Malam telah berganti pagi. Vivi yang biasa bangun pagi untuk membantu ibunya memasak pun terbangun. Saat membuka matanya, Vivi masih berada dalam pelukan Roni. Vivi tersenyum-senyum sendiri mengingat apa yang terjadi semalam. Wanita itu menatap Roni yang masih terlelap.
"Dia tetap terlihat tampan walaupun sedang tidur dan rambutnya acak-acakan," gumam Vivi dalam hati yang masih tersenyum menatap Roni yang rambutnya acak-acakan karena ulahnya semalam.
Semalam adalah malam indah yang tidak terlupakan bagi Vivi. Malam pertamanya dengan Roni.
"Aku masih ingin berada di dalam pelukannya. Biarlah hari ini bibi sendiri saja yang memasak," gumam Vivi yang kembali memejamkan matanya memeluk Roni.
Satu jam kemudian, Roni terbangun, sedangkan Vivi sudah kembali terlelap. Senyuman lembut terukir di bibir Roni saat melihat Vivi masih ada dalam pelukannya.
Selama menikah dengan Vivi, jarang sekali Roni bisa melihat Vivi masih terlelap saat dirinya terbangun. Karena Vivi sering bangun lebih dulu dari Roni.
"Cantik," gumam Roni dalam hati seraya menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantik Vivi, "sial! ada sesuatu yang tidak beres di bawah sana. Aku harus segera bangun, atau aku akan khilaf dan mengulangi aktivitas kami semalam," gumam Roni dalam hati saat menyadari bahwa yang dibawah sana juga bangun.
Dengan perlahan Roni melepaskan pelukannya pada Vivi dan turun dari ranjang. Roni memakai celana training dan kaus oblong. Pemuda itu bersiap untuk melakukan olahraga pagi seperti biasanya.
Namun, tiba-tiba Roni teringat tentang kejadian yang menimpa Aline semalam. Roni membuka laptopnya dan mengecek dari mana sebenarnya Aline semalam. Tak lama kemudian, Roni menutup laptopnya, lalu keluar dari kamar.
Beberapa menit setelah Roni bangun, Vivi pun terbangun. Vivi menatap ke seluruh penjuru kamarnya, tapi tidak menemukan keberadaan Roni.
"Apa kak Roni sedang berolahraga?" gumam Vivi kemudian menutup mulutnya yang menguap.
Vivi turun dari ranjang dan bergegas membersihkan diri setelah melihat jam digital di atas meja nakas.
Beberapa menit kemudian, Vivi sudah selesai membersihkan diri bertepatan dengan Roni yang masuk ke dalam kamar. Pemuda itu tersenyum saat melihat Vivi yang sudah rapi dan terlihat segar.
"Kakak mandilah! Aku akan menyiapkan pakaian kakak," ucap Vivi tersenyum manis.
Roni mengangguk dan bergegas membersihkan diri. Sedangkan Vivi segera mengaplikasikan make-up di wajahnya.
"Astagaa.. Banyak sekali tanda yang di buat kak Roni. Aku pikir hanya di dada sampai paha saja yang banyak," gumam Vivi yang baru melihat lehernya. Ternyata banyak sekali kiss mark di lehernya yang berwarna keunguan karena ulah Roni semalam.
Vivi menutupi semua tanda yang di buat Roni dengan make-up. Setelah selesai merias diri, Vivi pun bergegas menyiapkan pakaian kerja suaminya.
Setelah Roni selesai membersihkan diri, Vivi membantu Roni mengeringkan rambut Roni.
"Apakah perutmu tidak sakit? Janin dalam kandungan kamu tidak apa-apa, 'kan?" tanya Roni menggunakan bahasa isyarat.
Perutku tidak sakit, kak. Dia juga baik-baik saja," sahut Vivi dengan senyuman tipis di bibirnya.
"Syukurlah," ucap Roni dalam bahasa isyarat.
"Emm.. Kak.. Boleh aku bertanya?" tanya Vivi yang sedang mengancingkan kemeja Roni terlihat ragu.
"Tanyakan saja! Jangan ragu!" ucap Roni dalam bahasa isyarat tersenyum tipis.
"Semalam.. kenapa kakak bisa pulang bareng sama Aline?" tanya Vivi yang dari semalam ingin menanyakan hal itu.
Roni terlihat menghela napas panjang mendengar pertanyaan Vivi. Sedangkan Vivi nampak semakin penasaran melihat ekspresi wajah suaminya itu.
"Setelah kamu menelpon aku semalam dan kamu terlihat khawatir pada Aline, aku mengecek keberadaan Aline. Aku menemukan dia di tengah daerah pertanian. Dia hampir saja di lecehkan supir taksi yang ditumpanginya. Semalam dia tidak ke toko buku, tapi ke kafe yang baru di buka di dekat alun-alun kota," jelas Roni dalam bahasa isyarat membuang napas kasar.
"Apa?! Jadi, dia membohongi aku?" tanya Vivi nampak terkejut sekaligus kecewa.
Roni mengambil laptopnya dan menunjukkan beberapa rekaman cctv tentang keberadaan Aline. Vivi melihat Aline masuk ke dalam kafe yang di katakan oleh Roni dan keluar dengan seorang pemuda. Vivi juga melihat Aline yang masuk ke dalam mobil bersama pemuda itu. Ada juga rekaman cctv saat mobil yang ditumpangi Aline itu berhenti dan Aline serta pemuda itu keluar melihat ban mobil. Aline terlihat sibuk dengan handphonenya dan agak lama kemudian Aline masuk ke dalam taksi online.
Vivi mengamati semuanya dengan teliti, karena Roni mempercepat rekaman cctv. Vivi juga memperhatikan jam pada rekaman yang di percepat Roni.
"Aku tidak menyangka Aline membohongi aku untuk bertemu dengan seorang pemuda," gumam Vivi yang masih bisa di dengar Roni. Terlihat jelas kekecewaan di wajah wanita itu.
"Aku akan menyuruh orang untuk mengawasi Aline. Agar kejadian seperti semalam tidak terulang kembali. Ayah dan ibu sudah mempercayakan Aline pada kita. Jadi, sebelum ayah dan ibu kembali, Aline adalah tanggung jawab kita. Kita harus menjaga Aline baik-baik," ujar Roni dalam bahasa isyarat dengan ekspresi serius.
"Hum. Terimakasih, kak. Entah apa yang terjadi pada anak itu, jika kakak tidak datang tepat waktu," ujar Vivi menghela napas panjang.
Vivi kembali membantu Roni memakai pakaiannya, setelah itu mereka sarapan bersama. Namun Vivi tidak melihat keberadaan Aline. Mau bicara soal semalam pun tidak ada waktu lagi. Roni akan terlambat datang ke kantor, kalau Vivi bicara dulu pada Aline yang mungkin butuh waktu lama. Mengingat betapa keras kepalanya adiknya itu.
*
Roni menghentikan mobilnya tidak jauh dari depan gerbang perusahaan tempat Vivi bekerja. Seperti biasanya, Vivi keluar dari mobil itu dan melambaikan tangannya dengan senyuman manis di bibirnya saat Roni hendak melajukan mobilnya.
Vivi tidak menyadari ada mata yang mengawasinya dari kejauhan. Orang yang terlihat kesal melihat Vivi nampak bahagia. Siapa lagi kalau bukan si Roni pengki sang pengkhianat cinta. Pengecut yang tidak mau bertanggung jawab atas benih yang ditanamnya di rahim Vivi.
Vivi melenggang masuk ke gedung tempatnya mengais rezeki. Belum terlalu banyak orang yang datang, karena jam kerja baru di mulai setengah jam lagi.
Vivi memang harus berangkat lebih pagi agar Roni tidak terlambat masuk kerja, karena harus mengantarkan Vivi terlebih dahulu. Sebab kantor Roni lebih jauh dari kantor Vivi.
"Semenjak menikah, kamu berangkat pagi terus, ya, Vi?" ujar teman Vivi yang memakai blazer berwarna hitam.
"Suamiku kantornya agak jauh. Jadi, kalau mau berangkat bareng sama dia, aku harus berangkat lebih pagi," sahut Vivi yang memang demikian kenyataannya.
"Kamu tambah cantik saja setelah menikah, Vi. Tubuhmu juga semakin montok dan bahenol. Bajumu juga bagus-bagus dan trendy. Melihat penampilan mu sekarang, sepertinya suami kamu sangat royal dan perhatian padamu. Kamu pasti sangat bahagia," ujar teman Vivi yang memakai kemeja putih.
Vivi tidak menjawab. Wanita itu hanya tersenyum dengan wajah yang terlihat bahagia. Menandakan apa yang dikatakan oleh teman-temannya adalah benar.
Bagaimana tidak bertambah cantik dan bahenol. Semenjak menikah dengan Roni, Vivi mendapatkan skincare lengkap dari Roni. Makanan yang tersaji di meja makan pun semuanya bergizi. Lima sehat, eh salah. Empat sehat, lima sempurna. Dan semua itu karena uang dari Roni dan permintaan Roni agar menyiapkan menu makanan yang bergizi.
Tidak seperti dulu sebelum Vivi menikah dengan Roni. Keluarga Vivi hidup pas-pasan. Gaji Vivi yang tidak sampai lima juta, penghasilan ayahnya dari narik taksi dan ojek yang tidak menentu, dan juga gaji ibunya dari toko kue yang tidak seberapa. Semua itu digunakan untuk kebutuhan hidup mereka sehari-hari dan untuk membiayai kuliah Aline. Beruntung rumah yang mereka tinggali adalah rumah warisan orang tua Ruslan.
Jangankan untuk membeli skincare yang bagus, untuk makan dan biaya kuliah Aline saja sudah pas-pasan. Jadi, walaupun Vivi cantik, tapi Vivi tidak bisa mengasah kecantikannya. Skincare yang dimiliki Vivi hanya handbody, moisturizer dan bedak padat saja.
Berbeda dengan sekarang yang semuanya lengkap dan serba ada. Bahkan pakaian kantor pun dibelikan Roni. Yang tentunya dengan bahan dan model yang bagus dan kekinian. Kecantikan Vivi pun menjadi semakin bersinar.
"Dia jauh lebih cantik dari sebelumnya dan terlihat bahagia. Apa Benar dia bahagia? Atau hanya pura-pura bahagia? Aku ingin melihat pria yang bersedia menjadi suaminya itu," gumam si Roni pengki yang merasa tidak terima melihat Vivi malah bahagia setelah di tinggalkannya.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
LO INGIN USIK VIVI LAGI, CARI MATI LO, LO BLM TAU SIAPA SAHABAT2 RONI GAGAP.....
2024-07-15
1
Patrish
aduh pengki... jangan... ga usah cari tahu... bisa mati berdiri kamu
2024-01-30
4
Patrish
itu akuuu.. sampai sekarang... skincare 50 rb diirit buat 2 bl... bodylotion c*t*a .... bedakpadat p*xc**.. lipstick r*vl*n bisa buat 3 bl.... tetep tampil pe de😄😄😄😄
2024-01-30
2