“Kenapa Bu?” tanya Purnomo dan Ratih secara bersamaan sambil menatap Ibu Ayu Lestari yang masih menahan sakit bahkan kini tangan kirinya memijat mijat pundak sebelah kanan.
“Macam kena setrum , apa boneka itu ada batere nya.” Ucap Ibu Ayu Lestari sambil menatap boneka yang masih dipeluk erat oleh Lizzie. Lizzie tampak diam saja malah menatap boneka nya.
Ibu Sari dan anak anak panti terlihat kaget tidak menyangka jika boneka Michelle ada batere dan bisa memberi efek sengat atau setrum tinggi sehingga Ibu Ayu Lestari kesakitan.
“Sayang.. Ayah lihat ya.. nanti kamu kena setrum kayak Eyang Ayu..” ucap Purnomo dengan nada lembut.
“Ayah, Michelle tidak ada batere nya.” Ucap lirih Lizzie, namun dia membiarkan Purnomo untuk mengecek Michelle meskipun tangan mungil Lizzie masih terus saja memegang boneka Michelle.
“Tidak ada batere kok Bu, mungkin Ibu saja yang kesemutan atau kolesterol sedang tinggi, nanti Ibu periksa saja ke Dokter.” Ucap Purnomo sambil menatap Ibu Ayu Lestari yang masih memijat mijat pundaknya dan mengibas ngibaskan tangannya.
“Aneh.” Gumam Ibu Ayu Lestari dengan nada kesal.
“Sudah Bu, biar saja Lizzie membawa boneka kesayangannya.” Ucap Ratih sambil memeluk ibu mertua nya dari samping dan mengajak mereka semua segera menuju ke mobil.
Dua mobil pun beriringan menuju ke lokasi rumah Purnomo. Di sepanjang perjalanan Ibu Ayu Lestari masih saja penasaran dengan boneka yang dibawa oleh Lizzie.
“Boneka aneh, aku kenapa tidak suka dengan boneka itu.” Gumam Ibu Ayu Lestari yang duduk di jok depan di samping Purnomo yang mengemudikan mobil. Sedangkan Lizzie dan Ratih duduk di jok belakang kemudi. Sementara Ibu Sari dan anak anak panti di mobil panti yang terus mengikuti mobil Purnomo.
Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki halaman rumah yang luas yang ada beberpa pohon rindang dan ada tiga buah bangunan rumah. Purnomo menjalankan mobilnya mendekati satu bangunan rumah yang model arsitektur bangunannya sudah modern, itulah rumah yang ditempati oleh Purnomo dan Ratih. Sedangkan bangunan yang lain dengan model arsitektur tradisonal Jawa. Ibu Ayu Lestari tinggal di rumah induk yang besar dan dengan model arsitektur tradisonal itu.
“Ibu ikut makan siang bersama Ibu Sari di sini ya.. Ratih sudah menyuruh Mbok Mirah menyiapkan.” Ucap Purnomo saat mematikan mesin mobilnya. Ibu Ayu Lestari hanya diam saja tetapi Purnomo sudah paham diam nya Ibu Sari berarti mau.
“Ayo turun Sayang, kita sudah sampai rumah.” Ucap Ratih sambil menoleh ke arah Lizzie yang masih duduk sambil memangku Michelle, dia tahu jika orang yang duduk di depannya tidak suka dengan boneka Michelle nya.
Mereka semua turun dari mobil dan menuju ke rumah Purnomo. Mbok Mirah asisten rumah tangga Ratih pun sudah membukakan pintu rumah dan sambil tersenyum lebar dia berjalan ke arah mobil selain ingin membantu untuk membawakan barang barang yang perlu dimasukkan ke dalam rumah juga ingin melihat anak yang diadopsi oleh majikannya.
“Mbok bawa tas baju Lizzie ke kamar nya.” Ucap Ratih sambil menyerahkan satu travel bag kecil pada Mbok Mirah. Baju baju Lizzie dari Ibu Sari, meskipun Ibu Sari tahu jika Lizzie akan mendapatkan baju dari orang tua angkatnya tapi dia tetap memberikan bekal baju dan keperluan pribadi buat Lizzie.
“Wah cantik sekali, kalau Mbak Pramita mau dimong juga segini ya Bu...” ucap Mbok Mirah sambil menatap Lizzie yang digandeng oleh Ratih.
“Iya, makanya aku langsung suka pada Lizzie, ingat Pramita padahal saat itu aku berharap Pramita bisa lahir selamat..” ucap Ratih dengan nada sedih ingat anak terakhir yang juga meninggal saat masih dikandung. Dan sejak itu dia tidak hamil lagi maka disuruh Ibu Ayu Lestari untuk mengadopsi anak.
Mereka semua pun langsung masuk ke dalam rumah dan menikmati makan siangnya. Setelah selesai makan siang dan berbincang bincang sejenak, Ibu Sari dan anak anak pamit. Tidak ada tangis saat Ibu Sari dan anak anak pulang sebab ikatan emosional mereka dengan Lizzie belum begitu dalam karena Lizzie belum lama tinggal bersama mereka.
Ibu Ayu pun juga segera melangkah menuju ke pintu akan kembali ke rumah induk tempat tinggalnya.
“Mbok, tolong kamu buang boneka yang terus dipegang oleh anak itu. Aku tidak suka dengan barang itu, lihat saja kepalaku pusing.” Ucap Ibu Ayu
“Iya Bu...” ucap Mbok Mirah..
Sedangkan Lizzie kini bersama dengan Purnomo dan Ratih, berjalan melihat lihat ruang ruang yang ada di dalam rumah itu. Purnomo dan Ratih mengenalkan ruang ruang yang ada di rumah itu.
“Lizzie sudah tahu kan ruang ruang di rumah Lizzie dan ini adalah kamar Lizzie, kalau Lizzie belum berani tidur sendirian boleh tidur sama Ayah dan Bunda.” Ucap Purnomo sambil membuka pintu kamar.
“Lizzie sudah berani Ayah..” ucap Lizzie dengan santun. Purnomo dan Ratih pun tersenyum.
“Baiklah, sekarang istirahatlah, bobok siang.. nanti Mbok Mirah akan membantu kalau kamu perlu apa apa.” Ucap Ratih sambil mengusap usap kepala Lizzie. Lizzie pun menganggukkan kepala.
Lizzie pun masuk ke dalam kamar, di dalam kamar itu ada banyak boneka baru. Di dinding pun ada foto Lizzie dalam pigura besar.
Di saat Lizzie memandang foto dirinya, tiba tiba....
PRANNNNGG
KROMPYAANGG
Pigura yang berisi foto Lizzie itu jatuh dan kaca pecah berserakan. Ratih dan Purnomo yang masih berada di luar kamar Lizzie tampak kaget dan segera kembali ke kamar Lizzie..
“Lizzie kenapa bisa jatuh?” tanya Purnomo dan Ratih sambil menatap ke arah lantai yang ada pecahan kaca dan pigura yang telah rusak.
“Kak Erlangga yang menjatuhkan.” Ucap Lizzie lirih dan mata nya berkaca kaca.
“Erlangga? Kamu kenapa sudah tahu nama Erlangga?” ucap Purnomo sambil menatap Lizzie, karena dia dan istrinya belum cerita siapa saja nama anak anaknya yang sudah meninggal. Erlangga adalah anak pertama Purnomo jika hidup usianya sekitar sepuluh tahun.
Ratih melangkah mendekati Lizzie lalu menggendong tubuh Lizzie, Ratih khawatir jika Lizzie minta pulang ke panti.
“Lizzie di kamar Bunda dan Ayah saja dulu ya.. biar kamar dibersihkan oleh Mbok Mirah dulu...” ucap Ratih selain takut Lizzie kena pecahan kaca juga untuk memberi ketenangan pada Lizzie.
“Lizzie kenapa kamu tahu nama Erlangga dari siapa? Eyang Ayu?” tanya Purnomo yang masih penasaran. Dan Lizzie pun menggeleng geleng kepalanya.
“Mas, apa karena kita belum mengenalkan Lizzie pada mereka terus Erlangga cari perhatian. “ ucap Ratih pelan agar Lizzie tidak takut.
“Hmmm...” gumam Purnomo sambil pandangan mata nya menyapu seluruh isi kamar Lizzie. Tampak tidak ada yang aneh selain hanya pigura foto Lizzie yang jatuh pecah di lantai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Minartie
apa erlangha itu dikorbankan ?
2025-02-01
1
Novia Ramdani
ga suka sama si nenek/Grimace/
2024-12-10
1
ᴊɪʀᴏ ⍣⃝☠️
bagus ini ceritanya.
2024-06-25
1