16. Bahan Tertawaan

Ruslan dan Nuri telah berangkat ke luar negeri. Roni memutuskan memperkerjakan seorang wanita paruh baya untuk membersihkan rumah dan memasak. Karena dirinya dan Vivi sama-sama bekerja. Sedangkan Aline sibuk dengan kuliahnya.

Tidak ada kedua orang tuanya, Aline nampak enggan berinteraksi dengan Roni. Gadis itu bahkan tidak mau makan bersama Roni dan Vivi. Walaupun sudah beberapa kali Vivi mengajak Aline makan bersama, gadis itu tetap saja tidak mau keluar dari kamarnya.

"Kak, maaf! Aline memang keras kepala dan sulit di nasehati. Tapi, sebenarnya dia gadis yang baik," ujar Vivi setelah mereka selesai makan malam dan masuk ke dalam kamar mereka.

"Tidak apa-apa. Mungkin, dia tidak terima. Karena kakaknya yang cantik malah menikah dengan pria gagap seperti aku," ucap Roni dalam bahasa isyarat tersenyum kecut.

"Kakak kenapa bicara seperti itu? Aku yang terlalu beruntung karena mendapatkan suami seperti kakak. Aku..sebagai seorang wanita memiliki banyak kekurangan dan bahkan aku bisa dibilang wanita yang telah rusak. Tapi,.kakak mau menerima aku yang sudah rusak ini," ucap Vivi tertunduk.

Roni memegang dagu Vivi dengan jari telunjuk dan jari jempolnya. Mengarahkan Vivi untuk menatapnya.

"Jangan bicara seperti itu. Aku merasa beruntung bisa menikah dengan mu," ucap Roni dalam bahasa isyarat tersenyum lembut pada Vivi.

"Greb"

Vivi tiba-tiba memeluk Roni. Sungguh, Vivi merasa beruntung dan sama sekali tidak menyesal karena telah menikah dengan Roni. Vivi malah menyesal karena tidak dari dulu bertemu dengan Roni. Sedangkan Roni tersenyum tipis membalas pelukan Vivi.

Beberapa saat kemudian, Roni melerai pelukannya. Pemuda itu merapikan rambut Vivi dan menyelipkan anak rambut Vivi di telinga Vivi.

"Tidurlah lebih dulu! Ada pekerjaan yang harus aku selesai," ucap Roni membuat Vivi agak sedikit kecewa. Namun Vivi tetap menurut pada Roni.

Selama satu minggu berbulan madu, pekerjaan Roni agak menumpuk. Karena ada beberapa pekerjaannya yang tidak bisa diserahkannya pada orang lain. Roni kembali bekerja dengan laptopnya. Vivi yang menunggu Roni menyelesaikan pekerjaan akhirnya tertidur karena terlalu lama menunggu Roni menyelesaikan pekerjaannya.

*

Hari ini Roni berkumpul dengan atasnya, dan juga para sahabatnya. Membahas proyek yang akan mereka jalankan bersama.

"Apa kamu yakin, kali ini kita akan mendapatkan keuntungan yang besar seperti sebelumnya, Ray?" tanya Aiden pada Rayyan, sahabat sekaligus adik iparnya.

"Aku yakin. Aku dan Andi sudah mengecek semuanya dengan detail," sahut Rayyan nampak sangat yakin.

"Iya, Tuan. Saya dan Tuan Rayyan sudah mengecek semuanya dan saya yakin, kita akan mendapatkan keuntungan lebih banyak dari sebelumnya," sahut Andi yang juga penuh keyakinan.

"Setelah menikah, rem di mulut mu sepertinya lebih berfungsi, Ndi," ejek Aiden pada Andi.

Andi adalah asisten Rayyan yang juga merupakan sahabat Aiden. Andi adalah pemuda yang biasanya mulutnya suka ceplas-ceplos jika bicara.

"Saya harus menjaga hati istri saya, Tuan. Kalau saya salah bicara, saya terancam nggak dapat jatah. Rugi, Tuan," sahut Andi yang wajahnya terlihat semakin bahagia semenjak menikah.

"Huhh . Ternyata itu yang ada di dalam otakmu," cibir Rayyan kemudian menatap Roni yang hanya diam mendengarkan mereka bicara.

"Kamu gimana, Ron? Semenjak menikah, Andi sudah lumayan bisa mengerem mulutnya yang ceplas-ceplos tanpa filter itu. Bagaimana dengan gagap mu itu? Ada yang mau menikah dengan kamu dengan kondisi bicara mu yang gagap itu. Jika dia benar-benar tulus sama kamu, apa kamu masih belum punya keinginan untuk mengobati gagap mu itu?"

"Kalau kamu punya anak, bagaimana nanti kamu mengajari anakmu bicara? Sedangkan kamu masih gagap seperti itu. Walaupun kamu dan istri mu bisa bicara dengan lancar menggunakan bahas isyarat, tapi tetap saja akan lebih baik jika bicara secara langsung," ujar Rayyan menghela napas panjang.

"Benar yang di katakan Rayyan, kamu harus mengobati gagap mu demi anakmu nanti, Ron. Minta Fina untuk mencarikan dokter patologi wicara-bahasa untuk menyembuhkan gagap mu itu. Tidak semua dokter patologi wicara-bahasa itu tidak benar, Ron," sahut Aiden.

"I..i..iya, Tuan," sahut Roni menghela napas panjang.

"Mungkin saja gagapnya bisa hilang sendiri jika sudah merasakan surga dunia, Tuan," celetuk Andi kemudian terkekeh.

"Plak"

"Auwh" pekik Andi karena kepalanya di pukul Roni.

"Be .be.. berisik!" sergah Roni yang jadi kesal pada Andi sekaligus malu karena perkataan Andi yang mulai ceplas-ceplos itu.

"Apa maksud mu, Ndi?" tanya Aiden memicingkan sebelah matanya menatap Andi dan Roni secara bergantian.

"Sampai kemarin, Roni masih perjaka.. emm.."

Andi tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba Roni membekap mulutnya.

"Le..le..lebih baik..ka..ka..kamu makan sa..saja," ucap Roni lalu membuka bekapannya di mulut Andi, dan menyumpal mulut Andi dengan cake dari atas meja.

"Apa?! Roni masih perjaka?!" tanya Rayyan terkejut, namun sesaat kemudian tertawa setelah Andi yang mulutnya penuh dengan cake itu mengangguk sebagai jawaban.

Sedangkan Roni memalingkan wajahnya dan terlihat malu.

"Haishh si Andi ini! Mulutnya ini memang nggak punya rem. Nggak ada filter. Bikin malu saja," gerutu Roni dalam hati.

"Jadi, selama berbulan madu, kamu belum pernah menyentuh istri mu, Ron? Istri cantik dan bohai gitu, kok, di anggurin. Di gebet orang baru tau rasa kamu, Ron!" sahut Rayyan tersenyum miris seraya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.

"Jangan-jangan, ular cobra kamu tidak bisa berdiri, Ron?" tanya Aiden memicingkan sebelah matanya menatap ke arah pangkal paha Roni curiga.

"Ma..ma.."

"Plak"

"Mana ada ular cobra saya normal dan bisa berdiri kok," ucap Roni cepat tanpa titik dan koma setelah di tepuk Andi, langsung menutup ular kobra nya dengan kedua tangannya.

"Jangan-jangan, kamu di tolak istri mu karena tidak bisa merayu untuk meminta jatah," cetus Andi kemudian terkekeh.

"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana Roni mendesahh dengan suara gagapnya itu. Mungkin seperti ini, a..a..a..ahhh,"ucap Aiden dengan penuh penghayatan suara dan ekspresi yang menjiwai.

Kelakuan Aiden itu tentu saja membuat Rayyan dan Andi tertawa terbahak-bahak memegangi perut mereka.

Sedangkan Roni terlihat berwajah masam karena menjadi bulan-bulanan bahan tertawaan para sahabatnya itu.

"Sudah! Sudah! Jangan membuat Roni kesal. Istri kita sedang pada mengandung. Ntar, kalau di kutuk Roni jadi gagap, 'kan berabe," ujar Rayyan mencoba berhenti tertawa.

"Tuan, kalian bahas dulu masalah keamanan data perusahaan dengan Roni. Saya ingin mencari minuman dulu,"ujar Andi.

"Suruh saja office boy untuk membelinya," ujar Aiden.

"Saya belum tahu pasti ingin minum minuman apa, Tuan. Saya lihat-lihat dulu," sahut Andi.

"Belikan aku minuman elektrolit, Ndi!" pinta Rayyan.

"Iya, Tuan," sahut Andi kemudian keluar dari ruangan itu.

Aiden, Rayyan dan Roni mulai membahas keamanan data perusahaan. Roni yang memang ahli di bidang IT pun menjelaskan fitur keamanan baru yang sudah di buatnya dengan bantuan Melda, sekretaris Aiden yang pintar memakai bahasa isyarat.

Tak lama kemudian, Andi sudah kembali dan bergabung dengan mereka. Lima orang itu terlihat serius hingga akhirnya mereka menyudahi pembahasan mereka soal keamanan data perusahaan.

"Aku rasa, data perusahaan kita akan semakin aman jika sistemnya di buat seperti ini. Aturlah semuanya secepat mungkin, Ron. Walaupun sekarang perusahaan kita dan perusahaan Rayyan aman dan tidak ada yang bisa membobol data perusahaan kita dan perusahaan Rayyan, tapi kita harus tetap berjaga-jaga," ujar Aiden yang selalu waspada.

"Benar, kak. Zaman semakin maju, teknologi berkembang pesat, dan banyak orang-orang cerdas yang tidak semuanya menggunakan kecerdasan mereka untuk berbuat baik. Banyak di antaranya yang menggunakan kecerdasan mereka untuk berbuat jahat. Bahkan merampok secara online,"ujar Rayyan kemudian meminum minuman yang di berikan oleh Andi.

"Benar kata Tuan Rayyan, cyber crime sekarang ini sangat berbahaya. Sudah banyak yang menjadi korban cyber crime ini. Sangat penting bagi kita untuk terus memperbaharui sistem keamanan data perusahaan kita," sahut Andi serius.

Cyber crime atau kejahatan cyber adalah suatu tindakan kejahatan yang berkaitan dengan komputer maupun perangkat jaringan, biasanya kejahatan ini dilakukan secara online.

"Sudah malam. Aku rasa tidak ada yang perlu di bahas lagi. Kita pulang," ajak Aiden yang mulai mengemasi barang-barangnya.

Akhirnya mereka semua pun bubar dan menuju ke kendaraan mereka masing-masing. Andi nampak menghampiri Roni.

"Ron, ini!" ucap Andi seraya melemparkan sebuah botol minuman instan rasa jeruk.

"Te..te.. terimakasih," ucap Roni menangkap botol yang di lempar Andi.

Andi memakai helmnya dan menaiki motornya, kemudian menoleh pada Roni.

"Selamat bersenang-senang!"ucap Andi mengedipkan sebelah matanya, kemudian menutup helm full face-nya dan melajukan motornya dengan senyuman miring di bibirnya. Entah apa yang ada di otak pintar sekaligus licik pemuda itu.

Roni mengernyitkan keningnya mendengar apa yang di katakan oleh Andi, namun akhirnya menggeleng pelan dan melajukan mobilnya ke arah rumah mertuanya.

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

Patrish

Patrish

curiga aku... curiga... pasti Andi ngerjani Roni nih.... siapsiap Vivi... 😆😆

2024-01-30

7

matha jannah

matha jannah

ngakak ngebayangin ekspresi Aiden yang membayangkan Ròni mendesah gagap 🤣🤣

2024-01-28

2

nila alhidayah09

nila alhidayah09

ngakak pas baca Aiden menirukan Roni🤣🤣😂😂😂

2024-01-09

1

lihat semua
Episodes
1 1. Menyelamatkan
2 2. Kamu Serius?
3 3. Kebetulan
4 4. Setuju
5 5. Kamu Gagap?
6 6. Kenapa?
7 7. Restu
8 8. Terlalu Baik
9 9. Apa Jijik?
10 10. Nyaman
11 11. Yang Sempurna
12 12. Hak
13 13. Terimakasih
14 14. Trauma
15 15. Ingin Lagi
16 16. Bahan Tertawaan
17 17. Berbohong
18 18. Brutal
19 19. Mencemari
20 20. Tidak Terima
21 21. Merasa Curiga
22 22. Seandainya
23 23. Sudah Puas
24 24. Amputasi
25 25. Menguping
26 26. Berhak
27 27. Ingin Tahu
28 28. Koma
29 29. Bisakah?
30 30. Solusi Untuk Roni
31 31. Tidak Mirip
32 32. Jangan Egois!
33 33. Di Usir
34 34. Demi Giyan
35 35. Memata-matai
36 36. Tertohok
37 37. Pergi
38 38. Hancur
39 39. Putus
40 40. Tidak Terima
41 41. Sudah Menikah
42 42. Kesempatan
43 43. Apa Yang Salah?
44 44. Mengikhlaskan
45 45. Belum Berhasil
46 46. Dingin
47 47. Ingin Mengambil
48 48. Tes DNA
49 49. Saran
50 50. Kembalilah!
51 51. Bagaimana Caranya?
52 52. Kesempatan
53 53. Suhu Bicara
54 54. Mana Mungkin Berani?
55 55. Malu
56 56. Harapan
57 57. Harus Bagaimana?
58 58. Jangan Menyesal
59 59. Latihan Ganda
60 60. Ingin Apa?
61 61. Refleks
62 62. Itu Dulu
63 63. Benar-benar Melupakan?
64 64. Kesiangan
65 65. Agresif
66 66. Ujian
67 67. Cemburu?
68 68. Wejangan
69 69. Rencana
70 70. Siapa Yang Majikan?
71 71. Jika
72 72. Korban
73 73. Me Time
74 74. Tidak Yakin
75 75. Salah Orang
76 76. Merasa Bersalah
77 77.Membujuk
78 78. Salah
79 79. Tiba-tiba
80 80. Di Salah Artikan
81 81. Perlakuan Berbeda
82 82. Curiga.
83 83. Mencelos
84 84. Merasa Janggal
85 85. Tidak Marah?
86 86. Penyebab Utama
87 87. Siapa?
88 88. Bersimpuh
89 89. Keras Kepala
90 90. Ketakutan
91 91. Bukan!
92 92. FYI
93 93. Maaf
94 94. Tidak Menyadari
95 95. Mengikhlaskan
96 96. Nenek Giyan
97 97. Ingin Mengambil?
98 98. Malas Meladeni
99 99. Merasa Paling Benar
100 100. Memaafkan
101 101. Biarlah Aku Saja
102 102. Kabar
103 103. Aku Mencintaimu
Episodes

Updated 103 Episodes

1
1. Menyelamatkan
2
2. Kamu Serius?
3
3. Kebetulan
4
4. Setuju
5
5. Kamu Gagap?
6
6. Kenapa?
7
7. Restu
8
8. Terlalu Baik
9
9. Apa Jijik?
10
10. Nyaman
11
11. Yang Sempurna
12
12. Hak
13
13. Terimakasih
14
14. Trauma
15
15. Ingin Lagi
16
16. Bahan Tertawaan
17
17. Berbohong
18
18. Brutal
19
19. Mencemari
20
20. Tidak Terima
21
21. Merasa Curiga
22
22. Seandainya
23
23. Sudah Puas
24
24. Amputasi
25
25. Menguping
26
26. Berhak
27
27. Ingin Tahu
28
28. Koma
29
29. Bisakah?
30
30. Solusi Untuk Roni
31
31. Tidak Mirip
32
32. Jangan Egois!
33
33. Di Usir
34
34. Demi Giyan
35
35. Memata-matai
36
36. Tertohok
37
37. Pergi
38
38. Hancur
39
39. Putus
40
40. Tidak Terima
41
41. Sudah Menikah
42
42. Kesempatan
43
43. Apa Yang Salah?
44
44. Mengikhlaskan
45
45. Belum Berhasil
46
46. Dingin
47
47. Ingin Mengambil
48
48. Tes DNA
49
49. Saran
50
50. Kembalilah!
51
51. Bagaimana Caranya?
52
52. Kesempatan
53
53. Suhu Bicara
54
54. Mana Mungkin Berani?
55
55. Malu
56
56. Harapan
57
57. Harus Bagaimana?
58
58. Jangan Menyesal
59
59. Latihan Ganda
60
60. Ingin Apa?
61
61. Refleks
62
62. Itu Dulu
63
63. Benar-benar Melupakan?
64
64. Kesiangan
65
65. Agresif
66
66. Ujian
67
67. Cemburu?
68
68. Wejangan
69
69. Rencana
70
70. Siapa Yang Majikan?
71
71. Jika
72
72. Korban
73
73. Me Time
74
74. Tidak Yakin
75
75. Salah Orang
76
76. Merasa Bersalah
77
77.Membujuk
78
78. Salah
79
79. Tiba-tiba
80
80. Di Salah Artikan
81
81. Perlakuan Berbeda
82
82. Curiga.
83
83. Mencelos
84
84. Merasa Janggal
85
85. Tidak Marah?
86
86. Penyebab Utama
87
87. Siapa?
88
88. Bersimpuh
89
89. Keras Kepala
90
90. Ketakutan
91
91. Bukan!
92
92. FYI
93
93. Maaf
94
94. Tidak Menyadari
95
95. Mengikhlaskan
96
96. Nenek Giyan
97
97. Ingin Mengambil?
98
98. Malas Meladeni
99
99. Merasa Paling Benar
100
100. Memaafkan
101
101. Biarlah Aku Saja
102
102. Kabar
103
103. Aku Mencintaimu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!