Bab. 8.

Saat Purnomo membalikkan tubuhnya dan akan melangkah betapa kaget nya dia, sebab tubuh mungil Lizzie sudah ada di depannya sambil memegang boneka Michelle.

“Nak, kamu di sini. Kaget ayah..” ucap Purnomo sambil memegang lembut kepala Lizzie. Dia tidak tahu jika tadi Lizzie menyusulnya dan berdiri belakangnya dan tidak terlihat oleh Pak Karman yang berada di dalam ruangan. Akan tetapi Lizzie mendengar perbincangan Sang Ayah dan penjaga kubur.

“Ayo Sayang kita pulang, Ayah antar kamu dan Bunda ke salon biar Lizzie tambah cantik..” ucap Purnomo lagi sambil melangkah akan tetapi Lizzie diam tidak mau melangkah.

“Ayah, kita bongkar dulu makam Kakak Kakak, baru kita pulang..” ucap Lizzie sambil mendongak menatap Sang Ayah.

“Tapi tidak ada tenaga yang membantu Pak Karman, dan hari keburu siang Nak.. nanti sore kita datang lagi ke sini.” ucap Purnomo

“Tidak panas Ayah, lihatlah mulai ada banyak awan di langit, matahari akan tertutup awan, dan nanti sore bisa hujan Ayah..” ucap Lizzie sambil mendongak ke atas dan benar awan awan mulai bermunculan dibawa oleh angin. Purnomo pun mendongak ke atas melihat ke arah awan awan yang mulai berdatangan.

“Benar juga nanti sore bisa hujan kalau awan semakin tebal. Lebih baik panas dari pada hujan akan lebih susah menggalinya dan lebih kasihan Ratih dan Lizzie jika kehujanan.” Gumam Purnomo dalam hati sambil masih menatap ke langit dan tampak berpikir pikir.

“Baiklah, biar Ayah yang membantu menggali. Bunda biar mengambil payung di mobil jika nanti hari mulai panas..” ucap Purnomo sambil menunduk menatap wajah Lizzie.

Purnomo pun kembali membalikkan tubuhnya dan melangkah menuju ke pintu. Se saat dilihatnya Pak Karman sedang duduk di balai balai yang ada di ruang itu sambil sibuk mengusap usap layar hand phone miliknya. Mungkin dia sayup sayup mendengar percakapan Lizzie dan Purnomo di luar lalu menghubungi entah siapa lewat pesan teks chatting.

“Pak, sekarang saja kita bongkar jika tidak ada orang yang membantu Pak Karman saya akan membantu. Kalau sore malah kemungkinan hujan.” Ucap Purnomo.

Tampak Pak Karman bangkit dari duduknya di balai balai dengan malas. Dia lalu menaruh lagi hand phone pada saku pakaian yang tergantung di paku.

Tanpa bersuara Pak Karman mengambil cangkul dan linggis. Ekspresi wajah Pak Karman terlihat datar dan dingin. Melihat Pak Karman sudah bergerak dengan membawa alat alat, Purnomo pun membalikkan tubuhnya dan melangkah sambil menyaut tubuh Lizzie untuk digendongnya, agar langkah semakin cepat menuju ke makam anak anaknya.

“Siapa sebenarnya anak kecil ini.” Gumam Pak Karman dalam hati dan ekspresi wajah terlihat kesal. Dia terus melangkah mengikuti langkah kaki Purnomo.

“Dik, kita bongkar sekarang biar hati kita lega. Dik Ratih ambil payung di mobil untuk berlindung jika panas nanti.” Ucap Purnomo saat sudah dekat makam anak anaknya. Purnomo menurunkan tubuh Lizzie lalu merogoh saku celananya untuk mengambil kunci mobil dan diserahkan pada Ratih.

“Iya Mas, sekalian aku ambil air mineral.” Ucap Ratih sambil menerima kunci dari tangan Purnomo.

Lizzie tampak sudah duduk manis di bawah makan orang tua Purnomo sambil memangku boneka Michelle nya.

Pak Karman terlihat sudah memegang linggis dan mulai membongkar satu nisan. Purnomo pun ikut memegang cangkul membantu Pak Karman.

Ratih sudah datang sambil membawa payung, dan tangan satu nya menenteng tas plastik besar berisi beberapa botol air mineral. Ratih lalu duduk di samping Lizzie.

Lizzie terlihat menatap tajam tanah yang sedang dibongkar oleh Pak Karman dan Purnomo. Terlihat Pak Karman dan Purnomo tidak mengeluarkan banyak tenaga saat membongkar tanah itu.

Pak Karman pun mengangkat satu nisan kecil yang sudah bisa diangkat. Selanjutnya dia dan Purnomo kembali membongkar tanah yang sudah memadat, akan tetapi terlihat mereka tidak mendapatkan kesulitan.

“Ternyata tidak berat Pak.” Ucap Purnomo. Dan Pak Karman hanya diam saja, akan tetapi di dalam hati dia juga heran kenapa tanah makam itu terasa ringan saat dibongkar.

“Hmmm apa arwah arwah anak anak Den Mas Purnomo memudahkan pekerjaan ini? Tadi juga sinar mata bersinar cerah tiba tiba tertutup awan.” Gumam Pak Karman dalam hati sambil berpikir pikir.

Tangan kekar Pak Karman terus menggali tanah kubur itu dan Purnomo dengan cangkulnya terus mengeluarkan tanah tanah dan ditaruh di tepi.

Beberapa menit kemudian galian mereka berdua sudah semakin dalam dan benar tidak ditemukan apa apa di dalamnya. Ratih dan Lizzie pun sudah berdiri di dekat galian lobang itu untuk melihat.

“Pak, ini sudah dalam.” Ucap Purnomo saat Pak Karman sudah menggali dengan kedalaman dua meter lebih. Pak Karman diam saja, ekspresi wajahnya tampak berpikir keras.

“Benar yang dikatakan oleh Lizzie tidak ada jasad anakku.” Ucap Purnomo sambil naik ke atas dan menaruh cangkulnya. Ekspresi wajahnya tampak sedih dan kesal menjadi satu.

“Mungkin sudah menjadi tanah Den.” Ucap Pak Karman beralasan sambil mengusap keringat di wajahnya.

“Baru beberapa tahun Pak! Pasti ada kerangka tulangnya!” Ucap Purnomo sambil minta air mineral dari Ratih.

“Ini pasti dicuri orang!” ucap Purnomo dengan nada kesal, lalu menegak air mineral.

“Bagaimana tugas kamu menjaga makam ini, Sampai sampai ada orang mencuri jasad anakku, kamu tidak tahu?” tanya Purnomo dengan suara meninggi setelah menegak air mineral.

“Maaf Den, mungkin dicuri orang saat saya izin libur, saya pernah izin saat anak saya sakit saya harus menunggu dia di rumah sakit.” Ucap Pak Karman beralasan.

“Siapa yang mengganti tugas kamu saat kamu libur?” tanya Ratih yang ekspresi wajahnya tampak sedih mendapati jasad anak nya tidak ada.

“Slamet, adik saya.” Ucap Pak Karman yang juga sudah naik dari lobang galian.

“Panggil dia sekarang juga! Dan lanjutkan gali tiga makan lainnya!” perintah Purnomo dengan nada tinggi.

“Iya Den.” Ucap Pak Karman lalu melangkah cepat menuju ke bangunan kecil tempat tinggalnya untuk menghubungi Slamet adiknya.

“Apa keempatnya dicuri di saat bersamaan, apa beda beda waktu selepas dikubur?” gumam Purnomo sambil memijit mijit pelipisnya.

“Beda beda waktu Ayah.. selepas Kakak Kakak dikubur..” ucap Lizzie sambil mendongak menatap Ayah angkatnya.

“Kamu tahu dari mana hmm?” tanya Purnomo yang mulai penasaran dengan Lizzie anak angkatnya.

Ratih pun terlihat menatap wajah Lizzie menunggu jawaban dari Lizzie, sama seperti Purnomo dia juga mulai penasaran dengan anak angkatnya, sebab apa yang diucapkan tadi jika makam kosong ternyata benar adanya, bukan halusinasi seperti yang dia kira selama ini.

"Lizzie tahu dari mana Nak?" tanya Ratih selanjutnya sebab ditunggu tunggu Lizzie masih diam saja sambil menatap boneka Michelle nya.

Terpopuler

Comments

. M. Harris saputra

. M. Harris saputra

waw serem tapi keren 👍👍👍

2024-12-13

2

⍣⃝ꉣꉣAndini Andana

⍣⃝ꉣꉣAndini Andana

karena Lizzie Indihome ayah 🤭 eeh dibisikin sama Michelle jadinya tau 🙈

2024-01-18

4

Nit_Nit

Nit_Nit

siapa yg ambil jasad mereka

2024-01-14

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!