Aline duduk di sebuah kafe bersama seorang pemuda tampan. Pemuda yang merupakan kekasih Aline.
"Lin, sudah satu tahun kita pacaran. Masa cuma pegang-pegangan doang?" protes Rafan.
"Terus, maunya apa?" tanya Aline tersenyum tipis.
"Minimal cium kening dan pelukan. Masa cuma gandengan. Kita, 'kan, bukan truk,"sahut Rafan menghela napas panjang.
"Minimal? Minimalnya kayak gitu. Gimana maksimalnya? Habis minta pegang tangan, minta cium kening. Habis cium kening, nanti minta cium pipi, terus cium bibir dan terus-terus yang lebih lagi. Aku tidak mau pacaran seperti itu. Kalau kebablasan, terus hamil duluan, nanti kamu banyak alasan untuk menolak menikahi aku. Amit-amit! Aku nggak mau!"
"Kalau sudah tunangan, boleh cium kening dan pipi. Kalau mau cium bibir dan seterusnya, harus ada surat nikah dulu. Kalau kamu tidak suka dengan gaya berpacaran ku, kamu boleh, kok, mutusin aku. Toh, aku juga nggak rugi apapun," sahut Aline yang tetap memegang prinsipnya.
Aline tidak mau hamil di luar nikah seperti kakaknya yang berakhir menjadi istri pria gagap. Gadis itu nampak menghela napas panjang.
Vivi pun sebenarnya memegang prinsip yang sama dengan Aline. Karena ayah dan ibu mereka lah yang mengajarkannya. Namun, nyatanya segelas minuman beralkohol dalam sebuah game di pesta ulang tahun membuat Vivi mabuk, hingga akhirnya Vivi kehilangan kesuciannya.
Rafan menghela napas panjang mendengar jawaban Aline. Apa kamu belum pernah berciuman?" tanya Rafan mengernyitkan keningnya menatap Aline.
"Tentu saja tidak. Semua mantan pacar ku aku putuskan karena memaksa untuk mencium aku. Aku akan mempersembahkan ciuman pertama ku hanya untuk suamiku," sahut Aline penuh keyakinan,"oh, ya, aku harus pulang sekarang,"ujar Aline setelah melihat jam di handphonenya.
"Aku akan mengantarmu dekat pos ronda seperti biasanya," ujar Rafan seraya bangkit dari duduknya.
"Hum," sahut Aline yang segera beranjak dari duduknya setelah mengemasi semua barang-barangnya.
Rafan mengantarkan Aline menggunakan mobilnya. Sesekali Rafan menatap Aline saat mereka sedang berbicara.
"Gadis ini benar-benar memegang prinsipnya. Tapi, aku suka. Karena itu aku masih tetap bertahan dengan dia hingga saat ini," gumam Rafan dalam hati.
Baru beberapa menit Rafan melajukan mobilnya, namun Rafan merasa semakin lama mobilnya semakin terasa berat, stabilitas berkurang, daya pengereman juga kurang. Bahkan mobil yang dikendarainya terkadang mengarah ke satu arah atau tidak lurus.
Rafan yang sudah fasih mengemudi itupun menepikan mobilnya. Tanpa melihatnya pun, Rafan sudah tahu kalau ban mobilnya kempis.
"Ada apa, Fan? Kenapa berhenti di sini?" tanya Aline menatap Rafan.
"Aku rasa, ban mobil ku kempis, Lin," sahut Rafan seraya membuka sabuk pengamannya.
Melihat Rafan turun, Aline pun ikut turun. Aline melihat ban mobil Rafan memang kempis. Walaupun sepertinya anginnya belum habis semuanya.
"Sepertinya ban mobilku bocor. Tadi, pas di kafe nggak kayak gini. Kamu pulang naik taksi aja, ya,, Lin? Kalau nunggu mobil ini ganti ban, kamu akan pulang kemalaman. Soalnya aku nggak bawa ban cadangan, sebab kemarin ban mobil ku juga kempis karena tertusuk paku," ujar Rafan yang tidak punya pilihan lain. Pemuda itu nampak membuang napas kasar.
"Ya, sudah. Nggak apa-apa. Aku akan naik taksi online saja," ujar Aline langsung mengambil handphonenya dari sling bag-nya untuk mencari taksi online.
Sedangkan Rafan langsung menghubungi bengkel mobil terdekat. Pemuda itu sebenarnya tidak tenang jika Aline pulang sendirian.
Agak lama Aline baru mendapatkan taksi online. Aline bergegas masuk ke dalam taksi, karena malam sudah semakin larut. Aline takut kakaknya marah karena dirinya pulang terlalu larut.
Rafan hanya bisa menatap taksi online yang membawa Aline seraya menghela napas panjang.
Sedangkan Aline yang sudah berada di dalam taksi nampak kembali mengeluarkan handphone dari sling bag-nya.
"Aku harap kak Vivi tidak marah. Tadi aku bilang pukul delapan lewat tiga puluh menit sudah sampai rumah. Tapi sekarang saja sudah pukul delapan lewat empat puluh menit dan aku belum pulang. Kalau ibu dan ayah tahu, aku bakal mendapatkan ceramah online semalaman," gumam Aline dalam hati seraya menghubungi kakaknya.
"Halo, kak! Kak, aku pulang agak terlambat. Tadi ban mobil taksi yang aku tumpangi tiba-tiba bocor. Jadi, aku harus mencari taksi lain. Ini baru naik taksi lagi," ucap Aline setelah Vivi menerima panggilan teleponnya.
"Ya sudah, hati-hati!" ucap Vivi dalam sambungan telepon.
"Iya," sahut Aline bernapas lega.
Aline kembali memasukkan handphonenya ke dalam sling bag-nya. Gadis itu menatap ke arah kanan dan kiri jalan.
"Pak, bisa cepat sedikit tidak?" tanya Aline yang melihat supir taksi itu seperti enggan menyalip kendaraan-kendaraan di depan mereka.
"Kalau mau ngebut, lewat jalan alternatif lain, Non. Kalau lewat jalan ini terlalu berbahaya, jika berkendara ngebut," sahut sang supir seraya melirik Aline dari kaca dasbor dalam mobilnya.
"Ya sudah, pak, lewat jalan alternatif lain saja. Yang melewati daerah pertanian itu, 'kan?" tanya Aline setelah melihat google map.
"Iya, Non," sahut supir taksi itu.
"Ya sudah, lewat situ saja, pak. Di situ sepi, 'kan, jalannya? Kalau ngebut, pasti bisa lebih cepat sampai. Nanti saya tambah ongkos buat ngebut nya, pak," pinta Aline membujuk supir taksi itu, karena tidak ingin terlambat sampai di rumah.
"Siap, Non," sahut supir taksi itu tersenyum miring tanpa di sadari oleh Aline.
Sesekali supir taksi itu melirik Aline dari kaca dasbor mobilnya. Melihat Aline yang nampak cemas.
Aline lupa kalau tadi pamit pergi ke toko buku. Perjalanan normal dari toko buku menuju rumahnya, seharusnya paling lama sekitar setengah jam, jika macet. Sedangkan lokasi Aline saat ini, jika di lihat dari google map masih hampir satu jam lagi baru tiba di rumah. Aline akan ketahuan, telah berbohong pergi ke toko buku.
Kalau melewati daerah pertanian yang jalannya sepi itu, maka Aline bisa sampai di rumah lebih cepat. Asalkan taksi yang di kendarainya melaju dengan kecepatan di atas rata-rata.
"Semoga saja tidak terlalu terlambat sampai di rumah," gumam Aline dalam hati.
Aline melihat jalanan yang dilewatinya. Sesekali Aline melihat jam di layar handphonenya. Tak lama kemudian, taksi online yang di tumpangi Aline pun berbelok ke jalan alternatif seperti yang di minta Aline.
"Ngebut pak! Jangan khawatir! Saya pasti akan memberikan uang tambahan buat ngebut," ujar Aline lagi.
"Okey, siap, Non," sahut supir taksi itu kembali tersenyum miring.
Supir taksi itupun menginjak pedal gas mobilnya lebih dalam. Hingga mobil itu melaju dengan kencang. Suasana di kanan dan kiri jalan itu terlihat sepi. Hanya ada tanaman sayuran, buah-buahan, bunga, dan beberapa kandang peternakan. Bisa di pastikan di sekitar daerah itu tidak terlalu banyak orang. Mungkin hanya beberapa orang yang menjaga kandang ternak.
Saat mereka melewati perkebunan buah-buahan, tiba-tiba supir taksi itu mengurangi laju kendaraannya.
"Pak, kenapa melambat?" tanya Aline yang tiba-tiba saja menjadi was-was.
Supir taksi itu tidak menjawab dan malah menepikan mobilnya. Aline jadi semakin was-was dengan situasi saat ini. Apalagi saat supir taksi itu menoleh padanya.
"Kita istirahat di sini dulu, Nona cantik. Tempat ini terlihat indah dengan cahaya bulan dan bintang yang bersinar terang. Udaranya juga sejuk. Jauh dari polisi udara. Bagaimana jika kita bercinta di sini? Pasti akan sangat indah," ucap supir taksi yang wajahnya tidak terlalu terlihat, karena lampu dalam mobil tidak dinyalakannya.
Supir taksi itu sudah melihat betapa cantiknya Aline sebelum Aline masuk ke dalam taksinya. Niat jahat sudah muncul di dalam otak supir taksi itu saat melihat wajah Aline yang cantik dan tubuh Aline yang molek. Kaos rajut lengan panjang ketat yang di padu dengan celana jins yang dikenakan Aline begitu menonjolkan bentuk tubuh Aline yang terlihat padat dan berisi.
Hal itu membuat otak mesum sang supir taksi menjadi traveling. Apalagi saat Aline meminta dirinya melewati jalan yang sepi, niat jahat supir taksi itupun semakin kuat.
"Jangan macam-macam! Kakak iparku bekerja di perusahaan besar di negeri ini sebagai asisten CEO. Jika kamu macam-macam, kamu akan mendekam di penjara!" ancam Aline asal.
Saat ini Aline benar-benar bingung harus bagaimana. Lokasi tempat dirinya berada saat ini jauh dari keramaian. Rumah penduduk pun tidak ada. Turun dari mobil tidak tahu harus kemana dan tidak bisa menjamin dirinya bisa aman. Sedangkan jika bertahan dalam mobil juga tidak aman.
"Kamu pikir aku takut dengan ancaman kosong mu itu?" tanya supir taksi itu seraya melepaskan pakaiannya.
"Jangan macam-macam!" sergah Aline berusaha membuka pintu dan kaca mobil itu. Tapi sayangnya, pintu dan kaca mobil itu semuanya terkunci.
"Aku hanya ingin satu macam saja," ujar supir taksi itu tersenyum jahat.
"Jangan! Jangan mendekat!"
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Mamah Memey
mampus tu alien makanya jgn sobong jadi orang
2024-09-08
1
雅婷郭
rasain mknya JD org jg sombong jg suka ngebantah ucpn org yg LBH tua
2024-07-21
1
Susetiyanti RoroSuli
wuah deh deg an aku thor ,ini yg aku suka dari cerita yg mbak Nana susun , entah ada kejutan apa lagi ini , aku jadi semakin penasaran , lanjut Thor
2024-01-13
6