh.” Teriak Ibu Ayu..
“Hiiiiii... kenapa bisa ada kucing besar masuk di dapur Mbok?” teriak Ibu Ayu yang melihat kucing hitam besar itu keluar dari dapur.
“Entahlah Den padahal saya tidak lupa menutup pintu dan jendela. Hujan deras begini mana mungkin saya lupa menutup jendela, tadi mulai ada angin sebelum hujan jendela sudah saya tutup dengan rapat.” Ucap Mbok Mirah, pandangan Mbok Mirah menatap ke arah kucing yang berlari akan tetapi lagi lagi Mbok Mirah dibuat bengong sebab sudah tidak lagi tampak kucing besar hitam itu.
Mbok Mirah yang penasaran pun segera berlari menuju ke pintu keluar.
“Hah? Padahal pintu juga terkunci. Lewat mana kucing itu?” gumam Mbok Mirah dalam hati bulu kuduknya pun mulai berdiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
ovi
karena serem kk, jdi pda takut bacanya
2024-07-11
1
Tuxepos Jasmine
padahal ceritanya kereeen bgt lohh...tp knp viewersnya dikit yahh🙄🙄🙄🙄🙄🙄
2024-04-03
3
Nit_Nit
kucing jadi²an 😨
2024-03-28
0