Sedangkan di panti asuhan, Mas Budi mengajak anak yang ditemukan di bawah pohon itu ke ruang kerja Ibu Sari, Ibu Pimpinan Panti asuhan tersebut. Mas Budi tidak berani menggandeng tangan mungil anak itu.
TOK
TOK
TOK
Jari jari tangan Mas Budi mengetuk ngetuk daun pintu itu dengan keras. Sebab suara derasnya air hujan begitu keras di telinga siapa saja.
“Bu....” teriak Mas Budi yang bulu kuduknya masih berdiri bila melihat boneka kumal yang di bawa anak yang berdiri di sampingnya. Anak itu sejak tadi hanya diam saja, ditanya siapa namanya dan dari mana tidak menjawab sepatah kata pun.
Sesaat pintu terbuka. Ibu Sari pun tampak terlonjak kaget saat melihat Mas Budi bersama seorang anak yang belum dikenalnya apalagi di hari yang telah gelap ditambah hujan petir badai yang lebat.
“Siapa dia?” tanya Ibu Sari sambil menatap anak itu dan Mas Budi secara bergantian.
“Saya belum tanya nama dia, Bu, tadi berdiri di bawah pohon saya kaget setengah mati, saya tanya sama siapa di mana orang tua nya, dijawab tidak ada, tapi habis itu diam saja.” Ucap Mas Budi sambil mengangkat kedua bahunya. Tiba tiba saja bulu bulu tubuhnya merinding membayangkan jika anak yang ditemukan adalah anak mbak kunti. alias kuntilanak.
“Bu, saya serahkan anak ini ke Ibu, saya mau mandi tadi basah kehujanan karena jas hujan saya pakaikan buat dia.” Ucap Mas Budi pamit agar segera menjauh dengan sosok yang membuat bulu kuduknya berdiri.
“Iya, tolong suruh bagian dapur merebus air buat mandi anak ini. Dan ambilkan baju buatnya.” Ucap Ibu Sari, Mas Budi pun mengiyakan dan segera melangkah pergi.
“Ayo ikut Ibu, siapa nama kamu?” ucap Ibu Sari sambil menuntun anak itu masuk ke ruang kerja. Telapak mungil anak itu dirasa dingin sekali oleh Ibu Sari.
“Lizzie.. “ ucap anak itu dengan suara pelan.
“Ooo nama yang bagus siapa nama lengkap kamu dan di mana rumah kamu?” tanya Ibu Sari sambil menunduk menoleh ke arah anak balita yang sedang dituntun itu. Dan anak itu pun hanya geleng geleng kepala.
“Hmm baiklah sekarang duduklah dulu di kursi, Ibu buatkan minuman hangat buat kamu.” Ucap Ibu Sari lalu mendudukkan Lizzie di kursi.
“Kamu tadi diantar siapa?” tanya Ibu Sari sambil menuang air hangat dari dispenser pada satu mug yang sudah diberi satu sashet susu jahe.
“Michelle..” ucap Lizzie sambil memeluk boneka yang dipangku dengan erat.
“Siapa Michelle?” tanya Ibu Sari sambil memberikan mug yang sudah berisi minuman susu jahe hangat itu. Lizzie pun hanya memandang boneka kumal yang dipangkunya.
Ibu Sari menatap boneka yang dipangku dan dipeluk oleh Lizzie itu, sama seperti yang Mas Budi rasakan bulu kuduk Ibu Sari pun berdiri. Mata boneka itu bagai menatap tajam Ibu Sari.
“Lizzie sekarang diminum ya susu jahe nya biar kamu tidak masuk angin. Habis ini Ibu mandiin kamu, boneka nya juga dimandikan ya.. biar bersih kamu dan boneka nya , biar cantik..” ucap Ibu Sari sambil tersenyum menatap Lizzie.
“Hmmm anak ini sebenarnya sangat cantik, hidung mancung matanya sangat indah, bibir nya pun cantik...” gumam Ibu Sari dalam hati yang masih penasaran siapa sebenarnya anak balita di depannya itu.
Akan tetapi tiba tiba Ibu Sari sangat kaget, karena mata indah yang baru saja dia kagumi itu tiba tiba melotot ke arahnya.
“Tidak boleh!” teriak Lizzie yang melotot sambil memeluk erat boneka nya.
“Michelle jangan dimandikan!” teriak Lizzie lagi dengan sangat lantang sambil masih memegang erat boneka nya itu.
“Tapi dia basah oleh hujan dan kotor, dimandikan biar bersih, wangi dan dikeringkan di mesin.” Ucap Ibu Sari sambil membelai rambut panjang Lizzie yang kusut dan terasa di tangan Ibu Sari rambut itu sangat kotor. Mungkin sudah sangat lama tidak dicuci.
“Jangan!” teriak Lizzie lagi sambil melotot ke arah Ibu Sari.
“Hhhmmm baiklah, sekarang diminum dulu itu.” Ucap Ibu Sari dengan sabar dan mengalah dia berpikir jika nanti Lizzie tidur boneka nya bisa diambil untuk dicuci. Ibu Sari khawatir boneka kotor itu akan membawa penyakit.
Setelah selesai minum Lizzie pun dimandikan oleh Ibu Sari dan selanjutnya diberi pakaian bersih, rambut yang sudah dicuci pun dikeringkan oleh hair dryer (pengering rambut). Boneka Michelle terus saja dipegang oleh Lizzie hanya dilepas saat dia mandi itu pun tidak boleh jauh darinya dan tetap tidak boleh dicuci hanya boleh ikut dikeringkan dengan hair dryer saja.
Lizzie pun diajak makan bersama di ruang makan bersama anak panti yang lain. Wajah Lizzie sudah terlihat cantik menggemaskan akan tetapi semua penghuni panti tampak takut dengan boneka yang selalu dibawa oleh Lizzie. Boneka yang terlihat kumal dan kotor namun mata boneka itu tampak menatap siapa saja yang melihatnya.
“Bu, anak anak perempuan tidak mau tidur dengan Lizzie kalau dia terus saja membawa boneka itu.” Bisik Mawarni anak panti perempuan yang sudah duduk di bangku SMK.
.
Akan tetapi tiba tiba ....
“Addduuuhhh.” Teriak Mawarni yang merasakan tiba tiba tangannya sakit.
“Kenapa Ni?” tanya Ibu Sari tampak heran menatap Mawarni yang mengusap usap lengannya dan wajah meringis menahan sakit.
“Nyamuk mungkin Bu, sakit dan gatal banget.” Ucap Mawarni sambil menggaruk garuk lenganya.
"Mana? tidak ada nyamuk sejak tadi." gumam Ibu Sari
“Ya sudah biar nanti Lizzie tidur sama Ibu. Harus pelan pelan Ni, untuk menjauhkan dia dari boneka nya. Mungkin selama ini boneka itu yang selalu setia menemani. Namanya juga anak anak Ni...” ucap Ibu Sari kemudian, sedangkan Lizzie yang duduk di bangku tidak jauh dari mereka , menoleh dan matanya terus melotot ke arah Mawarni. Mawarni pun tiba tiba bulu kuduknya berdiri dan cepat cepat melangkah pergi.
Waktu pun terus berlalu dan malam hari pun tiba. Hujan masih saja turun meskipun tidak lagi sederas sore tadi.
Suasana panti tampak sepi, setelah jam belajar anak anak masuk ke dalam kamar mereka dan lebih senang langsung berbaring dan menutupi tubuh dengan selimut karena suhu dingin akibat hujan yang mengguyur sejak sore hari dan hingga kini hujan masih turun, membuat mereka ingin tidur lebih awal.
Ibu Sari pun juga masuk ke dalam kamar tidurnya yang berada di dalam ruang kerjanya.
Tampak Lizzie sudah terlelap dengan nyenyak sejak setelah makan malam. Boneka Michelle dia peluk dengan erat.
“Hmmm aku ambil saja boneka nya biar aku masukkan ke mesin cuci sekarang mumpung dia tidur dengan pulas...” gumam Ibu Sari sambil melangkah mendekati tempat tidur.
Bulu kuduk Ibu Sari kembali berdiri melihat boneka itu, serasa mata dari boneka itu menatap dirinya.
“Hiiii kenapa prindang prinding begini. Mungkin karena boneka itu tidak pernah dicuci jadi terkesan horor. Lebih baik segera aku ambil dari pada aku juga tidak bisa tidur di sini.” Gumam Ibu Sari lagi sambil terus melangkah mendekati tempat tidur.
Bulu kuduk Ibu Sari masih saja berdiri, suasana panti yang sudah sepi membuat Ibu Sari prindang prinding...
Dan di saat dia sudah dekat dengan tempat tidur nya tiba tiba...
PET
Suasana kamar menjadi gelap gulita...., akan tetapi tiba tiba Ibu Sari sangat kaget karena melihat sesuatu...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Minartie
wauw sereem boneka aneh
2025-02-01
1
Rinisa
Boneka nya hidup nich...
2025-01-04
3
Novia Ramdani
wah wah/Gosh/
2024-12-09
0