“Siapa nama kamu cantik?” tanya Ratih saat menjabat tangan mungil Lizzie.
“Lizzie..” jawab Lizzie sambil tersenyum manis.
“Nama yang sangat cantik seperti yang punya nama.” Puji Ratih sambil terus tersenyum menatap wajah imut Lizzie.
Ibu Sari dan anak anak pun menyambut tamu sepasang suami istri di ruang aula. Beberapa anak panti menampilkan kebolehannya untuk menarik hati calon orang tua angkat. Dan setelah jamuan makan siang bersama. Purnomo dan Ratih diajak oleh Ibu Sari menuju ke ruang kerjanya.
“Anak anak Ibu sangat hebat, kami akan datang lagi ke sini Bu. Maaf kami tadi tidak sempat membelikan oleh oleh, kami akan transfer sedikit dana buat mereka.” Ucap Purnomo sambil mendudukkan pantatnya di kursi yang ada di ruang kerja Ibu Sari.
“Iya Pak, tidak apa apa. Lalu apa Bapak dan Ibu sudah menemukan anak yang akan diadopsi?” tanya Ibu Sari sambil menatap wajah Purnomo dan Ratih yang duduk di depannya.
“Sudah Bu, sejak pertama turun dari mobil saya dan istri saya sudah bisa menemukan pilihan.” Ucap Purnomo sambil tersenyum menoleh menatap Sang Istri.
“Siapa Pak, Bu?” tanya Ibu Sari.
“Lizzie. Di mana dia sekarang? Padahal tadi selalu bersama dengan Ibu Sari.” Jawab Ratih sambil tersenyum.
“Benar Bu, sejak pertama kali melihat anak itu, saya dan istri saya sudah jatuh hati.” Sambung Purnomo juga dengan bibir tersenyum.
“Pak, Bu maaf kalau Lizzie baru saja tinggal di Panti ini, kami belum memiliki data data tentang Lizzie. Kami menemukan Lizzie di halaman panti beberapa hari lalu. Saya khawatir jika suatu saat ada berita kehilangan anak tersebut, Bapak dan Ibu Purnomo akan berurusan dengan orang tua nya.” Ucap Ibu Sari jujur mengatakan apa adanya.
“Ooohhh begitu.” Ucap Purnomo dengan nada kecewa.
“Coba diganti anak yang lain saja yang tadi maju di atas panggung, mereka anak yatim piatu.” Ucap Ibu Sari menawarkan anak asuh lainnya.
“Tapi saya mau Lizzie.” Gumam Ratih
“Pa, bagaimana kalau kita urus di pengadilan dan kita sanggup untuk menyerahkan jika dikemudian hari orang tua Lizzie mencarinya.” Ucap Ratih memberikan usulan. Purnomo pun menganggukkan kepalanya.
“Begitu bagaimana Bu? Besok saya ke pengadilan negeri biar mereka yang menguruskannya. Niat saya dan istri saya benar benar untuk memberikan kasih sayang untuk memenuhi kebutuhan lahir batinnya. Istri saya sudah empat kali hamil tetapi keempat anak kami meninggal. Kami berharap jika kami mengadopsi Allah akan mengizinkan kami untuk memiliki anak kandung.” ucap Purnomo.
“Baiklah Pak, Bu. Tapi bagaimana pun saya harus menanyakan pada anak yang bersangkutan. Begitu aturan di Panti ini, jika anak tidak mau kami tidak bisa memaksa.” Ucap Ibu Sari dengan nada serius. Purnomo dan Ratih pun setuju dan berharap Lizzie mau diadopsi oleh nya.
Ibu Sari pun bangkit berdiri, dia melangkah menuju ke kamar tidurnya. Sebab sejak tadi Lizzie terus saja minta ke tempat tidur untuk menemani Michelle.
Ibu Sari membuka pintu kamar tidurnya dengan pelan pelan. Tampak Lizzie duduk di atas tempat tidur menghadap pada dinding tembok, dan boneka Michelle nya pun dalam posisi duduk bersandar pada tembok. Rupanya Lizzie sedang duduk berhadap hadapan dengan Michelle.
“Lizzie, tamu nya mau berbicara sama kamu.” Ucap Ibu Sari dengan nada lembut sambil mendudukkan pantatnya di tepi tempat tidur.
Lizzie pun menoleh dan tangannya meraih boneka Michelle nya.
“Michelle biar di sini dulu.” Ucap Ibu Sari dan Lizzie pun menurut. Ibu Sari lalu menggendong Lizzie dan melangkah menuju ke ruang kerjanya.
“Lizzie apa kamu mau ikut dengan kami, tinggal di rumah kami?” tanya Ratih dengan senyum manis. Dan Lizzie pun menganggukkan kepalanya.
“Tapi aku mengajak temanku.” Ucap Lizzie selanjutnya.
“Teman? Lizzie saja ya yang ikut kami.” Ucap Purnomo dan Lizzie pun menggeleng gelengkan kepalanya.
“Michelle harus ikut.” Ucap Lizzie pelan. Ibu Sari pun lalu menjelaskan pada Ratih dan Purnomo jika Michelle itu boneka teman main Lizzie.
“Ha... ha... ha... boleh Lizzie Sayang... Besok Ayah belikan boneka yang banyak....” ucap Purnomo sambil tertawa lepas, dia pun sudah menyebut dirinya Ayah untuk Lizzie.
“Tapi belum sekarang Lizzie, Ayah dan Bunda menyiapkan surat surat dan kamar buat kamu dulu ya..” ucap Ratih selanjutnya. Dan Lizzie pun tersenyum manis.
Waktu pun terus berlalu. Proses pengurusan adopsi sudah berjalan dan hari ini adalah hari penentu keputusan Pak Hakim. Purnomo dan Ratih sudah sangat mantap untuk mengadopsi Lizzie. Ibu Ayu Lestari pun hari ini juga ikut datang ke pengadilan negeri sebagai saksi.
Ibu Sari pun datang dengan membawa Lizzie dan beberapa anak panti yang sudah besar untuk mengantar Lizzie. Ibu Sari berada di dalam ruang sidang dan Lizzie beserta anak panti lainnya menunggu di luar.
TOK
TOK
TOK
Ketuk palu Pak Hakim tanda permohonan keluarga Purnomo atas pengajuan adopsi Lizzie disetujui. Semua tersenyum bahagia. Setelah saling berjabat tangan mereka semua keluar dari ruang sidang. Keluarga Purnomo sudah tidak sabar untuk memboyong Lizzie ke rumahnya.
“Ibu Sari dan anak anak bisa ikut mengantar Lizzie ke rumah. Kita makan siang di rumah.” Ucap Purnomo dan Ratih pun sangat mendukung.
“Mana anak itu aku ingin melihatnya.” Ucap Ibu Ayu Lestari yang baru melihat foto Lizzie saja.
“Itu dia...” ucap Purnomo sambil menunjuk Lizzie yang duduk di kursi tunggu bersama kakak kakak panti nya.
Tampak Lizzie tersenyum manis, di pangkuannya ada boneka Michelle yang sudah tidak terlihat begitu kumal lagi. Sebab bajunya sudah diganti oleh Ibu Sari , topi di kepala Michelle pun juga baru. Tak lupa disemprot minyak wangi milik Ibu Sari. Dan Lizzie tidak marah, meskipun baju dan topi lama Michelle tidak boleh dibuang dan tetap dia bawa menyatu dengan baju baju miliknya.
Purnomo dan Ratih pun tampak biasa biasa saja melihat Lizzie yang memangku boneka Michelle. Ratih dan Purnomo terus melangkah mendekati Lizzie.
“ Ayo Sayang sekarang ikut Ayah dan Bunda.” Ucap Purnomo sambil mengulurkan kedua tangannya untuk menggendong tubuh Lizzie, dia sudah sangat merindukan untuk bisa menggendong anak. Lizzie pun digendong Purnomo masih membawa boneka Michelle.
Sementara itu Ibu Ayu Lestari tampak tidak suka dengan boneka yang dibawa oleh Lizzie.
“Boneka nya tidak usah dibawa Pur, besok kamu belikan saja yang lebih bagus.” Ucap Ibu Ayu Lestari.
“Jangan! Michelle harus ikut!” teriak Lizzie dengan lantang.
“Biar Bu, namanya anak anak besok kalau sudah ada yang lebih bagus akan bosan.” Ucap Ratih yang berdiri di samping Purnomo.
“Aku tidak suka dengan boneka ini.” Ucap Ibu Ayu Lestari sambil merebut dengan paksa boneka Michelle.
Akan tetapi tiba tiba...
“Aaaaaaaaa.....” jerit Ibu Ayu Lestari dengan sangat keras sambil menarik tangannya dengan cepat dan gagal mengambil boneka Michelle.
Ibu Ayu Lestari mengibas ibaskan tangannya. Semua tampak kaget dan heran memandang Ibu Ayu Lestari yang ekspresi wajahnya meringis menahan rasa sakit.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Novia Ramdani
boneka nya jagain lizzie
2024-12-10
0
Reni
mungkin didlm boneka ada arwah ortu Lizzie
2024-05-31
2
~🌛JimSu🌜~
wah jangan2 itu penjaganya?? 🤔🤔🤔
2024-02-24
1