Para Bandit

Pagi hari menjelang. Tubuh Ran sudah pulih setelah berjalan kaki selama tiga hari. Setelah dia membereskan barang-barangnya, Ran kembali berjalan ke selatan. Dalam hati dia selalu berharap setelah keluar dari hutan ini, dia akan menemukan pedesaan atau pemukiman. Tetapi belum dia keluar hutan, Ran mendengar sesuatu. Dia lalu berhenti dan menundukkan kepala sambil memegang caping yang terbuat dari anyaman bambunya.

“Apa mereka para bandit?” tanya Ran dalam hati.

Di antara pepohonan tinggi menjulang, terdengar suara kaki yang melompat dari satu ranting, ke ranting lain. Ranting pohon ini memang besar, Jadi kuat dibuat pijakan. Semakin lama, suara kaki yang melompat semakin terdengar jelas. Tak berapa lama, dari belakang melesat seorang pria agak gemuk dengan tongkat. Tetapi Ran menyadarinya. Jadi dia berbalik memutar ke kanan sambil menghunus pedangnya dan pria bertongkat itu terpental jauh berguling di tanah dan berakhir di sebuah gundukan batu kerikil.

“Aku tidak ingin ada masalah dengan kalian. Jadi izinkan aku lewat,” ucap Ran.

Para bandit itu hanya tertawa. Di antara tawa bara bandit, terdengar suara tawa yang sangat berat sekali. Pemilik suara tawa itu memerintahkan semua untuk menyerang Ran.

“Serang semua sekaligus. Aku menginginkan pedangnya,” ucapnya.

“Siap laksanakan, Dera,” ucap salah seorang pria.

Seketika semuanya menyerang Ran dengan cara bersamaan. Mereka semua melompat dengan memegang senjata masing-masing. Mungkin, ada dua puluh orang yang menyerang. Dengan tenang Rang memejamkan mata sambil tangan kanannya bersiap menghunus katananya. Ketika semuanya sudah mendarat di tanah, dengan cepat Ran menghunus pedangnya dan menumbangkan mereka satu per satu.

Dera yang menyaksikan hanya tersenyum puas. Dia semakin bersemangat tatkala Ran tidak membunuh anak buahnya. Saat semua anak buahnya tumbang, Dera melompat sambil mengeluarkan senjata berupa dua sabit yang terselip di pinggangnya.

“Kau lumayan juga, ya,” ucap Dera sambil memainkan kedua sabit itu.

“Aku katakan sekali lagi. Aku tidak ingin mencari masalah. Jadi, lebih baik kita tidak perlu bertarung,” kata Ran.

“Tapi keahlian berpedangmu membuatku bergairah untuk bertarung denganmu,” balas Dera.

Ran memejamkan mata sambil memasukkan katana ke dalam sarungnya. Sementara itu Dera tertawa cekikikan sambil melompat dan menyerang Ran dengan memutar. Dengan cepat Ran menghunus katananya dan menahan serangan Dera. Sabit Dera dan katana Ran saling beradu.

“Ternyata kau memang hebat,” Dera tersenyum lebar dengan tatapan yang sangat bergairah.

“Kau juga hebat,” balas Ran.

Dera melompat ke belakang. Dia kemudian bersiap dan kembali menyerang Ran dengan gerakan memutar. Ran menghindar ke kanan sambil menahan dengan katananya. Dera memutar berlawanan dan menebaskan sabit di tangan kanannya. Ran menahan kemudian menerjang kaki kiri Dera dengan kaki kanannya. Seketika Dera terjatuh ke tanah dan Ran menebaskan katananya dari atas ke bawah. Tetapi Dera menahan dengan kedua sabitnya kemudian dia bangkit dengan jara memutarkan kedua kakinya dan melompat menjauh.

“Ini masih pemanasan,” ucap Dera.

Ran hanya terdiam dan menatap Dera dengan santai. Dera lalu menyerang Ran lagi dengan berbagai gerakan. Ran menghindar dan adakalanya dia menahan lalu menyerang balik. Ketika ada waktu yang pas, dengan cepat memukulkan ujung pegangan katananya ke ulu hati Dera. Seketika Dera merasa kesakitan sambil memegang ulu hatinya dengan sedikit membungkuk. Ran langsung mengambil kesempatan ini dengan mundur satu langkah ke belakang. Kemudian dia memasukkan katana ke dalam sarungnya dan menghunus katananya tepat ke arah Dera.

Dera langsung terhempas ke balakang dan menghantam pohon. Tetapi dia masih bisa berdiri hanya ada darah yang keluar dari mulutnya dan langsung menyeka darah itu dengan ibu jarinya.

“Dia menyerangku dengan membalik mata pedangnya sehingga aku tidak terluka,” ucap Dera dalam hati.

Tetapi Dera tidak peduli. Yang ada di dalam pikirannya adalah pedang milik Ran. Dia menginginkan pedang Ran yang akan menggantikan pisau sabitnya yang sudah tua ini.

“Aku akan merebut pedangmu,” sahut Dera.

“Pedang ini hanya tunduk kepadaku,” balas Ran.

Dera berlari dan kemudian melompat sambil menyerang dengan gerakan memutar. Ran menghindar ke kiri sehingga serangan Dera menghantam tanah. Tapi kemudian Dera menebas ke kanan dan Ran menahannya dengan katananya. Ran melompat ke belakang. Dera berlari sambil menebas-nebaskan sabitnya. Kemudian Dera menerjang kaki Ran dengan kaki kanannya. Ran melompat dengan memutarkan badan melewati Dera. Setlah kedua kaki Ran menapak ke tanah, dia berputar lagi menyerang Dera. Namun Dera menahannya dan kemudian dia melompat jauh.

“Bukankah tas yang kau bawa itu mengganggu pergerakanmu?” kata Dera.

Dalam hati, Ran bersumpah tidak akan pernah menjatuhkan tasnya ini. Sebab di dalamnya, ada buku tua peninggalan Berna. Dia sudah bersumpah kepada dirinya sendiri untuk menjaga buku ini agar tidak jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab.

“Sial. Kenapa sekarang aku harus menjaga buku terkutuk ini. Tetapi jika tidak aku jaga, buku ini akan jadi malapetaka,” kata Berna dalam hati karena tujuan dia mengembara kini selain mencari keberadaan Garun, juga harus menjaga buku tersebut.

“Seperitnya isi dari tas itu sungguh berharga, ya,” Dera tertawa cekikikan.

“Tidak ada yang berharga dari buku ini.”

“Kalau begitu letakkan tas itu sehingga kau bisa bergerak dengan bebas.”

“Sayangnya itu tidak akan terjadi.”

Ran langsung berlari sambil menebaskan katananya dari kiri ke kanan. Dera menahan serangan Ran kemudian baik menyerang dengan tebasan dari kanan ke kiri. Ran melompat ke atas sambil menebas dari atas ke bawah. Dera menahan dengan sabit di tangan kanannya. Sementara sabit di tangan kirinya dengan cepat menebas ke aras pinggang sebelah kanan Ran. Tetapi Ran tak kalah cepat. Dia menahan pergelangan tangan kiri Dera dengan telapak kaki kanannya dan dengan cepat menendang dagu Dera dengan kaki kirinya sehingga Dera terpental ke belakang dan Ran mendarat di tanah.

“Refleksmu cepat juga,” ucap Dera setelah dia bangkit berdiri.

“Kau tidak akan pernah tahu sekeras apa aku dilatih oleh masterku,” kata

Ran.

Dera hanya tersenyum menyeringai. Kemudian dia bersiap lagi untuk menyerang.

***

Di tengah hutan sebelah utara, Shukar sedang berlari sambil terengah-engah. Dia tertinggal oleh yang lainnya sebab dia masih belum bisa menguasai teknik melompat dari pohon ke pohon seprti yang dipakai oleh para bandit itu. Keringat bercucuran dari dahi hingga ke leher.

“Ke mana mereka perginya,” kata Shukar sambil terus berlari.

Setelah sepuluh menit dia berlari, Shukar akhirnya sampai di tempat di mana Dera dan Ran sedang bertarung. Dia bersembunyi di balik semak-semak sambil memperhatikan mereka berdua bertarung. Shukar melihat pertarungan yang intens. Saling menyerang, menahan, bahkan menghindar lalu kemudian menyerang lagi.

“Hebat sekali ria berjubah cokelat itu,” Shukar memperhatikan gaya bertarung Ran dengan mata berbinar.

Shukar lalu melihat ke sekeliling. Betapa terkejutnya dia semua rekan-rekannya terkapar tak sadarkan diri.

“Ada apa dengan mereka? Kenapa mereka terkapar? Siapa yang mengalahkan mereka semua?” berbagai macam pertanyaan timbul di hati Shukar.

Setelah dia berpikir, dia menarik kesimpulan bahwa pria berjubah cokelat itulah yang sudah mengalahkan semua rekan-rekannya.

“Dia memang hebat,” puji Shukar kepada Ran.

Sementara itu Dera dan Rann kini berjauhan. Mereka mengambil strategi untuk saling mengalahkan satu sama lain.

“Sebaiknya aku selesaikan pertarungan ini,” kata Dera sambil bersiap dengan pose anehnya.

“Dari awal sudah aku bilang bahwa aku tidak ingin ada masalah,” kata Ran setelah memasukkan pedang ke dalam sarungnya.

Dera mengangkat tangan kanannya tinggi. Tangan kirinya lurus di depan dana, sementara itu kaki kanannya di juga angkat dan dai tempelkan telapak kaki kanan di paha kiri. Dia memejamkan mata. Seketika otot-ototnya membesar. Dera mendesah kemudian dia melesat secepat kilat ke arah Ran sambil menyerang dengan gerakan memutar. Ran yang kaget langsung menghunus pedangnya dan menahan serangan Dera. Ran lalu terpental ke belakang dan hampir membentur pohon besar. Tetapi dia berhasil menyeimbangkan tubuhnya dan menahan dengan kedua kakinya.

Kini Ran berdiri secara vertikal di batang pohon seperti paku yang tertancap. Ketika dia akan jatuh karena gaya gravitasi, tiba-tiba Dera sudah ada di depannya menyerang dengan menebaskan sabit di tangan kanannya. Ran lalu melompat ke atas sambil menghindari serangan Dera. Mereka berdua seperti dua ekor cecak yang sedang berlari di tembok.

Ketika sampai di sebuah ranting besar, Ran melompat ke bawah tetapi dari atas Dera melesat sambil menyerang. Ran yang masih di udara berbalik dan menahan serangan Dera. Saking kuatnya serangan Dera, Ran terhempas ke tanah dengan sangat cepat. Tanah di sekitarnya pun amblas seperti terkena meteor. Debu tanah pun beterbangan seperti asap bom yang baru saja meledak. Sangat pekat.

Dera tertawa puas ketika mendarat di tanah.

“Hahaha akhirnya kau kalah juga. Jangan pernah meremehkan kekuatanku,” kata Dera yang langsung berjalan mendekat.

Samar-samar Dera melihat pedang Ran tertancap di tanah. Tapi ketika dia pegang, ternyata itu hanya sebatang ranting tang mencap di tanah. Seketika Dera melihat kilauan pantulan cahaya dari sebatang logam. Ternyata, Ran sudah bersiap. Dengan cepat Ran hunuskan pedangnya dan mengenai Dera. Ketika Dera terpental, Ran mengayunkan katananya dari atas ke bawah kemudian berbalik memutar ke kiri dan menebas dari atas ke bawah, lalu diakhiri dengan memasukkan katana ke dalam sarungnya dan kemudian menghunuskannya lagi dengan kuat ke arah Dera hingga dia terhempas dan membentur pohon besar. Saking kerasnya benturan itu, pohon besar tersebut tumbang.

Serangan Ran terjadi tak lebih dari dua detik. Shukar yang melihatnya seolah tak percaya Ran bisa melakukan jurus secepat itu.

“Hebaatt!!” Shukar matanya semakin berbinar.

Sementara itu Ran membersihkan jubahnya. Shukar yang terlalu bersemangat, dia tak sengaja menginjak ranting sehingga Ran menoleh ke arahnya.

“Gawat!” ucap Shukar panik ketika Ran berjalan mendekat ke arahnya.

Bersambung...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!