“Lizzie sekarang turun dulu ya.. kita berdoa buat arwah Eyang dan Kakak Kakak. “ ucap Purnomo sambil menurunkan tubuh mungil Lizzie dari gendongannya, mereka bertiga pun berdiri di dekat makam kedua orang tua Purnomo dengan khusuk mereka bertiga memanjatkan doa agar Eyang Kakung dan Eyang Putri damai di surga.
Setelah Purnomo dan Ratih melangkah menuju ke makam ke empat anaknya, akan tetapi Lizzie masih terus berdiri dan menatap Purnomo dan Ratih dengan tatapan tidak suka dengan apa yang akan dilakukan oleh Purnomo dan Ratih.
“Lizzie ayo ke sini berdoa buat Kakak Kakakmu.” Ucap Purnomo sambil melambaikan tangannya.
“Ayah, Bunda meski pun Lizzie tahu kita bisa berdoa dari mana saja buat arwah Kakak Kakak.. Tapi Lizzie tidak mau berdoa di sini di depan nisan nisan kosong ini.” Ucap Lizzie dengan suara lantang.
“Lizzie jangan nakal dan membangkang ya... Ayah sabar tapi kalau sudah marah menakutkan.” Ucap Ratih sambil menatap wajah Lizzie.
Sementara itu tidak jauh dari mereka ada satu sosok laki laki dengan tubuh kekar dan gempal dengan kulit tubuh berwarna coklat karena terpaan sinar matahari di setiap hari.
Laki laki itu mendengar suara teriakan Lizzie yang mengatakan makam kosong. Tampak ekspresi wajahnya kesal dan tidak suka.
“Siapa anak kecil itu.” Gumam laki laki yang memakai kaos oblong dan celana kolor hitam sebatas bawah lutut. Dia melangkah dengan cepat menuju ke tempat Purnomo dan Ratih berdiri.
Tampak Purnomo dan Ratih masih dengan sabar membujuk Lizzie, tangan Ratih pun memegang tangan mungil Lizzie dan menarik dengan lembut agar Lizzie mau melangkah. Namun Lizzie masih saja diam berdiri tidak mau melangkah sedikit pun.
“Ayah dan Bunda percayalah pada ku kalau makam itu kosong.” Ucap Lizzie lagi.
“Ada apa ini Den?” tanya laki laki bertubuh kekar dan gempal itu. Sekilas dia menatap Lizzie dengan tatapan tidak suka.
“Ooo Pak Karman. Ini Lizzie anak saya tidak mau diajak berdoa di makam Kakak Kakaknya, katanya kosong.” Ucap Purnomo sambil menoleh ke arah laki laki yang baru datang itu, yang bernama Karman.
Pak Karman menatap wajah Lizzie dengan tatapan tajam. Lizzie tidak takut dan membalas tatapan tajam Pak Karman, sesaat Pak Karman menatap boneka Michelle. Kening Pak Karman mengerut, ada perasaan tak nyaman di hatinya. Lalu dia menoleh ke arah Purnomo.
“Mana mungkin kosong Den, saya yang menjaga makam ini.” Ucap Pak Karman yang tidak lain adalah penjaga makam keluarga Purnomo.
“Kalau tidak percaya bongkar saja!” teriak Lizzie sambil menatap tajam wajah Pak Karman si penjaga makam itu lagi.
“Kamu siapa hah?” tanya Pak Karman tampak emosi.
“Dia Lizzie anak kami Pak, sabar Pak.. namanya juga anak anak... “ ucap Ratih sambil mengusap usap kepala Lizzie.
“Ya sudah besok kita bongkar.” Ucap Purnomo yang tiba tiba ingin membuktikan perkataan Lizzie apalagi dia melihat Pak Karman yang emosi pada Lizzie membuat Purnomo curiga pada Pak Karman. Apalagi jika ingat lahir dan meninggalnya Erlangga di malam jumat kliwon, di banyak orang masih percaya jika mengambil mayat dan kain kafan orang yang meninggal di malam jumat kliwon bisa dipakai untuk pesugihan.
“Jangan besok besok Ayah, sekarang juga dibongkar. Kalau besok besok bisa diisi dengan tulang tulang yang bukan tulang Kakak Kakak.” Ucap Lizzie dengan suara lantang dan ekspresi wajah Pak Karman mendadak tampak panik.
Purnomo yang menangkap gelagat Pak Karman yang terlihat panik dan tidak suka dengan ucapan Lizzie justru sangat penasaran dengan apa yang sudah terjadi dengan makam anak anak nya itu.
“Bongkar sekarang Pak!” perintah Purnomo.
“Den, kenapa Den Mas Purnomo percaya dengan omongan anak kecil ini.” Ucap Pak Karman ekspresi wajahnya semakin terlihat panik lalu menatap Lizzie dengan tatapan tidak suka.
“Bongkar sekarang juga! Mumpung masih pagi, aku akan menunggui.” Ucap Purnomo sambil menatap Pak Karman. Tubuh Pak Karman terlihat gemetar tidak menyangka jika hari ini dia akan diperintah untuk membongkar makam anak anak Purnomo.
“Iya Den, tunggu dulu, saya ambil alat alat dan minta bantuan teman teman.” Ucap Pak Karman dan selanjutnya dia berjalan dengan cepat menuju ke satu bangunan kecil yang ada di lokasi makam keluarga itu. Bangunan tempat dia berjaga di situ juga ada alat alat seperti cangkul, linggis, sabit dan lain lain alat untuk membersihkan makam atau membuka tanah kubur jika ada pemakaman.
Setelah sampai di bangunan kecil itu, Pak Karman tidak segera mengambil alat alat untuk membongkar makam akan tetapi dia justru mengambil hand phone yang ada di saku pakaian yang tergantung di paku pada dinding bangunan kecil itu.
Pak Karman terlihat mengusap usap layar hand phone miliknya. Dan sesaat kemudian.
“Hallo Den.. gawat .. Den Mas Purnomo menyuruh saya membongkar makam anak anaknya.” Ucap Pak Karman setelah terhubung dengan orang yang diteleponnya.
“Hah! Bagaimana bisa dia menyuruh kamu membongkar? Jangan mau dong..” suara seorang laki laki di balik hand phone milik Pak Karman.
“Ada anak kecil katanya anaknya Den Mas Purnomo, galak banget anaknya dan bawa boneka menurut perasaan saya bukan boneka sembarangan Den.. gawat pokoknya.” Ucap Pak Karman dengan nada panik.
“Hah? Boneka tidak sembarangan apa maksud kamu? Boneka boneka roh yang sedang viral dibeli artis artis itu apa? Mosok Mas Purnomo beli boneka macam begitu..” suara laki laki di balik hand phone milik Pak Karman itu lagi.
“Bisa jadi Den, apa roh anak Den Mas Purnomo masuk ke boneka itu ya..” gumam Pak Karman..
“Kamu tunda saja bongkar nya besok besok, bisa kamu isi dengan tulang tulang dari makam lain nya.. Dan dirapikan agar tidak curiga.” suara laki laki di balik hand phone milik Pak Karman lagi.
“Anak kecil itu pinter Den, sudah tahu jika besok besok akan diganti tulang lain, maka harus sekarang..”
“Kenapa kamu kalah dengan anak kecil. Dia itu anak angkat Mas Purnomo baru kemarin resmi jadi anaknya mosok kamu kalah dengan anak balita.” Suara laki laki di balik hand phone milik Pak Karman lagi dan selanjutnya sambungan telepon terputus. Sebab Pak Karman mendengar suara langkah kaki mendekati dirinya.
“Ayo Pak, cepat keburu panas.. kasihan istri dan anakku kalau kepanasan.” Suara Purnomo yang berdiri di depan pintu.
“Den, kalau besok saja bagaimana? Saya menghubungi teman saya tidak bisa membantu jika pagi ini.” Ucap Pak Karman bohong.
“Ooo apa nanti sore saja Den, biar tidak panas... Dan teman saya bisa membantu kalau nanti sore.” ucap Pak Karman mendapat akal biar Purnomo dan Ratih pulang dulu lalu diberi tulang tulang dari kubur an lainnya. Juga berharap biar nanti sore hujan lebat dan Purnomo tidak jadi datang lagi ke makam.
Tampak Purnomo berpikir pikir...
“Benar juga ya tidak panas kalau nanti sore..” gumam Purnomo dan Pak Karman yang mendengar tampak tersenyum senang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Zudiyah Zudiyah
apa laki" itu saudara tiri Purnomo yang ingin menguasai harta Purnomo?
2024-06-03
1
⍣⃝ꉣꉣAndini Andana
masih keluarga Purnomo kah ini? 😳🤔
2024-01-18
1
Nit_Nit
siapa yg ditelpon pak Karman, sodara purnomo ya kok sudah tahu lizzie.. lanjut tor
2024-01-11
0