Ruslan dan Nuri telah berangkat ke luar negeri. Roni memutuskan memperkerjakan seorang wanita paruh baya untuk membersihkan rumah dan memasak. Karena dirinya dan Vivi sama-sama bekerja. Sedangkan Aline sibuk dengan kuliahnya.
Tidak ada kedua orang tuanya, Aline nampak enggan berinteraksi dengan Roni. Gadis itu bahkan tidak mau makan bersama Roni dan Vivi. Walaupun sudah beberapa kali Vivi mengajak Aline makan bersama, gadis itu tetap saja tidak mau keluar dari kamarnya.
"Kak, maaf! Aline memang keras kepala dan sulit di nasehati. Tapi, sebenarnya dia gadis yang baik," ujar Vivi setelah mereka selesai makan malam dan masuk ke dalam kamar mereka.
"Tidak apa-apa. Mungkin, dia tidak terima. Karena kakaknya yang cantik malah menikah dengan pria gagap seperti aku," ucap Roni dalam bahasa isyarat tersenyum kecut.
"Kakak kenapa bicara seperti itu? Aku yang terlalu beruntung karena mendapatkan suami seperti kakak. Aku..sebagai seorang wanita memiliki banyak kekurangan dan bahkan aku bisa dibilang wanita yang telah rusak. Tapi,.kakak mau menerima aku yang sudah rusak ini," ucap Vivi tertunduk.
Roni memegang dagu Vivi dengan jari telunjuk dan jari jempolnya. Mengarahkan Vivi untuk menatapnya.
"Jangan bicara seperti itu. Aku merasa beruntung bisa menikah dengan mu," ucap Roni dalam bahasa isyarat tersenyum lembut pada Vivi.
"Greb"
Vivi tiba-tiba memeluk Roni. Sungguh, Vivi merasa beruntung dan sama sekali tidak menyesal karena telah menikah dengan Roni. Vivi malah menyesal karena tidak dari dulu bertemu dengan Roni. Sedangkan Roni tersenyum tipis membalas pelukan Vivi.
Beberapa saat kemudian, Roni melerai pelukannya. Pemuda itu merapikan rambut Vivi dan menyelipkan anak rambut Vivi di telinga Vivi.
"Tidurlah lebih dulu! Ada pekerjaan yang harus aku selesai," ucap Roni membuat Vivi agak sedikit kecewa. Namun Vivi tetap menurut pada Roni.
Selama satu minggu berbulan madu, pekerjaan Roni agak menumpuk. Karena ada beberapa pekerjaannya yang tidak bisa diserahkannya pada orang lain. Roni kembali bekerja dengan laptopnya. Vivi yang menunggu Roni menyelesaikan pekerjaan akhirnya tertidur karena terlalu lama menunggu Roni menyelesaikan pekerjaannya.
*
Hari ini Roni berkumpul dengan atasnya, dan juga para sahabatnya. Membahas proyek yang akan mereka jalankan bersama.
"Apa kamu yakin, kali ini kita akan mendapatkan keuntungan yang besar seperti sebelumnya, Ray?" tanya Aiden pada Rayyan, sahabat sekaligus adik iparnya.
"Aku yakin. Aku dan Andi sudah mengecek semuanya dengan detail," sahut Rayyan nampak sangat yakin.
"Iya, Tuan. Saya dan Tuan Rayyan sudah mengecek semuanya dan saya yakin, kita akan mendapatkan keuntungan lebih banyak dari sebelumnya," sahut Andi yang juga penuh keyakinan.
"Setelah menikah, rem di mulut mu sepertinya lebih berfungsi, Ndi," ejek Aiden pada Andi.
Andi adalah asisten Rayyan yang juga merupakan sahabat Aiden. Andi adalah pemuda yang biasanya mulutnya suka ceplas-ceplos jika bicara.
"Saya harus menjaga hati istri saya, Tuan. Kalau saya salah bicara, saya terancam nggak dapat jatah. Rugi, Tuan," sahut Andi yang wajahnya terlihat semakin bahagia semenjak menikah.
"Huhh . Ternyata itu yang ada di dalam otakmu," cibir Rayyan kemudian menatap Roni yang hanya diam mendengarkan mereka bicara.
"Kamu gimana, Ron? Semenjak menikah, Andi sudah lumayan bisa mengerem mulutnya yang ceplas-ceplos tanpa filter itu. Bagaimana dengan gagap mu itu? Ada yang mau menikah dengan kamu dengan kondisi bicara mu yang gagap itu. Jika dia benar-benar tulus sama kamu, apa kamu masih belum punya keinginan untuk mengobati gagap mu itu?"
"Kalau kamu punya anak, bagaimana nanti kamu mengajari anakmu bicara? Sedangkan kamu masih gagap seperti itu. Walaupun kamu dan istri mu bisa bicara dengan lancar menggunakan bahas isyarat, tapi tetap saja akan lebih baik jika bicara secara langsung," ujar Rayyan menghela napas panjang.
"Benar yang di katakan Rayyan, kamu harus mengobati gagap mu demi anakmu nanti, Ron. Minta Fina untuk mencarikan dokter patologi wicara-bahasa untuk menyembuhkan gagap mu itu. Tidak semua dokter patologi wicara-bahasa itu tidak benar, Ron," sahut Aiden.
"I..i..iya, Tuan," sahut Roni menghela napas panjang.
"Mungkin saja gagapnya bisa hilang sendiri jika sudah merasakan surga dunia, Tuan," celetuk Andi kemudian terkekeh.
"Plak"
"Auwh" pekik Andi karena kepalanya di pukul Roni.
"Be .be.. berisik!" sergah Roni yang jadi kesal pada Andi sekaligus malu karena perkataan Andi yang mulai ceplas-ceplos itu.
"Apa maksud mu, Ndi?" tanya Aiden memicingkan sebelah matanya menatap Andi dan Roni secara bergantian.
"Sampai kemarin, Roni masih perjaka.. emm.."
Andi tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba Roni membekap mulutnya.
"Le..le..lebih baik..ka..ka..kamu makan sa..saja," ucap Roni lalu membuka bekapannya di mulut Andi, dan menyumpal mulut Andi dengan cake dari atas meja.
"Apa?! Roni masih perjaka?!" tanya Rayyan terkejut, namun sesaat kemudian tertawa setelah Andi yang mulutnya penuh dengan cake itu mengangguk sebagai jawaban.
Sedangkan Roni memalingkan wajahnya dan terlihat malu.
"Haishh si Andi ini! Mulutnya ini memang nggak punya rem. Nggak ada filter. Bikin malu saja," gerutu Roni dalam hati.
"Jadi, selama berbulan madu, kamu belum pernah menyentuh istri mu, Ron? Istri cantik dan bohai gitu, kok, di anggurin. Di gebet orang baru tau rasa kamu, Ron!" sahut Rayyan tersenyum miris seraya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
"Jangan-jangan, ular cobra kamu tidak bisa berdiri, Ron?" tanya Aiden memicingkan sebelah matanya menatap ke arah pangkal paha Roni curiga.
"Ma..ma.."
"Plak"
"Mana ada ular cobra saya normal dan bisa berdiri kok," ucap Roni cepat tanpa titik dan koma setelah di tepuk Andi, langsung menutup ular kobra nya dengan kedua tangannya.
"Jangan-jangan, kamu di tolak istri mu karena tidak bisa merayu untuk meminta jatah," cetus Andi kemudian terkekeh.
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana Roni mendesahh dengan suara gagapnya itu. Mungkin seperti ini, a..a..a..ahhh,"ucap Aiden dengan penuh penghayatan suara dan ekspresi yang menjiwai.
Kelakuan Aiden itu tentu saja membuat Rayyan dan Andi tertawa terbahak-bahak memegangi perut mereka.
Sedangkan Roni terlihat berwajah masam karena menjadi bulan-bulanan bahan tertawaan para sahabatnya itu.
"Sudah! Sudah! Jangan membuat Roni kesal. Istri kita sedang pada mengandung. Ntar, kalau di kutuk Roni jadi gagap, 'kan berabe," ujar Rayyan mencoba berhenti tertawa.
"Tuan, kalian bahas dulu masalah keamanan data perusahaan dengan Roni. Saya ingin mencari minuman dulu,"ujar Andi.
"Suruh saja office boy untuk membelinya," ujar Aiden.
"Saya belum tahu pasti ingin minum minuman apa, Tuan. Saya lihat-lihat dulu," sahut Andi.
"Belikan aku minuman elektrolit, Ndi!" pinta Rayyan.
"Iya, Tuan," sahut Andi kemudian keluar dari ruangan itu.
Aiden, Rayyan dan Roni mulai membahas keamanan data perusahaan. Roni yang memang ahli di bidang IT pun menjelaskan fitur keamanan baru yang sudah di buatnya dengan bantuan Melda, sekretaris Aiden yang pintar memakai bahasa isyarat.
Tak lama kemudian, Andi sudah kembali dan bergabung dengan mereka. Lima orang itu terlihat serius hingga akhirnya mereka menyudahi pembahasan mereka soal keamanan data perusahaan.
"Aku rasa, data perusahaan kita akan semakin aman jika sistemnya di buat seperti ini. Aturlah semuanya secepat mungkin, Ron. Walaupun sekarang perusahaan kita dan perusahaan Rayyan aman dan tidak ada yang bisa membobol data perusahaan kita dan perusahaan Rayyan, tapi kita harus tetap berjaga-jaga," ujar Aiden yang selalu waspada.
"Benar, kak. Zaman semakin maju, teknologi berkembang pesat, dan banyak orang-orang cerdas yang tidak semuanya menggunakan kecerdasan mereka untuk berbuat baik. Banyak di antaranya yang menggunakan kecerdasan mereka untuk berbuat jahat. Bahkan merampok secara online,"ujar Rayyan kemudian meminum minuman yang di berikan oleh Andi.
"Benar kata Tuan Rayyan, cyber crime sekarang ini sangat berbahaya. Sudah banyak yang menjadi korban cyber crime ini. Sangat penting bagi kita untuk terus memperbaharui sistem keamanan data perusahaan kita," sahut Andi serius.
Cyber crime atau kejahatan cyber adalah suatu tindakan kejahatan yang berkaitan dengan komputer maupun perangkat jaringan, biasanya kejahatan ini dilakukan secara online.
"Sudah malam. Aku rasa tidak ada yang perlu di bahas lagi. Kita pulang," ajak Aiden yang mulai mengemasi barang-barangnya.
Akhirnya mereka semua pun bubar dan menuju ke kendaraan mereka masing-masing. Andi nampak menghampiri Roni.
"Ron, ini!" ucap Andi seraya melemparkan sebuah botol minuman instan rasa jeruk.
"Te..te.. terimakasih," ucap Roni menangkap botol yang di lempar Andi.
Andi memakai helmnya dan menaiki motornya, kemudian menoleh pada Roni.
"Selamat bersenang-senang!"ucap Andi mengedipkan sebelah matanya, kemudian menutup helm full face-nya dan melajukan motornya dengan senyuman miring di bibirnya. Entah apa yang ada di otak pintar sekaligus licik pemuda itu.
Roni mengernyitkan keningnya mendengar apa yang di katakan oleh Andi, namun akhirnya menggeleng pelan dan melajukan mobilnya ke arah rumah mertuanya.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Patrish
curiga aku... curiga... pasti Andi ngerjani Roni nih.... siapsiap Vivi... 😆😆
2024-01-30
7
matha jannah
ngakak ngebayangin ekspresi Aiden yang membayangkan Ròni mendesah gagap 🤣🤣
2024-01-28
2
nila alhidayah09
ngakak pas baca Aiden menirukan Roni🤣🤣😂😂😂
2024-01-09
1