Roni menepikan mobilnya saat mendapat panggilan video dari Vivi. Pemuda itu meletakkan handphonenya di dashboard mobil agar mudah berkomunikasi dengan Vivi menggunakan bahasa isyarat. Wajah Vivi langsung memenuhi layar handphone Roni, saat pemuda itu menerima panggilan video dari istrinya itu.
"Halo, kak! Eh, sedang di jalan, ya?" tanya Vivi setelah mengamati tempat Roni berada.
"Iya. Aku lagi dalam perjalanan pulang. Apa kamu ingin aku belikan sesuatu?" tanya Roni dalam bahasa isyarat dengan senyuman tipis di bibirnya.
"Tidak, kak. Aku hanya khawatir saja, karena kakak tidak kunjung pulang. Soalnya ini sudah malam. Aline juga belum pulang. Katanya taksi yang ditumpanginya bannya bocor. Jadi nyari taksi lagi," jelas Vivi yang entah mengapa merasa khawatir pada adiknya.
"Memangnya Aline pergi kemana?" tanya Roni yang juga jadi khawatir melihat ekspresi Vivi yang khawatir dan melihat waktu sudah menunjukkan pukul delapan lewat empat puluh lima menit.
"Pamitnya, sih, ke toko buku dekat minimarket itu, kak,"
"Ya, sudah. Paling sebentar lagi juga pulang," sahut Roni yang tidak ingin Vivi khawatir.
"Ya, sudah. Kakak lanjutkan perjalanan kakak. Aku tunggu di rumah. Apa kakak ingin di buatkan sesuatu?" tanya Vivi yang ingin menjadi istri yang baik untuk Roni.
"Tidak usah. Aku sudah kenyang," sahut Roni dalam bahasa isyarat tersenyum tipis.
Akhirnya sepasang suami-isteri itu mengakhiri komunikasi mereka melalui video call itu.
Roni nampak mengutak-atik handphonenya, dan kening pemuda itu nampak berkerut setelah mengamati layar handphonenya.
"Gadis ini berbohong. Dia tidak pergi ke toko buku," gumam Roni dalam hati, lalu kembali melajukan mobilnya.
Roni mengemudi sambil melihat layar handphonenya. Pemuda itu mengemudikan mobilnya lebih cepat.
Beberapa menit perjalanan, Roni terlihat cemas saat melihat GPS yang diikutinya memasuki daerah pertanian. Pemuda itu menginjak pedal gas mobilnya semakin dalam menyalip kendaraan-kendaraan di depannya menuju ke arah jalan sunyi di daerah pertanian itu.
Ya. Karena kedua mertuanya telah menitipkan Aline pada dirinya dan istrinya, maka Roni pun sudah mengantisipasi segala kemungkinan. Dengan keahlian IT yang dikuasainya, Roni bisa melacak keberadaan Aline melalui handphone Aline.
Pemuda itu tahu dimana keberadaan adik iparnya itu sekarang. Dan entah mengapa, setelah beberapa menit mengikuti GPS adik iparnya, Roni merasa khawatir saat GPS itu berhenti di tengah daerah pertanian yang sepi itu.
Di sisi lain, Aline merasa ketakutan saat supir taksi itu semakin mendekati dirinya seraya melepaskan pakaiannya. Sekarang hanya celana boxer saja yang di pakai supir taksi itu.
"Jangan mendekat! Aku akan menendang mu jika kamu berani mendekat!" ancam Aline seraya memegang sling bag-nya.
"Bugh"
"Bugh"
"Bugh"
"Gadis liar!" umpat supir taksi itu ketika Aline memukulnya dengan sling bag.
"Brukk"
"Akkhh!" Aline jatuh terlentang di kursi penumpang saat supir taksi itu mendorong tubuhnya.
"Jangan! Lepaskan! Dasar brengseek!" umpat Aline yang berusaha membebaskan diri dari supir taksi itu saat supir taksi itu berusaha memegang tangannya.
"Akkhh! Kamu! Akhh! Dasar gadis liar!" umpat supir taksi itu yang mendapatkan cakaran bertubi-tubi dari Aline.
"Pergi kamu brengseek!" pekik Aline berusaha bangkit, tapi lagi dan lagi Aline di dorong supir taksi itu.
"Menurut lah! Agar kita bisa menikmati indahnya surga dunia bersama-sama gadis cantik," ucap supir taksi itu tersenyum jahat berusaha menggagahi Aline.
"Tidak akan pernah!" pekik Aline.
"Akhh! Sialan! Kamu mencakar aku lagi!" pekik supir taksi itu yang sudah beberapa kali berhasil di cakar oleh Aline.
Tubuh Aline yang terlentang di kursi penumpang itu berusaha di kungkung sang supir taksi. Namun karena Aline melawan, supir taksi itu kesulitan menggagahi Aline.
"Lepaskan aku!" pekik Aline ketika kedua tangannya berhasil di cekal sang supir taksi.
Roni menghentikan mobilnya di belakang mobil yang berhenti di pinggir jalan. Saat Roni keluar dari mobilnya, Roni mendengar teriakan Aline dari mobil yang terparkir di pinggir jalan itu.
"Jangan mendekat! Brengseek! Lepaskan aku!" teriak Aline masih berusaha melawan.
Roni mencoba membuka pintu mobil itu, tapi ternyata di kunci dari dalam. Roni berjalan cepat menuju bagasi mobilnya dan mengambil kunci inggris.
"Pasti aku lepaskan kamu saat aku sudah puas menikmati tubuh mu yang molek ini," ucap supir taksi itu yang mulai mendekati Aline dengan tatapan mata ke arah bibir Aline.
"Ya, Tuhan! Tolong hamba-Mu ini. Hamba tidak mau kehilangan kesucian hamba. Hamba berjanji akan membuat orang yang menolong hamba bahagia dengan cara apapun," gumam Aline dalam hati yang sudah merasa putus asa.
"Pyarr"
Roni memecahkan kaca mobil bagian pengemudi dan membuka kunci pintu otomatis mobil itu.
Supir taksi yang berusaha melecehkan Aline dan Aline yang berusaha melepaskan diri dari supir taksi itu terkejut saat tiba-tiba kaca jendela mobil itu pecah.
Dua orang itu tidak mendengar suara mesin mobil Roni yang halus. Bahkan tidak melihat lampu mobil Roni karena si supir taksi sibuk ingin menggagahi Aline dan Aline sibuk melawan dan membebaskan diri dari supir taksi itu.
"Brengseek! Siapa yang berani menganggu kesenangan ku!" umpat supir taksi itu yang baru saja ingin mencium Aline.
"Klek"
"Bugh"
"Akkhh!"
Roni membuka pintu mobil itu dan langsung memberikan bogeman mentah pada kepala supir taksi yang ingin menggagahi Aline itu. Hingga supir taksi itu melepaskan kedua tangan Aline.
Dengan kasar Roni menarik rambut supir yang mengungkung Aline membelakangi dirinya itu.
"Arghh..! Lepaskan!" pekik sang supir taksi.
"Brukk"
Supir taksi itu mengerang kesakitan dan terjatuh dari dalam mobil karena terus di tarik Roni. Kepala supir taksi itu membentur aspal dengan kuat.
"Bugh"
"Bugh"
"Bugh"
Roni menendang dan menginjak tubuh supir taksi itu tanpa ampun. Sedangkan supir taksi itu tidak sempat menghindar, apalagi posisinya terlentang di aspal dengan kepala yang terasa sangat sakit karena terbentur aspal. Hingga dengan mudah Roni menendang dan menginjak supir taksi itu.
Aline yang keluar dari mobil itu nampak geram melihat supir taksi yang hampir saja melecehkan dirinya itu.
Aline menghampiri supir taksi itu dan bermaksud ingin menghajar supir taksi itu. Roni menendang kepala dan menginjak dada supir taksi itu. Aline menatap ke arah bagian bawah tubuh supir taksi itu.
"Akkhh! Akkhh! Ampun! Jangan! Ampun!" pekik supir taksi itu.
Aline menendang dan menginjak pusaka kebanggaan pria itu dengan brutal. Pusaka yang hendak di pakainya untuk mengambil kesucian Aline.
Namun Aline tidak memedulikan rintihan supir taksi itu. Aline benar-benar sangat marah dan dendam pada supir taksi itu. Bahkan saat supir taksi itu mencoba melindungi benda pusaka nya yang amat berharga itu dengan kedua tangannya, Aline tetap menendang dan menginjak benda itu
"Karena ini, 'kan, kamu memiliki niat jahat? Ini, 'kan, yang menjadi kebanggaan mu! Akan aku buat dia rusak agar kamu tidak bisa merusak wanita manapun di dunia ini. Dasar bajingan! Brengseek! Aku tidak akan berhenti menendangnya hingga benda kebanggaan mu ini tidak bisa di gunakan lagi!" ucap Aline penuh emosi.
Aline tidak memedulikan erangan, rintihan dan teriakan supir taksi itu. Aline benar-benar merasa sangat marah dan dendam pada supir taksi itu.
Sedangkan Roni nampak meringis melihat kebrutalan Aline yang terus menendang dan menginjak benda pusaka supir taksi itu. Roni berhenti menendang dan menginjak supir taksi itu.
"Su..su..sudah! Ka..ka..kamu bisa..me..mem.. membunuh di..di..dia!" ucap Roni seraya menarik tangan Aline agar menjauh dari supir taksi yang sudah tidak sadarkan diri itu.
"Biarkan aku menendang dan menginjaknya! Akan aku rusakkan benda kebanggaannya yang dia gunakan untuk merusak wanita itu. Agar dia tidak lagi bisa melecehkan wanita," ucap Aline yang masih berusaha menendang dan menginjak supir taksi itu.
"Cu..cu.. cukup!" sergah Roni membuat Aline berhenti meronta dari pegangan Roni.
Roni membuka pintu mobilnya dan mendorong Aline masuk ke dalam mobil. Pemuda itu menulis pesan dengan cepat di handphonenya dan mengirimnya pada anak buahnya. Roni kemudian masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya. Berkali-kali pemuda itu membuang napas kasar.
"Gadis ini! Jika aku tidak datang tepat waktu, entah apa yang akan terjadi padanya. Bagaimana aku harus bertanggung jawab pada ayah dan ibu. Aku akan di cap sebagai menantu yang tidak amanah dan tidak becus menjaga serta melindungi adik iparku. Sepertinya aku harus menempatkan seseorang untuk mengawasi gadis ini,"
"Aku tidak mau kecolongan lagi. Aku belum mengecek, dari mana sebenarnya gadis ini. Dia mengatakan pada Vivi dia pergi ke toko buku, nyatanya malah berada di daerah yang jauh dari toko buku itu," gumam Roni dalam hati terlihat kesal.
Pemuda itu fokus mengemudi. Enggan menatap, apalagi mengajak Aline bicara. Roni merasa kecewa pada Aline, karena telah membohongi istrinya.
Tenggorokan Aline terasa kering setelah berteriak dan mencoba membebaskan diri dari supir taksi tadi. Belum lagi, tadi dirinya sudah sekuat tenaga menendang dan menginjak supir taksi tadi. Aline menatap minuman dalam kemasan botol yang ada di dashboard mobil. Minuman instan rasa jeruk yang nampak menggiurkan di saat sedang kehausan.
Aline melirik Roni yang nampak fokus mengemudi, lalu melirik botol minuman instan yang di letakkan Roni di dashboard mobilnya itu. Perlahan Aline mengulurkan tangannya untuk mengambil botol minuman rasa jeruk itu.
"Tap"
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Patrish
walaahhhh... salah sasaran.....
2024-01-30
5
ande
ahhh kenapa harus aline yg meminum🙃🙃🙃🙃
2024-01-07
2
Anonim
Aline ini orangnya tidak tahu sopan santun
2024-01-03
2