Di malam hari nya Lizzie sebenarnya sudah berani untuk tidur di dalam kamarnya sendiri. Akan tetapi Purnomo dan Ratih tidak tega dan disuruh tidur satu kamar dengan pasangan suami istri itu.
Tampak Lizzie sudah tidur pulas di atas tempat tidur yang luas sambil memeluk boneka Michelle nya. Ratih pun sudah berbaring di samping Lizzie. Ratih membelai belai rambut panjang Lizzie.
Purnomo berdiri di dekat tempat tidur sambil menatap Ratih dan Lizzie.
“Dik, besok setelah dari makam kita ke salon, rambut Lizzie biar dirapikan.” Ucap Purnomo lalu duduk di tepi tempat tidur.
“Iya Mas, aku pikir juga ini terlalu panjang untuk seumurnya. Sepertinya belum pernah dipotong atau dia tidak mau dipotong rambutnya.” Ucap Ratih sambil terus membelai rambut Lizzie yang sudah bersih dan wangi shampo karena sudah dibersihkan oleh Ibu Sari.
“Semoga saja dia mau, kalau sama anak memang harus sabar.. Ibu tidak sabar kalau sama anak anak..” ucap Purnomo sambil menatap wajah cantik Lizzie yang tertidur pulas. Dalam hati Purnomo berharap bisa terus mengadopsi Lizzie dan tidak ada orang yang mengaku sebagai orang tua kandung Lizzie yang telah kehilangan Lizzie.
“Maklum Mas, Ibu tidak pernah mengasuh anak kecil.” Ucap Ratih dengan hati hati, Ibu Ayu Lestari memang bukan Ibu kandung Purnomo akan tetapi dia ibu tiri nya Purnomo. Dan menjadi Ibu tiri di saat Purnomo sudah remaja.
“Hmmm..” gumam Purnomo lalu dia mengecup lembut kening Ratih dan selanjutnya dia pun ikut merebahkan tubuhnya di samping istrinya.
Ratih dan Purnomo pun akhirnya juga terpejam matanya, dan terbuai di alam mimpi.
Akan tetapi sesaat kemudian... Lizzie terbuka matanya, dan dia langsung bangkit dari tidurnya...
“Kenapa kalian menangis?” tanya Lizzie dengan suara pelan sambil pandangan matanya ke arah depannya dan menoleh noleh sebentar bagaikan sedang menatap beberapa orang di depan nya.
“Aku tidak akan merebut orang tua kalian kok.. pasti mereka tetap akan sayang pada kalian...” ucap Lizzie selanjutnya.
“Sudahlah jangan menangis aku mau tidur..” ucap Lizzie lagi dan dia akan kembali membaringkan tubuh mungilnya di samping Ratih. Akan tetapi tampak dia mengurungkan niatnya dan tampak menoleh dengan tatapan mata yang tajam dan seperti sedang menyimak dan berkonsentrasi mendengarkan.
Beberapa saat kemudian..
“Aku dan Michelle akan membantu kalian.. Kak Erlangga, Kak Normalita, Kak Dewa dan Kak Pramita...” ucap Lizzie dengan nada serius..
“Sekarang diamlah jangan menangis lagi... sabar ya...” ucap Lizzie yang tanpa sadar dia bicara agak keras dan membuat Ratih terbangun.
“Lizzie siapa yang menangis Nak? Apa kamu bermimpi?” tanya Ratih sambil mengangkat kepala dan punggungnya, menatap wajah Lizzie yang masih duduk di tempat tidur.
“Tidak Bun...” ucap Lizzie lalu dia pun membaringkan lagi tubuh mungilnya.
“Hmmm anak anak.. apa dia berhalusinasi boneka nya menangis karena Ibu Ayu tidak menyukai boneka nya.” Gumam Ratih lalu dia pun juga kembali melanjutkan tidurnya tidak lupa dia memeluk tubuh mungil Lizzie.
Keesokan harinya Purnomo dan Ratih sudah bangun dan sudah siap untuk mengantar Lizzie ke makam anak anak nya. Akan tetapi Lizzie masih tertidur pulas.
“Kita sarapan dulu saja Mas, biar Lizzie bangun nanti tidak apa apa tidak usah dibangunkan. Mungkin dia masih pulas, tadi malam dia terjaga mungkin bermimpi boneka nya menangis he.. he...” Ucap Ratih yang tidak tega membangunkan Lizzie dan tertawa kecil mengingat Lizzie yang tadi malam berbicara sendiri sebab dia mengira itu kebiasaan anak anak kecil yang berhalusinasi.
Purnomo dan Ratih pun keluar dari kamar untuk menuju ke ruang makan. Di saat mereka berdua sedang sarapan. Tampak Mbok Mirah juga berdiri di ruang makan itu untuk melayani kedua majikannya.
“Mbok, kamu pergi ke kamarku saja.. jaga Lizzie kalau dia terbangun bantu dia untuk mandi, dan dandani dia.” Ucap Ratih sambil mengambilkan nasi buat suaminya.
“Baik Bu..” ucap Mbok Mirah lalu bergegas berjalan menuju ke kamar Purnomo dan Ratih.
Di saat sudah membuka pintu kamar itu, Mbok Mirah tersenyum sebab melihat Lizzie masih tidur pulas dan tampak boneka Michelle berada di samping Lizzie.
“Kesempatan aku mengambil boneka itu, nanti aku sembunyikan dulu, baru besok besok aku buang.. Dan aku akan dapat banyak uang dari Ibu sepuh...” gumam Mbok Mirah sambil tersenyum lalu dia berjingkat jingkat berjalan agar Lizzie tidak terbangun.
Mbok Mirah pun tangannya segera terulur untuk mengambil boneka Michelle, akan tetapi Mbok Mirah matanya mendadak melotot karena kaget, boneka Michelle itu terasa sangat berat bergerak saja tidak, apalagi terangkat oleh tangan Mbok Mirah.
“Hah? Kenapa berat sekali.” Gumam Mbok Mirah yang tidak bisa mengubah posisi boneka Michelle yang tetap masih berada di samping Lizzie. Justru tangan Mbok Mirah yang terasa sakit karena bagai mengangkat batu besar dan tidak tergoyahkan.
Lizzie membukakan matanya, dan menatap tajam ke arah Mbok Mirah.
“Eee mbak Lizzie sudah bangun, ayo Mbok mandiin Bunda dan Ayah sedang makan, nanti setelah Mbak Lizzie mandi juga terus makan..” ucap Mbok Mirah yang tampak gugup.
“Aku mau mandi sendiri, keluarlah..” ucap Lizzie segera menyaut boneka Lizzie nya dan dia segera bangkit dari tidurnya dan meloncat turun dari tempat tidur. Lizzie pun berlari keluar dari kamar itu dan menuju ke kamar nya sendiri.
“Aneh, dia begitu mudah membawa boneka yang sangat berat sekali itu.. Aneh.. Aneh.. hiii.. “ ucap Mbok Mirah sambil mengangkat kedua bahunya dan geleng geleng kepala.
Satu jam kemudian Purnomo, Ratih dan Lizzie berjalan keluar dari rumah menuju ke garasi mobil. Rambut panjang Lizzie dikepang dua dan dinaikkan ke atas dihiasi dengan pita, cantik. Lizzie masih juga membawa boneka Michelle nya. Purnomo dan Ratih tidak mempermasalahkannya.
Mereka pun segera masuk ke dalam mobil. Mobil pun segera berjalan menuju ke makam keluarga.
Beberapa menit kemudian mobil sudah sampai di lokasi makam keluarga. Mereka bertiga segera turun dari mobil. Lizzie digendong oleh Purnomo. Purnomo dan Ratih terus berjalan, tangan Ratih membawa satu keranjang besar berisi bunga tabur yang tadi dibeli di kios penjual Makanan Makhluk Halus di dekat pasar. Memang ada papan tulisan begitu di depan kios nya.
Ratih dan Purnomo berhenti di depan empat nisan kecil kecil, di batu batu nisan nya ada tulisan. Erlangga Putra, Nurmalita Putri, Dewa Putra dan Pramita Putri. Dan di dekat empat nisan kecil kecil itu ada dua nisan besar. Makam kedua orang tua Purnomo.
“Itu Eyang Kakung dan Eyang Putri.” Ucap Purnomo sambil menunjuk pada dua nisan besar, Ratih pun lalu menabur bunga pada nisan nisan itu.
“Dan itu saudara saudara kamu.” Ucap Purnomo sambil menunjuk pada empat nisan kecil kecil.
Tampak Lizzie menatap boneka Michelle nya lalu dia mengernyitkan dahinya.
“Ayah, kosong itu. Tidak ada mereka di dalam situ.” Ucap Lizzie lirih sambil menatap empat nisan kecil kecil.
“Kosong?” tanya Purnomo dan Ratih secara bersamaan sambil menoleh menatap Lizzie yang masih di dalam gendongan Purnomo. Lizzie menganggukkan kepala. Ratih tersenyum dan mengira Lizzie masih berhalusinasi. Purnomo tampak berpikir pikir dan tidak percaya begitu saja pada omongan anak kecil yang baru saja satu hari bersama dirinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Yulay Yuli
ibu Ayu kah yang jahat???
2024-11-01
0
ᴊɪʀᴏ ⍣⃝☠️
lizzie ini emang anak indigo yg tau hal gaib atau lizzie tau itu gara2 dikasih tau Michelle..?
makin menarik sj ceritanya, dan yg bikin penasaran adlh tentang Michelle.
2024-06-25
2
apakah keempat anak mereka dijadikan tumbal oleh Ayu Lestari ?
2024-04-05
0